Libur panjang akhir tahun. Ada tiga hal yang membuat liburan kali ini menjadi begitu panjang. Yang pertama tanggal merah pada hari natal 25 Desember, lalu tidak masuk kerja pada tanggal 1 Januari, keduanya bertepatan dengan hari libur semester anak sekolah. Maka beramai-ramailah para pekerja menghibur diri setelah bergumul dengan aktifitas sehari-hari yang kadang menjemukan. Bepergian, berarti membutuhkan alat transportasi, salah satunya perahu speed. Aktifitas di pelabuhan speed Rupat meningkat, setidaknya begitu yang kusaksikan beberapa hari terakhir.
“Bunda, pelan-pelan. Ini sandal saya hampir lepas.”
Seorang perempuan berjilbab hitam mendengar protes anaknya itu, dia lalu berjongkok memperbaiki letak sandal di kaki anaknya.
“Dedek mau sandalnya dilepas saja? Kata perempuan itu, matanya menatap sepasang sandal plastik berwarna hitam di kaki anaknya.
“Tak mau, di situ ada ular.” Sahut si bocah sambil menunjuk ke dermaga kayu warna coklat kusam di depannya.
Si ibu hanya tersenyum lalu memegang tangan anaknya, melangkahi satu persatu balok dermaga kayu pinggir pantai itu.
Hujan baru saja berhenti, awan hitam berarak menjauh dari perairan Rupat. Semilir angin berhembus bawa angin laut ke daratan. Menara lampu suar berwarna putih tampak menjulang tinggi, pemberi isyarat bagi kapal di tengah laut. Lima orang sedang berada di dalam sebuah bilik kayu, mereka melayani penumpang yang ingin menggunakan sarana transportasi laut bernama kapal speed.
Para pengantar penumpang dan kuli angkut barang yang hilir mudik membuat dermaga kayu sedikit bergoyang. Seorang tukang becak berbaju kuning menaikkan barang bawaan penumpang ke atas becaknya. Seorang lelaki bertopi jerami membawa gerobak yang ditarik dengan motor, sibuk mencari tempat untuk memarkirkan gerobak besar itu di ujung dermaga. Seorang agen kapal speed yang mengatur trip kapal dan jumlah penumpang yang akan berangkat, duduk di atas kayu penyanggah dermaga.
“Lagi ramai ya, bang? Tanyaku kepada seorang lelaki berT-shirt merah, tangan kanannya memegang beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
“Iya. Beberapa hari ini penumpang ramai.” Jawabnya, matanya sesekali memperhatikan calon penumpang yang baru datang.
“Berapa trip sehari?”
“Kalau hari-hari biasa, 13 trip bolak-balik Rupat-Dumai. Sekarang 15 trip atau lebih.”
”Harga tiket?”
”Tidak ada perubahan, hanya menyesuaikan kenaikan harga minyak tempo hari.”
”Berapa tu, bang?”
”Dulu 25.000, pas BBM naik jadi 30.000 per orang.”
Pria berperawakan gemuk itu kembali melayani pembelian tiket kapal speed, kawannya menegur saat dia terlalu lama ngobrol dengan seorang anak gadis. Dia hanya meringis sambil garuk-garuk kepala. Suasana ala kadarnya, tidak ada situasi formal, kaku, apalagi pemeriksaan barang bawaan.
Rupat, sebuah pulau yang unik. Wilayahnya tak tanggung luas, beberapa tempat begitu sunyi, sebagian tempat sangat ramai. Beberapa tempat pertanian sudah ikut modernisasi, dilain tempat yang jaraknya tidak begitu jauh, petani dengan tekun menanam bibit lokal. Gemerlap lampu dan informasi bisa dibilang masih payah di pulau Rupat, namun jika datang masa pilkada atau pilkades, kita tidak akan kesulitan mendapat orang-orang yang tiba-tiba menjadi juru kampanye dadakan. Dalam waktu semalam saja, mereka telah jadi melek politik lalu seakan tahu segalanya, kemana dunia kecil mereka ini akan diarahkan.
Dermaga panjang ini 20 meter menjorok ke laut, membuat batu-batu besar tak lagi nampak. Letaknya di kelurahan Batupanjang, yang konon asal namanya dari sebuah batu besar nan panjang yang dulunya menghubungkan Rupat-Dumai. Kedua daerah ini kabarnya pernah menjadi satu kesatuan, berada dalam satu kecamatan.
Di depan dermaga kayu penyeberangan Rupat-Dumai, kapal besar membuang jangkar, didekap laut biru yang tergaris horizontal. Sementara itu di bawah dermaga, beberapa speed tertambat di kayu pancang.
“Ayo naik, yang tujuan Dumai…” Suara agen kapal membuyarkan khayal dan percakapan para penumpang yang telah lama menunggu. Ketika jumlah penumpang kapal telah mencukupi enam orang, maka speed akan segera berlayar.
