Arah Perubahan Pertanian di Pulau Rupat


Pancaroba. Hawa di Pulau Rupat terasa begitu panas menyengat, awan hitam berarak di atas ibu kota Kecamatan Rupat, Batupanjang. Namun ternyata tak turun hujan, angin di atas sana membawanya pergi entah kemana. Musim berganti. Tak lagi periodik enam bulanan, tapi musim sedang berganti…

Pertemuan bulanan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Rupat dan Rupat Utara akhirnya terlaksana, setelah sehari sebelumnya sempat batal akibat bentrok jadwal dengan sebuah acara di Kabupaten Bengkalis. Fungsi pertemuan ini adalah evaluasi kinerja PPL di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) masing-masing, mendiskusikan perkembangan terkini dari desa-desa yang didampingi, serta sebagai ajang bertukar pikiran dengan kelompok tani dan aparat pemerintahan. Sebagai salah satu dari sepuluh orang PPL di Pulau Rupat, saya menghadirinya. Sepuluh dan lengkap. Termasuk penyuluh legendaris dari Desa Pangkalan Nyirih.

Di dalam gedung UPTD Pertanian dan Peternakan Kec. Rupat yang bersih dan tertata rapi, telah hadir puluhan orang. Termasuk jajaran pemerintah di Kecamatan Rupat, diantaranya Kepala UPTD Pertanian dan Peternakan, UPTD Perikanan dan Kelautan, UPTD Perkebunan dan Kehutanan, Dokter Hewan, serta Kepala UPTD Perhubungan Kec. Rupat. Kelihatannya mereka masih segar, badan dibalut seragam PNS dari masing-masing dinas. Turut hadir Ketua KTNA dan kelompok tani dari beberapa desa yang telah menunggu sejak pagi. Wajah-wajah cerah terpancar dari peserta pertemuan rutin Penyuluh Pertanian Lapangan kali ini.

Pertemuan Penyuluh di Kecamatan Rupat adalah momen bulanan yang hadir secara berkala. Ajang kumpul bersama jajaran terkait di pemerintahan, unsur petani dan para penyuluh pertanian lapangan. Sebuah momen strategis yang dapat memberi gambaran dinamika pengembangan pembangunan di Pulau Rupat secara keseluruhan. Keseluruhan. Tidak hanya bidang pertanian, masalah pangan ataupun hanya bidang penyuluhan tapi mencakup segala aspek pengembangan sosial ekonomi masyarakat.

Saat ini, pemikiran bahwa pembangunan dapat dilakukan secara parsial tak lagi dapat digunakan. Sebab hampir seluruh permasalahan dan potensi yang ada saling mengait satu sama lain. Misalnya membicarakan ketahanan pangan hanya di sektor pertanian, tanpa mengaitkannya dengan bidang perikanan, peternakan, kehutanan, dsb adalah sesuatu yang naïf. Seperti juga membicarakan kemajuan pembangunan tanpa membangun sisi sumber daya manusia, hampir mustahil.

Sri Mastiana, S. Pi, dara cantik kelahiran Bengkalis melakukan tugasnya sebagai protokoler acara, membuka sekaligus mengarahkan jalannya pertemuan. Setelah pembukaan, Enrawan, SP selaku koordinator PPL se-Pulau Rupat membawakan kata sambutan yang mengawali rangkaian acara. Dalam sambutannya, Pak Enrawan yang baru saja menghadiri kegiatan Lomba Cipta Menu di Bengkalis, menekankan pentingnya musyawarah dalam pembentukan kelompok tani.

“Berdasarkan peraturan perundang-undangan, sebuah kelompok tani wajib memiliki 15 sampai 25 anggota, yang didalamnya ada ketua, sekretaris dan bendahara. Pembentukannya melalui proses musyawarah mufakat yang dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat dan penyuluh pertanian. Hasil musyawarah tersebut dituangkan dalam sebuah Berita Acara.” Jelas Pak Enrawan.


Kemudian dijelaskan bahwa fungsi penyuluh pertanian bukan hanya saat ada kelompok tani yang mengajukan bantuan, tapi memberikan pencerahan tentang fungsi ideal sebuah kelompok tani.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kondisi kontemporer masing-masing desa atau kelurahan di Pulau Rupat. Satu persatu Penyuluh Pertanian memaparkan perkembangan desa dibidang pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan secara singkat dan jelas. Berturut-turut PPL dari Desa Sungai Cingam, Tanjung Kapal, Pangkalan Nyirih, Pergam, Kadur, Titi Akar, Terkul, Teluk Lecah serta PPL Teluk Rhu. Garis besar permasalahan yang ada di masing-masing WKPP mengenai pengembangan kelompok tani, evaluasi bantuan pemerintah yang masuk ke desa, serta perkembangan aktifitas pertanian setelah dilanda musim kering dan kebakaran beberapa waktu lalu.

“Ramalan dari Badan Metereologi dan Geofisika bahwa bulan ini akan terjadi kekeringan yang panjang. Teman-teman PPL saya harap mengingatkan petani kita agar tidak membakar lahan. Cuaca ektrim ini juga mendatangkan angin kencang yang bisa membawa asap ke Negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura. Mohon kerjasama dan bantuannya dalam hal ini.”

