Teori dan Praktek di Pusdiklat Cinagara Bogor

Selasa, 17 juni 2014

Semenjak menginjakkan kaki di Bogor, mandi menjadi persoalan tersendiri bagiku. Air disini sangat dingin, olehnya itu jatah mandi dikurangi, artinya waktu yang biasa terpakai untuk mandi bisa dialihkan untuk kegiatan produktif lainnya. Sebuah pembenaran.

Kulangkahkan kaki menuju arah perbukitan, kawan-kawan lain masih tertinggal di belakang. Kami akan menuju ke sebuah saung tani di atas sana. Jalannya menanjak, di kiri dan kanan ada kebun jagung dan sayur mayur.

Sesampai di atas tanjakan, ternyata pemandangan sangat cantik. Di balik kabut, gunung salak membayang dan terlihat sangat besar. Ketika sinar mentari mampu masuk melalui celah pepohonan, gunung salak yang tadinya hanya membayang, kini tampak dengan jelas dan eksotis.

“Alam adalah berkah yang ternilai harganya, yang Maha Mengatur telah memberi kita pengetahuan untuk memanfaatkan itu sebaik mungkin. Tapi dengan catatan, apapun kegiatan kita nantinya, seyogyanya tidak boleh merusak alam, baik di bidang pertanian, peternakan, ataupun perikanan.” Suara Pak Husni Thamrin memecah keheningan, dia adalah pemateri di hari kedua. Berbaju kotak-kotak biru, bercelana hitam dengan topi biru yang menutupi rambut putih di kepalanya.

Sebelum memulai suatu usaha yang memanfatkan alam sebagai media, sebaiknya kita memperhatikan kesesuaian lahan. Salah satu faktor yang mesti diperhatikan adalah tanah. Termasuk di dalamnya ketinggian tanah dari permukaan laut, kemiringan tanah, dan unsur hara yang ada di dalamnya.

Yang pertama yaitu mengetahui ketinggian tanah, hal ini penting untuk menyesuaikan jenis tanaman yang akan kita budidayakan. Termasuk juga bagi peternak dan usaha perikanan, jenis hewan tertentu bisa berkembang dan tumbuh dengan baik di ketinggian tertentu. Yang kedua adalah kemiringan, dengan mengetahui kemiringan berarti kita bisa menganalisis teknik bercocok tanam yang bisa diterapkan untuk tanah tersebut. Misalnya model datar ataupun sistem bertingkat atau terasering. Yang ketiga adalah unsur hara, dengan mengetahui kandungan unsur hara di dalam tanah, kita bisa merekomendasikan pemupukan yang efektif dan efisien.

Sebenarnya masih ada satu lagi yang tak kalah pentingnya kita ketahui sebelum memulai usaha pertanian, yaitu mengetahui ketinggian permukaan air tanah. Hal ini berguna untuk menentukan cara pembiakan tanaman di tanah tersebut. Di permukaan air tanah yang dalam, maka kita memilih pembiakan biji, agar akarnya bisa mencapai air yang jauh. Sedangkan untuk permukaan air tanah yang dangkal, kita cukup membiakkan tanaman dengan cangkok, stik, tempel, dsb.

Belum lama Pak Thamrin memberi penjelasan, terdengar suara seruling dari kejauhan, sayup-sayup namun masih cukup jelas. Para hadirin mungkin tidak mendengar, atapun tidak tertarik dengan suara itu. Bunyi seruling bambu khas sunda, iramanya pernah kudengar di film si kabayan. Terdengar merdu dan klop dengan kondisi kami yang berada di tengah area pertanian, menjadi soundtrack materi pembiakan tanaman pagi ini.

Ada tiga jenis pembiakan tanaman, yaitu generatif, vegetatif dan kombinasi keduanya. Yang pertama adalah cara pembiakan generatif, dengan menggunakan biji. Kelebihan metode ini adalah tanaman berusia panjang, batang lebih kokoh dan dan akar tanaman kuat, yang membuatnya tidak mudah roboh diterpa angin. Kekurangannya yaitu awal masa panen sangat lama, dan buah tanaman cenderung tidak sama dengan buah indukan.

Yang kedua adalah metode vegetatif, bisa berupa stek, cangkok, runduk dan pols atau anakan. Tanaman yang dibiakkan dengan metode ini tidak punya akar tunggang hingga mudah roboh, sangat peka dengan asupan air. Hingga pada musim kerkemarau panjang, tanaman vegetatif lebih cepat mati kekeringan. Sedangkan kelebihannya adalah hasil panen bisa bervariasi dan masa tunggu panen lebih cepat.

