Bulat bulan nyaris tidak pernah terlihat. Binatang malam sesekali berbunyi memecah kebisuan malam. Rumah-rumah besar mengonggok tanpa lampu, sedari sore tadi Rupat dilanda mati lampu. Tak ada orang yang berani berjalan keluar, angin santer yang menggigilkan batang karet bertiup kencang dari dermaga kayu.
Di dalam rumah berdinding putih itu, seorang wanita muda sedang menyiapkan alat dan bahan untuk percobaan esok hari. Tangannya tidak pernah lepas dari handphone yang sebentar-sebentar memekikkan ringtone tanda panggilan masuk.
“Bahannya dah lengkap? Besok jangan lupa jam sembilan pagi ya.” Terdengar suara kecil dari speaker handphone yang melekat di telinga wanita itu.
“Iya. Bahannya sedang saya persiapkan.” Jawabnya singkat.
Kelelahan jelas terpancar dari matanya yang sayu, kantuk datang merayap pelan perlahan di pelupuk matanya.
“Sebentar lagi siap, lalu istirahat.” Begitu batinnya merayu agar raga tetap fokus pada kerja.
Jam dinding telah berdentang sepuluh kali, guntur menggelegar bagai runtuhkan langit keras-keras disepanjang malam.
Setelah yakin bahwa hasil kerjanya rampung, diapun beranjak ke pembaringan untuk tidur.
***
Matahari menampakkan diri kala terdengar kokok ayam jantan dari hutan tanaman karet di belakang rumah. Selalu ada fajar setelah badai di malam yang gelap. Dari jendela samping rumah, wanita itu bisa melihat tetangganya bernama Juminah bersiap ke pasar dengan sepeda tuanya. Aktifitas yang selalu dilakukan ibu dua orang anak itu jika malam hari turun hujan. Artinya pohon karet tak bergetah, Juminah mencoba peruntungannya menjual sayur mayur di pasar dan kedai-kedai terdekat.
Jam delapan pagi, wanita di dalam rumah itu berangkat ke kantor yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Tidak perlu tergesa-gesa sebab kemacetan tidak pernah terjadi di Pulau terluar dan terdepan itu. Di aula pertemuan UPTD Pertanian dan peternakan telah hadir beberapa orang yang sedang menata meja dan kursi.
”Undangan telah dibagikan?” Tanya seorang lelaki berbaju dinas kala kakinya melangkah masuk.
“Sudah. Sesuai instruksi bapak, saya mengundang orang yang belum pernah ikut pelatihan seperti ini.”
“Bagus. Utamakan ibu-ibu yang sudah punya usaha sebelumnya, jadi tidak perlu memulai dari awal lagi.”
“Iya pak. Pesertanya sudah sesuai. Saya panggil dari beberapa desa yang dekat dengan Batupanjang.”
“Baiklah. Tolong bantu menyusun alat dan bahan, sebentar lagi kita mulai.”
Perbincangan terhenti, berganti suara dorongan meja dan kursi yang disusun rapi.
Para peserta telah berkumpul di dalam ruangan, mereka berasal dari beberapa desa dan kelurahan di kecamatan Rupat. Tiga orang dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkalis telah berada di tempat duduk masing-masing.
Pembukaan acara dimulai dengan kata sambutan dari beberapa penanggung jawab acara, lalu penjelasan mengenai kegiatan yang sedang berlangsung.
Pelatihan dan Bimbingan Penerapan Teknologi Peternakan Tepat Guna, diadakan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkalis. Untuk kecamatan Rupat, peserta berjumlah 25 orang yang diundang dari Kelurahan Tanjung Kapal, Batupanjang, Kelurahan Pergam dan Terkul. Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah memberi nilai tambah pada hasil-hasil peternakan masyarakat, juga untuk membuka peluang usaha bagi keluarga yang memiliki ternak. Penerapan teknologinya bukanlah skala besar, namun skala usaha yang bisa diterapkan secara langsung. Modal yang diperlukan relatif kecil, namun jika ditekuni bisa memberikan dampak yang signifikan pada perekonomian keluarga.
Teknologi tepat guna. Sepertinya tidak asing lagi bagi pendengaran sebagian orang. Sebenarnya beberapa orang kerap pesimis dengan keberadaan teknologi, sebut saja para pecinta lingkungan ‘garis keras’ yang mengadili bahwa penggunaan teknologi merusak keseimbangan ekosistem. Begitupula di bidang pertanian, bagi mereka yang sangat peduli dengan lingkungan menganggap penerapan teknologi telah menjadi momok menakutkan. Sebut saja dampak swasembada beras pada tahun 80-an, telah meninggalkan kerusakan akut pada tanah dan lingkungan.
Mungkin didasari hal negatif tersebut, beberapa pemikir memilih jalan tengah. Mereka menyarankan agar tetap menggunakan teknologi tapi dengan pijakan tepat guna. Ketika efek negatif dihilangkan, maka teknologi akan bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Pemikiran konservatif yang kadang diralat sendiri akibat fakta lapangan yang justru berbalik arah. Mungkin hanya perlu sedikit ketidak pedulian dan sikap acuh tak acuh tentang hal tersebut. Pada kenyataannya, pemupukan berimbang, penggunaan pestisida pada ambang ekonomi, pengadaan handtraktor dan teknologi jajar legowo sudah dimahfumi sebagai jalan keluar dari berbagai masalah pertanian yang ada.
Kembali ke dalam aula pertemuan, hawa masih terasa sejuk. Kipas angin terus saja berputar di atas langit-langit sana. Sebuah poster besar berisikan rincian tupoksi UPTD Pertanian dan Peternakan diam membisu di dinding batu.
