Pagi yang cerah. Udara dingin dan hembusan angin segar langsung menyapaku saat pertama kali menginjakkan kaki di Provinsi Jambi. Akhirnya aku bisa bernafas lega, setelah kurang lebih 10 jam duduk dalam travel yang membawaku dari Pekanbaru. Melangkah masuk ke area balai, deretan tanaman perkebunan seperti jati, kopi dan kelapa sawit berjejer rapi di sepanjang jalan masuk Balai Pelatihan Pertanian ini.
Aku tersenyum ketika melewati beberapa rekan yang sama-sama datang untuk mengikuti diklat, sambil terus berjalan menuju kantor sekretariat.
“Assalamu alaikum, permisi Pak…” Sapaku kepada seorang bapak yang duduk di belakang meja.
“ Benar disini tempat untuk melapor bagi peserta diklat?”
“Waalaikum salam. Iya Bu, silahkan duduk.” Jawabnya lalu mempersilakanku duduk.
“Ibu bawa surat pengantarnya?”
“Iya, ada Pak.” Kataku sambil menyerahkan surat pengantar mengikuti diklat teknis budidaya durian di Bapeltan Jambi.
Selain diriku, di dalam ruangan tersebut juga terlihat dua perempuan yang sedang duduk. Sepertinya juga menunggu proses registrasi peserta diklat.
Kudekati salah satu perempuan tersebut lalu menyapanya dengan ramah,
“Datang dari mana, Bu?”
“Dari Sumatera barat.” Jawab si Ibu lalu tersenyum manis.
Singkat. Begitulah awal perkenalan kami, namun tak disangka ternyata kami ditempatkan di kamar yang sama. Perkenalan singkatpun berubah menjadi pertemanan.
Mungkin karena intensitas pertemuan yang banyak, lambat laun keakraban kami semakin terjalin. Ibu Desmariza, SP adalah koordinator penyuluh pertanian lapangan dari Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatera Barat.
Di kamar tersebut, tidak hanya ada kami berdua. Ada juga teman sekamar lain bernama Ibu Afri Deti, penyuluh pertanian dari Desa Kp. Tanah Kecamatan Ranah Ampak Hulu (RAHUL) Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatera Barat.
Walaupun kami bertiga menempati kamar yang sama, pelatihan yang kami ikuti berbeda.
͠ ° ͠
Topik pertama yang disampaikan oleh widyaiswara pada diklat teknis budidaya durian adalah persiapan lahan dan penanaman bibit durian.
“Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam persiapan lahan untuk penanaman bibit durian adalah menentukan titik-titik untuk lubang tanam. Penentuan titik lubang tanam dipengaruhi oleh kemiringan dari lahan itu sendiri.” Kata Pak Yakmar, SP.MP, widyaiswara yang menjadi pembicara di diklat kami siang itu.
. Jika lahan yang akan ditanami bibit durian berupa lahan datar maka penentuan titik-titik lubang tanam akan lebih mudah, namun tidak demikian jika lahan memiliki kemiringan hingga 100%, maka ada beberapa teknik yang bisa dilakukan. Diantaranya dengan menggunakan tali yang dipegang oleh tiga orang secara bersamaan, khususnya untuk jarak tanam model segitiga. Setelah titik yang didapat ditandai dengan ajir, berikutnya lubang tanam bisa dibuat. Sebaiknya saat membuat lubang tanam, ajir yang sudah diletakkan tidak digeser posisinya, sehingga saat semua lubang tanam yang dibuat selesai, hasilnya tetap sesuai dengan yang digambarkan.
Hari pertama diklat ditutup dengan praktek ke lapangan untuk menentukan titik-titik lubang tanam dengan melihat kemiringan dari lahan. Hmm, hari yang melelahkan.
Pukul 05.30 pagi aku bergegas menuju ke belakang asrama, tepatnya di area kebun percobaan untuk mengikuti agenda perlakuan pertanian. Terlihat beberapa peserta sudah hadir, sebagian lagi masih berjalan menuju lokasi aku berdiri bersama peserta yang lain.
Kegiatan dimulai dengan orientasi lokasi Bapeltan, berkeliling dari area kebun percobaan durian, kelapa sawit, karet, buah naga dan tanaman hortikultura lainnya. Pak Binsar Simatupang yang memandu peserta pagi itu mulai bercerita tentang perjalanan karir dan pengalaman hidupnya.
“Saya kuliah S1 dan S2 di Jurusan Agronomi. Saat itu dapat peluang kerja dari Kementerian Pertanian dan saya ditempatkan di Kalimantan, bagian nutrisi pakan ternak. Walaupun tidak mempunyai basic pendidikan tentang nutrisi pakan ternak, itu tidak menghalangi saya untuk berkarir. Sebaliknya itu menjadi motivasi saya untuk belajar lebih banyak tentang hal yang belum saya ketahui sebelumnya. Sepuluh tahun saya di Kalimantan, kemudian saya dipindahkan di Jambi hingga mengantarkan saya ke Bapeltan ini. Saya belajar kembali ilmu yang sudah lama terlupakan, yaitu ilmu tentang budidaya pertanian. Dan itu membuka kesempatan untuk saya mengkombinasikan pengalaman kerja saya dengan bidang saya sekarang dan mengaplikasikan di lapangan terutama dalam usaha budidaya pertanian.” Jelas pak Binsar panjang lebar.
