Pelatihan Pertanian Terpadu Cinagara Bogor

Aku tidak pernah sedekat ini dengan langit, begitu biru menghampar tak bertepi di atas gumpalan awan yang memutih. Gundukan pulau-pulau kecil berwarna hijau menghiasi bentangan samudera di bawah sana. Sungguh indah ciptaan Yang Kuasa, membuatku lupa bahwa aku sedang berada di atas ketinggian ribuan kilometer. Sebenarnya jika kita sadari, berada di angkasa seperti ini berarti tiada pengharapan lagi. Tinggal menyerahkan segalanya kepada langit, dan semoga sang pilot melakukan tugasnya dengan baik.

Hampir dua jam pesawat ini terbang di udara, hingga tiba saat akan mendarat. Telingaku berdengung ketika pesawat menurunkan ketinggian, kugerakkan rahang agar tekanan dalam telinga seimbang dengan tekanan udara di dalam kabin. Biasa juga kugunakan cara menutup hidung lalu menghembuskan udara, agar gendang telinga kembali normal.

Dari jendela pesawat terlihat hasil peradaban manusia, sebuah kota bernama Jakarta. Ibukota negara Republik Indonesia, negeri seribu satu masalah, kota tua yang sering kebanjiran. Jalannya berliku-liku, gedung-gedungnya menjulang tinggi, jejeran kendaraannya mengular di jalan-jalan beraspal. Tanpa kusadari, burung besi ini kemudian terbang rendah di atas atap-atap seng lapuk permukiman padat penduduk. Terus menukik ke bawah mengincar tempat pendaratan.

Badan pesawat sedikit berguncang ketika roda menyentuh landasan, kupikir pesawat sepertinya akan mendarat dengan mulus, namun sejurus kemudian dari arah depan, angin menderu bagai ribuan tawon datang menyerang. Ingin kuberteriak minta tolong, tapi nanti ketahuan baru kali ini aku naik pesawat, akhirnya hanya bisa pasrah sambil mulut komat-kamit baca doa. Suara deru angin mereda, pesawat lalu mencari tempat parkir untuk menurunkan penumpang. Berhasil. Kami turun di Bandara Soekarno-Hatta, persinggahan sebelum bergerak lagi menuju Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terpadu di Cinagara-Bogor.

Bagi yang belum mengetahui, bahwa balai diklat Cinagara merupakan tempat pelatihan yang dibangun secara swadaya oleh petani. Hal yang membuatku takjub, heran dan bertanya-tanya, bisakah petani membangun sebuah balai pelatihan? Sambil jalan, mari kita mulai cerita dari awal.

Pada tahun 1970 seorang petani mengikuti kursus pertanian yang diselenggarakan oleh pemerintah orde baru. Kursus tersebut berlangsung selama sepuluh hari, untuk memberikan keterampilan pada penduduk desa agar bisa berwirausaha. Selepas kursus tersebut, masing-masing peserta diberikan 10 kg bibit ikan mas sebagai modal. Petani itu lalu pulang ke desanya, namun tidak menemukan tempat untuk memelihara bibit ikan tersebut. Diletaknya bibit ikan tersebut di sungai, yang dibuatkan semacam kolam agar ikan tak lari.

Hari-hari berlalu dan bibit ikan mulai tumbuh, ketika tiba waktu panen, hasilnya sungguh diluar dugaan, ikan mas tersebut tumbuh dengan ukuran besar. Mulailah si petani mengembangkan sebuah metode pemeliharaan ikan dengan menggunakan kolam air deras, sekaligus menjadi penemu metode tersebut. Secara sederhana, kolam air deras adalah kolam yang pertukaran airnya cepat, di dalam kolam terdapat bagian yang dalam, sedang dan dangkal, hal ini untuk menjaga volume air yang masuk, yang juga bergantung pada besar kecilnya kolam yang dibuat.

