Dramaga, 21 Juni 2014
Pagi ini aku sudah janjian dengan kak Nopida erawati untuk mengitari kampus IPB. Kak era, dara minang ini biasa disapa, adalah PPL dari Kecamatan Siak kecil.
Hawa sejuk menyapa kami dengan lembut. Semerbak wangi bunga bercampur dengan segarnya udara pagi menambah antusias kami untuk melanjutkan misi, melihat-lihat suasana pagi di kampus hijau. Setelah merasa cukup menikmati pemandangan sekitar kampus, kami bersiap-siap mengikuti kegiatan hari ini.
“Mengawali materi di hari sabtu pagi, yaitu manajemen pemeliharaan sapi pedaging. Kali ini kami ditemani oleh pak Edit l. Aditia, M.Sc.
“Kunci pemeliharaan sapi adalah ketersediaan pakan.” Begitu pak Edit membuka materi ini.
“Manajemen ternak tidak terlepas dari penanganan awal, mulai dari kedatangan ternak yang meliputi pemberian hijauan dan air minum, penimbangan bobot awal, identifikasi, penanganan kesehatan, pengamatan dan recording ternak.
Pak Edit lalu menyuguhkan beberapa video budidaya sapi, mulai dari budidaya alam (lepas), semi intensif sampai yang intensif.
-0-
Menjelang siang, kami disuguhi materi pemberian pakan ternak ruminansia oleh Dr. Ir. Didid Diapari, MS.
“Cara pemberian pakan pada ternak ruminansia (sapi, domba dan kambing) sangat tergantung pada jenis ternak dan tujuan pemeliharaannya. Misalnya ternak ruminansia potong yang untuk digemukkan harus diberikan secara ad libitum yaitu cara pemberian pakan dengan cara sepuas-puasnya ternak makan. Untuk ternak potong yang dikembangbiakkan maka pemberian pakannya harus dengan cara restrected feeding yaitu cara pemberian pakan dengan membatasi jumlah pakan yang diberikan, diharapkan ternak tidak terlalu gemuk sehingga memungkinkan ternak melakukan perkawinan dengan sex libido yang tinggi, sehingga dihasilkan keturunan yang relatif banyak. Pada ternak ruminansia potong, pemberian hijauan dibandingkan dengan konsentrat adalah 10:90, sedangkan pada ternak ruminansia perah, perbandingannya adalah 40: 60.” Papar pak Didid panjang lebar.
“Mengingat biaya pakan merupakan biaya yang relatif mahal bagi usaha peternakan, maka penting untuk peternak bisa menyusun sendiri ransum yang akan diberikannya, dengan menggunakan bahan pakan lokal yang tidak dimanfaatkan manusia.“ Imbuhnya memberi solusi.
Pak Nababan, seorang PPL ikut berbagi pengalamannya di lapangan. Perihal peternak di Kecamatan Bukit Batu, wilayah kerjanya yang kadang menambahkan urea ke dalam ransum ternak. Pak Didid pun menjelaskan tentang bahaya urea jika langsung diberikan ke ternak.
Di akhir sesi, pak Didid menurunkan ilmu penyusunan ransum kepada peserta, yaitu penghitungan secara manual menggunakan square methode.
-0-
Usai Istirahat, Sholat dan makan siang, Pak Dr. Ir. Salundik, M.Si mengisi materi Pengelolaan Limbah Peternakan.
Pak Salundik membuka sesi ini dengan melemparkan isu lingkungan hidup yang berkorelasi positif dengan kualitas hidup.
“Sulit dibayangkan orang bermercy tinggalnya di tempat pembuangan akhir (TPA). Permasalahan yang dihadapi adalah limbah ternak dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Antara lain polusi udara yang menimbulkan bau dan pemanasan global, air bersih yang mengalami penurunan kualitas dan kesehatan dimana terjadi penularan penyakit pada manusia, misalnya flu burung. Padahal jika pengelolaannya bagus, bisa digunakan sebagai bahan kompos dan biogas.” Tekan bapak berdarah dayak ini optimis.
-0-
Materi terakhir kami sore itu adalah sistem perkandangan sapi potong, disampaikan oleh Bapak Bramada winiar putra, S.Pt., M.Si.
Fungsi kandang adalah untuk melindungi ternak dari kondisi lingkungan dan cuaca yang tidak diharapkan, untuk memudahkan pelaksanaan pemeliharaan, untuk melindungi dari hewan pengganggu, untuk tempat beristirahat dan untuk menjaga aspek higienitas dan mengurangi pencemaran pencemaran lingkungan.
Perkandangan juga harus disesuaikan dengan struktur tubuh, kondisi saat rebah dan berdiri serta tingkah laku ternak. Perkandangan juga harus mempertimbangkan tata letak: mudah dicapai alat transportasi dan komunikasi, dekat dengan sumber air, berada pada topografi yang datar, disiapkan kemungkinan perluasan, juga faktor higienitas lingkungan.
