Tetumbuhan menghijau di atas perbukitan Cinagara, begitu perdu nan asri. Di lereng bukit terhampar sawah bertingkat-tingkat yang memberi corak bagai kue lapis. Burung berkicau dengan merdu, suara aliran sungai bergemuruh dibalik rumpun bambu kuning yang tinggi menjulang. Di atas bukit ini, berbaris pohon-pohon rindang dengan petak-petak kebun sayur di bawahnya. Kunikmati jalan pagi ini sendirian, angin dingin berhembus membelai kelopak-kelopak bunga yang sedang mekar…
Dari atas sini, akan kulanjutkan kisah mengenai balai pelatihan Cinagara-Bogor.
Cerita mengenai seorang petani yang berhasil mengembangkan usaha perikanan itu memacing banyak orang untuk belajar. Mulailah rumah si petani ramai oleh tamu yang datang, mulai dari sesama petani, pegawai instansi pemerintahan maupun masyarakat biasa. Mereka datang untuk menggali ilmu perikanan metode kolam air deras.
Sampai suatu ketika rumahnya dianggap tak mampu lagi menampung tamu yang datang, munculah ide untuk membangun saung pertemuan dan pemondokan. Si petani lalu menyewa lahan dan mendirikan bangunan sederhana, beratapkan rumbia dan berdinding bambu. Sarana penerangan kala itu hanya lampu tempel.
Tamu yang datang ke berkunjung harus turun ke sungai untuk mandi, sebab saat pertama kali dibangun, tidak ada sarana air di pondok tersebut. Sepulangnya dari sungai, mereka membawa batu-batu kali untuk mendirikan pondasi bangunan yang lebih layak. Kegigihan, kekuatan tekad serta kerjasama yang bisa membuat hati manusia tergetar karenanya.
Kumelangkah turun dari perbukitan, di tengah jalan berpapasan lagi dengan gerombolan pemuda gundul yang sedang lari pagi. Kawan-kawan di penginapan tengah bersiap-siap menuju aula pertemuan untuk menghadiri acara pembukaan pelatihan. Segera kumandi dan sarapan.
Pukul 08:00 pagi, 25 peserta yang hadir di pelatihan terpadu tengah berkumpul di aula terbuka. Delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkalis semua mengirimkan utusan. Keseluruhan peserta yang hadir terdiri dari 16 orang petani, 9 orang pendamping dan tiga orang dari staff kantor Badan Ketahanan Pangan.
Dalam kata sambutannya, Kepala Seksi Pelaksanaan Penyuluhan BKP Bengkalis mengatakan bahwa potensi wilayah kabupaten bengkalis adalah tanaman karet dan sawit, sebagian wilayahnya terdiri atas pulau-pulau yang berbatasan dengan laut, maka potensi perikanan cukup besar. Di wilayah daratan potensi pertanian juga cukup luas, walau tanahnya liat kuning dan bergambut.
“Kami datang untuk berbagi cerita dan pengalaman serta menimba ilmu dan teknik menggarap lahan-lahan potensial tersebut. Mudah-mudahan melalui pelatihan terpadu dan agribisnis bagi petani dan pendamping ini, kami bisa mengembangkan potensi di daerah kami, Bengkalis.“ Harap pria yang berpidato di atas podium tersebut.
Tidak lupa pula Bapak Sutarno berpesan agar rombongan pelatihan menjaga sikap, nama baik pribadi dan almamater selama mengikuti pelatihan. Sebab para peserta berada di daerah lain yang jauh dari kampung halaman masing-masing. Yang berarti peserta memasuki sebuah daerah dengan adat istiadat yang berbeda.
Turut hadir untuk membuka pelatihan, H. Bambang AAH Wahyudin, Kepala Pusdiklat Cinagara Kecamatan Caringin, Bogor. Dalam sambutannya, Pak Bambang mengatakan bahwa balai diklat ini baru saja mengalami pergantian kepengurusan. Jadi masih dalam tahap adaptasi dan penyesuaian dengan pengelola yang baru. Pak bambang lalu bercerita bahwa hubungan yang baik telah terjalin antara pusdiklat Cinagara dengan pemerintah daerah di Riau. Artinya telah cukup lama terjalin kemitraan antara petani Bogor dengan petani yang ada di Riau.
