Pembekalan Enumerator Analisis Konsumsi Pangan


Cuaca begitu cerah sesampaiku di pelabuhan roro Sungai Pakning. Langit biru muda berias gumpalan-gumpalan awan, seperti kapas berhamburan. Beberapa calon penumpang tampak bercengkrama sambil menikmati hawa sejuk tepi laut. Tak jauh dari tempatku berdiri, sebuah kapal besar nan cantik bersandar di tepi dermaga. Swarna putri, nama itu terpatri di bagian moncongnya. Bendera merah putih berkibar di ujung tiang paling atas.

Trip yang sibuk. Dua orang petugas tampak cekatan mengatur kendaraan. Body kapal bergoyang tiap kali mobil dan motor masuk ke dalamnya. Satu persatu, hingga tak berapa lama, lambung swarna putri telah berisi mobil, truk dan sepeda motor. Handy talkie di kantong baju petugas meminta informasi, berapa lagi kendaraan yang bisa termuat. Penuh, balasnya.

Sebuah kerja tim yang bagus, ditempa setiap hari dengan pekerjaan yang sama, membuat kinerja mereka begitu kompak. Aktifitas bongkar muat yang akan berakhir kala sang kapten mengumumkan melalui alat pengeras suara, “Kapal siap berangkat!”

Mungkin ada kebosanan di benak mereka yang bertugas, bukankah melakukan perulangan setiap hari kadang kala membuat kita jenuh? Tapi pekerjaan… ini tentang menyambung hidup. Terima kasih kepada awak kapal dan petugas pelabuhan yang telah berjasa membawaku ke Bengkalis untuk mengikuti pelatihan.

Bertempat di aula pertemuan kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kab. Bengkalis, diadakan pembekalan petugas survey konsumsi pangan. Pelatihanan ini diikuti 27 orang peserta, terdiri dari 3 petugas pengolah data kabupaten dan 24 orang petugas survey kecamatan. Tujuan diadakan kegiatan ini: Pertama, mendorong pengumpulan data konsumsi pangan di tingkat rumah tangga di wilayah kecamatan. Kedua, meningkatkan keterampilan petugas dalam melaksanakan analisis konsumsi pangan penduduk, baik dalam teknik pengambilan maupun pengolahan data. Terakhir, agar adanya keseragaman dalam metode perhitungan PPH (Pola Pangan Harapan).

Hawa dalam ruangan masih terasa panas, walau sudah lewat tengah hari. Air conditioner yang menyala sepenuhnya, tak sanggup memberi rasa dingin yang optimal. Ruangan terlalu besar dan dijejali puluhan orang. Walau begitu, acara pembekalan petugas survey tetap harus dimulai, artinya peserta wajib pula untuk tetap bersemangat.

Pembawa acara memberi salam, kemudian mengucapkan selamat datang kepada peserta pelatihan. Protokoler lalu mempersilakan penanggung jawab acara, Bapak Tarmizi, SP untuk membacakan panduan kegiatan. Acara ini merupakan bagian dari sebuah kegiatan analisis pola konsumsi dan suplay pangan, untuk mengetahui gambaran situasi konsumsi dan gizi masyarakat di Kabupaten Bengkalis tahun 2014.

Setelah itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kab. Bengkalis memberi sambutan sekaligus membuka pelatihan. Dalam kata sambutannya, Pak Kaban menjelaskan bahwa untuk membentuk kualitas sumberdaya manusia dibutuhkan perencanaan sistem ketahanan pangan. Antara lain yang mesti diperhatikan yaitu subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan. Agar sistem tersebut bisa berjalan, diperlukan data jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat.

“Pengambilan data mesti berlandaskan komponen masyarakat itu sendiri, misalnya dari anggota KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari), bisa juga mengambil responden dari penduduk miskin, sedang dan kaya. Konsumsi pangan bisa kita ketahui dengan cara menganalisis PPH, Pola Pangan Harapan.” Kata Pak Kaban.