Keberhasilan usaha perikanan itu dihargai oleh pemerintah pusat yang kala itu masih dijabat oleh mantan presiden Soeharto. Pada tahun 1990, si petani dinobatkan sebagai pemuda pelopor bidang pembangunan pedesaan. Sedangkan metode kolam air deras juga dipatenkan atas namanya dan mendapat penghargaan di tingkat nasional.

Cerita yang bagus dan bisa mengugah sebagian orang, walau harus digaris bawahi bahwa kisah itu terlalu pendek, tentunya ada usaha dan kerja keras yang dilakukan oleh si petani, tentunya ada pengorbanan dan kesabaran. Hal-hal yang sering terlewati ketika ada cerita tentang keberhasilan, seolah olah itu jatuh dari langit.

Bus pariwisata yang kami tumpangi melaju kencang di jalan tol, membawa rombongan peserta pelatihan pertanian terpadu 2014. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Badan Ketahanan Pangan Kab. Bengkalis. Jumlah keseluruhan peserta yaitu 25 orang, berasal dari semua kecamatan yang ada dalam lingkup wilayah Kab. Bengkalis, termasuk Rupat dan Rupat Utara. Jam di dashboard mobil menunjukan pukul 16:20 WIB, kendaraan di jalan tol semakin bertambah, mungkin karena ini jam pulang kantor.

Tiba di simpang Sukabumi-Puncak, berjejal ratusan kendaraan, sepeda motor, angkot, mobil pribadi, bus dan truk. Semua mengantri seolah tanpa ujung dan pangkal, bergerak lambat bagai kura-kura. Beberapa kendaraan nekat menyalip susuri tepi selokan, yang lain tak mau kalah, mengambil bahu jalan lalu merangsek ke depan. Mesin meraung-raung, bunyi klakson tanpa henti, teriakan pedagang asongan, suara pengamen, keringat yang bercampur baur. Chaos.

Gelap merayap turun, laju bus melambat memasuki pemukiman warga, terus ke dalam melewati jalan terjal dan berliku. Ternyata pusdiklat ini berada di ketinggian, suara adzan magrib telah berkumandang dari atas bukit. Sesampai di dalam kawasan pusdiklat, satu persatu kami turun dari bus, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pak supir yang telah mengantar. Panitia yang menyambut kami, lalu membagi kamar dan meninggalkan peserta untuk beristirahat.

Kurebahkan badan di atas kasur, pinggangku sakit akibat terlalu lama duduk, perjalanan dua hari menyusuri Rupat-Dumai-Pekanbaru-Jakarta dan Bogor sungguh melelahkan. Segera kuguyur badan di kamar mandi agar lebih segar, ternyata airnya sangat dingin, seperti dicampur es.

Hujan mengguyur Bogor sepanjang malam, seolah menyambut kedatangan tamu dari Riau. Dingin menggerogoti tulang, kuambil baju tebal dan melapisinya lagi dengan jaket agar badan lebih hangat. Namun tidak begitu adanya dengan sekelompok pemuda gundul yang tengah berbaris di lapangan pusdiklat. Sambil menyanyikan yel-yel, mereka diperintah untuk lari, berjongkok, baris-berbaris, dsb. Mereka adalah calon sekuriti yang sedang digembleng untuk bekerja di sebuah perusahaan, juga baru datang sehari sebelum kami. Bisa kubayangkan dinginnya kulit pemuda-pemuda itu, bertelanjang dada di cuaca dingin seperti ini.

Aku berjalan di samping barisan pemuda yang berlari menuruni jalan, tujuanku ke lantai dua penginapan. Ternyata makan malam telah terhidang, segera kunikmati masakan ala sunda itu, nasi, ikan goreng dan lalapan. Tidak lama setelah makan dan bersenda gurau dengan peserta yang lain, kantuk pun tiba. Kuambil sandaran kursi lalu merebahkan badan di atas sofa. Suara jengkrik berderik dari kejauhan, sayup-sayup hingga mataku tertutup tidur.

Ikuti Kelanjutannya

Posting Komentar