Para penumpang berjalan ke arah kiri dermaga, tempat perahu ditambatkan. Jalan beton menuju ke bawah terendam air laut, mungkin pengaruh air pasang atau akibat hujan yang turun deras pagi tadi. Beberapa orang melepas sepatu dan sandal, menggendong anak melangkah ke dalam perahu. Lambaian tangan para pengantar akhirnya menjadi klimaks perjalanan dari dermaga kayu ini. Namun tidak sampai di situ, para penumpang akan berlayar selama 20 sampai 30 menit hingga akhirnya tiba di Dumai.
Dalam beberapa kali perjalananku menggunakan speed, di ujung perjalanan ini, kita akan naik ke dermaga kayu juga, di pelabuhan TPI Dumai. TPI-Tempat Penampungan Ikan, lokasi bersandar kapal-kapal nelayan sehabis melaut. Letaknya tepat di samping kantor polisi resort Dumai, yaitu kantor satuan polisi perairan. Dari perahu speed, kita naik melalui geladak kayu yang sudah banyak lapuk, belum lagi anak tangga dermaga tersebut yang kemiringannya membuat jantung berdebar. Jika baru saja disiram air hujan, kayu dermaga akan menjadi licin, kaki harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin terperosok. Tidak ada seorang pun yang ingin tercebur ke laut yang kotor karena airnya bercampur minyak itu.
Sudah hampir satu jam berlalu, berada di dermaga kayu sambil menikmati riak dan pemandangan pulau yang syahdu. Gelombang air laut di bawah dermaga menghempas tiang beton yang diselimuti kulit kerang. Pada saat itu, melintas dua perahu nelayan entah dari mana asalnya, melaju di atas belantara ombak laut, meninggalkan buih di belakang deburannya.
“Hoi, apa buat sini?” Sebuah suara membuat kaget, hampir bersamaan dengan tepukan yang mendarat di atas bahuku.
“Oi, mas bro…” Kataku setelah menoleh secara refleks, kukenali wajah berkopiah hitam itu. Dia adalah seorang kawan dari desa tempatku bertugas, umurnya sekitar 30-an tahun.
“Mau kemana, bro?” Tanyaku kepada kawan berbalut jaket hitam itu.
“Mau ke dumai, ada acara nikahan saudara.” Jawabnya lalu tersenyum.
“Sendiri aja nih?” Tanyanya kemudian.
“Yoi bro, posko kami sedang lengang. Suntuk di sana, jadi jalan-jalan kemari…”
Hehehe
Kami lalu berjalan ke dalam ruang tunggu penumpang speed. Lantainya dari kayu, di sepanjang dinding pembatas, melekat dua bilah papan yang menjadi tempat duduk. Di salah satu pojok, lantai ruangan tunggu ini telah keropos dan miring ke bawah. Hampir semua tempat duduk penuh, selain duduk menunggu kapal, ada juga penumpang yang tidur-tiduran. Kami memilih duduk di sebelah lelaki tua berkupluk, kedua lengannya melipat ke dada, menahan dingin angin laut.
“Apa pula bawa buku sama pena. Jadi wartawan sekarang ni?” Selidik kawan itu kala melihat buku dan pulpen di saku bajuku.
“Kadang gitu, jurnalisnulis sesuka hati…” Jawabku seadanya.
“Kira saya wartawan yang belagak jadi tipikor.”
Hahaha.
Tawanya meledak, hampir tidak peduli dengan orang di sekitar.
“Hus, didengar orang nanti.”
“Biar aja. Emang banyak yang seperti itu, datangi desa per desa seperti intel.”
Hahaha.
Kubiarkan dia tertawa dulu, pembicaraan tidak kusambung lagi. Baru setelah tawa kawan itu reda, baru kulanjutkan.
“Ini, mau nulis tentang kapal speed, tapi belum ada keterangan.”
“Tentang kapal? Tunggu disini, kupanggil kawan yang tukang bawa speed.”
Dia lalu pergi, menghilang dibalik kedai kopi samping ruang tunggu. Jika benar yang dikatakan kawan itu, berarti pucuk dicinta ulam tiba. Tidak perlu repot-repot mengganggu kerjaan para agen yang sibuk dengan penumpang.
Tidak berapa lama, seorang pria berbaju kaos hitam datang mendekat. Tubuhnya kurus, kulit hitam, celana pendek dan kacamata riben di atas ubun-ubun.
“Bang.” Sapaku berusaha bersikap ramah.
“Dari tadi sini?” Dia jawab dengan pertanyaan. Lalu kami bersalaman.
Terjadilah percakapan yang diinginkan.