Secara sederhana, konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Selain penting untuk mengetahui kebutuhan pangan penduduk, kita juga mendapat informasi mengenai kandungan gizi dalam pangan masyarakat. Menelisik data keseimbangan gizi Kabupaten Bengkalis pada Tahun 2013 lalu, menunjukan pemenuhan gizi masyarakat telah mencapai angka 88,50%. Sebuah angka yang bagus, namun harus tetap ditingkatkan.

Adapun pengertian dari PPH adalah komposisi kelompok pangan utama untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi manusia. Dengan mengetahui PPH, kita bisa menilai keragaman konsumsi dan ketersediaan pangan penduduk pada suatu wilayah. Dalam operasionalnya, susunan Pola Pangan Harapan terdapat dalam 3B (Beragam, Bergizi, Berimbang), yang dalam memenuhi kebutuhan tersebut juga mempertimbangkan daya cerna, daya terima dan kemampuan beli masyarakat.

“Ini adalah data awal, jadi diperlukan keseriusan dalam mempelajari cara pendekatan kepada narasumber, sehingga nantinya pengambilan data dari responden bisa akurat. Jadi saya harapkan agar nantinya petugas survey dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan mengambil data sesuai dengan kondisi di lapangan.” Harap Pak Kepala badan, sekaligus menutup kata sambutannya.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Pak Sutarno, yang kebetulan duduk di sampingku. Para hadirin berdoa dengan khidmat, meminta agar acara pembekalan petugas survey ini berlangsung dengan lancar. Setelah itu, istirahat sejenak mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara.

Kuseruput kopi yang masih hangat, ada rasa manis menyentuh lidah, terlalu manis malah. Kalau urusan kopi hitam, aku lebih suka dengan sedikit gula, aroma kopinya lebih terasa. Tapi ada satu yang istimewa. Jika para hadirin jeli, sebenarnya ada yang unik dari menu hidangan di pelatihan ini, panganan yang disajikan berbahan asli, bukan olahan. Hasil bumi seperti jagung, ubi jalar dan kacang tanah langsung direbus lalu dihidang, bukan tepung yang dijadikan kue. Hadirin yang mencicipi seolah tersadar, mereka sedang berada di kantor Badan Ketahanan Pangan. Sebuah contoh yang patut ditiru.

Ir. Muh. Fauzi menjadi pembicara awal di pelatihan, membawakan materi mengenai kebijakan percepatan konsumsi pangan. Program pencapaian ketahanan pangan berdasar pada UU no. 18 Tahun 2012, yang mengatur tentang ketahanan pangan nasional.

“Tantangan ketahanan pangan di masa mendatang semakin berat, salah satu sebabnya adalah ketakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dengan produksi beras, distribusi pangan yang rawan terputus akibat sarana jalan serta pola konsumsi masyarakat yang masih bergantung pada beras. Selain itu, jumlah lahan tanam pangan kita semakin sempit akibat alih fungsi, terjadi juga degradasi lahan serta perubahan iklim global.” Jelas Pak Fauzi.

Pemerintah telah menetapkan bahwa untuk menjaga ketersediaan pangan nasional, cadangan harus disiapkan mulai dari pusat, provinsi, kabupaten-kota dan kelompok masyarakat. Minimal cadangan beras di provinsi 200 ton, di kabupaten 100 ton. Hal tersebut juga sebagai antisipasi kondisi rawan pangan saat bencana, konflik sosial, daerah terisolir, juga bisa digunakan untuk meredam gejolak harga pangan di kemudian hari.

Masduki, SP, MM, pria kelahiran Sleman 24 Juni 1959 menjadi pembicara kedua sekaligus akan membimbing kami sampai acara pembekalan surveyor ini selesai. Bapak kasubbid kewaspadaan pangan Provinsi Riau ini menjelaskan bahwa survey adalah pengumpulan data yang hanya dilakukan pada sebagian anggota populasi. Tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi dari sebagian, untuk dijadikan landasan dalam pembuatan kesimpulan bagi semua anggota populasi.

“Data yang akan kita kumpulkan yaitu jenis dan jumlah konsumsi sebuah keluarga selama 24 jam, kemudian dilakukan pengulangan pengambilan data yang sama untuk hari berikutnya.” Jelas pemilik gelar Magister manajemen agribisnis ini.

