Kamis, 19 juni 2014
Dingin air pegunungan berasal dari aliran sungai yang jernih, melalui bukit dan persawahan yang menghampar luas. Selintas mirip dengan cerita di negeri dongeng. Sebab di belahan dunia manapun kini, tengah merana akibat kerusakan alam. Hutan-hutan ditebangi, gunung dan bukit dikeruk, lembah dan daratan menjadi pemukiman penduduk. Itu belum termasuk area hutan dan rawa yang dialih fungsi menjadi perkebunan sawit, karet, cengkeh tebu, dsb. Alam tak lagi merupakan bagian dari kehidupan, manusia telah menaklukannya, menjarahnya, termasuk segala satwa liar yang menjadi penghuni dalamnya.
Bogor, jawa barat, daerah bercurah hujan 3.000 mm/tahun, termasuk salah satu wilayah nan indah yang telah terhisap ke dalam lubang hitam perkotaan. Lembah gunung salak yang tinggi menjulang kini telah dipenuhi pemukiman, dilingkari jalan-jalan aspal yang melilit bagai ular hitam raksasa.
Mobil bus menuruni jalan keluar pusdiklat, tidak bisa terlalu cepat, karena jalan keluar dan masuk berada di pemukiman warga. Badan jalan yang sempit hanya cukup untuk dua mobil, itupun yang satu lagi harus menepi ketika berpapasan.
Ketinggian balai diklat Cinagara berada di 400-500 m dpl, disepanjang jalan menuju kota Bogor, aliran sungai dengan batu-batu cadas menghimpit sisi kiri dan kanan jalan. Dari kaca jendela mobil, bisa kita lihat para petani padi yang sedang membajak sawahnya dengan kerbau.
Kami tiba di sebuah pemukiman yang cukup padat, jalan setapak itu belum lagi diaspal, tanah liat menempel di sepatu dan sendal. Di depan rumah Pak Agus, kami disambut dengan hangat.
Di garasi mobil milik pak Agus, tampak beberapa ibu rumah tangga tengah mengupas jambu bangkok, satu persatu lalu mereka masukkan ke dalam karung goni. Jambu tersebut merupakan hasil kebun pak Agus seluas 3 hektare di atas bukit sana. Bibitnya berasal dari Thailand, karena budidaya jambu ini memang bekerjasama dengan sebuah perusahaan dari sana.
“Nanti kita akan ke atas bukit untuk mengamati kebun jambu, sekarang kita turun dulu untuk melihat kolam-kolam pemeliharaan ikan lele.” Ucap pak Agus lalu membimbing kami turun ke sebuah tempat yang berisi puluhan kolam ikan yang terbuat dari bambu dan terpal biru.
Salah satu komoditas perikanan yang cukup populer adalah lele dumbo, berasal dari benua Afrika, didatangkan pertama kali tahun 1984. Kelebihan ikan lele yaitu, pertumbuhannya cepat, kemampuan beradaptasinya tinggi, dan mampu hidup di air yang kadar oksigennya rendah.
Untuk pemijahan alami, cukup menyatukan induk jantan dan induk betina di sebuah kolam yang telah diberi ijuk agar telunya bisa menempel. Di tempat tersebut, terdapat sangkal, yaitu kolam tempat pemijahan dan pembibitan ikan lele dumbo, terdiri dari tiga kolam yang masing-masing berguna untuk mensortir ikan ketika tumbuhnya tidak sama besar, karena sifat ikan lele yang kanibal, ikan-ikan besar bisa memakan ikan lele yang lebih kecil.
Kata Pak Agus, dari hanya sekedar lokasi pembesaran ikan lele dumbo, kini tempat ini telah menjadi produsen bibit lele untuk peternak ikan di wilayah sekitarnya.
Kemampuan beradaptasi yang tinggi tidak menjadikan ikan lele kebal akan segala penyakit, adapun penyakit yang biasa menyerang adalah bintik putih, yang akibatnya bisa mematikan. Pak agus biasanya memisahkan ikan yang terkena penyakit ini dalam sebuah kolam, lalu menaburkan garam dapur setiap 10 hari ke kolam tersebut.
“Yang paling bagus tentunya dengan melakukan pencegahan, yaitu pemeliharaan kolam yang baik, terutama menjaga waktu pengeringan dan pengapuran.” Tutup Pak Agus.
Hampir satu jam kami mengamati kolam ikan lele dan mendengar penjelasan dari pak Agus. Sesuai dengan janji pak agus tadi, kami akan dibawa ke atas bukit, menikmati pemandangan sekaligus mengunjungi lahan jambu bangkok.
