Si Biru melaju pelan ketika sekumpulan bocah tampak sedang bermain sepakbola di pekarangan rumah. Ketika bola kuning yang mereka mainkan keluar dari pagar, seorang bocah laki-laki tak berbaju keluar memungutnya. Kulambatkan sepeda motor, lalu menepi samping parit yang mulai terisi air. Agak lama mencari permukaan tanah keras untuk memarkir kendaraan, hujan beberapa jam yang lalu membuat tanah jadi lembut.
‘Hey, sini.” Panggilku ke arah bocah tadi.
“Kenapa Om?” jawabnya dengan suara cempreng. Kedua tangan kecilnya masih memegang bola kuning.
“Kamu tahu siapa yang berkebun di situ?” tanyaku sambil menunjuk ke sebuah kebun tepi jalan.
“Tahu Om, Bang Agus sering nyangkul di situ.” Jawabnya.
Tanah kebun tersebut memang tampak gembur habis dicangkul. Aku lalu melangkah ke depan bocah tadi, duduk berjongkok agar pandanganku setinggi dia. Sementara kawan-kawannya di dalam pagar terus berteriak minta bola.
“Nih permen.” Kataku sambil meletakkan dua biji permen diantara bola kuning dan tangannya.
“Makasih Om…” katanya, lalu berlari menuju kerumunannya tadi.
Anak kecil. Dunia mereka paling menyenangkan, hanya bermain, tanpa beban. Kawanku pernah berpesan, jika berbicara dengan anak kecil, usahakan agar pandangan kita sejajar dengan dengannya. Agar si anak kecil itu mengangap kita sebagai kawannya. Tidak tertekan ataupun merasa inferior.
Anak-anak kecil, pemilik masa depan…
Kebun yang kutuju tidak berpagar, jejeran kayu menjadi jembatan tuk melewati parit. Tampak di kejauhan sepetak tanaman ubi berderet rapi, daunnya hijau menandakan kesuburan. Sekitar dua meter di belakangnya ada tanaman bersisik dan lonjong serta memakai mahkota, yaitu buah nenas. Di bagian akhir, ada sederetan tanaman pisang yang sekaligus menjadi pagar kebun. “Keasrian” dan “kegunaan” berpadu jadi satu.
Lama mengamati kebun tersebut, aku tidak menyadari ternyata di dalam kebun telah ada seorang pria. Dia sedang membersihkan ujung cangkul menggunakan sebuah batu kerikil. Dibawah bayangan pohon besar, kami berbincang.
“Assalamu Alaikum”. Sapaku.
“Waalaikum salam…” Jawabnya lalu menyambut uluran tanganku. Dari perawakan, sepertinya usianya masih muda.
“Sehat, Bang?” Tanyaku untuk memecah rasa sungkan antara kami berdua.
“Sehat. Darimana tadi?”
“Dari Batupanjang. Kebetulan lewat sini, lihat kebun yang sepertinya mau ditanami, jadi saya mampir.” Jawaban sengaja kupanjangkan agar mendapat respon yang panjang juga.
“Oh, kebun ini…”
Cara seperti itu selalu berhasil. Mulailah pria ramah tersebut bercerita.
Agus Ediyanto. Bapak dua orang anak yang lahir dan besar di kota Medan-Sumatera Utara. Anak gadisnya yang pertama telah berumur sepuluh tahun, duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan gadisnya yang kedua berumur empat tahun, sudah masuk TK. Keduanya lahir dari seorang ibu yang menemaninya merantau ke Pulau Rupat.
Sudah tiga tahun sejak dia meninggalkan kota kelahirannya, merantau dan mengadu nasib di bumi Lancang Kuning. Sewaktu di kota Medan, Bang agus termasuk anak muda yang cukup sukses. Memiliki usaha kulit sapi yang diolah menjadi berbagai bentuk panganan, seperti kerupuk kulit ataupun kikil. Usahanya itu terus berkembang, bahkan hasilnya sudah menjangkau Pulau Jawa. Di Garut, kulit sapi yang dikirimnya diolah lagi menjadi Jaket dan Topi oleh pengusaha di sana.
