Pelatihan Kesehatan Hewan di IPB Bogor

 

Bogor (Memang) Kota Hujan

Bengkalis, 19 Juni 2014

“Bu, aku berangkat…” Ucapku halus ketika berpamitan pada ibu di teras rumah. Beliau membalas dengan senyum penuh kasih dan anggukan kepala, itu sudah cukup sebagai restu. 

Pagi ini merupakan langkah awal dari sebuah perjalanan menuju ke tempat pelatihan di tanah Jawa. Pukul 06.45 WIB aku sudah meninggalkan rumah menuju Bandar Sri Laksmana, sebab panitia dan peserta telah menyepakati berkumpul di pelabuhan kebanggaan warga Bengkalis itu. Dalam hati aku berjanji akan melaluinya dengan mantap dan penuh semangat.

Sesampai di Bandar Sri Laksmana, ternyata sudah ada pak Haji Jamhur, disusul pak Sur, pak Delfit, kak Wiji dan pak Mardi, mereka adalah peserta pelatihan yang juga akan berangkat bersamaku. Wajah mereka masih segar dan tampak antusias untuk melakukan perjalanan. Satu persatu penumpang lainnya berdatangan, aku dan Arief dari Rupat, kemudian rombongan dari Bantan, yang terakhir rombongan dari Kecamatan Bengkalis.

Beberapa saat kemudian, tepatnya pukul 8.00 WIB, suara petugas pemberi informasi terdengar melalui pengeras suara. Dia mengumumkankan bahwa kapal laut yang akan kami tumpangi segera berangkat. Kamipun mengikuti panitia, turun menuju dek mencari tempat duduk masing-masing .

Diiringi gemuruh air laut yang berbuih, kapal bernama Alita itu meninggalkan kota junjungan, Bengkalis.

Pekanbaru, 19 Juni 2014

Melalui empat jam perjalanan yang cukup melelahkan, kapal yang kami tumpangi akhirnya bersandar di pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru. Di tempat itu tiga mobil telah menunggu rombongan peserta ‘Pelatihan kesehatan hewan dan penggemukan ternak’ yang diprogramkan oleh BKP Bengkalis.

Melalui desiran angin laut, aroma kota menyeruak. Di jalan raya, kemacetan menyambut kedatangan kami yang sedang menuju rumah makan. Yummy… Kebetulan sarapan pagiku  sudah aus kena gelombang arus sungai Siak.

“Ikutan juga mas? “ Sapaku kepada mas Kanto, ketua THL TBPP Kab. Bengkalis.

“Iya. Mana kawan yang lain?” Balasnya sambil melongok-longok rombongan di belakangku, diapun tahu jawabannya.

Ternyata rombongan dari Bukit Batu, Siak Kecil, Mandau, dan Kecamatan Pinggir telah berkumpul. Masih ada waktu sebelum keberangkatan, kami bertukar cerita dulu dengan penyuluh lainnya. Ada rasa kangen setelah sekian lama tak bertemu, karena meskipun masih berada pada satu kabupaten, namun kami terpisah jarak yang jauh. Ada yang berada di daratan pulau Sumatera, terpisah di pulau Bengkalis, serta di pesisir pulau Rupat.

Jakarta, 19 Juni 2014

Langit sudah mulai gelap ketika pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Bandara soeta, begitu biasanya orang menyingkatnya, saat itu sedang ramai.

Jakarta memang identik dengan keramaian, aku sempat membatin, kapan ya sepinya kota ini. Benarkah sebuah anekdot, Jakarte emang kagak ade matinye itu.

Panitia pelaksana kegiatan menyambut kami menggunakan bus kampus. Bus Institut Pertanian Bogor itu melaju menembus kemacetan kota Jakarta. Setelah melewati beberapa jalan tol, kami tiba di gerbang kampus IPB, Dramaga-Bogor. Seorang panitia dengan logat sundanya yang khas mempersilakan kami masuk.