“Kandang dapat dibuat dari bahan-bahan sederhana dan murah, namun dengan konstruksi yang kuat.” Ujarnya lagi.
Pak Bram juga menceritakan tentang pengalaman di kelompok binaannya, yang pada awalnya sulit untuk diberdayakan. Melalui sistem pendekatan kelompok, dengan adanya pergiliran kerja, jaga dan pemberian pakan, akhirnya dengan melihat hasil yang ada, anggota masyarakat yang ada di sekitarnya menjadi tertarik untuk turut bergabung.
“Awalnya memang sulit. Terasa berat memang kalau dipikirkan, jadi kerjakan saja, kalau di tengah jalan kita temukan masalah, kita cari solusinya” Imbuh pak Bram memotivasi.
Di akhir sesi, Bapak berkemeja lengan panjang putih ini membagikan soft copy bentuk-bentuk kandang yang nantinya bisa dimodifikasi.
ooo0O0ooo
Ciampea, 22 Juni 2014
Pagi ini panitia membawa kami ke ‘rumah doa anak yatim’ di desa Cibuntu, Kec. Ciampea, Bogor. Memerlukan waktu dua jam perjalanan untuk sampai ke tempat tersebut. Sesampainya di sana banyak anak berseragam, usianya rata-rata masih seumuran anak SD. Mereka membawa buku bertuliskan huruf arab, setelah melihatnya lebih dekat, ternyata kitab yaasiin. Menurut pemilik tempat ini, anak-anak tersebut baru saja selesai mengaji.
“Di rumah doa ini ada lebih dari 2.000 anak yatim yang mengaji bershift, dilakukan setelah jam sekolah bubar. Mereka di sini bukan bekerja di kandang tapi jadi rajanya, mereka ngaji lalu digaji.” Papar pak Dwi susanto yang akrab disapa pak Mbek ini.
Setelah mendengarkan dengan kagum, pak Haji Jamhur menyampaikan uneg-unegnya dan bertanya,
“Apa yang mendasari bapak memulai usaha ini?”
Bapak berbadan bongsor itupun bercerita perihal awal mula usahanya,
“Dulunya saya bekerja seperti peternak kebanyakan, hanya mencari profit. Misalnya ada yang dewasa dijual, ada susu dijual, ada kotoran dijual. Tapi beberapa tahun yang lalu, saya pergi umrah dan melihat kedahsyatan tentang sedekah kepada anak yatim. Dari situlah saya menerapkan bahwa kita intinya mengikutsertakan Allah dalam bisnis kita, insyaallah Allah akan membantu.” Sarannya pelan tapi langsung mengena. ”Perlakukan ternak, sebagaimana kita juga ingin diperlakukan, misalnya nih, kandang, coba kita tidur di kandang yang akan kita tempatkan ternak kita, nyaman tak kita?” Ujarnya lagi.
Di lahan pak Mbek, kami benar-benar diajarkan bagaimana beternak dengan meyakini bahwa segalanya atas Rahmat Sang Pencipta. Berusaha memahami qalam yang diturunkan dan menjalankannya dalam kehidupan. Hasilnya luar biasa, rejeki berupa kambing, kerbau, sapi dan kuda jumlahnya banyak. Dengan doa dan usaha yang sungguh-sungguh, semua pasti dimudahkan. Sampai kerepotan kami menghitung ternak tersebut dan hanya bisa berdecak kagum mengamatinya. Maha Suci Sang Pemberi Rejeki…
Setelah mendengar cerita pak Mbek, hati kami riang, langkahpun ringan. Kami punya oleh-oleh untuk dibawa pulang, yaitu semangat yang menggebu-gebu. Ya, semangat, bahwa yang terjadi merupakan proses, dalam setiap usaha ada untung maupun ruginya. Tapi kalau sudah meyakini bahwa Yang Maha Pemberi selalu membantu dalam kita berusaha, maka hati akan selalu ikhlas dan ridha.
Yang berlalu, biarkan ianya berlalu
Yang baik jadikan teladan, yang buruk jadikan sempadan
(Pesan orang – orang tua)
-0-
Titik selanjutnya yang akan kami tuju yaitu kebun raya bogor (KRB). Yuhuuu… Dengan menumpangi bus, kami tiba di sana.Suasana KRB sebenarnya sudah tidak bisa lagi disebut kebun, karena kebun itu biasanya identik dengan suasana tenang dan sepi. Sedangkan KRB telah ramai dikunjungi dan selalu padat dengan wisatawan. Jumlahnya lebih banyak lagi waktu itu karena bertepatan dengan hari minggu, juga libur semester untuk anak sekolahan.