Peserta diklat terlihat sangat antusias. Terutama para penyuluh senior yang juga telah lama berkecimpung di dunia penyuluhan. Mereka saling berbagi pengalaman yang telah mereka temui di lapangan dan aplikasi teknologi apa saja yang bisa diterapkan.
“Penyuluh sebagai agent of change (agen perubahan) harus bisa berbuat, terutama dalam menemukan teknologi terapan yang bisa diaplikasikan di lapangan yang akhirnya bisa menambah temuan baru dalam bidang pertanian serta bisa membantu petani.” Ujar pak Binsar lagi.
͠ ° ͠
Teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, mengatur pembuahan diluar musim, hingga teknik perbanyakan tanaman durian silih berganti mengalir dari widyaiswara. Peserta juga diberi kesempatan untuk berinteraksi serta mencoba mempraktekkan langsung di lapangan. Antusiasme peserta sangat tampak terutama saat praktek penyerbukan dan perbanyakan tanaman. Masing-masing peserta bergantian mempraktekkan bagaimana teknik melakukan penyerbukan dan perbanyakan tanaman durian.
“Jika ada tanaman durian yang mempunyai bunga yang banyak tetapi tidak menjadi buah, maka besar kemungkinan penyerbukan tidak terjadi dengan sempurna hingga tidak terjadi pembuahan.” Jelas pak Atif Mukhtar, Kepala Balai Benih Induk Hortikultura Jambi yang mendampingi peserta diklat siang itu.
Penyerbukan pada tanaman durian bisa dibantu oleh angin, serangga dan kelelawar. Untuk itu, dalam satu area tanaman dianjurkan untuk menanam durian dengan varietas yang berbeda. Selain itu, dianjurkan juga untuk menanam tanaman pisang dan pinang yang menjadi tempat tidur bagi kelelawar yang akan membantu proses penyerbukan pada tanaman durian. Namun jika kemungkinan penyerbukan sangat kecil, maka proses penyerbukan dapat kita lakukan sendiri. Proses penyerbukan bisa dilakukan pada malam hari antara pukul 20.00–22.00 wib karena pada waktu itu bunga sedang mekar dan serbuk sari sudah matang.
“Penyerbukan dapat dilakukan dengan kuas yang dicocol-cocolkan (ditempelkan) ke serbuk sari lalu ditempelkan lagi di kepala putuk. Lakukan berulang-ulang agar peluang terjadi pembuahan semakin besar. Jika keesokan harinya tangkai putik kelihatan letoi dan sedikit menghitam, maka pembuahan berhasil.” Jelas pak Atif lagi. Pak Atif juga mempraktekkan teknik perbanyakan tanaman durian yang sering ia lakukan di BBI Hortikultura Jambi tersebut.
“Untuk perbanyakan tanaman durian itu sendiri dapat dilakukan dengan teknik sambung pucuk atau okulasi. Pemilihan batang bawah untuk sambung pucuk dan okulasi bisa diambil dari bibit lokal yang berumur 3 – 6 bulan. Hal ini dikarenakan bibit lokal telah mampu beradaptasi dengan lingkungan. Sementara untuk batang atas (entres) bisa diambil dari pohon induk atau bibit unggul yang sudah pernah berbuah minimal 3 kali atau bibit yang bersertifikat.”
Setelah proses demi proses dijalankan, peserta kemudian diajak berkeliling di areal BBI Hortikultura yang ditanami berbagai macam tanaman baik lokal maupun benih unggul yang berasal dari wilayah lain yang sudah dikembangkan di BBI hortikultura, diantaranya durian otong, lengkeng, duku, sirsak, manggis, sukun, dan lain-lain.
Kegiatan belajar terus berlangsung selama beberapa hari. Kedekatan mulai terjalin diantara peserta yang memang datang dari wilayah yang berbeda. Senang rasanya bertemu, berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah. Kami dikumpulkan di Bapeltan Jambi ini dari enam provinsi yang ada di Indonesia, yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau. Berbagi cerita dan pengalaman. Bagiku, mengikuti diklat merupakan hal yang biasa, namun bertemu dengan teman-teman baru, terlebih bisa sharing cerita dan pengalaman adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Hingga saat dimana kami harus kembali ke daerah kami masing-masing, perasaan haru menyeruak dihatiku. Aku berharap akan ada kesempatan lain untuk bisa berkumpul kembali dengan mereka atau dengan teman-teman yang baru pula di tempat dan di suasana yang berbeda.
Ismawati, SP



Posting Komentar