Namun untung tak dapat diraih dalam jangka waktu lama. Usaha kulit yang telah digelutinya bertahun-tahun mengalami penurunan drastis. Ketatnya modal dalam bisnis ini menjadi kendala yang tak bisa diatasinya. Persaingan sengit antara pengusaha kulit juga menjadi sebab usahanya gulung tikar. Bang Agus sangat terpukul akibat kejadian tersebut, sebab usaha kulit tersebut telah menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Membutuhkan waktu yang cukup lama hingga Bang Agus dapat menerima kenyataan bahwa usahanya telah pailit.
“Saya lalu tersadar, bahwa ketika terjatuh, kita harus belajar untuk bangkit lagi…” Ucap bang Agus.
Berawal dari kejatuhan usahanya di Medan, dia memutuskan merantau bersama beberapa orang kawan dan kerabatnya ke Pulau Rupat.
“Anak-anak abang tinggal di Medan, nenek mereka tak kasih kalau mau kami bawa kemari. Mereka lucu-lucu, kalau sore gini kami biasa bermain bersama.” Kenang Bang Agus.
Kisah seorang bapak yang berpisah dengan anaknya demi pekerjaan sudah menjadi lumrah di negeri ini. Beberapa telah kutemui, pekerja yang rela meninggalkan orang dekat mereka demi mencari nafkah. Bukan karena tidak sayang, namun justru saking sayangnya. Aneh bukan? Tapi kenyataan itulah harus jalani sebagian orang, sebab hidup tidak menyisakan banyak pilihan. Namun sepertinya bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.
“Kebun sayurnya pakai pupuk apa bang?” Tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Pakai pupuk kandang, abang beli di Batupanjang. Sudah dipesan, mungkin beberapa hari lagi datang.” Jawab pria kekar yang kembali ke kebunnya untuk mencangkul.
“Pupuk harus diperhatikan, begitu juga dengan penyiraman tanaman. Penyemprotan hama biasanya dilakukan kalau sedang banyak hama seperti jangkrik, ulat dan kutu daun. Resiko kebanjiran atau malah kekeringan akibat kemarau panjang juga sering terjadi. Kalau tanaman sayur sudah siap panen, nanti ada pengumpul yang membawanya ke Dumai. Sebagian lagi dipasarkan sekitar sini.” Urai Bang Agus sambil terus mencangkul.
Hari sudah semakin sore, kusempatkan waktu berkeliling sejenak untuk mengambil gambar. Bocah-bocah yang tadi bermain bola telah membubarkan diri. Namun bukannya pulang ke rumah masing-masing, beberapa diantaranya malah masuk ke dalam kebun. Mereka berkejar-kejaran diantara gundukan tanah yang hampir siap ditanami sayur. Yang punya kebun sepertinya tidak merasa terganggu, terus saja mencangkul dengan cucuran keringat.
Kulangkahkan kaki ke arah Bang Agus, ingin permisi melanjutkan perjalanan ke arah selatan Pulau Rupat. Sepatu bot dan separuh celanaku basah akibat sebuah kejadian pada saat mengambil foto kebun dan tanaman ubi.
“Bang, saya pamit dulu. Terima kasih atas waktunya.”
Bang Agus menghentikan pekerjaannya, lalu kamipun bersalaman. Sisa-sisa tanah masih menempel di tangannya.
“Anak-anak itu tak dilarang main di sini?” tanyaku sebelum pulang.
“Biasa abang larang, tapi yah namanya anak-anak…”
Hehehe.
Tiba-tiba seorang anak kecil kecil dengan nafas tak beraturan berhenti di depan kami.
“Bang Agus, kalau saya besar mau nanam sayur juga…” Katanya lalu berlari lagi.
Kami berdua tersenyum.
Related Posts
Memuat…



Posting Komentar