“Sejak dulu kita telah bekerja dan berlatih bersama, dari petani melatih petani. Bahkan kehadiran pusdiklat ini bisa dirasakan oleh petani Riau dengan mengunjungi P4S di Kabupaten Kampar”. Kata Pak Bambang.
“Pusdiklat pertanian terpadu di Kabupaten Kampar dibangun oleh pemda bersama pendiri Balai Pelatihan Cinagara ini. Untuk kedepannya, kami akan berusaha meyakinkan pemda Bengkalis untuk membangun pusat pelatihan petani yang serupa, agar para petani di Bengkalis bisa mengaksesnya dengan lebih mudah.” Lanjutnya.
Seusai memberi kata sambutan, Pak Bambang lalu membuka pelatihan, ditandai dengan menyematkan tanda peserta kepada dua orang petani.
Peserta istirahat sejenak sambil minum teh dan mencicipi kue, kubercerita dengan Pak Bambang.
Katanya balai diklat Cinagara telah berkembang, lahan yang semula hanya menyewa sekarang sudah menjadi hak milik, bahkan luas areanya terus bertambah. Tamu dan peserta yang datang tidak hanya dari Pulau Jawa, tapi datang dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang datang dari luar negeri. Balai ini setiap tahunnya dipenuhi peserta pelatihan, mulai dari petani, peternak, pemelihara ikan, hingga perwira TNI yang akan memasuki usia pensiun. Mereka dibekali ilmu bertani sebelum masa pensiun mereka tiba, agar nantinya bisa berwirausaha di bidang pertanian.
Hingga kini balai diklat ini telah mendapat dukungan dari pemerintah daerah Jawa Barat maupun dari Kementrian Pertanian. Pembangunan sarana dan prasarana terus meningkat, juga materi pelatihan yang diberikan semakin berkembang. Jika dahulu hanya bidang perikanan, sekarang telah mencakup materi pertanian terpadu, seperti peternakan, pertanian padi, hortikultura, tanaman pangan dan perkebunan. Tidak lupa diberikan pula materi pelatihan tentang peningkatan etos kerja, kewirausahaan dan kemandirian.
After break, Bapak Deden Tatang S, A.Md, menemani kami dalam sesi materi perdana. Dimulai dengam perkenalan peserta hingga berbagi pengalaman mengenai dunia pertanian dan ketahanan pangan. Menurut Pak deden, begitu dia biasa dipanggil, keragaman pangan yang kita konsumsi adalah jalan menuju kehidupan sehat. Semakin beragam jenis makanan kita, maka kandungan gizi akan semakin banyak.
Kebutuhan gizi seseorang tidaklah sama, jumlah karbohidrat, glukosa, vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh seseorang berbeda dengan orang lain. Hal tersebut berkaitan dengan jenis kelamin, umur, aktifitas, dsb. Faktor-faktor itu menjadi pembeda berapa banyak gizi yang diperlukan oleh tubuh seseorang.
Pemenuhan gizi yang baik bisa kita dapatkan dari tanaman sayur, selain menyehatkan tubuh, juga sangat kecil efek samping yang bisa timbul dengan mengkonsumsinya. Tidak seperti nasi yang memiliki glukosa tinggi dan bisa menjadikan kita terkena penyakit diabetes.
“Dalam menanam sayur, sebaiknya memperhatikan kebutuhan untuk pertumbuhannya. Antara lain ketersediaan air, kondisi dan unsur hara dalam tanah dan pengaruh iklim. Petani yang baik harus memperhatikan itu semua sebelum memulai bercocok tanam.” Kata pria pria kelahiran Cianjur 19 februari 1958 ini. Pak deden kemudian membawa kami menuju kebun-kebun sayur yang ada di sekitar balai pelatihan.
