Pelepasan Bibit Ikan di Keramba

Langit mengencingi Rupat tak habis-habis. Pagi itu sekitar jam 08.39 WIB, di posko PPL hanya ada kami berdua, Arip dan Gani. Kucing belang dan anaknya bernama felix bermain-main di depan pintu dapur. Saya memanaskan motor biru yang terluka parah di bagian tangki itu, sementara Arip packing barang bawaan ke lapangan. Kami bercita-cita meluncur ke desa Pancur, pecahan desa Pangkalan Nyirih. Apa pasal? Tanya pada kepala UPTD Perikanan dan Kelautan Kecamatan Rupat, Pak Irwandi.

“Kita akan mendampingi penyaluran dan pelepasan bibit ikan di keramba desa Pancur.”

Singkat, padat dan mengkhawatirkan. Musim hujan adalah waktu yang kurang tepat untuk bepergian, jalan berantakan luar biasa. Namun sebagai abdi negara yang taat Pancasila dan UUD 1945, serta mengingat tupoksi penyuluh yang membidangi segala aspek ketahanan pangan, kami dengan segenap jiwa dan raga ikut bersama pak Irwandi. Desa Pancur Jaya adalah wilayah binaan bung Arief Edysantoso, S.Pt, satu diantara lima desa lainnya.

Sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh, hanya 70 kilometer. Persoalannya kedua motor butut kami sedang dalam kondisi tidak fit. Si biru cedera lambung, si hitam lagi rewel dan suka mogok.

Hujan telah reda, walau gerimis masih berjatuhan tanpa tercegah. Di teras posko, saya sempat berdiri dan mendongak ke langit sebentar. Cuaca masih labil, awan hitam menggumpal di atas sana, berarti kami akan basah. Arip telah bersedia di atas punduk motor RX king, rumah telah terkunci rapat, ikan dan nasi di rice cooker telah menjadi jatah kucing. Maka tidak ada jalan kembali, kami memilih nekat saja. Ayo kita c’mon!

Saya menarik kopling, memasukkan gigi perseneling satu dan berangkat dengan kecepatan rata-rata 40-50 km/jam. Air hujan mulai membasahi kaca helm, dingin menyergap di jalan sepi. Baru sepertiga jalan, kami kembali mengepak barang-barang yang goyang sekaligus memasang jaket hujan. Di jalan depan sana sepertinya hujan lebat, waktu menunjukkan pukul 09:28 WIB. Sebelum tepat tengah hari kami harus sampai ke Teluk Lecah, agar bertemu jalan base yang  agak ramah bagi para pengendara.

 Baru pertama kali saya akan ke keramba di Pancur ini, kalau melihat foto kawan yang pernah ke sana, sepertinya cukup menantang. Sampai harus pakai sampan segala.

Di separuh perjalanan, hujan bagai merobek-robek jalan. Sepatu boat berceceran lumpur. Namun belum sampai tengah hari kami sudah sampai di simpang menuju Nyirih. Ruarr biasa.

Mestinya tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi keramba ini, soalnya saya juga sering lewat daerah Pancur kalau ingin ke Rupat bagian tengah. Kami melewati hutan mangrove dan anak sungai, lokasi keramba ini masih satu induk dengan selat morong. Untuk sampai ke sana, kami meniti sebuah papan kecil yang disusun menjadi jembatan, harus menjaga keseimbangan seperti di film kung fu.

Menempuh perjalanan berat dengan jerih payah akan membuat segalanya menjadi indah, keindahan yang didapati lewat sebuah kerja keras.

Sesampai di rumah peristirahatan, saya meluruskan badan di lantai kayu. Cuaca sudah menjadi cerah, alam lebih indah setelah terguyur hujan. Hingga beberapa menit kemudian, pandangan saya tertuju pada tumpukan karung di sebelah kanan, di dalam gudang.

“Apa tuh?” Tanyaku sambil menunjuk tumpukan berwarna hijau dan putih itu.

“Itu pakan ikan.” Jawab Abdul Kadir, pendamping perikanan kec. Rupat. Dia tadi dari Medang, telah menunggu kami sedari pagi.

“Sudah ada rupanya.”

“Iya. Setelah pengadaan keramba, disusul pakan ikan. Sekarang akan datang bibitnya.” Jelas AK.

Bangunan berwarna putih itu terbuat dari kayu, di sampingnya banyak bakau yang menghijau. Kami menunggu di atas balai, beberapa saat kemudian nasi kotak terhidang, entah darimana datangnya. Ah, peduli amat. Perut keroncongan dan cuaca mendukung, kami makan siang sambil menikmati pemandangan sungai. Ha!

Cukup lama kami menunggu, melirik jam sudah pukul 13.25 WIB. Kami berbincang dan bercanda sembari menunggu kapal yang membawa bibit ikan. Soal basa-basi keseharian saja, serta sedikit kabar seputar lingkungan ekosistem yang tepat untuk dibuat keramba.

“Daerah sekitar kuala sungai berpotensi untuk budidaya ikan air tawar. Kondisi air cocok, pakan masih melimpah, terlindung dari angin dan cuaca buruk.” Kata Pak Irwandi.

“Kalau di Rupat Utara, alternatif pakan dari ikan rucah masih memadai, jadi tidak perlu membeli.” Sambung AK.

“Kalau pakan ikan dari pelet, biaya produksi bisa membengkak.” Timpal Arip.