Jam 11 siang, bus menuju ke Bogor, ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi.
Sejuk. Itulah kata yang mewakili perasaan ketika kami memasuki taman agrowisata ini. Pohon-pohon besar tumbuh sangat besar, sampai batangnya tak lagi mampu dipeluk oleh orang dewasa. Pohon-pohon itu begitu kokoh, dahan-dahan yang saling mengait rapat, menghalangi panas matahari yang akan masuk. Taman ini berada di tengah kota, di bogor timur yang juga mulai sumpek akibat desakan kendaraan dan ruko-ruko sepanjang jalan. Warga yang sehari-harinya sibuk bisa menghibur hatinya dengan hadir di tempat ini.
Konsep tempat ini sederhana, memadukan kolam, taman dan restoran. Deretan bunga berwarna warni memenuhi jalan masuk, tertanam di pot-pot cantik ataupun tersusun indah di dalam rumah kaca. Terdapat dua buah kolam ikan berukuran cukup besar, terhubung oleh sebuah jembatan kayu. Di tepi kolam, hadir restoran kecil yang menempati petak-petak dari anyaman bambu, menyajikan hidangan yang siap disantap kala perut terasa lapar. Beberapa gazebo yang dihiasi tumbuhan merambat di bagian atapnya bisa dipilih sebagai tempat untuk menikmati hidangan.
Pemandu kami datang, menjelaskan bahwa tempat ini menyediakan berbagai kegiatan dan hiburan, di dalamnya pengunjung bisa mengenal aneka tanaman hias, pohon dan buah, cara pembuatan kompos, hingga sarana rekreasi bagi keluarga. Penduduk kota yang identik dengan kesibukan, kebisingan dan kejenuhan bisa berlibur ke taman ini, sebuah paradise.
Ibu pemandu itu lalu mengajak rombongan memasuki sebuah lorong berhias tanaman yang menjalar di sekelilingnya. Puluhan tanaman hijau disusun rapi di bagian tengah jalan masuk. Berjalan di sepanjang lorong 30 meter ini serasa memasuki hutan yang sangat panjang. Cahaya terlihat begitu kami sampai di ujung lorong, pemandangan pohon pinus dan sejenis pinang raksasa bertebaran dimana-mana, walau tak teratur, namun nampak bahwa pohon-pohon tersebut terawat dengan baik.
Sangat menyenangkan berpetualang di taman ini, pemandu lalu membawa kami ke sebuah aula yang terdiri dari tempat makan dan display penjualan sovenir kerajinan tangan. Aula ini dikelilingi kolam ikan yang berisi gerombolan ikan mas sebesar lengan orang dewasa, tapi bukan untuk dikonsumsi, warnanya yang cerah hanya untuk memanjakan mata yang memandang.
Aku berjalan ke salah satu sudut kebun yang telah dilapisi batu-batu kerikil, dua orang perempuan pekerja kebun sedang membersihkan rumput dengan alat pencungkil dari besi. Sementara pengunjung hilir mudik di sekitarnya, kedua perempuan tersebut tampat tidak terlalu peduli. Aku pun menghampiri dan menyapa keduanya, lalu bercerita tentang pekerjaan mereka.
Dua orang yang tadinya memiliki sepetak lahan di kampung, kini berpindah ke kota, sebab tanah itu bukan milik mereka lagi. Perpindahan penduduk seperti ini bukanlah hal baru, seperti tak terelakkan setiap harinya jumlah petani yang kehilangan sumberdaya yang digarapnya di desa untuk berduyun-duyun ke kota. Pemilik uang berlebih kini mengincar tanah-tanah petani di desa, sekali lagi hal itu tidak bisa terelakkan.
Merasa penat berjalan, aku menepi ke sebuah sudut aula, dimana terdapat sepasang meja dan kursi untuk duduk, di depannya terdapat kolam ikan mas, dihiasi air yang mengalir setinggi 30 cm, ikan-ikan mas iku sepertinya suka berkumpul di sekitar sudut itu. Di atas meja tersusun mejalah yang memuat informasi tentang kota bogor, beberapa hal tentang petanian dan cara hidup sehat ala perkotaan. Tak sempat kumembacanya, hanya membolak balik tiap sampul majalah. Yang ada di benakku adalah mungkin inilah acara hidup orang kota yang sudah tak lagi mampu mengontrol rutinitasnya untuk sekedar berada di alam bebas, mengendarai mobil-mobil mereka ke tengah taman artifisial seperti ini.
