Diklat Pasca Panen Ikan Patin

Mentari sudah setinggi tombak ketika aku pamit ke orang tuaku untuk berangkat pagi itu. Diantar oleh adikku, aku menuju  ke kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Bengkalis. Sudah ada dua buah mobil yang parkir di halaman kantor dan beberapa orang yang sedang berkumpul sambil bercerita.  Tak berapa lama kemudian sebuah mobil berhenti di depanku, ternyata rombongan dari Kecamatan Bantan telah tiba. Diklat kali ini, membawa 20 orang peserta yang berasal dari delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkalis. Peserta terdiri dari petani pembudidaya ikan air tawar dan petugas lapangan.

͠      °      ͠

Toyota Rush itu melaju dengan kecepatan 90 km/jam, terkadang melambat di persimpangan atau karena ada kendaraan lain didepannya, kadang tancap gas lebih kencang saat berada di jalan yang sepi. Bang Hadi yang duduk dibelakang setir cukup terampil menjalankan kemudi, kamipun sangat nyaman hingga bisa terlelap beberapa saat lamanya.

Setelah kurang lebih enam jam perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi diklat, tepatnya di Dinas Perikanan Kabupaten Kampar. Kulayangkan pandangan ke sekitar. Ada lebih dari 10 buah kolam semenisasi dengan ukuran 25 x15 m dan ukuran 20×30 m.  Masing-masing berisi berbagai macam jenis ikan, ikan Patin, Lele, Nila, Bawal dan Gurami. Di setiap kolam terdapat sebuah pipa yang mengalirkan air segar. Jatuhnya air menimbulkan suara gemericik, percikan airnya membentuk gelembung udara yang akan menambah ketersediaan oksigen di dalam air yang dibutuhkan oleh ikan. Puas berkeliling, aku kembali ke mess untuk beristirahat. Sekedar melepaskan lelah setelah menempuh waktu yang lama diperjalanan.

͠      °      ͠

Jam ditanganku menunjukkkan angka 08.30 wib ketika panitia meminta kepada peserta untuk berkumpul di aula. Masing-masing peserta mengisi daftar hadir dan menerima perlengkapan berupa tas yang berisi buku tulis, diktat, pena dan topi.

Kami duduk mengisi kursi yang telah disediakan. Seorang perempuan berhijab berdiri membuka acara diklat pagi itu. Beberapa rangkaian acara satu persatu berlalu. Mulai dari pembacaan doa yang dipimpin oleh Pak Hasan Rizal, koordinator penyuluh kecamatan Siak Kecil. Berikutnya kata sambutan dari Pak Otot Haryopurwoko, SP yang mewakili Kepala Badan Ketahanan dan Penyuluhan Kabupaten Bengkalis, serta kata sambutan dari kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kampar, Bapak  Ir. Usman Amin yang sekaligus membuka secara resmi Diklat Teknis Budidaya Pembuatan Pakan dan Pasca Panen Ikan Patin. Pelatihan dimulai secara simbolis dengan pemasangan tanda nama peserta diklat kepada dua orang peserta oleh kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kampar.

͠      °      ͠

Materi yang disampaikan pada hari pertama diklat adalah Teknik Pemeliharaan Ikan Patin yang disampaikan oleh Bapak Kaharuddin. Beliau merupakan kepala Balai Benih Ikan (BBI) Bangkinang. Selain beliau ada dua orang narasumber lain yang akan memandu peserta diklat kali ini.

Latar belakang dipilihnya ikan patin untuk dibudidayakan adalah karena pemeliharaannya relatif lebih mudah. Selain itu, ikan patin disukai oleh kalangan masyarakat sehingga permintaan pasar cukup tinggi dan harga jual relatif stabil.

Ikan patin bersifat noctural (aktif dimalam hari) dan omnivora yaitu pamakan segalanya. Bentuk ikan patin memanjang dengan tubuh pipih, tidak bersisik, kepala kecil, mempunyai dua pasang kumis, warna punggung abu-abu kehitaman dan perut berwarna perak. Ada berbagai macam jenis ikan patin, namun yang dikembangkan di BBI Bangkinang adalah ikan patin siam.

“Pengelolaan induk patin merupakan kunci awal dari keberhasilan dalam usaha budidaya patin terutama untuk usaha pembibitan ikan patin.” Kata pak Kaharuddin.

“Pemilihan untuk induk ikan tidak boleh berasal dari keturunan yang sama, karena akan menghasilkan keturunan yang tidak bagus. Selain itu induk yang dipilih adalah ikan patin yang pertumbuhannya 50% lebih cepat dari rata-rata. Ikan patin yang bisa dijadikan induk yaitu ikan yang berumur 2,5 – 3 tahun dengan berat 3 kg, tidak cacat dan jelas asal usulnya.” Lanjut pak Kaharuddin.

