Awal minggu, saya dan beberapa teman penyuluh pertanian mendatangi sebuah areal penanaman jagung. Ladang jagung itu berada di belakang kawasan pemukiman penduduk tak jauh dari ibukota kecamatan. Tepatnya di Kelurahan Terkul Kec. Rupat Kabupaten Bengkalis. Kami ke sana menggunakan tiga buah sepeda motor, bersama koordinator PPL dan Pak dokter hewan. Tidak lupa ikut dengan kami, penyuluh pertanian desa setempat bernama Ibu Elwati.
Tentang tugas membimbing masyarakat bidang pertanian lapangan, PPL dari Rupat ini salah satu yang terlama. Sudah 23 tahun ibu Elwati bertugas di Pulau Rupat, perempuan berdarah Sumatera Barat ini datang ke pulau sewaktu masih lajang. Sekarang telah dianugerahi tiga anak laki-laki dan seorang suami berkumis tebal. Tinggalnya di sebuah rumah dekat simpang empat, cukup dekat dengan posko penyuluh pertanian Rupat. Wilayah kerja Bu Elwati di tahun 2014 hanya ada dua desa/kelurahan, yaitu Terkul dan Batupanjang. Di tahun-tahun sebelumnya K’ El, begitu biasa kami memanggilnya, bertugas di seluruh desa dalam wilayah Kecamatan Rupat. Sulit dibayangkan.
Walau berbadan subur, namun K El masih sigap dan cekatan. Begitu sampai di perkebunan jagung, dia langsung bergegas menuju ke tengah kebun bersama beberapa orang petani.
“Batang kecil yang berdempet ini buang saja, karena akan mengganggu batang besar yang satu lagi. Akan terjadi kompetisi antar sesama batang jagung yang mengakibatkan pertumbuhan tidak optimal.” Jelas Bu El ke dua orang petani. Mereka lalu mencabut batang jagung yang mengganggu.
“Begitupula dengan tongkol jagung pada batang, harus diperhatikan jumlahnya. Karena jenis jagung ini bisi dua, maka jika ada tongkol jagung jumlahnya lebih dari itu juga harus dibuang. Hal ini agar nanti keduanya bisa berukuran besar saat kita panen.” Kata Bu El sambil memetik jagung kecil dari batangnya, dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak batang.
Jagung adalah tanaman pangan yang banyak tumbuh di wilayah Indonesia, karena kebanyakan tanah di negeri ini gembur dan subur. Bahkan salah satu daerah di Sulawesi tercatat pernah menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokok, sebelum rezim orde baru mematenkan beras sebagai satu-satunya bahan makanan pokok rakyat Indonesia. Akibatnya sekarang, upaya diversifikasi pangan untuk menekan konsumsi beras menghadapi jalan terjal, orang Indonesia sudah terlanjur ketagihan nasi.
Saya berpindah dari tempat Bu El memberi pengarahan, berjalan di tengah luasnya kebun jagung bak seorang detektif. Hingga kaki saya terantuk pada sebuah selang besar berwarna merah yang menjulur ke empat penjuru mata angin. Di situ telah berdiri seorang bapak yang sedang memperbaiki sambungan dengan pipa buka tutup. Kata bapak yang bertugas menjaga ketersediaan air itu, bahwa untuk memasok air, mereka menggunakan pompa mesin yang dialirkan melalui selang tersebut. Airnya ditampung dulu di sebuah bak yang terbuat dari kayu dan terpal.
“Letaknya bak air itu pas di tengah area kebun jagung, agar memudahkan kami mencapai tanaman saat menyiram. Saat mengalirkan air untuk penyiraman, tidak boleh terlalu lama. Jangan sampai ladang jagung terlalu kering dan jangan pula tergenang air.” Kata Bapak itu sambil memperbaiki kembali letak selang.