Ya, kami telah tiba di wisma internasional IPB, disinilah untuk beberapa malam kami akan menginap. Kurasakan kenangan masa kuliah, nginap di kampus serasa jadi mahasiswa lagi. Hurray hurray!

ooo0O0ooo

Dramaga, 20 Juni 2014

Badanku masih terasa pegal ketika azan subuh sayup-sayup berkumandang. Kutengok jam di tabku, baru pukul 04.45. Kupaksakan kelopak mata membuka lebih lebar, lalu menyalakan lampu. Kuambil air wudhu lalu melaksanakan shalat subuh, kemudian keluar kamar melihat-lihat sekitar asrama, ternyata sudah banyak yang jalan pagi. Ikutan ah…

Hangat matahari pagi sudah mulai terasa ketika semua orang berkumpul di lobby untuk sarapan pagi. Nikmatnya hidangan nasi pulen ditemani teh hangat menghidupkan suasana pagi pertama kami di kota hujan. Beberapa saat kemudian datang pak Ismail, seorang bapak paruh baya yang mengantarkan kami menuju ruang sidang Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP).

Pagi ini agenda pelatihan adalah pembukaan acara pada pukul 08.00 waktu Bogor dan sekitarnya. Ibu Henny Nuraini memandu jalannya acara pembukaan pelatihan kesehatan hewan dan penggemukan ternak ini. Diawali dengan kata sambutan dari Bapak Ir. Mohd. Fadhlan, M.Si., kabid kelembagaan dan sumberdaya penyuluh-BKP Bengkalis.

“Peserta pelatihan ini adalah penyuluh-penyuluh lapangan dari 8 kecamatan di kabupaten Bengkalis. Latar belakang pendidikan mereka yaitu 19 orang lulusan pertanian dan 1 orang sarjana peternakan. Pelatihan ini menjadi penting, karena penyuluhan di lapangan bersifat polivalen.” Jelas Pak kabid dalam sambutannya pagi itu.

Polivalen berarti tuntutan bahwa penyuluh dapat menangani multi komoditi.

”Jika masyarakat perlu informasi peternakan, mau tak mau penyuluh harus bisa menjelaskan dan berargumen. Maka itu diperlukan ilmu praktis dan teknis bagi penyuluh lapangan untuk mendukung peningkatan produksi peternakan.” Imbuh Pak kabid lagi.

Selanjutnya sekretaris jurusan IPTP memberikan sambutannya, mewakili bapak dekan fakultas peternakan IPB yang berhalangan hadir.

“Bapak dan ibu penyuluh pastinya jauh lebih berpengalaman di lapangan, jadi mudah-mudahan ilmu yang ada di sini bisa dikombinasikan dengan pengalaman bapak dan ibu sekalian. Adanya transfer ilmu agar kita bisa bekerja lebih efektif dan memberi nilai lebih ke masyarakat.” Ujar pak sekjur merendah sekaligus memotivasi.

Acara pembukaan terlewati dengan sukses, ditandai dengan ucapan basmallah oleh pak sekjur diikuti tepuk tangan meriah dari semua yang hadir.

Jarum jam baru menunjukkan angka 08.30 ketika materi pertama disampaikan oleh bapak dr. Rudy priyanto. Judul materinya yaitu pemilihan dan evaluasi sapi bakalan.

“Penentuan sapi bakalan penting, karena akan menentukan performance yang dihasilkan. Sapi bakalan (feeder cattle) biasanya berumur 1–1,5 tahun (yearling), baik sapi jantan (bull), sapi jantan kastrasi (steer) maupun sapi dara (heifer). Sapi tersebut memasuki program penggemukan dengan pakan berenergi tinggi (konsentrat) selama 100 – 300 hari untuk menghasilkan sapi potongan. Pemilihan sapi bakalan tergantung dari lamanya penggemukan, mutu pakan yang tersedia dan kondisi lingkungan.” Jelas Pak Rudy.

“Sapi bakalan yang baik adalah sapi yang memiliki ciri-ciri fenotip yang dapat menggambarkan potensi pertumbuhan yang cepat dan produksi daging yang tinggi. Di Indonesia, usaha penggemukan tidak diperbolehkan menggunakan sapi dara lokal, sementara kastrasi pada sapi jantan praktis tidak dilakukan. Oleh karena itu, peternakan rakyat lebih banyak menggunakan sapi jantan muda untuk penggemukan.” Papar pak Rudy lagi, mengingatkanku akan program penjaringan sapi betina di kelurahan Tanjung Kapal, tempatku bekerja.

Materi pertama disambut antusias peserta dengan bombardir pertanyaan, termasuk dari Arief, rekan kerjaku di Kec. Rupat, yang merupakan satu-satunya peserta pelatihan berlatar belakang peternakan.