Masih ada satu tempat lagi di belakang sana, sebuah area yang dihubungkan dengan tangga untuk menuju ke sana, sebuah farmfield, lahan pertanian buatan yang telah diisi dengan kebun-kebun sayur dan hewan-hewan ternak yang dikandangkan. Beberapa rombongan keluarga yang membawa anak-anak mereka memasukinya, dengan gembira memberi makan sapi, kambing dan kelinci. Untuk masuk, setiap orang diharuskan membayar 25 ribu rupiah sebagai ganti karcis tanda masuk pengunjung.
Apakah ada orang lain yang merasa aneh dengan tempat dan aktifitas disini? Mungkin aku saja. Tak jauh dari tempat itu ada puluhan padepokan kecil tempat pengunjung bisa beristirahat sambil memancing di sebuah kolam berukuran 4×2 meter. Seorang bapak tampak mengajari anak lelakinya yang masih kecil cara memasang umpan di kail, lalu melemparkannya ke dalam kolam ikan. Mungkin itu cukup menghibur mereka, sebab sepertinya tidak ada yang merasa aneh dengan tempat ini.
Pukul empat sore, kami tiba di depan gerbang kebun raya bogor, di jalan tadi terlihat istana bogor, dihalamannya berkeliaran rusa-rusa cantik. Baru sekali ini aku melihatnya langsung, terakhir kali kulihat pemandangan itu di sebuah kartu pos kusam saat aku masih duduk di bangku kelas 5 SD. Tak perlu kuceritakan pemandangan di dalam kebun raya, cukup berkunjung dan silakan nikmati sendiri.
Magrib terlewati, bus itu melaju di tol Ciawi membawa kami pulang…
Jumat, 20 juni 2014
Hari ini cukup cerah, kawan-kawan peserta pelatihan sebagian masih sarapan, yang lain sedang sibuk mempersiapkan alat tulis menulis untuk mengikuti materi pagi. Sesuai dengan jadwal yang tertera, hari ini kami akan belajar tentang pemijahan dan tentang pemberian pakan pada ikan. Hadir sebagai narasumber yaitu bapak Drs. Rizal Krisna, seorang petani yang berkutat pada usaha budidaya ikan.
Pemateri telah berdiri di hadapan kami, menggunakan baju kemeja biru dan celana coklat, jam analog melingkar di pergelangan tangannya, tak ketinggalan topi merah di kepala. Setelah bertanya apakah para peserta telah hadir semua, dia mulai memaparkan materi.
Jenis-jenis ikan air tawar yang mudah dibudidayakan diantaranya: ikan mas, ikan nila, ikan gurame, ikan mujair, ikan lele dan belut. Mengambil contoh pada ikan mas (ciprinus carpio) kita dapat membedakan antara ikan mas jantan dan betina, antara lain jika diurut bagian perut yang keluar adalah cairan putih, maka itu adalah jantan, sedangkan jika yang keluar adalah butiran-butiran telur, maka itu adalah betina. Secara visual, ikan mas jantan warna tubuhnya lebih cerah dan bergrak lincah, sedangkan yang betina berwarna lebih gelap dan pergerakannya lambat. Tanda-tanda induk yang baik adalah umurnya sudah mencukupi, sisik besar dan tersusun rapi, pangkal ekor tinggi dan kuat serta tidak cacat, bagian perutlebar dan besar, terakhir tingkah laku jinak. Cara mengawinkan ikan ada enam cara yang lazim dilakukan di Indonesia, perbedaan pokok dari masing-masing cara terletak pada, kolam pemijahan merupakan kolam penetasan atau bukan, induk-induk yang dipijahkan tetap di kolam pemijahan atau dipindahkan, dan mengenai alat tempat penempel telur, apakah kekaban atau rerumputan.
Di materi budidaya ikan air tawar ini konsentrasiku menurun, faktor keletihan semasa perjalanan kemarin membuat mataku cepat ngantuk. Kegerakkan badan agar sedikit lebih rileks, tapi sebentar kemudian kantuk itu datang lagi. Jam digitalku kelap kelip di angka 10:00, bersamaan dengan datangnya cemilan dan air kopi dari panitia. Kantuk ini tidak bisa dibiarkan, segera kuseduh segelas kopi, namun tak jua ada perubahan.
Mata masih redup, pemateri masih menerangkan di depan papan tulis berwarna putih. Kuambil pena dan kertas untuk menulis sesuatu yang kusuka, biasanya cara ini berhasil menstimulus otakku untuk mengeluarkan cairan anti kantuk.