Materi kemudian dilanjutkan dengan teknik pengisian kuisioner sekaligus pengolahan data. Di sela pemberian materi, kadang Pak Masduki memberi masukan kepada peserta bagaimana menjadi petugas survey yang baik dan benar. Komunikasi yang dilakukan bersifat dua arah, pembicara dan pendengar saling berdiskusi. Biarkan responden mengeluarkan pendapat supaya kita tahu apakah dia memahami hal yang kita tanyakan. Pada hakikatnya, mendengar adalah dasar dari seluruh manajemen skil bagi surveyor, pendamping ataupun fasilitator.

Setelah jeda istirahat, praktek melakukan survey dilangsungkan. Peserta dilatih secara berkelompok bagaimana mengumpulkan data di lapangan. Moderator membagi empat kelompok, masing-masing mengambil sampel untuk dimasukkan ke dalam software analisis konsumsi pangan. Satu kelompok terdiri dari dua kecamatan, maka digabunglah kecamatan yang berdekatan secara administratif. Kecamatan Bengkalis bergabung dengan Kecamatan Bantan, Rupat dengan Rupat Utara, Kecamatan Siak Kecil dengan Bukit batu, lalu Mandau berpasangan dengan Kecamatan Pinggir.

Udara dingin berhembus lewat kisi-kisi pendingin udara, sesekali kumelangkah keluar untuk membasuh muka. Rasa kantuk mulai menyerang. Cuaca masih panas diluar sana, rindangnya halaman tengah kantor BKP cukup membantu mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk. Salah satu alasan mengapa aku menyukai pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon, selain mempercantik halaman tentunya.

Kembali ke dalam ruang pelatihan, tugas survey mulai dilakukan kepada salah satu relawan uji coba. Setiap kelompok yang kini duduk bergabung, melakukan wawancara untuk mengetahui tingkat konsumsi keluarga pada satu hari penuh. Hadirin tampak rileks, tidak seperti saat menerima materi dengan metode ceramah. Kursi berserakan dimana-mana, sesekali ruangan jadi ramai dengan canda dan gelak tawa.

Cukup lama waktu yang diberikan untuk melakukan wawancara ini, sehingga ilmu ‘bagaimana seharusnya sikap seorang petugas survey’ bisa kami terapkan. Diantaranya sabar, rajin dan disiplin. Ketiga hal tersebut merupakan dasar, jika ingin tugas kita mencapai sasaran dengan tepat. Seorang petugas survey juga harus ditunjang dengan wawasan luas, obyektif serta analitik. Yang terakhir namun tak kalah pentingnya adalah sikap jujur dan tepat waktu. Poin-poin pelajaran yang menurutku tak hanya dibutuhkan ketika melakukan survey saja, tapi bisa diterapkan pada segala aspek kehidupan.

Semua telah menyelesaikan tugas, satu persatu kelompok mulai tampil memaparkan hasil yang diperoleh. Sebelum presentasi, ada sesi perkenalan dari masing-masing anggota kelompok. Suasana jadi lebih hidup, sebab kawan-kawan penyuluh saling melempar gurau yang memecah tawa dalam aula pelatihan. Selanjutnya dibantu oleh pemateri dan moderator, beberapa masalah dalam pengambilan dan pengolahan data kami bahas. Seperti kedalaman informasi untuk tiap responden, cara mengkonversi kandungan bahan makanan, hingga analisis kondisi lapangan bagi tiap-tiap kecamatan.

Setelah merampungkan catatan pelatihan, serta menyepakati waktu untuk turun ke lapangan, acara pembekalan petugas survey ini berakhir.

Langit masih biru
tak terasa dua hari telah berlalu
ketika tiang konsumsi lebih besar dari paku
justru tak lagi ada sawah, tempat sang kumuh berjibaku
adakah sesuatu yang baru?
Tanya, Tanya. Jawabnya hanya jalan buntu,
Tanya itu biarkan saja, berhembus seperti angin lalu…
Segera kutinggalkan kota menuju ke pelabuhan, tempat si cantik swarna putri menungguku.

Posting Komentar