Setelah berkeliling area penanaman jagung, saya singgah sejenak di sebuah pondok kayu. Pondok tersebut sepertinya memang sengaja dibuat sebagai tempat beristirahat setelah penat bekerja. Untuk ukuran pondok istirahat, ukurannya sangat besar. Dinding dan tiangnya terbuat dari balok dan papan kayu yang cukup kuat.
Tidak seperti rumah pada umumnya, jarak antara lantai rumah dengan tanah sangat jauh. Menyisakan area yang luas di bawah rumah, dimana terdapat meja dan kursi panjang. Itu karena tiang penyangga rumah ini sangat tinggi, sekitar tiga meter dari permukaan tanah.
Sambil duduk meminum air di gelas kemasan, saya memperhatikan teman-teman lain yang sedang sibuk memberikan pengarahan atau sekedar berbincang dengan para petani. Kebetulan saat itu ikut dalam rombongan kami dua gadis jelita yang telah berada di pulau Rupat sejak tahun 2012. Jangan tanya cara kedua dara jelita itu mengendarai roda dua di jalan-jalan terjal pulau Rupat. Mereka laju, seperti tagline sebuah acara horor di TV, Do not try at home. Jauh dari orang tua, menghadapi jalan lumpur dan berlubang, kadang dihinggapi sepi dan rasa bosan, berselimut kerinduan. Merekalah srikandi tersembunyi, yang dengan sabar dan tekun memberi penyuluhan kepada petani-petani yang ada di pulau jauh.
Okey, kembali ke laptop. Eh, maksud saya kembali ke masalah jagung. Ada beberapa hal yang mestinya diperhatikan sebelum dan saat melakukan budidaya jagung. Sebelum menanam, sebaiknya dilakukan pengolahan tanah, walau saat ini juga sedang diperkenalkan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah). Tanah dibajak terlebih dahulu, lalu digemburkan atau dihaluskan. Tidak lupa pula kita membuat parit di sekeliling area penanaman dan parit memanjang di tengah lahan agar air yang masuk tidak tergenang.
Penanaman benih bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem lubang dan larikan. Salah satu perbedaannya yaitu pada jarak tanam pada masing-masing cara tersebut. Setelah benih ditanam, tentunya diberikan pupuk yang terdiri atas dua jenis, pupuk kompos dan pupuk anorganik. Tidak lupa lakukan dilakukan penyiangan pada umur jagung kurang dari 25 hari, jangan sampai rumputnya membesar. Sebelum datang masa panen jagung, ada dua hal yang juga harus terus dijaga, yaitu pengairan dan pengendalian terhadap hama penyakit. Cukup sederhana, namun butuh ketelatenan.
Di ladang jagung yang kami kunjungi itu, turut hadir Bapak Lurah Terkul. Bapak Wahidin saat itu masih menggunakan seragam dinas berwarna coklat muda, lengkap dengan topi hitam berlogo garuda. Setelah berkeliling area penanaman, Pak Lurah beristirahat di bawah pondok kayu sambil berbincang-bincang bersama para petani. Tujuan kedatangan Pak Lurah untuk memantau perkembangan kebun jagung seluas lima hektare tersebut sekaligus silaturahmi setelah lebaran.
“Perkembangannya cukup baik, namun ada juga beberapa titik yang kurang bagus. Sepertinya pertumbuhan jagungnya belum maksimal, kami harapkan penyuluh pertanian bisa membantu dalam memberikan pencerahan mengenai cara mengelola lahan jagung yang baik dan benar.” Harap Pak Wahidin, dibalas senyum simpul Pak Koordinator PPL.
Budidaya jagung milik kelompok tani Terkul ini telah berjalan selama sebulan. Dikerjakan di atas lahan bekas tanaman karet, tentu bukan hal yang gampang untuk membuatnya sukses. Masih jelas terlihat tunggul-tunggul raksasa bekas pokok getah yang telah ditebang. Adapun jika bekas tebangan itu masih belum mati sepenuhnya maka akan tetap menyerap unsur hara. Itu bisa menjadikan tanaman jagung kekurangan suplay makanan walaupun telah dipupuk.
