Teknologi Mikro Organisme Lokal

Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bengkalis bekerja sama dengan UPT-BPP Rupat-Rupat Utara mengadakan kegiatan guna mengembangkan tanaman pekarangan. Dasar pemikirannya bahwa pembangunan pertanian berwawasan pemanfaatan halaman rumah perlu mendapat prioritas. Hal tersebut dikarenakan potensi sumberdaya lahan di depan rumah tersedia luas, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Lahan di beranda hunian berpotensi menyediakan bahan pangan yang ekonomis, beragam, mudah dalam perawatan dan memangkas distribusi dari kebun langsung ke dapur. Pekarangan bisa menghasilkan tanaman sehat guna memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga.

Kegiatan yang berlangsung di Aula kantor camat Rupat tersebut mengangkat Tema “Pelatihan Pemanfaatan Lahan Pekarangan”, dengan Aplikasi Teknologi Mikro Organisme Lokal (MOL). MOL adalah cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami yang berfungsi sebagai media hidup dan berkembangnya dekomposer. Mikro organisme pengurai tersebut berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik dalam pengomposan. Cairan mengandung dekomposer ini bisa menjadi aktivator atau pun tambahan nutrisi langsung bagi tumbuhan. Sengaja ditambahkan kata ‘Lokal’ dibelakangnya, sebab dikembangkan dari mikro organisme yang tersedia di lingkungan sekitar. Artinya bahan untuk membuat MOL tersedia sesuai dengan spesifik lokalita, mudah ditemukan dan sesuai kebutuhan lapangan.

Kegiatan pengembangan tanaman pekarangan di Pulau Rupat terbagi menjadi tiga sesi. Pertama pemaparan materi mengenai potensi pemanfaatan halaman rumah secara terpadu, yang kedua praktek pembuatan MOL. Adapun bahan pembuatan MOL diambil dari buah maja yang tumbuh subur di Pulau Rupat. Pada sesi akhir, peserta mendiskusikan mengenai pengalaman masing-masing dalam hal bercocok tanam serta tata cara penataan halaman rumah. Pemanfaatan pekarangan tidak hanya memperhitungkan hasil, tapi juga mempertimbangkan aspek keindahan.

Berkenan hadir pada pembukaan kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Lahan Pekarangan di Kecamatan Rupat yaitu, Bapak Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Rupat, Kepala bidang (Kabid) Konsumsi dan Keamanan Pangan DKP Bengkalis, Kepala UPT Balai Penyuluhan Pertanian Rupat-Rupat Utara, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Rupat, serta anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kecamatan Rupat.

Kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Lahan Pekarangan berlangsung pada pukul 14:00 WIB. Dalam sambutannya pada pembukaan acara, Ibu Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan menyampaikan mengenai pengertian dan fungsi pekarangan. Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan sudah jelas batas-batasnya. Posisi beranda rumah yang relatif gampang dijangkau, membuat budidaya tanaman pekarangan mudah diusahakan oleh seluruh anggota keluarga. Dari halaman depan, samping dan belakang rumah, ibu rumah tangga bisa perbaikan kualitas makanan untuk keluarga.

Selanjutnya dipaparkan metode agar kebutuhan pokok tidak bersandar pada satu jenis bahan makanan saja yaitu beras. Caranya bisa dengan menciptakan berbagai menu baru, mengolah pangan lokal seperti sagu, ubi jalar, talas atau keladi, ubi kayu, jagung, dan lainnya. Ibu Kabid menceritakan bahwa salah satu kelompok binaan sudah ada yang berhasil membuat beras dari sagu.

“Bersag istilahnya, singkatan dari Beras Sagu. Dibuat dari tepung sagu yang diolah hingga bentuknya menyerupai beras. Tahun ini akan kita usahakan agar kelompok tani bisa memproduksi secara massal.” Ungkap Ibu Susi Hartati, SP, M.Si.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengarahan dan pembukaan acara secara resmi oleh Sekretaris Camat Rupat. Dalam pidatonya, Bapak Sekcam menjelaskan bahwa rumah menjadi nyaman dan bergairah bila seorang ibu rumah tangga memiliki aktifitas yang produktif. Memanfaatkan lahan depan rumah untuk menanam buah dan sayuran merupakan salah satu contoh ibu yang kreatif. Bisa juga memelihara ikan dalam kolam ataupun ternak yang dikandangkan di belakang rumah. Semua itu membuat kebutuhan sehari-hari menjadi murah harganya, mudah diperoleh, serta menjamin kesehatan anggota keluarga.

“Saya berharap setelah pelatihan ini, para peserta bisa menjadi penggerak di masyarakat, dimulai dari tetangga terdekat kita. Agar secara maksimal setiap orang memanfaatkan pekarangan untuk ketahanan pangan yang mandiri.” Tutup Bapak Ahmad Tarmizi, S.Ag. M.Ip.

Posting Komentar