Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki beragam kekayaan
alam, baik di sektor pertambangan mineral, minyak bumi, gas alam, bahan
bakar biodiesel, limpahan hasil laut, dan sebagainya. Termasuk salah
satu kekayaan yaitu di sektor pertanian, yang membuat Indonesia dikenal
juga sebagai negara agraris. Dengan latar belakang itulah, pemerintah
senantiasa mengadakan berbagai program untuk memajukan bidang pertanian.
Mengingat pentingnya memperkuat sektor penghasil bahan makanan
tersebut, untuk mencapai swasembada pangan. Peran pemerintah dalam
membina kelompok tani diharapkan dapat menghapus impor komoditas
pertanian. Produksi komoditi padi, sayur, daging dan lainnya dilakukan
di negeri sendiri untuk mencapai kedaulatan pangan.
Pada hari
Senin akhir bulan keempat Tahun 2018, berlangsung kegiatan pemberdayaan
masyarakat, mengambil tema “Manajemen Usaha Terpadu”. Bertempat di Desa
Sukarjo Mesim Kecamatan Rupat, kegiatan tersebut menghadirkan Pemateri
dari Fakultas Ekonomi-Universitas Islam Riau (Fekon-UIR). Kegiatan
pendampingan tersebut juga menampilkan pemateri lokal, berasal dari
UPT-Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Rupat dan Rupat Utara. Peserta
yang hadir yaitu Kepala Dusun, Ketua RT dan RW dan Staff Desa Sukarjo
Mesim, Kepala Puskeswan Rupat, Koordinator PPL Rupat dan Rupat Utara.
Turut hadir sekaligus menjadi peserta pendampingan yaitu anggota
Kelompok Tani yang ada di Desa Sukarjo Mesim. Terakhir dan tak kalah
pentingnya hadir juga, kelompok masyarakat yang melakukan usaha di
sektor nelayan dan peternakan.
Pembawa Acara Azman Syah, SE, M.Si memaparkan pengalaman tim pemberdayaan masyarakat Fekon-UIR, di Desa Lubuk Siam-Kampar. Bahwa mereka pernah melakukan kegiatan pendampingan kelompok masyarakat. Fokusnya melatih anggota kelompok dalam memanfaatkan teknologi secara efektif. Waktu itu komoditi yang mereka pilih untuk dikembangkan adalah ubi kayu. Maka sambil membina kelompok tersebut, juga dirancang mesin pemotong ubi yang bisa mempercepat kinerja pengolahan. Teknologi salah satu hal penting dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Sebelum mencapai kemajuan tersebut, tentu saja dibutuhkan rembug untuk menyatukan ide dan persepsi.
“Sama dengan pertemuan yang sedang berlangsung ini, awalnya kami melakukan rembug untuk mendengarkan aspirasi. Hal tersebut agar ada proses perkenalan, identifikasi potensi dan kendala, serta melihat tantangan ke depan. Kita diskusi mengenai kekuatan andalan di desa dan komoditi apa yang bisa kita kembangkan.” Ujar Pak Azman.
Berbicara mengenai potensi wilayah, Kecamatan Rupat merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkalis. Terletak di Pesisir timur Pulau Sumatera, Kecamatan Rupat memiliki pantai pasir putih yang indah. Berdasarkan letak wilayahnya, Kecamatan Rupat mempunyai batas strategis karena berbatasan langsung dengan Dumai dan Selat Malaka. Secara administrasi wilayah Kecamatan Rupat mempunyai luas wilayah 894,35 Km2 terbagi 16 desa/kelurahan. Sedangkan lokasi pertemuan ini yaitu Desa Sukarjo Mesim, memiliki luas lahan keseluruhan 26 km2. Potensi perkebunan, peternakan dan perikanan menjadi sektor andalan yang diusahakan oleh masyarakat Desa Sukarjo Mesim.
Selanjutnya materi dibawakan oleh Drs. Sadanur, M.Si, seorang spesialisasi bidang pemasaran hasil produksi. Diceritakan bahwa, dari Tahun 1993 UIR telah melakukan kajian dan penelitian di UMKM maupun industri rumah tangga. Intinya satu saja, bahwa agar bisa maju dan berkembang, kelompok usaha apapun itu harus bersatu agar menjadi kuat, kebersamaan adalah pondasinya. Setiap usaha yang dibina, sebaik mungkin memiliki dampak kepada lingkungan sekitar.
Dikatakan juga oleh Bapak yang menjadi salah satu pemateri tentang konsep lembaga keuangan syariah tersebut bahwa, bila melakukan usaha dan berhasil sendiri, belum memiliki nilai manfaat yang sebenarnya. Tapi bila bisa dikembangkan, lalu muncul usaha lain satu persatu kemudian kita solid, maka dari situlah bisa terjadi perubahan ekonomi mendasar di masyarakat.
Berikutnya materi dibawakan oleh Abdul Rasyak Akhyar, M.Si, Dosen Program Studi Manajemen di Fekon-UIR. Dikatakan bahwa kelompok tani (Poktan) membutuhkan akses yang memungkinkan mereka berkem¬bang sebagai sebuah komunitas. Anggota Poktan membutuhkan pengetahuan dan informasi, serta pelatihan yang memadai untuk mendukung usahanya. Salah satu pelatihannya yaitu Manajemen Usaha Tani. Secara sederhana, ilmu manajemen berdasarkan tiga tahapan, yaitu Merencanakan, Melaksanakan dan Mengevaluasi. Merencanakan berarti mengatur penggunaan sumber daya, agar efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Melaksanakan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran. Terakhir mengevaluasi adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mengukur sampai sejauh mana, hasil-hasil yang telah dicapai berdasarkan rencana yang telah ditetapkan.
Di akhir diskusi, Kepala Balai Penyuluhan menyatakan bahwa apa yang telah disampaikan oleh semua pemateri adalah pengetahuan, motivasi, agar kita ke depan bisa berkembang, sejahtera dan maju. Seluruh pemateri mengarahkan, menunjukan jalan dan solusi kepada masyarakat. Tapi faktor keberhasilan berasal dari kita sebagai pelaku usaha di bidang masing-masing.
“Maka melalui kelompok tani yang telah kita bangun, jaga kekompakan, terus bekerja dan maju secara bersama. Mari andalkan kekuatan kita sendiri.” Pungkasnya.




Posting Komentar