Di sekitar kebun sayur, angin bertiup pelan, membelai dedaun sayur yang menghijau. Daerah tinggi selalu identik dengan kesuburan, humus tebal dengan curah hujan tinggi, membuat unsur hara di dalamnya melimpah, menghamparkan hijau sepanjang mata memandang.
“Sebelum bercocok tanam, kita harus tahu kandungan hara di dalam sini.” Kata Pak Deden sambil menggenggam sekepal tanah.
Tanah yang subur ditandai dengan tumbuhnya rumput dan tanaman-tanaman kecil di atasnya. Selain itu, tanah yang subur juga ditandai dengan permukaan gembur, yang berarti ada cacing, ada tanda kehidupan di dalamnya. Dari segi warna, tanah yang berwarna hitam lebih bagus daripada yang pucat, walau tidak selamanya seperti itu.
“Lihatlah keseimbangan alam ini, ketika tanah mulai kehilangan kesuburan, maka serasah daun akan meliuk jatuh ke bawah, terurai dan menyuburkannya kembali. Begitupun burung dan hewan-hewan lainnya, dengan sisa kotoran mereka yang jatuh ke tanah akan terurai dan menjadi pupuk. Jika mengetahui hal-hal kecil seperti itu, maka manusia belajar bahwa untuk menyuburkan tanah, dibutuhkan serasah daun dan kotoran hewan untuk menjadi kompos.” Begitu pak deden membangun pemahaman tentang pentingnya siklus alam dan interaksi mahluk hidup di dalam ekosistem.
Metode pelatihan di pusdiklat Cinagara menempatkan praktek lapangan lebih banyak porsinya daripada teori di dalam kelas. Berkat model pelatihan seperti itu, peserta bisa membuka wawasan, mengenal lingkungan sekitar serta berinteraksi langsung dengan lingkungan dan alam sekitar mereka.
Berdasarkan data dari kantor pusdiklat, berbagai lapisan masyarakat dan telah mengikuti pelatihan di tempat ini. Pemerintah dari berbagai daerah juga sering mengirimkan utusan untuk lebih meningkatkan sumber daya manusia di tempat mereka. Sudah lebih dari 40 ribu orang yang pernah berlatih di sini, baik dari kalangan petani, pemuda, ibu-ibu, hingga lembaga ataupun instansi pemerintahan. Selain itu peserta dari luar negeri pernah datang dan menimba ilmu disini, yang tercatat yaitu dari Asia dan Afrika
Pak Deden masih bersemangat, koordinator pemandu di pusdiklat ini mengajak kami membuat pupuk kompos. Dibawanya kami ke sebuah bangunan pelataran beratap seng. Di dalam bangunan tersebut ada lima ekor sapi perah, dan di bagian luar kandang ada tembok persegi sebagai tempat pembuatan pupuk kompos. Bangunan ini memang dirancang untuk jadi tempat bersinerginya kegiatan peternakan dan pertanian. Kotoran sapi digunakan sebagai bahan campuran membuat pupuk kandang, kemudian pupuk tersebut disebarkan ke tanah untuk menyuburkan tanaman.
Kompos super atau dikenal dengan sebutan bokashi di Jepang, merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan organik. Digunakan sebagai pupuk yang memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan-bahan pembuatannya bisa diperoleh di lingkungan, disesuaikan dengan apa saja yang tersedia di sekitar kita. Misalnya kotoran ternak, daun, serasah, jerami padi, sampah organik, sekam, dedak ataupun alang-alang.
Pak Deden menerangkan komposisi campuran lalu mengajarkan kami cara membuatnya.
Tidak perlu menungggu lama, peserta langsung mempraktekkan pembuatan pupuk kandang ini, mereka sangat antusias dan bergantian membuatnya. Tidak terasa kami membuat pupuk sampai hari menjelang sore, lima orang anak kecil sedang bermain dibawah pohon. Mereka tertawa, berkejaran dan bergelantungan di dahan pohon nyang menjuntai. Matahari sedikit demi sedikit terbenam di ufuk barat, akhirnya kami kembali ke penginapan.
