Manusia pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa orang lain. Hujan rintik-rintik di pagi hari menyambut kedatangan rombongan dari Bengkalis. Empat orang baru saja menyeberangi bentangan laut antara Kota Dumai dan Pulau Rupat. Dari atas ‘perahu cepat’ yang membawa mereka, satu persatu barang bawaan dinaikkan. Cukup banyak, antara lain spanduk, tas, buku dan alat peraga penyuluhan. Mereka datang dalam rangka kegiatan bertajuk “Dinamika Kelompok”, ditaja oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Bengkalis. Penghitam langit di bulan Juni menjadi saksi.
Secara sederhana, dinamika kelompok merupakan sebuah metode dalam pemberdayaan masyarakat, agar sebuah perkumpulan/kelompok/organisasi dapat berjalan lebih dinamis. Di dalamnya ada proses merubah pola fikir, menyuntikkan kesadaran dan menumbuhkan etos kerja. Dinamika Kelompok diset sebagai sebuah pelatihan yang banyak menggunakan seplemen “permainan” dalam pelaksanaannya. Hal ini sebagai upaya menghindari kemonotonan, meningkatkan kekompakan dan kerjasama tim.
Ketika kami tiba di lokasi acara, mendung masih menyelimuti persawahan, katak dengan riangnya bernyanyi meminta hujan. Sekitar tigapuluh orang petani telah berkumpul di saung, bapak-bapak tani yang seharusnya berjibaku di lahan masing-masing, rela untuk hadir. Mereka berasal dari tiga kelompok tani yang berbeda, usaha yang digeluti adalah tani padi, sayur mayur dan peternak sapi. Mereka adalah pelaku utama dalam bidang pertanian, yang sebagian mungkin tidak sadar betapa besarnya peran mereka dalam ketersediaan pangan di Pulau Rupat.
Selayang pandang mengenai keberadaan Kelompok Tani di Pulau Rupat, terdapat 93 kelompok tani. Kelompok-kelompok tersebut berasal sub sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan. Data di BPP Kec. Rupat menunjukkan bahwa sampai dengan akhir Desember 2013, ada 16 Gabungan Kelompok Tani di lingkup Kecamatan Rupat dan Rupat Utara. Jumlah yang sangat besar, namun masih butuh pengujian lebih lanjut untuk mengetahui kualitas kelompok-kelompok tersebut.
Gerimis belum reda, namun pembukaan pelatihan Dinamika kelompok tetap berlangsung dengan khidmat. Melirik jam digital handphone, tepat pukul 09:00. Kawan-kawan penyuluh pertanian Rupat selaku panitia pelaksana kegiatan ini sepertinya tidak mau menunggu lama. Bersama dua orang fasilitator, mereka meminta para peserta untuk berdiri. Awal sesi ini adalah sebuah tahap yang menentukan keberhasilan dinamika kelompok, proses memecahkan kebekuan forum, ice breaking.
Langsung menghentak dengan sebuah lagu berjudul “Selamat datang Kawan” yang dinyanyikan secara serentak. Nada yang cheesy dipadu lirik riang gembira, belum lagi tambahan goyang pinggul , dingin cuaca sekejap berubah menjadi hangat.
Selamat datang, Selamat datang kawanku
Apa kabar, apa kabar, apa kabar kawanku
Gembira, gembira, yae, yae yae
Senangnya senangnya.
Tensi belum lagi mereda, peserta langsung diantar untuk berkenalan dengan anggota kelompok lain dengan permainan zip-zap. Masih dengan posisi berdiri, tiap peserta menggerakkan kedua lengannya ke atas dan kebawah secara bergantian, sambil mengucapkan “zip-zap”, “zip-zap”. Setiap orang yang ditunjuk harus bisa memperkenalkan dirinya dan mengetahui identitas kawan di sebelah kiri ataupun di samping kanannya. Permainan ini beberapa kali diulang, hingga tak terasa setiap orang sudah saling mengenal.
Sesi pertama berlangsung lancar, peserta terlihat saling bergurau dan melempar tawa, ice breaking berhasil. Tahapan ini menjadi penting sebab akan menstimulasi rasa dari peserta pelatihan dinamika kelompok. Pertemuan kelompok tani dalam prakteknya seringkali berlangsung sangat formal, menyebabkan pembicaraan berlangsung tegang dan kaku. Permasalahan yang diutarakan menjadi sulit mencapai solusi. Berlarut-larutnya pertemuan bisa saja membuat petani menjadi bosan dan memilih untuk tidak hadir di pertemuan berikutnya. Untuk itulah dibutuhkan suasana yang sedikit santai namun tetap terarah.
Track kedua berlangsung sedikit slow, peserta diajak bermain “burung dara” untuk memahami dinamika kehidupan. Pemainan ini dibantu oleh seorang instruktur. Dia berdiri di tengah lingkaran peserta, lalu menaikkan tangan kiri dan kanan seolah seekor burung dara. Setiap perubahan kepakan sayap burung, diiringi tepuk tangan yang berbeda frekuensi. Ketika tangan berada di atas, tepukan semakin cepat. Begitupula sebaliknya, jika tangan menuju ke bawah, tepukan melambat. Permainan ini mengajarkan sebuah filisofi bahwa untuk mencapai sebuah kemajuan, dibutuhkan usaha yang lebih keras, tepukan yang cepat. Rasa sakit pada tangan menjelaskan secara tersirat bahwa pengorbanan adalah sebuah keniscayaan dalam setiap usaha mencapai tujuan.