Para instruktur pelatihan ini tampak mulai sibuk, setelah terlebih dahulu memperkenalkan alat dan bahan yang akan digunakan. Tentu saja produk utama berupa telur dan daging ternak dihadirkan, sesuai tujuan pelatihan yaitu memaksimalkan produk peternakan yang biasanya dijual mentah agar bernilai lebih ekonomis.
Di atas meja kantor yang telah disulap menjadi meja dapur, telah tertata alat masak, antara lain kompor portable, baskom, piring, cetakan kue, pisau, blender dan gilingan batu. Di depan meja tersebut, seorang ibu muda terlihat begitu antusias membuat bakso daging ayam. Menu itu merupakan resep pertama dari dua resep yang akan dipraktekkan.
a. Bahan: Daging ayam, tepung terigu, merica, bawang merah, bawang putih, garam dan penyedap rasa.
b. Cara membuat:
- Pisahkan daging ayam dari tulangnya
- Daging ayam diiris kecil-kecil lalu diblender
- Masukkan daging ayam ke sebuah wadah lalu aduk bersama tepung terigu
- Masukkan merica, garam, bawang merah, bawang putih yang telah dihaluskan
- Tambahan penyedap rasa sesuai selera
- Aduk lagi hingga semua bahan tercampur merata dengan daging ayam
- Bentuk bulatan-bulatan kecil dari bahan yang telah diaduk
- Masukkan hasil bulatan bakso tersebut ke dalam air mendidih
- Rebus hingga bakso timbul di permukaan air
- Angkat dan tiriskan
Ibu muda bernama Samsinar yang sedari tadi aktif membuat bakso daging ayam itu, mendekat ke si wanita lalu berkata,
”Kami pernah membuat bakso yang seperti itu, tapi tidak jadi.”
”Kenapa bisa gitu, bu?”
”Dulu kami pakai tepung kanji dan tepung gandum. Bulat di tangan tangan tapi hancur ketika direbus.”
”Jadi sudah paham sekarang?” Tanya si wanita yang ikut mengawasi jalannya pelatihan.
’’Sekarang kami sudah tahu rahasianya, jadi sudah bisa.”
”Baguslah bu. Bahannya ada dirumah kan?” Tanya si wanita.
”Ada. Daging ayam tersedia, kami memelihara di rumah.”
”Coba membuatnya beberapa kali bu, untuk makan keluarga dahulu, agar lancar cara membuatnya.”
”Iya. Akan kami buat, nanti kalau ada keramaian akan kami jual di kaki lima.”
Perbincangan mereka terputus, instruktur pelatihan akan segera memulai pembuatan resep kedua yaitu martela, singkatan dari martabak telor ayam.
a. Bahan: Telur ayam, tepung gandum, merica, bawang prey, sayur kol, garam dan penyedap rasa.
b. Cara membuat:
- Potong-potong sayurnya hingga ukurannya kecil
- Masukkan potongan tersebut ke dalam sebuah wadah lalu campur dengan tepung gandum dan telur ayam.
- Masukkan merica, garam dan penyedap rasa
- Aduk lagi hingga merata
- Masukkan adonan ke dalam cetakan yang sudah diolesi minyak goreng
- Panggang di atas api kompor
- Jika adonan mengembang dan berwarna kuning kecoklatan, angkat dan sajikan
”Ibu-ibu telah mencoba mengolah hasil peternakan menjadi produk yang bisa dikemas dan dijual kembali. Nilai lebih dari produk yang kita hasilkan mudah-mudahan bisa mendatangkan income pada keuangan keluarga.” Harap instruktur pelatihan.
”Pengetahuan ini bisa langsung dipraktekkan setiba di rumah masing-masing. Bisa lebih irit juga dalam pengeluaran rumah tangga, jajan anak juga terjamin kebersihan dan keamanannya.” Tutup instruktur.
Manusia selalu merasa nyaman ketika mendapat pengetahuan baru, menjadi senang ketika semua hal menjadi terjelaskan. Tapi tentu saja kapasitas otak manusia tidak mampu melakukan itu semua secara utuh, ada hal-hal yang tetap saja menjadi misteri. Kehidupan selalu menyimpan rahasia untuk dipecahkan, sehingga pemikiran manusia bisa melesat melampaui segala yang tidak terduga. Manusia selalu belajar dari gerak sejarah, sampai kebenaran datang lalu menyusup ke dalam dada.
Ini bulan keduabelas, hujan semakin menjadi-jadi. Si wanita kembali ke rumahnya. Dengan jarak yang cukup dekat untuk pulang, dia memilih berjalan kaki. Ingatannya serasa tertarik ke masa lampau. Saat dia tumbuh bersama anak-anak pulau Rupat lainnya, bermain dan bergembira dengan hujan. Waktu itu penduduk Batupanjang cuma ke sedikit, masih bisa berlari-lari keliling kampung tanpa khawatir tertabrak mobil atau sepeda motor. Bersama kawan-kawan sepermainan, mereka mencabuti bunga-bunga di padang lapang, bermain di tepi pantai sampai kulit gosong, hingga jalan kaki ramai-ramai ke surau untuk mengaji. Jika malam menjelang mereka mengerjakan pekerjaan sekolah bersama-sama, hanya ditemani obor bambu dan kunang-kunang. Ah, masa lalu itu tak bisa dia lupakan, seperti kenangan yang selalu menggaris seluruh ingatan. Saat itu teknologi belum lagi maju seperti sekarang


Posting Komentar