Namanya Rudi, sebut saja begitu karena dia tidak mau namanya dituliskan dengan alasan tertentu. Sudah tiga tahun mencari nafkah dengan mengemudikan speed, keahlian yang dipelajarinya dari teman-teman sepergaulan. Anaknya dua orang, satu laki-laki satu perempuan, keduanya sudah masuk SD. Pagi tadi, bang Rudi sarapan ubi rebus dan segelas kopi, istrinya meminum teh dan juga menyantap ubi rebus. Kedua anaknya tidak sarapan, langsung saja diberi uang ribuan untuk membeli jajan di sekolah. Bang Rudi pulang ke rumah setelah petang, biasanya menu makan malam bersama keluarga berupa lauk ikan goreng atau telur atau sambal tempe/tahu. Dia tidak terlalu suka sayur.
Entah mengapa kutanyakan hal-hal itu, tertulis jelas di buku saku yang kubawa. Mungkin pikiranku masih terpengaruh survei konsumsi pangan yang berlangsung di Rupat beberapa waktu yang lalu.
“Kalau kapal berada di tengah laut lalu terjadi kendala, biasanya kawan kita datang membantu.” Jawab bang Rudi ketika kutanyakan tentang kapalnya.
“Kendala apa aja tu bang?”
“Misalnya cuaca buruk, ombak, hujan, angin kencang, atau mesin rusak.”
“Biasa terjadi seperti itu?”
“Biasalah, namanya juga di atas laut, kondisi sulit ditentukan.”
“Keamanan penumpang gimana?”
“Setelah beberapa kejadian, perahu speed mulai dipasang pelampung.”
Beberapa kejadian di tengah laut akibat kapal speed dihantam ombak memang pernah terjadi, sebagai upaya antisipasi penumpang yang tidak bisa berenang, kapal speed mulai dilengkapi pelampung. Itu pun belum semua, hanya beberapa kapal yang menyediakan.
“Kekuatan mesin kapal abang berapa?” Tanyaku
“Mesin 40 PK. Kalau cuma sendiri, kecepatan bisa sampai 1.000, kalau ada enam orang penumpang hanya 600.”
“Kalau dijelaskan dengan kata-kata, macam mana tu?”
“Macam angin!”
Bang Rudi lalu melanjutkan bahwa penumpang tidak perlu risau, dia tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan penumpang speednya. Dia juga tidak memaksa menyeberangkan penumpang jika kondisi laut tidak memungkinkan.
“Habis berapa liter setiap hari, bang?”
“Setiap speed biasanya tiga kali PP (pergi-pulang) dari Rupat ke Dumai. Jadi satu kapal 6 trip/hari, habis 35-40 liter solar.
“Ambil penumpangnya memang harus lewat agen?”
“Iya, supaya teratur. Kalau ada yang mau carter bisa langsung nego, 180-200 ribu ke Dumai. Ada juga yang cuma mengirimkan motor ke sana, harganya juga segitu.”
“Kalau ada keadaan darurat gimana, orang sakit misalnya?”
“Kalau saya pribadi tidak mempersoalkan bayaran dulu, selama kapal masih ada minyak saya antar. Kemarin ada orang dari Pergam kena pisau mesin potong rumput, malam pula tu, kami antar langsung ke Dumai. Keluarganya baru bayar beberapa hari kemudian. Namanya saling tolong menolong, tapi tetap kami minta biaya juga, solanya penghasilan di situ. Kalo gratis bisa tidak makan kami.”
Hahaha
Yang kutahu, Bang Rudi tidak menertawakan penderitaan orang, tapi menertawakan dua sisi kehidupan yang kadang tidak sejalan. Hati dan kenyataan. Terkadang kita ingin membantu orang karena sisi kemanusiaan kita memanggil untuk itu, namun pamrih harus datang karena untuk bertahan kita tetap butuh uang. Sesuatu yang jika dipikirkan hanya akan menambah beban di kepala, jadi dibawa tertawa saja, sudah selayaknya.
Kawan yang memperkenalkan kami telah menyeberang ke Dumai, tadi dia berjalan melewati ruang tunggu sambil mengangkat tangan tanda permisi. Bang Rudi juga telah kembali menggumuli aktifitasnya sebagai tekong perahu speed.
Rinai hujan turun lagi, tetes demi tetes jatuh di atas dermaga kayu. Di saat sebuah momen berakhir, maka akan muncul momen yang baru. Berbagai macam hal berawal dan berakhir, kadang manis tidak sedikit yang terasa pahit, ada yang bertemu dan berpisah, berhujan dan mencerah, saling melengkapi hingga mendekati sempurna.
Kulepas jaket lalu menutup kepalaku, berlari kecil menuju tempat si billy terparkir. Jejak buih speed meninggalkan dermaga kayu yang tertelan kabut tebal membisu.



Posting Komentar