Setelah puas mengedarkan pandang, kamipun berteduh di bawah pohon rindang. Menikmati suasana KRB sambil sesekali melihat kegiatan pengunjung lainnya, hingga tak terasa dua jam kami habiskan waktu disana. Saatnya beranjak, bersama kawan-kawan yang lain, kamipun berkumpul lagi di tempat bus menunggu.
Yupz.. Kami bergerak lagi. Kena macet lagi. Bus besar itu meliuk-liuk di jalanan kota Bogor.
ooo0O0ooo
Dramaga, 23 Juni 2014
Senin pagi, embun masih bergelayut manja di dedaunan ketika aku dan kak Era duduk di bangku panjang lapangan olahraga. Banyak mahasiswa berbaju kotak-kotak berlalu lalang di sana, mungkin mereka anak kuliahan di kampus hijau ini. Dari bisik-bisik yang sempat kudengar, mereka adalah mahasiswa baru, the next agent of change.
Setelah melakukan persiapan dan memasuki ruangan, ternyata sudah ada Ibu drh. Retno Wulansari, M.Si, Ph.D., yang akan membekali kami dengan materi pengenalan penyakit dan penanganan kesehatan ternak.
Kesehatan hewan atau ternak merupakan suatu kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusunnya dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis berfungsi normal. Timbulnya penyakit pada ternak merupakan proses yang berjalan secara dinamis dan merupakan hasil interaksi tiga faktor, yaitu ternak (host), agen penyakit (pathogen), dan lingkungan (environment). Penyakit yang biasa kita jumpai di lapangan yakni anthraks, helmintiasis, scabies, tetanus, tympani, pink eye dan foot root. Ibu Retno menjelaskan satu persatu penyakit tersebut dan kamipun berdiskusi bersama.
-0-
Jam dinding masih menunjukkan pukul 10.30 WIB, ketika pak Prof. Dr. drh. Iman Supriatna memulai materi Reproduksi pada Ternak Ruminansia. Kami masih cukup bersemangat untuk mengikutinya.
Reproduksi merupakan rangkaian proses biologis berurutan teratur yang terjadi pada individu dalam menghasilkan keturunan sejenis tetuanya dalam rangka kelestarian hidup spesies yang bersangkutan. Ternak ruminansia termasuk makhluk non primata, sehingga kita tidak menjumpai menstruasi pada ternak ruminansia betina. Ternak bisa bereproduksi pada saat telah mengalami dewasa kelamin atau pubertas, suatu umur tertentu dari hewan disertai dengan mulai berfungsinya organ reproduksi. Hal tersebut ditandai dengan bobot badan yang meningkat, testes mulai menghasilkan sperma, ovary mulai menghasilkan sel telur. Selain itu, hormon gonadotropin pada tubuh hewan mulai bersirkulasi dan sifat kelamin sekunder lebih jelas. Tanda yang terakhir yaitu mulai muncul kegiatan berkelamin pada hewan ternak, misalnya pada betina menunjukkan gejala birahi, pada jantan dapat menunjukkan libido.
Pak Imam pandai bergurau. Untuk menjaga agar peserta tetap fokus dan tidak mengantuk, dia sesekali melepaskan candaan.
“Dulu kita pernah ada peraturan tidak diperbolehkan menggunakan istilah asing, semua kata harus dibahasa Indonesiakan. Ketika bertemu dengan istilah reproduksi saya bingung, bahasa Indonesianya apa? Kalau salah sebut kan bisa gawat.”
Hahaha. Celetuk professor yang pernah belajar di Jerman itu disambut tawa riuh peserta.
-0-
Usai makan siang, kami disuguhkan materi kesejahteraan pada ternak ruminansia, dibawakan oleh Ibu Ir. Sri Rahayu, M.Si.
“Kesejahteraan ternak yaitu suatu keadaan di dalam individu ternak kaitannya dengan lingkungan sekitar, misalnya iklim mikro, pakan dan manajemen. Indikator ternak sejahtera adalah sehat dan bebas dari luka, berproduksi secara normal dan tingkah laku yang diperlihatkan juga normal.” Papar ibu Sri. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa ternak juga merupakan makhluk, yang selayaknya kita perhatikan tingkat kesejahteraannya.
“Terdapat lima prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu 5F, five freedom, yakni ternak harus bebas dari haus, lapar dan kekurangan nutrisi. Kedua, bebas dari ketidaknyamanan terkait lingkungan, ketiga bebas sakit, luka dan penyakit, keempat bebas dari takut dan stress. Dan yang terakhir ekspresi tingkah laku ternak kita harus normal.” Bu Sri menambah penjelasannya.