Baiklah, aku akan bercerita tentang film. Tadi malam, di depan tivi, aku dan seorang kawan bernama Hasan, peserta pelatihan yang berasal dari Kecamatan Bengkalis menonton film. Di salah satu chanel tv menayangkan film berjudul primary fear, mengisahkan tentang sebuah misteri pembunuhan yang sedang disidangkan, tersangkanya seorang anak laki-laki. Menjadi menarik karena si pembunuh tidak menyadari bahwa sebernarnya dirinya telah membunuh kekasihnya sendiri. Pemuda itu memiliki kepribadian ganda. Bang Hasan yang sudah pernah menonton film ini tahu bagaimana akhir kisah.
Kami lalu berbincang tentang kepribadian ganda, yang menurut lelaki bermata sipit ini memang ada di dunia nyata, buka fiksi semata.
“Bayangkan jika di dalam dirimu ada dua jiwa, yang bisa muncul saling berganti tanpa kamu sadari.” Seloroh abang yang pekarangan rumahnya telah disulap menjadi kebun sayur ini.
Lamunanku buyar, pak rijal dan peserta lainnya rupanya sedang mempersiapakan peralatan untuk berangkat ke lapangan. Kukumpulkan catatanku, memasukkannya ke dalam tas lalu mengikuti kawan-kawan yang lain. Di lapangan, kami belajar mengawinkan ikan dan membuat pakan ikan.
Hingga matahari redup, lalu kami beristirahat.
Sabtu, 21 juni 2014
Hari ini libur. Sudah hampir seminggu kami di bogor, baru kali ini kulihat sang mentari memancarkan sinarnya yang keemasan, terang dan hangat. Aku berdiri di atas balkon, terlihat puncak gunung salak yang diselimuti awal putih nan tebal.
Agenda hari ini adalah berangkat ke Jakarta, aku belum tahu tujuannya. Sedari pagi aku telah bangun, membersihkan tempat tidurku, melipat selimut lalu menyapu lantai kamar. Sarapan telah tersedia, nasi goreng dan telur ceplok.
Barang–barang telah dikemas, semua keperluan telah disiapkan. Namun tiba-tiba ada yang mengganjal di hatiku. Siaran berita di TV menginformasikan bahwa hari adalah ulang tahun kota Jakarta. Bukan kemeriahan yang membayang di kepalaku, tapi kemacetan. Itu berarti orang-orang di luar kota Jakarta akan berduyun-duyun ke ibukota, seperti semut merubung gula. Begitupula sebaliknya, karena ini adalah hari minggu, pastinya banyak juga warga Jakarta yang akan berlibur ke Bogor, utamanya ke Puncak. Kemungkinan besar akan terjadi kemacetan luar biasa. Aku mengurungkan niat ikut bersama rombongan.
Minggu, 22 juni 2014
Ini adalah malam terakhir kami di Bogor. Bapak Otot Haryo Purwoko, SP, Kepala Bidang Penyuluhan di Badan Ketahanan Pangan Kab. Bengkalis telah hadir di tengah kami. Di sebuah ruangan yang sederhana, kami semua duduk bersama beralas karpet.
Sebelum memulai acara penutupan, kami membacakan doa untuk seorang petani yang telah menginspirasi banyak orang, dia yang telah membangun tempat ini dengan keringat dan kerja kerasnya, Alm. Bapak Bachrum Ahmad Baeshowi.
Dalam kata sambutannya sebelum menutup rangkaian kegiatan Pelatihan Pertanian Terpadu ini, Pak Otot mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta karena telah melancarkan kegiatan ini, lalu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pengelola pusdiklat, pemandu pelatihan, staff kantor yang bertugas dan kepada seluruh peserta pelatihan yang telah mengikuti kegiatan sampai selesai.
“Sebagai ungkapan terima kasih kepada pendiri pusdiklat ini, kita sudah selayaknya menerapkan ilmu yang kita peroleh di tempat kita masing-masing. Alangkah baiknya jika setelah pulang dari sini kita memulai usaha pertanian kita dengan cara yang lebih baik dan lebih bersungguh-sungguh lagi.”
Itulah harapan yang ada di akhir kegiatan ini, alumni pelatihan pertanian terpadu 2014 bersepakat membentuk sebuah forum untuk menjalin komunikasi di kemudian hari. Bapak Otot lalu menyerahkan sertifikat pelatihan secara simbolis, sebagai tanda pelatihan ini berakhir.
Senin, 23 Juni 2014
Pusdiklat Karya Nyata-Cinagara, Bogor


.png)
Posting Komentar