Kelompok tani sejati adalah wadah membangun kekompakan, tempat mengasah kerjasama dan sebagai organisasi terdepan dalam mewujudkan ‘empat sukses’ pembangunan pertanian. Pencapaian swasembada, diversifikasi pangan, peningkatan daya saing, dan pada intinya pencapaian kesejahteraan petani. Dengan organisasi yang memahami tujuan tersebut, besar kemungkinan untuk mewujudkan. Namun jika tidak tahu tujuan, tanpa penyatuan kekuatan petani, tanpa kerjasama komunitas masyarakat, keempat hal itu hanya akan menjadi isapan jempol belaka.
Awan mendung mulai tersapu dari langit Pulau Rupat, track-track materi berbungkus “game” terus berlanjut. Permainan kartu A-B, peserta dibagi menjadi empat kelompok, kemudian tiap kelompok diserahkan amplop berisi dua buah kertas bertulisakan huruf A dan huruf B. Masing masing kelompok disuruh memilih dari setiap huruf tersebut. Pihan bisa saja berakibat baik, buruk dan kemenangan bagi setiap kelompok. Menghasilkan kemungkinan menang dan kalah, kuncinya adalah kemenangan yang paling banyak. Sebuah permainan yang menguras pemikiran antara memilih untuk memenangi permainan atau membantu kelompok lain. Inti dari permainan ini adalah bagaimana setiap kelompok tani yang ada bisa saling membantu dalam setiap usaha yang ditekuninya. Mereka harus menghilangkan ego masing-masing, dan mulai bahu membahu dalam setiap usaha pembangunan pertanian.
Arena pelatihan menjadi sangat riuh saat permainan “kapal tenggelam” berlangsung. Fungsi permainan ini agar sebuah kelompok tani tetap menjaga kekompakan dan kebersamaan, dalam susah maupun senang. Peserta membentuk sebuah barisan, kemudian memegang bahu kawan di depannya. Setelah itu, barisan yang diumpama sebuah kapal, berlayar di lautan. Sambil menyanyikan lagu “lancang kuning”.
Lancang kuning, lancang kuning berlayar malam, hai berlayar malam
Lancang kuning, lancang kuning berlayar malam, hai berlayar malam
Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam
Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam
Lagu terus mengalun hingga di tengah perjalanan, sang kapten berteriak “kapal akan tenggelam, sekoci hanya ada lima!” peserta kemudian berusaha berkumpul 5 orang, tidak lebih tidak kurang. Bagi yang berada di luar kumpulan lima orang berarti tenggelam. Begitu seterusnya, sekoci berubah menjadi 3, 7, 8, sesuai instruksi kapten. Tawa meledak ledak melihat tingkah peserta yang sebagian telah berumur, namun bermain seperti anak-anak kecil.
Panitia dan instruktur tampaknya telah memahami bagaimana memanage acara ini. Mereka tahu kapan harus mengeluarkan ekspresi peserta, dan tahu kapan tiba waktu menyentuh hati mereka dengan motifasi. Berbagai game yang dilangsungkan sangat tepat sasaran, kesiapan alat peraga juga patut diacungi jempol.
Permainan kata “saling-saling” pun digelar. Para peserta dipersilakan menulis satu kata untuk melengkapi kata “saling”. Mulai dari saling kenal, saling membantu, saling memahami, saling sayang, dan seterusnya, sampai ketigapuluh petani menuliskan tigapuluh kata. Sesi ini berlangsung sedikit senyap, setiap peserta tampak berusaha untuk memaknai setiap kata yang mereka tuliskan. Hal ini agar kita memahami bahwa untuk mencapai keberhasilan, dibutuhkan sikap ‘saling’, yang berarti kita butuh teman. Kata “saling” mengandung makna bahwa setiap orang membutuhkan setidaknya seorang kawan untuk berbagi, bermufakat dan memecahkan masalahnya. Pada akhirnya, diharapkan petani memahami pentingnya berorganisasi.
Dalam bidang pertanian, yang benar-benar memahami tentang kelompok tani adalah petani itu sendiri. Dalam perjalanan pemberdayaan masyarakat, lembaga ataupun orang-orang yang menangani persoalan tersebut kerap lupa satu hal. Bahwa sejak dahulu, komunitas tani kita selalu menyandarkan segala tindakan pada keputusan rembug bersama. Jika ditelusuri sistem kerja mereka yang sangat populer seperti sambatan, sebenarnya mengandung unsur kekompakan, kerjasama, gotong royong dan tolong menolong. Sambatan harusnya menjadi cermin dalam membentuk dan mengelola kelompok tani, sebab unsur kesetaraan dan ‘duduk bersama’, menjadi bagian yang inheren di dalamnya. Egaliter, sebuah unsur yang lama absen dalam kelompok tani, nilai dan rasa tradisional yang sekarang ini justru dibaikan.
Melalui dinamika kelompok, rasa itu muncul lagi. Hampir tak tercium hal-hal berbau formal dalam acara ini, instruktur hanya bertindak sebagai penghubung, mengambil peran setara. Instruktur tidak memposisikan diri sebagai guru yang menceramahi muridnya, tapi sebagai kawan yang mendengarkan keluh kesah mereka. Jauh dari kesan mendikte, sebuah hal yang patut ditiru oleh mereka yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, khususnya yang bersentuhan langsung dengan petani di lapangan.
Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, dua hari berlangsung di masing-masing kecamatan, pelatihan dinamika kelompok disenangi oleh petani yang hadir. Cairnya suasana, aroma persahabatan yang kental dan minimnya metode ceramah menjadi pembeda. Seperti air pegunungan yang segar, dinamika kelompok membawa sesuatu yang fresh ke dalam pengelolaan poktan. Mudah-mudahan setelah acara ini, kelompok tani yang ada bisa memahami secara utuh tujuan mereka, serta memiliki keyakinan yang mantap untuk mewujudkannya.




Posting Komentar