Yang ketiga adalah metode pembiakan kombinasi generatif dan vegetatif, misalnya okulasi atau kawinan, sambung atau grafting, dan penyusuan tanaman. Kelebihan metode kombinasi adalah bisa dipadukan dengan seni, misalnya satu batang bisa ada tiga jenis buah, juga digunakan pada tanaman hias agar terlihat cantik. Yang menjadi catatan pada metode ini, jenis tanaman yang dipadukan masih dalam satu spesies.

Break lunch. Teori telah disampaikan, siang ini kami akan mempraktekkan cara pembiakan tanaman. Kata pak Thamrin, pada teknik pembiakan penyusuan tanaman, keberhasilannya mencapai 75 %, aku tertarik dengan metode itu.

Di aula sedang ada acara perpisahan anak SMP pertanian yang dikelola oleh Pusdiklat Cinagara. Suara band terdengar kencang, kami makan siang di lantai dua penginapan. Kemudian setelah istirahat sejenak, kami turun ke lapangan untuk mempraktekkan teknik mencangkok, okulasi dan menyambung tanaman.

Setelah mempelajari metode pembiakan tanaman, diadakan praktek pembuatan pupuk cair organik. Pupuk cair organik adalah hasil fermentasi bahan organis, semisal urine atau air kencing, ekstrak kotoran, dsb. dengan menambahkan mikroba beyonik. Kegunaannya sama dengan pupuk lain yaitu untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah. Cara penggunaan pupuk cair melaui disiram atau disemprot pada daun, hingga memenuhi nutrisi tanaman secara cepat. Pak Thamrin mengajarkan cara membuatnya dengan sigap, cekatan dan tanpa basa basi.

Satu lagi, agar teknik pembiakan tanaman bisa klop dengan pembuatan pupuk cair, maka Pak Thamrin yang baik itu juga menyelipkan cara menanam buah di dalam pot. Budidaya tanaman buah dalam pot pada mulanya dikenal di daratan Cina dan Jepang. Dari terknik inilah kita mengenal tanaman bonsai, yang ditanam pada wadah tanah yang dangkal. Tapulampot adalah sistem budidaya tanaman buah dengan menggunakan pot  sebagai tempat hidupnya. Bila kekurangan lahan untuk bercocok tanam, maka bisa dipilih cara ini.

Cukup lama praktek siang ini. Setelah semua rampung, kami berterima kasih pada pemandu lapangan lalu kembali ke penginapan.

Di malam hari, Bogor kembali diguyur hujan. Hal itu membatalkan jadwal diskusi malam karena kedatangan pemateri terhalang cuaca. Kami memanfaatkan waktu untuk berbincang bincang mengenai teori dan praktek lapangan yang kami lakukan hari ini. Para peserta nampak bersemangat, walau rata-rata berusia tidak muda lagi.

Kubuka buku panduan pelatihan, di dalamnya ada tulisan tentang teknik budidaya tanaman cabai. Materi ini akan kami dapatkan nanti di bagian akhir pelatihan, namun tidak ada salahnya mencatat itu ke dalam buku catatan harianku.

Tanaman cabai menurut sejarahnya berasal dari Ancon dan Huaca Prieta, Peru.  Dalam perkembangan selanjutnya, cabai menyebar ke daerah tropis benua bagian tengah selatan, bahkan sampai ke Meksiko. Adalah Cristoporus Colombus, seorang berkebangsaan Spanyol yang membawa biji-biji cabai dari Amerika ke Spanyol, pada tahun 1492. pada akhirnya tanaman cabai berkembang dengan jenis-jenisnya yang baru, dan tersebar ke berbagai negara.

Jenis cabai yang sudah umum dibudidayakan di Indonesia ada dua spesies utama, yaitu cabai besar (Capsicum annum) dan cabai kecil (C. Frustescens). Ketersediaan unsur hara dalam tanah sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman cabai, maka hampir 85% jumlah pupuk diberikan sekaligus pada saat tanam.

Cukup lengkap petunjuk dalam modul yang diberikan oleh panitia ini, ada penentuan masa tanam cabai, pemilihan variates, pemilihan lokasi penanaman, pengolahan tanah, hingga pada masalah hama dan penyakit. Beruntung bisa mempelajarinya, tinggal menanti praktek lapangan.

Capek juga mencatat tentang cabai, mudah-mudahan cita-cita bertanam cabai kelak bisa tercapai. Hujan tak berhenti, waktunya tidur.