-0-
Materi terakhir sore itu adalah budidaya hijauan, pengolahan tanaman pakan dan manajemen padang penggembalaan, disampaikan bapak Dr. Iwan Prihantoro, S.Pt, M.Si.
Kunci dari usaha peternakan adalah hijauan makanan tambahan (HMT). Supply HMT untuk ternak adalah sepuluh persen dari berat badan perhari. Untuk membudidayakan HMT, kita perlu melewati tahapan pemilihan lokasi penanaman, pemilihan jenis tanaman, pengolahan tanah, pemupukan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pengawetan.” Jelas pak Iwan sambil memutar video budidaya HMT dengan cara stek.
Dalam catatanku tentang managemen padang penggembalaan, yang harus kita perhatikan adalah:
- Tekanan penggembalaan, yaitu jumlah ternak yang digembalakan di suatu areal pastura
- Kapasitas tamping, jumlah ternak yang digembalakan pada pastura dengan kelestarian lahan, tanaman dan ternak.
- Satuan ternak, yaitu satuan yang digunakan untuk menggembalakan ternak.
Materi hari ini sudah selesai, kami pulang untuk beristirahat.
-0-
Jonggol, 24 Juni 2014
Hari terakhir di Bogor, udara pagi masih segar ketika aku naik ke bus yang akan membawa kami ke unit pendidikan penelitian dan peternakan jonggol (UP3J). Menurut catatan awalku, lokasi praktek peternakan tersebut memiliki luas 169 Ha, dan berada di ketinggian 70 m di atas permukaan laut. Lokasi yang dibangun pada tahun 1985 itu merupakan kerjasama Indonesia dengan pemerintah Australia. Kami berjalan sekitar 600 m menuju kandang domba, dipandu pak Edit, pak Iwan dan pak Baihaqi. Kami akan bergantian melakukan praktek menggunting bulu, menyuntik, memberi vitamin dan memasang nomor telinga atau ear tag.
Suasana praktek lapang ini sangat riuh, semua ingin mencoba. Kemudian satu persatu peserta mengikuti langkah-langkah yang dijelaskan oleh pemandu.
Tanpa terasa waktu sudah memasuki Indonesia bagian tengah, alias waktunya makan siang. Hehe.
Di tempat makan, kami disuguhi sayur asem pedes, tahu, tempe dan ayam goreng. Wah sedap.. Tanpa melewatkan kesempatan, kamipun mencicipi hidangan tersebut. Suasana alam Jonggol yang teduh dan asri membuat selera makan kami bertambah.
ooo0O0ooo
Jakarta, 25 Juni 2014
Hawa dingin masih terasa ketika kami tiba di Bandara internasional Soekarno Hatta, wajar saja karena jam tanganku baru menunjukkan pukul enam pagi. Sambil menunggu keberangkatan, kami minum kopi. Bagi sebagian orang, rutinitas minum kopi di pagi hari telah menjadi identitas tersendiri.
Melihat pesanan kawan-kawan, ada yang tertarik minum kopi original, kopi mocca dan kopi creamy yang hangat. Sedangkan aku memilih kopi mocca dingin.
Kita bisa mengambil pelajaran dari aktifitas meracik dan meminum kopi untuk memahami dunia pertanian.
Dalam meracik segelas kopi, ada gabungan antara bubuk kopi, gula, dan air panas. Sebagian orang ada yang suka menambahkan cream atau latte, bisa juga campuran kedua bahan itu. Setelah dilakukan pengadukan yang tepat, kita mendapatkan cita rasa kopi yang sempurna dan sesuai selera masing-masing.
Begitu juga dalam dunia pertanian, kita dianugerahi sumber daya alam dan pengalaman lapangan di daerah masing-masing. Dengan mempelajari teori dan pengalaman-pengalaman baru, mudah-mudahan kita mendapatkan kombinasi yang harmonis dan merasakan manisnya hasil yang diperoleh. Semoga.
Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan mozaik-mozaik.
Terserak di sana–sini, tersebar dalam rentang dan waktu.
Namun, perlahan-lahan akan membentuk sosok seperti Montase Antoni Gaudi.
Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu nanti.
(Julian Ichsan Balia)
Tidak salah orang-orang menjuluki Bogor dengan kota hujan. Namun kali ini bukan berbicara tentang cuaca ataupun tetes-tetes air yang jatuh dari langit. Hujan yang kumaksud adalah siraman motivasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman baru. Luar biasa…
ooo0O0ooo
*Terima kasih kepada panitia dari BKP-P dan Fapet IPB, serta terima kasih atas sambutan yang hangat dari bapak dan ibu instruktur serta pak Dwi Susanto.
Penyuluh Pertanian Lapangan
Kelurahan Tanjung Kapal dan Desa Darul Aman Kecamatan Rupat


.png)
Posting Komentar