
Pijar mentari sore antar perahu ketepian
Pada kayu lapuk dan sedikit basah
Duduk bersama yang kita sayang…
Pulau Rupat banyak menyimpan pesona. Mulai dari pemandangan sungai kecil yang mengalir tenang, hingga sungai besar yang membelah pulau. Belum lagi panorama pantai pasir putih yang sanggup menawan hati. Sebut saja diantaranya adalah Pantai Rhu di Desa Teluk Rhu, Pantai Ketapang di Desa Sungai Cingam, Pantai Lapin di Desa Tanjung Punak ataupun salah satu pantai yang melegenda, Pantai Alohong. Sebenarnya ada satu lagi pantai yang pemandangannya tak kalah indah, yaitu Pantai Makeruh
Pantai Makeruh yang terletak di Desa Makeruh Kec. Rupat, masih termasuk jarang dikunjungi. Lautnya tenang, pasir putih terhampar luas, dominasi biru dan putih sepanjang mata memandang. Pada sore hari, deburan ombak silih berganti menghantam perahu nelayan yang tertambat di bawah pohon kelapa. Pemilik kapal mungkin sedang beristirahat atau menjahit jala ikan untuk dibawa berburu ke tengah laut.
“Pantai ini biasanya ramai jika ada perayaan, misalnya pergantian tahun, memasuki bulan puasa, hari lebaran, maupun perayaan hari besar lainnya. Kalau di akhir minggu, ada juga rombongan keluarga dan muda mudi yang datang berkunjung.” Kata Ibu Dzubaedah, istri nelayan yang sedang mencari kerang di tepi pantai.
Keaslian Pantai Makeruh masih terjaga, rumah-rumah nelayan di tepi pun masih sangat sederhana. Rumah panggung dari kayu beratap rumbia. Hanya saja di beberapa bagian pantai telah terpasang turap batu yang berjejer untuk menahan abrasi. Berdasarkan keterangan salah seorang staff Desa Makeruh, pembangunan turap tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat guna melindungi pulau-pulau terluar di Indonesia. Bocah-bocah kecil sering menggunakannya untuk mancing dan bermain layang-layang.
Untuk mencapai Pantai Makeruh, jalur darat sepanjang 70 km masih menjadi langganan pengunjung. Bermula dengan menyeberangi perairan dari Kotamadya Dumai, butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Pulau Rupat, tepatnya di pelabuhan roro Batupanjang. Ongkos yang dikeluarkan kurang lebih 20 ribu rupiah. Kemudian dari pelabuhan ini kita harus melewati beberapa desa dan kelurahan yang berjejer dari selatan ke utara Pulau. Mulai dari Kelurahan Terkul, Kelurahan Pergam, Desa Sukarjo Mesim, Desa Teluk Lecah, Desa Parit Kebumen dan Desa Pangkalan Nyirih.
Kondisi jalan yang melintasi desa-desa dan kelurahan ini sebagian besar masih belum memadai, kita masih harus menyandarkan perjalanan pada sepeda motor. Walaupun jalan tersebut sudah bisa dilalui mobil, namun penumpang harus siap-siap menderita karena goncangan. Jalan masih bergelombang, retak dan patah, pun jembatan kayu masih kerap dijumpai dalam kondisi mengenaskan. Semenisasi jalan sepertinya dikerjakan tidak sepenuh hati, mungkin juga akibat struktur tanah gambut yang mudah jebol ataukah perpaduan keduanya. Entah.
Akses jalan sepanjang 10 km menuju Pantai Makeruh belum lagi licin beraspal. Jalan selebar 2 meter itu masih berupa semenisasi yang sebagian sisinya masih berlumpur kala hujan. Jika diperhatikan ada kesamaan jalan-jalan penghubung di Pulau Rupat ini, yaitu kualitasnya sama-sama buruk. Namun untuk mencicipi keindahan Pantai Makeruh, tantangan sedemikian bukanlah hal yang begitu sulit. Apalagi di saat musim tanam padi tiba, di sepanjang jalan menuju pantai kita bisa menikmati pemandangan lain. Hamparan hijau padi ladang yang memanjakan mata.
Sesampai di Desa Pangkalan Nyirih, yaitu desa terakhir yang berbatasan langsung dengan Desa Makeruh, kita berbelok ke arah timur untuk menuju pantai ini berada. Sarana dan prasarana pendukung pariwisata belum dibangun, seperti penginapan, rumah makan, ataupun kedai-kedai kerajinan tangan sebagai oleh-oleh yang bisa dibawa pulang para pengunjung. Sangat disayangkan, namun juga sebuah keberuntungan karena kita masih bisa menikmati keasrian pantai yang alami.
Upaya pembangunan di pulau Rupat, seperti jaringan listrik dan jalan penghubung antar kecamatan, proyek multiyear’s bernilai milyaran rupiah tengah digarap. Cita-cita menjadikan Pulau Rupat sebagai pusat pariwisata pun pernah diwacanakan pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis. “Pulau harapan” yang berbasis pada agrowisata dan agribisnis, dimana buah dan sayuran dipasok dari petani Rupat itu sendiri. Ide yang bagus, namun jangan sampai pembangunan yang gencar dilakukan menghilangkan kesederhanaan penduduknya, ataupun malah menjadi kerajaan sawit seperti banyak daerah lain.
Selalu ada rasa nyaman ketika kita berada dipantai, walau itu sekedar mendengar deru ombak yang menghantam bibir pantai. Ada kenyamanan menatap laut biru yang sejajar langit di horizon nun jauh disana. Hingga sore yang men-jingga, kala beberapa kapal nelayan menepi turunkan ikan hasil tangkapan. Sungguh nikmat yang tak terbeli.


Posting Komentar