Selain itu, sepertinya petani kurang memperhatikan jarak tanam pada penanaman jagung kali pertama ini. Jarak tanam begitu rapat dan sepertinya tidak teratur, menyebabkan perkembangan tanaman terhambat, ada yang sudah tinggi semeter namun tidak sedikit yang baru tumbuh 10 senti. Begitupula dengan kealpaan bedengan, entah disengaja atau tidak. Dalam teknik budidaya jagung dengan bedengan, sebaiknya lebarnya dibuat sekitar 120 cm dengan ketinggian 15-25 cm. Jarak tanam kira-kira 80 cm dengan 3 jagung di tiap lubang. Hal-hal tersebut mudah-mudahan bisa dibenahi dalam penanaman jagung trip berikutnya.
Saya selalu merasa beruntung bila ke tempat petani seperti ini, seperti halnya ketika berkunjung ke komunitas nelayan ataupun peternak. Selalu ada semangat terpancar dari mereka. Saya belajar bagaimana mereka bertahan hidup, mengembangkan kemampuan dan pengalaman mereka. Dari adat dan kebiasaan mereka selalu ada yang hal baru yang terserap. Baik itu secara tersirat, maupun dari perilaku dan percakapan mereka. Yang paling penting adalah mereka merajut mimpi tanpa henti, hingga apa yang mereka harapkan bisa terjadi. Hal-hal yang tidak akan pernah saya dapatkan di bangku sekolah atau sekedar membaca buku-buku teori.
Hari menjelang petang, kamipun permisi untuk pulang. Di tengah perjalanan menuju posko PPL yang kebetulan sedang ramai setelah sehari sebelumnya ada pertemuan bulanan, kami singgah di sebuah rumah penduduk. Masih di desa yang sama, namun tempatnya agak jauh ke dalam perkampungan. Di sana kami bersilaturahmi bersama penduduk setempat dan memanen buah rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat. Koordinator PPL yang sedang banyak pikiran akhirnya bisa bersenang-senang. Bersama Pak Dokter, dia mengambil buah memerah itu menggunakan galah bambu. Kami menikmatinya di balai kayu bawah pohon . What a beautiful day.
Tentang tugas membimbing masyarakat bidang pertanian lapangan, PPL dari Rupat ini salah satu yang terlama. Sudah 23 tahun ibu Elwati bertugas di Pulau Rupat, perempuan berdarah Sumatera Barat ini datang ke pulau sewaktu masih lajang. Sekarang telah dianugerahi tiga anak laki-laki dan seorang suami berkumis tebal. Tinggalnya di sebuah rumah dekat simpang empat, cukup dekat dengan posko penyuluh pertanian Rupat. Wilayah kerja Bu Elwati di tahun 2014 hanya ada dua desa/kelurahan, yaitu Terkul dan Batupanjang. Di tahun-tahun sebelumnya K’ El, begitu biasa kami memanggilnya, bertugas di seluruh desa dalam wilayah Kecamatan Rupat. Sulit dibayangkan.
Walau berbadan subur, namun K El masih sigap dan cekatan. Begitu sampai di perkebunan jagung, dia langsung bergegas menuju ke tengah kebun bersama beberapa orang petani.
“Batang kecil yang berdempet ini buang saja, karena akan mengganggu batang besar yang satu lagi. Akan terjadi kompetisi antar sesama batang jagung yang mengakibatkan pertumbuhan tidak optimal.” Jelas Bu El ke dua orang petani. Mereka lalu mencabut batang jagung yang mengganggu.
“Begitupula dengan tongkol jagung pada batang, harus diperhatikan jumlahnya. Karena jenis jagung ini bisi dua, maka jika ada tongkol jagung jumlahnya lebih dari itu juga harus dibuang. Hal ini agar nanti keduanya bisa berukuran besar saat kita panen.” Kata Bu El sambil memetik jagung kecil dari batangnya, dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak batang.