Selain menyampaikan materi, pak Kaharuddin juga berbagi pengalaman yang ia miliki selama menjabat sebagai kepala BBI Bangkinang. Ia juga mengelola Hactery yang ada di area Dinas Perikanan Kabupaten Kampar. Peserta yang mayoritas petani pembudidaya ikan sangat antusias, terlebih saat mereka dibawa langsung ke Hactery yang merupakan pusat pengembangan berbagai macam jenis ikan, diantaranya ikan Patin, Lele, Nila, Bawal dan Gurami. Bahkan sekarang hactery sedang mencoba untuk mengembangkan udang lobster.

Peserta diajarkan pengetahuan dasar bagaimana membedakan ikan betina dan ikan jantan. Yang tak kalah penting yaitu teknik pemijahan ikan patin mulai dari seleksi induk, penyuntikan hormon, breeding, penetasan telur menjadi larva, pemeliharaan dan pendederan.

͠      °      ͠

Memasuki hari kedua diklat kami didampingi oleh bapak Ir. Syafril. Beliau lebih menitikberatkan pada teknik pembuatan dan pengelolaan kolam.

“Pemilihan lokasi untuk pembuatan kolam meliputi beberapa aspek. Pertama; aspek teknis yang terdiri dari tekstur tanah, sumber air dan kadar keasaman (pH). Kedua; aspek ekonomis yang terdiri dari transportasi dan ketersediaan sarana produksi perikanan. Ketiga; aspek ekologis yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.” Jelasnya.

Beliau juga menyampaikan pentingnya persiapan kolam sebelum bibit ikan dimasukkan.

“Sebelum bibit ikan ditebar ke dalam kolam, terlebih dahulu dilakukan sterilisasi kolam. Kolam dikeringkan selama 3-4 hari. Selanjutnya dilakukan pengapuran dengan menngunakan kapur tohor (CaO) yang berfungsi untuk meningkatkan pH serta membunuh hama dan bibit penyakit yang ada di dalam kolam. Sejalan dengan itu dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dengan dosis 0,2-0,5 kg/m². Masukkan air kedalam kolam setinggi 10-40 cm dan biarkan selama 4-7 hari. Setelah air kolam berubah warna menjadi hijau yang menandakan pikoplanton sebagai pakan alami telah tumbuh, maka bibit ikan sudah bisa dimasukkan ke dalam kolam.”

“Dalam usaha budidaya ikan, hampir 60% biaya produksi diserap untuk penyediaan pakan. Oleh karena itu, jika ingin menekan biaya produksi maka dapat dilakukan dengan pengelolaan pakan. Caranya dengan menyediakan pakan buatan dari pangan lokal.” Jelas pak Syarkawi, pria berkaca mata yang menjadi narasumber kami siang itu.

Pakan yang bermutu baik salah satunya ditentukan oleh kandungan gizi (protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan lemak) yang ada di dalam pakan dan dalam komposisi yang seimbang. Bahan baku yang bisa digunakan untuk pembuatan pakan antara lain; dedak, anak ikan/ ikan rucah, tulang ikan, bungkil kelapa yang telah dihaluskan, tepung sagu, tepung ikan, dll.

Saat ikan masih kecil, pemberian pakan dengan persentase kandungan protein tinggi dan intensitas pemberian pakan sedikit. Sementara saat ikan semakin besar, maka persentase kandungan protein pada pakan rendah dan intensitas pemberian pakan meningkat. Hal ini berhubungan dengan ketersediaan energi untuk ikan, karena semakin besar ikan maka ia akan semakin agresif dan aktif dalam pergerakan.

“Penentuan jenis/bentuk pakan yang akan diberikan disesuaikan dengan kebiasaan dan tingkah laku ikan makan, sehingga pakan yang diberikan benar-benar dimakan dan memberi manfaat bagi pertumbuhan ikan. Selain mengandung nutrisi yang cukup dan seimbang, pakan juga harus menarik dan mudah dicerna oleh ikan. Dengan begitu, begitu pakan diberikan ikan langsung memburu dan memakannya.” Jelas pak Syarkawi panjang lebar.

Disela-sela penjelasan pak Syarkawi, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan. Pak Guntur, pembudidaya yang berasal dari kecamatan Siak Kecil itu menceritakan masalah yang ia hadapi di lapangan. “Pada saat hujan, ikan-ikan di kolam saya banyak yang mati, padahal sebelumnya ikan-ikan tersebut baik-baik saja. Hingga saat  saya belum tau apa sebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.” Tanya pak Guntur.