Bapak ketua kelompok penerima bantuan keramba ini mengangguk angguk kepala, lalu berkata,

“Warga desa kami juga masih ada yang melaut, mungkin nanti bisa kami ajak kerjasama.”

“Bagus itu. Pertimbangan kami menyalurkan bantuan di desa ini karena memang masih berada di pesisir, setidaknya ada pengalaman menjadi nelayan. Tapi kita tahu sendiri bakau sudah mulai menipis, akibatnya potensi tangkap bisa menurun, harus ada alternatif budidaya di keramba atau kolam.” Jelas pak Irwandi.

Mangrove yang tumbuh liar ke sepanjang aliran sungai dan pesisir pulau Rupat memang sedang dalam kondisi marabahaya, terancam punah. Padahal di tempat itulah sebagian ikan dan biota laut memijah dan berkembang biak. Beberapa waktu yang lalu Dinas Perikanan Dan Kelautan Bengkalis mengadakan semacam kegiatan pengelolaan wilayah pesisir di desa Teluk Lecah. Salah satu agendanya pelestarian tanaman bakau. Ada satu lagi program yang rencananya akan dilakukan, yaitu pembuatan rumah ikan di Teluk Ketapang desa Sungai Cingam. Keduanya masih dalam tahap sosialisasi dan survey lapangan. UPTD PK Rupat menjadi penanggung jawab kegiatan tersebut di lingkup kecamatan.

Sekilas tentang UPTD Perikanan dan Kelautan Kecamatan Rupat yang dipimpin Pak Irwandi, juga memiliki beberapa staff dan petugas lapangan yang disebut pendamping perikanan. Menurut data dari bagian administrasi UPTD PK, tercatat ada tiga staff yaitu kepala UPTD, satu orang staff umum dan seorang tenaga bantu surat menyurat. Sedangkan di bagian pendamping perikanan, ada lima orang yang wilayah kerjanya melingkupi dua kecamatan, yaitu Rupat dan Rupat Utara. Bidang budidaya perikanan memiliki dua pendamping. Bidang lain masing-masing satu pendamping, yaitu bidang perikanan tangkap, bidang pengolahan hasil perikanan dan bidang statistik perikanan.

Kapal pembawa bibit ikan sudah tiba, KM. RUPAT JAYA terukir di dinding pompong tersebut. Tiga orang ABK menurunkan kardus berisi bibit ikan dari atas kapal. Bibit ikan ini sebenarnya berasal dari Batam, namun didederkan di Bengkalis, lalu dikirim ke pulau Rupat.

Satu persatu kardus itu kami bongkar, lalu mengeluarkan kantong plastik bening dari dalamnya. Di dalam katong plastik berisi air dan udara itu, bibit ikan nila berada. Ikan nila dipilih sebagai ujicoba fungsi keramba sebelum bibit ikan kakap didatangkan. Menurut kesepakatan dengan pihak penyedia bibit, jumlah bibit ikan nila yang datang pada hari ini 2.000 ekor. Akan dimasukkan ke dalam petak keramba yang berjumlah 20 unit.

          Kapal pembawa bibit ikan telah pergi, kantong-kantong berisi bibit kami letakkan di atas air dalam keramba. Biarkan dulu beberapa menit, untuk menenangkan ikan-ikan kecil yang telah menempuh perjalanan jauh itu. Kami kembali berbincang di atas papan kayu titian.

“Tahun berapa dibangunnya keramba ini, pak?” Tanyaku pada pak Irwandi yang sedang memindahkan kantong bibit ikan.

“Tahun 2013.” Jawabnya singkat.

          “Peruntukannya untuk ikan kakap?”

“Iya. Rencana 10.000 bibit ikan kakap mau dimasukkan ke sini.”

“Kapan itu?”

“Belum tahu lagi, tunggu anggaran.” Jawab pak Irwandi lalu menatap ke arahku.

“Kalau yang ini berhasil, kita masukkan lagi. Ikan kakap tu bisa tumbuh sampai dua ekor sekilo. Dihitung kasar, 60% yang panen sudah lumayan.”

“Rugi tuh, pak. Cuma 60 persen.”

“Itu hitungan proyek, kalau sudah mahir budidaya ikan kakap, baru hitungan bisnis…” Jelas pak Irwandi sembari membuka plastik bibit.

           Cuaca tampaknya sudah mau diajak berkawan. Udara terasa hangat di sekitar perairan Selat Morong. Secara bersama, kami menyelesaikan pelepasan bibit ikan ke dalam keramba. Menurut kepala UPTD PK, setelah kedatangan bibit ini, dirinya beserta petugas lapangan akan terus memantau perkembangannya.

“Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, utamanya yang di pesisir dan di sekitar aliran sungai.” Tutupnya.

***

Di sinilah kini kita berada. Berlimpah harapan demi harapan yang terekam jelas di sepanjang perjalanan Pulau Harapan. Mungkin memang terlalu sulit menerima kenyataan bahwa terkadang kita harus mengubah sesuatu untuk berharap hasil yang berbeda. Para perencana dan pelaksana bukankah telah melewati berbagai pergulatan menghadapi sesuatu yang sama, namun tidak banyak yang berubah. Mungkin sudah seharusnya tidak banyak yang harus berubah. Sampai pada saat kita membuka kemungkinan-kemungkinan hingga tidak ada lagi celah untuk berkata tidak mungkin.

Posting Komentar