Rabu, 18 juni 2014

Gazebo bambu ini cukup luas, bisa menampung 30 sampai 40 orang di dalamnya. Terletak di tepi tanjakan menuju ke kebun jagung, sekitar lima puluh meter dari penginapan. Terbuat dari bambu yang kelihatan telah rapuh termakan usia. Lumut dan tanaman pakis menjuntai dari atapnya. Walau begitu sepertinya masih cukup kuat untuk mejadi tempat diadakan diskusi lapangan. Langit-langitnya terbuat dari anyaman bilah bambu bermotif lancip, disanggah bambu-bambu berukuran sedang. Seluruh pertemuan tiang gazebo ini diikat tali sabut berwarna hitam. Empat belas tiang penyangga gazebo terbuat dari bambu berukuran paling besar, agar kekuatannya sanggup menahan seluruh bangunan.

“Peternak yang baik adalah yang memperhatikan pakan ternaknya. Sapi, kambing atau domba kita boleh berhenti makan karena kenyang, tapi tidak boleh berhenti makan karena tidak ada makanan.” Pria berkumis itu memulai materi tentang penggemukan ternak. Mustawan, S. St, tinggal di Desa Pasir Kecamatan Caringin.

“Pakan adalah salah satu faktor yang menentukan keberhasilan upaya penggemukan hewan ternak. Pakan yang bergizi pada ternak dapat memberikan pertambahan berat badan yang lebih cepat. Begitupula dengan pakan yang bermutu, bisa menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh ternak agar tidak mudah terjangkiti penyakit.” Sambung pria kelahiran bogor 1961 itu.

Indonesia merupakan negara tropis, tanahnya ditumbuhi berbagai jenis tanaman yang bisa dijadikan pakan ternak. Misalnya saja pakan hijauan, antara lain rumput, daun-daunan dan sisa hasil pertanian seperti jerami padi, daun jagung, daun ubi kayu, daun kacang-kacangan, dsb. Jenis pakan hijau sangat digemari oleh ternak, mengandung zat-zat yang menunjang perkembangannya. Ada juga pakan penguat untuk melengkapi pakan hijauan, serta menambah bobot badan ternak dengan cepat. Bahan-bahan yang bisa dijadikan pakan penguat adalah dedak padi, onggok gaplek, ubi kayu, bungkil kelapa, bungkil sawit, bungkil kacang, kulit tanaman coklat, ampas tahu, dsb.

Yang terakhir adalah pakan tambahan, pakan jenis ini diberikan kepada ternak yang dipelihara secara intensif, yaitu ternak-ternak yang dikandangkan sepanjang hari. Termasuk di dalamnya sapi perah, sapi pedaging, kambing dan domba. Untuk kebutuhan mineral, digunakan larutan garam dapur, yang juga digunakan sebagai penambah nafsu makan. Agar produktifitas ternak lebih meningkat, sekarang ini telah dikembangkan suplemen berbasis urea dan molasses.

Udara sejuk masuk melalui kisi-kisi pondok bambu, membelai badanku yang sedari tadi terus mengkonsumsi kopi agar tidak mengantuk. Dinginnya udara di perbukitan Cinagara memuat mata selalu terpancing untuk tertidur.

Kulangkahkan kaki keluar dari gazebo,meluruskan tulang yang terasa kaku dan gigil. Di bawah sana terlihat petak petak sawah tergenang air, di sekitarnya tampak rerumput yang menghijau. Seorang petani berbaju biru sedang menyabit sedikit demi sedikit rumput dan ilalang yang tumbuh liar. Kemudian dia ikatkan ke bilah bambu yang dihubungkan dengan tongkat. Cunung, orang sunda menyebut alat pengangkut rumput tersebut. Sebentar kemudian dia memanggulnya melewati lereng-lereng perbukitan yang curam.

Siang tepat pukul satu, panitia penyelenggara membawa kami ke sebuah peternakan domba di Cimande. Peternakan ini dikelola oleh seorang pegawai yang memilih pensiun dini dari PNS untuk menekuni usaha di bidang ternak domba.

Empat kandang besar berjejer di area tengah peternakan, berisi empat blok kandang kecil di dalamnya, jika penuh bisa menampung sekitar 1.800 ekor domba. Selain daging dan bulunya, kotoran ternak ini juga dimanfaatkan untuk membuat pupuk kompos.

Jika seluruh kandang berisi, maka total pekerja yang dibutuhkan adalah sebanyak 25 orang, mereka membagi tugas masing masing, ada yang bekerja mengambil rumput untuk pakan, ada juga yang membersihkan kandang, dan adapula yang bertugas mencukur bulu untuk dijadikan wol.