Materi kedua berjudul pengetahuan bahan pakan, diberikan oleh ibu cantik yang berasal dari Palembang, prof.dr. Erika b. Lakoni. Pada materi ini kami lebih banyak sharing tentang keadaan di lapangan.

Ibu profesor menekankan pada konsep ketahanan dan keamanan pakan yang biasa kita jumpai dalam makanan ternak. Ketahanan terimplementasi dengan adanya kemandirian, sedangkan keamanan akan terwujud dalam pakan yang baik dan aman. Jadi hasil akhirnya adalah kemampuan untuk mandiri dalam menyediakan pakan yang baik dan aman bagi ternak.

“Ajarkan peternak akan efisiensi-efisiensi pakan. Cari resources lokal, kemudian formulasikan. Sumber pakan lokal misalnya: bungkil inti sawit (bis), limbah kebun, lumpur sawit, kulit buah kakao, nanas dan sebagainya. Kalau memberikan pakan ke ternak, perlakukan seolah-olah kita yang diberi makan” Jelas orang sekampung kami dari Sumatera itu.

Tidak terasa sesi materi kedua selesai. Di akhir pertemuan, Bu Ika, begitu beliau sering disapa, mengingatkan sekali lagi bahwa penyuluh jangan cari masalah, tapi cari solusi. Ketika ditanya kapan akan ke Sumatera, beliau menjawab, kalau pihak kabupaten bersedia mengundangnya, beliau akan berusaha datang. Semoga.

-0-

Materi ketiga berjudul sistem jaminan halal bidang peternakan, disampaikan oleh ibu dr. Henny nuraini.

Penyembelihan hewan menentukan halal atau tidaknya daging dan bagian lain dari hewan. Sehingga ada beberapa prinsip-prinsip penyembelihan yang harus dipenuhi, yakni:

  1. Hewan yang disembelih yaitu hewan yang halal dimakan, hidup ketika disembelih, sehat sesuai dengan persyaratan kesehatan hewan.
  2. Juru sembelih bersyarat beragama islam dan baligh, memahami tata cara penyembelihan secara syar’i, mempunyai keahlian dalam menyembelih
  3. Alat sembelih yang tajam, bukan tulang dan kuku.
  4. Proses penyembelihan dengan cara berniat menyembelih dengan menyebut asma Allah, mengalirkan darah dengan terputusnya tiga saluran -makanan, pernapasan, dan dua pembuluh darah-, memastikan adanya aliran darah dan gerakan ketika disembelih, memastikan penyebab utama kematian adalah penyembelihan
  5. Pengolahan, diantaranya penyimpanan dan pengiriman.

Pak Haji Jamhur, koordinator BPP Bantan dengan antusias bertanya tentang juru sembelih. Apakah dia wajib seorang laki-laki?

Bu Henny dengan lugas menerangkan bahwa,

“Dalam menyembelih memang diutamakan laki-laki, tapi sekarang ini berkaitan dengan kesempatan kerja, jadi itu tidak menjadi masalah”.

Disambung lagi diskusi dengan mas Sukanto, PPL dari Kecamatan Bukit Batu. Dia mempertanyakan mengenai hewan yang disembelih karena kecelakaan. Ada semacam kekhawatiran bahwa ini merupakan bangkai yang nantinya menjadi tidak halal dan tidak thoyyib.

Sesi ini kemudian membahas tentang ciri-ciri daging segar yang disambut antusias oleh grup Ibu-ibu.

-0-

Jam di dinding ruang pelatihan menunjukkan pukul 15.00 wib ketika kami diajak melihat kandang oleh pak Ismail. Jarak gedung fakultas peternakan ke kandang praktek tidak begitu jauh, kami menggunakan bus kampus ke sana.

Pak dr. Rudy priyanto yang akan memandu praktek evaluasi ternak sapi. Di sini kami langsung praktek mengenai penghitungan berat badan sapi dan penentuan umur sapi dari gigi yang ada. Pak Ismail menjelaskan mengenai pakan sapi ‘silase’, juga menerangkan mengenai peralatan-peralatan yangharusada di kandang, seperti mesin pencacah chopper, timbangan, serta obat-obat ternak. Menariknya, di sana juga ada biogas, yang menampung kotoran dan urine sapi.

Setelah lelah berkeliling dan masing-masing peserta mengabadikan moment memakai jas lab, kami beranjak ke wisma.

Kelanjutan Cerita

Posting Komentar