Jagung adalah tanaman pangan yang banyak tumbuh di wilayah Indonesia, karena kebanyakan tanah di negeri ini gembur dan subur. Bahkan salah satu daerah di Sulawesi tercatat pernah menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokok, sebelum rezim orde baru mematenkan beras sebagai satu-satunya bahan makanan pokok rakyat Indonesia. Akibatnya sekarang, upaya diversifikasi pangan untuk menekan konsumsi beras menghadapi jalan terjal, orang Indonesia sudah terlanjur ketagihan nasi.
Saya berpindah dari tempat Bu El memberi pengarahan, berjalan di tengah luasnya kebun jagung bak seorang detektif. Hingga kaki saya terantuk pada sebuah selang besar berwarna merah yang menjulur ke empat penjuru mata angin. Di situ telah berdiri seorang bapak yang sedang memperbaiki sambungan dengan pipa buka tutup. Kata bapak yang bertugas menjaga ketersediaan air itu, bahwa untuk memasok air, mereka menggunakan pompa mesin yang dialirkan melalui selang tersebut. Airnya ditampung dulu di sebuah bak yang terbuat dari kayu dan terpal.
“Letaknya bak air itu pas di tengah area kebun jagung, agar memudahkan kami mencapai tanaman saat menyiram. Saat mengalirkan air untuk penyiraman, tidak boleh terlalu lama. Jangan sampai ladang jagung terlalu kering dan jangan pula tergenang air.” Kata Bapak itu sambil memperbaiki kembali letak selang.
Setelah berkeliling area penanaman jagung, saya singgah sejenak di sebuah pondok kayu. Pondok tersebut sepertinya memang sengaja dibuat sebagai tempat beristirahat setelah penat bekerja. Untuk ukuran pondok istirahat, ukurannya sangat besar. Dinding dan tiangnya terbuat dari balok dan papan kayu yang cukup kuat.
Tidak seperti rumah pada umumnya, jarak antara lantai rumah dengan tanah sangat jauh. Menyisakan area yang luas di bawah rumah, dimana terdapat meja dan kursi panjang. Itu karena tiang penyangga rumah ini sangat tinggi, sekitar tiga meter dari permukaan tanah.
Sambil duduk meminum air di gelas kemasan, saya memperhatikan teman-teman lain yang sedang sibuk memberikan pengarahan atau sekedar berbincang dengan para petani. Kebetulan saat itu ikut dalam rombongan kami dua gadis jelita yang telah berada di pulau Rupat sejak tahun 2012. Jangan tanya cara kedua dara jelita itu mengendarai roda dua di jalan-jalan terjal pulau Rupat. Mereka laju, seperti tagline sebuah acara horor di TV, Do not try at home. Jauh dari orang tua, menghadapi jalan lumpur dan berlubang, kadang dihinggapi sepi dan rasa bosan, berselimut kerinduan. Merekalah srikandi tersembunyi, yang dengan sabar dan tekun memberi penyuluhan kepada petani-petani yang ada di pulau jauh.
Okey, kembali ke laptop. Eh, maksud saya kembali ke masalah jagung. Ada beberapa hal yang mestinya diperhatikan sebelum dan saat melakukan budidaya jagung. Sebelum menanam, sebaiknya dilakukan pengolahan tanah, walau saat ini juga sedang diperkenalkan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah). Tanah dibajak terlebih dahulu, lalu digemburkan atau dihaluskan. Tidak lupa pula kita membuat parit di sekeliling area penanaman dan parit memanjang di tengah lahan agar air yang masuk tidak tergenang.
Penanaman benih bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem lubang dan larikan. Salah satu perbedaannya yaitu pada jarak tanam pada masing-masing cara tersebut. Setelah benih ditanam, tentunya diberikan pupuk yang terdiri atas dua jenis, pupuk kompos dan pupuk anorganik. Tidak lupa lakukan dilakukan penyiangan pada umur jagung kurang dari 25 hari, jangan sampai rumputnya membesar. Sebelum datang masa panen jagung, ada dua hal yang juga harus terus dijaga, yaitu pengairan dan pengendalian terhadap hama penyakit. Cukup sederhana, namun butuh ketelatenan.