Awal mula peternakan ini adalah dari ketekunan seorang peternak yang memulai usahanya dengan memelihara enam ekor domba di tahun 1994, kemudian karena pengelolaan yang baik dan peluang pasar yang terbuka maka ternak tersebut terus berkembang. Berkat hasil usaha ternak domba tersebut, dan dukungan dari sebuah bank swasta, peternakan ini bisa membuatkan rumah untuk pekerjanya.

Di peternakan ini terdapat area untuk penanaman rumput gajah, kurang lebih setengah hektar, juga kandang khusus untuk melakukan pembiakan agar bibit domba tetap tersedia. Untuk urusan pemasaran hasil ternak, dikelola langsung oleh pemilik peternakan.

Yang menjadi catatan tersendiri bagi pengelolaan sebuah usaha dengan model perusahaan seperti ini adalah modal menumpuk pada satu orang. Maka yang berkembang adalah pihak yang memiliki modal tersebut dan meninggalkan petani hanya sekedar sebagai pekerjanya saja. Orientasi model pengelolaan seperti ini adalah keuntungan atau profit, bukan lagi sekedar cari makan ataupun hobi.

Selepas mengunjungi peternakan domba, kami bergerak ke daerah Cipaku, ke sebuah tempat pelesatrian tanaman obat dan pengembangan kesehatan alami.

Di bagian pagar rumah putih itu, tanaman hijau merambat di atas lengkungan besi yang membentuk pintu masuk. Ketika memasuki pekarangan rumah, berbagai macam tanaman obat tersusun indah di halaman.

Di tengah taman, terdapat bilah-bilah bambu dan replika guci kecil yang mengalirkan air dengan suara yang gemericik. Pengelola tempat ini menyediakan pendekatan alami untuk pelayanan kesehatan dan kebugaran pasien. Mereka mendorong masyarakat untuk mengupayakan tanaman obat di sekitar rumah, agar upaya hidup sehat bisa dimulai dari rumah sendiri.

Lahan yang dimiliki oleh taman pengobatan ini seluas 1.000 meter persegi, dibagi atas taman display, tanaman di dalam pot yang siap dijual untuk pengunjung yang mampir serta sebuah area untuk membiakkan tanaman obat. Hampir tak ada lahan kosong dari pagar hingga ke bagian belakang rumah, dipenuhi sekitar 450 jenis tanaman obat.

Menurut Tito, penanggung jawab kebun, taman ini merupakan taman tanaman herbal yang cukup representatif. Selain taman display, juga terdapat klinik pengobatan, lokasi mengembangkan produk obat alami, serta balai pelatihan mengenai tanaman herbal.

Taman ini telah berdiri sejak 15 tahun yang lalu, selalu ramai oleh pengunjung, baik itu pribadi maupun kelompok. Yang pernah datang misalnya utusan pemda dari berbagai daerah di Indonesia, kelompok-kelompok tani, ibu-ibu PKK, karang taruna, anak sekolah dan pelajar, hingga berbagai lapisan masyarakat yang ingin mempelajari bagaimana memanfaatkan pekarangan rumah untuk tanaman obat.

Tidak banyak waktu untuk mengenali satu persatu tanaman di kebun ini, selain jumlahnya yang melimpah, jenis-jenisnya pun sangat banyak, hingga sulit untuk mempelajarinya dengan sekali berkunjung. Namun begitu, pengelola meyakinkan bahwa tanaman obat banyak terdapat di seluruh daerah di Indonesia, tinggal mencari tahu jenis dan fungsinya, maka kita bisa memanfaatkannya untuk menjaga kesehatan keluarga kita.

Bus kembali melaju, kini memasuki kota Bogor yang telah dipenuhi mobil dan kendaraan berat. Kemacetan kota urban Jakarta telah menulari wilayah kecil ini.

Kenyamanan dan prestise selalu melekat pada kendaraan yang disebut mobil, simbol kemajuan peradaban manusia. Dengan jumlahnya yang sekarang ini sudah sangat banyak, jalan tak mampu lagi menampungnya. Diperkirakan tahun 2020 nanti, kemacetan parah akan terjadi, hingga mobil akan memenuhi jalan dan tak lagi mampu bergerak. Jika tidak ada solusi atas permasalahan ini, kehancuran mengintai di depan mata. Bersama kota-kota lain di sekitarnya, sedikit demi sedikit Bogor menggali lubang kuburannya sendiri.

Itu prediksi masa depan, di dalam mobil aku memilih menurunkan sandaran kursi dan tertidur.

Ikuti akhir cerita

Posting Komentar