“Ikan termasuk ke dalam hewan berdarah dingin. Pada kondisi udara/suhu dingin, tingkat konsumsi pada ikan menurun, sehingga kita perlu mengurangi asupan pakan yang diberikan. Selain itu, air hujan yang masuk ke dalam kolam akan mengakibatkan perubahan suhu yang drastis pada air kolam. Hal itu akan menyebabkan berkurangnya pasokan udara di dalam air. Untuk itu perlu disediakan air yang dialirkan ke dalam kolam untuk menciptakan gelembung-gelembung udara yang akan menambah ketersediaan oksigen di dalam air.” Jelas pak Syarkawi.

                                                                 ͠      °      ͠

Setelah beberapa hari menerima materi dan praktek di Hactery BBI Bangkinang, peserta diajak mengunjungi salah satu petani pembudidaya ikan patin yang berada di Dusun Pulai Jaya Desa Sawah Baru Kecamatan Kampar Timur.

Sofian, ketua kelompok tani Usaha Baru yang juga maerupakan pengurus KTNA Kabupaten Kampar menceritakan awal usahanya sebagai pembudidaya ikan patin.

“Awalnya kolam saya hanya dua buah dengan ukuran 15×17 m. Masing-masing berisi 400 ekor bibit ikan patin. Beberapa tahun berjalan, sekarang saya memiliki empat buah kolam. Dalam sekali tebar saya bisa memasukkan 10.000 ekor bibit ikan patin untuk kolam ukuran 15×25 m dan 12.000 ekor bibit untuk kolam ukuran 16×30 m. Anggota kelompok pun bertambah, awal pembentukan kelompok hanya 11 orang anggota menjadi 18 orang anggota.” tuturnya sambil tersenyum.

Kelompok tani Usaha Baru yang berdiri pada tanggal 19 November 2007 selalu memasukkan pertemuan rutin dalam agenda kelompok, yang dilakukan sekali dalam tiga bulan. Mereka juga pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa bibit dan pakan ikan. Terakhir mereka juga memperoleh bantuan mesin pembuat pakan ikan.

Usaha yang dilakukan oleh pak Sofian bukan tidak mengalami kendala. Ia mengisahkan saat itu ikan-ikannya terserang penyakit yang disebabkan oleh jamur, sehingga semua ikan patin miliknya mati. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa minggu sebelum panen. Akibatnya ia mengalami kerugian. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk terus berusaha.  Ia juga selalu berkoordinasi dengan petugas lapangan dan instansi terkait perihal perkembangan dan masalah-masalah yang ia hadapi dalam usaha budidaya ikan patin yang ia jalankan.

Untuk menekan biaya produksi, pak Sofian membuat pakan sendiri. Dengan adanya mesin pembuatan pakan yang diberikan oleh pemerintah, ia kelola pembuatan pakan yang kemudian ia distribusikan ke setiap anggota kelompoknya. Tak jarang pakan buatannya dibeli oleh petani-petani lain yang bergerak dibidang yang sama, yaitu budidaya ikan air tawar.

Bertahun-tahun berkecimpung dalam usaha budidaya ikan membuat ia lebih jeli dan kreatif dalam merawat ikan patin. Pepatah ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’ ia terapkan dalam pemeliharaan dan perawatan ikan patin miliknya.

“Saya sering memberikan ramuan tradisional untuk mencegah penyakit. Saya menggunakan campuran bawang putih dan daun ketepeng yang saya campurkan ke dalam pakan yang akan diberikan. Ramuan tersebut berkhasiat untuk menjaga daya tahan tubuh sehingga ikan tidak rentan terhadap serangan penyakit.” Jelas pak Sofian sambil menunjukkan daun ketepeng yang banyak tumbuh disekitar kolam.

“Saya sangat menghindari pemberian bahan-bahan kimia, karena selain akan menambah pengeluaran dalam biaya produksi, penggunaan bahan-bahan tradisional lokal lebih alami dan sehat.” Tuturnya lagi.

Langit cerah dengan sinar matahari langsung tanpa dihalangi oleh gumpalan awan. Semilir angin seperti tak cukup untuk mengusir gerah yang aku rasakan. Sesekali tanganku bergerak mengibaskan kertas yang kupegang untuk mendapatkan angin lebih banyak. Diklat telah berakhir dan peserta kembali ke tempat masing-masing dengan membawa harapan untuk bisa menerapkan apa yang mereka peroleh selama pelatihan. Berharap usaha budidaya yang mereka jalankan juga mencapai kesuksesan seperti yang telah mereka saksikan di Kampar.

Sukses hanya milik mereka yang mau berusaha, yang menganggap kegagalan bukanlah sebuah halangan untuk terus mencoba. Majulah petaniku, doa dan harapan baru selalu menyertaimu.

Ismawati, SP

 

Posting Komentar