Gelap dan dingin, hujan kembali mengguyur Cinagara, rintiknya menetes melewati genteng. Setelah makan malam, peserta kembali berkumpul, namun kali ini bukan di ruang belajar, tapi di lobi lantai dua. Pak deden dengan tubuh gempal dan tawa khasnya kembali menemani kami berdiskusi.
“Petani harus mulai mengikuti perkembangan zaman, ketika dulu petani berstereotip kumuh, berlumpur dan terbelakang, sekarang harus berubah, petani harus bergerak maju.” Begitu semangat pak deden membuka diskusi. Walau dibawakan secara santai, namun materinya tidak ringan, yaitu tentang agribisnis.
Ketika pembukaan diskusi menarik, maka tentunya peserta akan menjadi antusias mengemukakan pendapat. Satu persatu peserta berbicara, menyampaikan pengalaman di lapangan, tentu saja berkaitan dengan pekerjaan mereka sehari-hari yaitu bertani. Ada yang mengulas tentang sawit, karet, sayur, buah dan komodoti lain yang mereka usahakan. Pak deden yang memiliki pengetahuan cukup mumpuni, bercampur dengan pengalaman langsung para petani di lahan mereka. Maka terjadilah pertukar pikiran yang menarik, baik dalam praksis maupun secara teoritik.
Pada saat menyentuh ranah bisnis, perbincangan tambah seru. Pak Deden mengumpamakan agribisnis sebagai sebuah sistem, jadi dengan menguasai sistemnya maka semua akan berjalan lancar. Dia beranggapan bahwa agribisnis merupakan rangkaian yang menyeluruh, kuncinya ada pada nilai tambah yang dihasilkan petani.
“Jadi di sektor manapun kita melakukan usaha, kita harus bisa menghasilkan sebuah nilai tambah dari komoditi. Di zaman sekarang ini, komoditi dan keuntungan adalah dua hal yang menentukan bisa tidaknya petani kita bersaing di pasaran. Lebih lanjutnya, kita bisa memanfaatkan dunia periklanan untuk memasarkan hasil kita.” Begitu Pak Deden menutup diskusi malam.
Ada yang mengganjal dalam pemikiranku, bahwa para pengamat bidang pertanian selalu mensugesti para petani untuk mengejar keuntungan di dunia pertanian. Dengan teori agrisbisnis, petani dianjurkan untuk mengejar nilai lebih dari komoditi yang dihasilkan. Prinsipnya adalah nilai tambah, mengejar profit sebesar besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya, itulah teori bisnis. Petani disugesti untuk berfikir ala pengusaha, dengan media pertanian sebagai ilustrasi perusahaan mereka.
Sejauh yang kupelajari, awal mula pertanian bukanlah mencari keuntungan semata, tapi memenuhi kebutuhan akan makanan. Sejarah agrikultur telah merubah peradaban manusia dari sistem nomaden, atau kehidupan berpindah, yang ditandai dengan mencukupi kebutuhan pangan dengan berladang, menuju ke pertanian menetap, yaitu di daerah-daerah yang subur. Seorang ilmuwan bernama Jared Diamond pernah mengatakan bahwa agrikultur adalah kesalahan terbesar umat manusia, sebab dengan petanian menetap maka kebutuhan manusia akan pangan menjadi berlebih dan menaikkan rasio pertumbuhan penduduk.
Jika agrikultur saja merupakan sebuah kesalahan, apatah lagi dengan agribisnis, yang memanfaatkan ketiadaan makanan orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi. Menurutku kurang tepat, yang seharusnya dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan adalah prinsip berbagi dengan mereka yang lapar. Membarter hasil kita dengan orang lain, misalnya antara petani padi dengan nelayan agar masing-masing menikmati gizi seimbang dengan keluarga mereka. Sistem berbagi dan menukar seperti ini pernah ada, dan bukan mustahil itulah jalan keluar dari krisis pangan yang sedang mengintai umat manusia.
Pada kesimpulannya, agribisnis secara teori bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan bagi petani, namun itu tidaklah menjawab masalah ketahanan pangan. Tidak sama sekali.


.png)
Posting Komentar