Di ladang jagung yang kami kunjungi itu, turut hadir Bapak Lurah Terkul. Bapak Wahidin saat itu masih menggunakan seragam dinas berwarna coklat muda, lengkap dengan topi hitam berlogo garuda. Setelah berkeliling area penanaman, Pak Lurah beristirahat di bawah pondok kayu sambil berbincang-bincang bersama para petani. Tujuan kedatangan Pak Lurah untuk memantau perkembangan kebun jagung seluas lima hektare tersebut sekaligus silaturahmi setelah lebaran.
“Perkembangannya cukup baik, namun ada juga beberapa titik yang kurang bagus. Sepertinya pertumbuhan jagungnya belum maksimal, kami harapkan penyuluh pertanian bisa membantu dalam memberikan pencerahan mengenai cara mengelola lahan jagung yang baik dan benar.” Harap Pak Wahidin, dibalas senyum simpul Pak Koordinator PPL.
Budidaya jagung milik kelompok tani Terkul ini telah berjalan selama sebulan. Dikerjakan di atas lahan bekas tanaman karet, tentu bukan hal yang gampang untuk membuatnya sukses. Masih jelas terlihat tunggul-tunggul raksasa bekas pokok getah yang telah ditebang. Adapun jika bekas tebangan itu masih belum mati sepenuhnya maka akan tetap menyerap unsur hara. Itu bisa menjadikan tanaman jagung kekurangan suplay makanan walaupun telah dipupuk.
Selain itu, sepertinya petani kurang memperhatikan jarak tanam pada penanaman jagung kali pertama ini. Jarak tanam begitu rapat dan sepertinya tidak teratur, menyebabkan perkembangan tanaman terhambat, ada yang sudah tinggi semeter namun tidak sedikit yang baru tumbuh 10 senti. Begitupula dengan kealpaan bedengan, entah disengaja atau tidak. Dalam teknik budidaya jagung dengan bedengan, sebaiknya lebarnya dibuat sekitar 120 cm dengan ketinggian 15-25 cm. Jarak tanam kira-kira 80 cm dengan 3 jagung di tiap lubang. Hal-hal tersebut mudah-mudahan bisa dibenahi dalam penanaman jagung trip berikutnya.
Saya selalu merasa beruntung bila ke tempat petani seperti ini, seperti halnya ketika berkunjung ke komunitas nelayan ataupun peternak. Selalu ada semangat terpancar dari mereka. Saya belajar bagaimana mereka bertahan hidup, mengembangkan kemampuan dan pengalaman mereka. Dari adat dan kebiasaan mereka selalu ada yang hal baru yang terserap. Baik itu secara tersirat, maupun dari perilaku dan percakapan mereka. Yang paling penting adalah mereka merajut mimpi tanpa henti, hingga apa yang mereka harapkan bisa terjadi. Hal-hal yang tidak akan pernah saya dapatkan di bangku sekolah atau sekedar membaca buku-buku teori.
Hari menjelang petang, kamipun permisi untuk pulang. Di tengah perjalanan menuju posko PPL yang kebetulan sedang ramai setelah sehari sebelumnya ada pertemuan bulanan, kami singgah di sebuah rumah penduduk. Masih di desa yang sama, namun tempatnya agak jauh ke dalam perkampungan. Di sana kami bersilaturahmi bersama penduduk setempat dan memanen buah rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat. Koordinator PPL yang sedang banyak pikiran akhirnya bisa bersenang-senang. Bersama Pak Dokter, dia mengambil buah memerah itu menggunakan galah bambu. Kami menikmatinya di balai kayu bawah pohon . What a beautiful day.



Posting Komentar