Harapan itu dikemukakan Bapak Kepala UPTD Pertanian dan Peternakan dalam sambutannya. Pak Rusmadi, SP, M.Si, telah lebih dari dua puluh tahun mengabdi di pulau harapan. Selama merintis karirnya beliau pernah menjadi penyuluh pertanian di Pulau Rupat. Pendekatan penyuluhan yang dilakukannya berdasar pada apresiasi warga, sebab menurutnya yang memiliki sumberdaya, organisasi dan nilai sosial adalah masyarakat itu sendiri. Hal tersebut harus diperhatikan dalam kegiatan penyuluhan. Bapak murah senyum ini menawarkan perspektif penyuluhan untuk kemandirian petani, dengan sebuah ungkapan keren berbahasa inggris “Help people to help them self.”

Setelah dipersilahkan oleh pembawa acara, Drh. Jejen Sudrajat mengambil alih forum. Beliau adalah seorang dokter hewan yang mengelola puskeswan Kec. Rupat, walau secara de jure wilayah kerjanya mencakup Kec. Rupat dan Rupat Utara.

“Prioritas kinerja puskeswan untuk tahun mendatang adalah menanggulangi penyakit rabies dan flu burung, sebab Rupat telah menjadi daerah endemis penyakit tersebut. Telah berulang kali kami menemukan kasus penularan rabies akibat gigitan anjing dan kera, pertama kali ditemukan kasus gigitan hewan di Tanjung Kapal. Kasus kematian massal pada ayam juga sering ditemui, walau belum teridentifikasi flu burung, namun sudah selayaknya kita waspada.” Jelas dokter berkacama mata ini.

Dokter hewan yang mulai bertugas di Pulau Rupat tahun 2011 ini kemudian menjelaskan bahwa pencegahan penyakit pada hewan bisa dimulai dengan menjaga kebersihan kandang dan penyemprotan disinfektan di lingkungan sekitar. Gunanya untuk membunuh kuman dan mencegah penularan penyakit. Jika ada kematian hewan karena sakit, jangan dibuang ke laut, sungai atau hutan, tapi lakukan dengan cara disposal, yaitu dimasukkan ke dalam lubang, dibakar lalu tutup.

Hadirnya Bapak Tengku Syafrudin dari UPTD Perhubungan Komunikasi dan Informasi memberikan sedikit ulasan mengenai keselamatan dalam melakukan pelayaran, baik itu untuk sarana transportasi laut maupun dalam usaha perikanan tangkap. Beliau mengungkapkan bahwa keselamatan kerja di laut sangat penting, namun sebagian nelayan masih belum begitu memperhatikan.

Salah satu yang terasa istimewa dalam setiap pertemuan bulanan penyuluh di Kec. Rupat dan Rupat utara adalah kehadiran petani bukanlah sekedar pelengkap. Di setiap pertemuan, kelompok-kelompok tani senantiasa mengemukakan pendapat dan berdiskusi dengan peserta yang hadir. Sering kali jalan keluar dari sebuah kendala di lapangan datang dari suara petani. Pada pertemuan kali ini, masalah pemasaran ikan lele yang dikeluhkan peternak lele di desa Titi Akar akhirnya menemukan alternatif solusi, yaitu bekerja sama dengan peternak ikan nila di Kelurahan Terkul. Mereka telah berkecimpung di budidaya ikan air tawar sejak lama dan menawarkan diri untuk membantu pemasaran ikan lele di Titi Akar. Sebuah pencapaian hasil pertemuan yang menggembirakan.

“Kami bisa bantu menghubungi agen pemasaran di Dumai, kebetulan saat ini kami juga sedang panen ikan nila. Kami dengar permintaan pasar untuk ikan lele cukup besar, harga sekitar 14 ribu sampai 15 ribu per kilogram ” Kata Maiprizal, ketua kelompok tani dari Kelurahan Terkul.

Sebagai kabar penutup dari pertemuan bulanan kali ini adalah berita tentang kegiatan pekan nasional bidang pertanian yang akan dilaksanakan di awal bulan Juni. Atas nama KTNA Kec. Rupat, beberapa anggota kelompok tani akan berangkat untuk mengikuti acara pekan nasional di Kota Malang. Salah satu wadah dimana petani bisa mengkonsolidasikan issu atau permasalahan pertanian sebagai basis pembangunan di sektor pertanian.

Sekali lagi pertemuan rutin ini selesai, sebuah langkah mungil pengembangan manusia-manusia yang berkecimpung di dunia tani. Sekali lagi musim berganti. Musim akan terus berganti. Pada diskusi kecil seperti ini kami harapkan akan ada yang berganti di esok hari, berganti dan berubah menjadi lebih baik. Dimana manusia dan ilmu berjalan beriringan, ajang diskusi menjadi kepingan cahaya yang menyinari sisi gelap pulau harapan. Ketika catatan-catatan kecil kami menemukan celah tuk menggores sejarah. Ketika kami, petani dan nelayan menjadi kawan seperjalanan.

Posting Komentar