Harapan Swasembada Pangan



Kebutuhan pangan menjadi persoalan di berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya di kota-kota besar, namun juga sampai ke pelosok desa, termasuk di pesisir dan pulau-pulau kecil. Sekian banyak kebijakan dan program kerja yang pemerintah lakukan untuk mengatasi permasalahan pangan ini seakan membentur tembok tebal nan kokoh. Opsi impor beras terkadang menjadi solusi praktis untuk menyeimbangkan neraca kebutuhan pangan dengan jumlah penduduk. Provinsi Riau sendiri, kampanye bahan bakar biodiesel semakin gencar terjadi, pokoknya merangsek jauh hingga ke pemukiman warga. Harga bahan baku pembuatan lapis roda kendaraan juga kian mempesona, membuat lahan-lahan potensial disesaki olehnya. Dua komoditi yang selalu menjadi kambing hitam merosotnya lahan-lahan pertanian untuk tanaman pangan.

Di balik semua itu, masih adakah asa yang tersisa untuk mewujudkan ketersediaan pangan di pesisir pulau Rupat. Bagaimana cerita dunia pertanian di pulau yang berbatasan langsung dengan Semenanjung Melaka ini. Mampukah petani-petaninya memapah beban peningkatan produksi beras daerah, lalu bagaimanakah kondisi sebenarnya kelompok-kelompok tani di lapangan, berikut petikan wawancara Muhammad Ridwan dengan ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kecamatan Rupat.

Bagaimana awal mula kisah pertanian di Pulau Rupat?

Ada banyak cerita yang beredar, tapi secara umum diyakini bahwa orang-orang tua dulu pertama kali menciptakan kampung, mereka mendirikan rumah, membuka kebun dan yang paling utama lahan padi. Jika sudah tumbuh padi, berarti kampung itu sudah aman, sebab makanan pokok telah tersedia. Di lahan lainnya mereka sambil menanam ubi, keledek, dsb. Artinya mereka memikirkan tentang ketahanan pangan dahulu baru kemudian hal yang lain. Kalau yang kita lihat sekarang, pemikiran seperti itu sepertinya tidak berlaku lagi, kebanyakan generasi sekarang membuka lahan perkebunan saja.

Kondisi bertani jaman dulu masih bergantung pada alam, semua kegiatan pertanian padi itu mengandalkan tenaga manusia. Sebenarnya pengerjaannya cukup mudah, hanya menebas lahan dan semak belukar, menunggu musim hujan kemudian menabur benih padi, setelah itu bisa melakukan kerja lain, sambil menunggu panen padi lima atau enam bulan kemudian. Model berladang seperti ini masih umum dilakukan di Rupat.

Bagaimana perkembangan kondisi pertanian di rupat sampai saat ini?

Untuk dua tiga tahun ini ada yang sudah mulai panen padi dua kali dalam setahun, tapi tidak semuanya. Karena masih ada kawan-kawan itu berladang hanya untuk makan, larinya belum ke bisnis. Masih banyak menggunakan sistem tani ladang, artinya tanah pertanian mereka belum tersentuh mesin, pemupukan, bibit unggul, dan sebagainya. Sedangkan untuk pertanian padi di Rupat, tersebar di beberapa desa, seperti Batupanjang, Tanjung kapal, dulu di Teluk Lecah namun banyak yang tutup, sekarang ini baru buka lahan pertanian lagi. Selain itu tanam padi ada juga di Desa Parit Kebumen, sebagian Pangkalan Nyirih dan Desa Hutan Panjang, walaupun lahannya tidak satu hamparan, tapi setiap tahun masih ada aktifitas tani di sana. Termasuk Desa sungai cingam dan Desa Makeruh yang memiliki lahan pertanian cukup luas. Sedikit banyak desa-desa di Rupat ini penduduknya masih ada yang bertani setiap tahun.

Bisa ceritakan tentang sistem kerja petani di rupat dalam mengolah lahan pertanian?

Petani di rupat masih mengenal sistem kerja sambatan, martobo, yang di dalamnya masih ada unsur gotong royong dan tolong menolong. Sistem ini lain dengan kerja upahan, jadi tidak mengenal adanya gaji untuk mereka yang ikut bekerja bersama kita, hanya tuan rumah (yang memiliki lahan) menyediakan makanan untuk disantap bersama. Biasanya para petani membentuk kelompok sambatan, 5-10 orang untuk saling bergantian mengolah lahan mereka. Dengan dikerjakan secara bergantian, maka pekerjaan di sawah atau ladang itu bisa cepat selesai. Namun jangan salah, karena sifat kelompok ini terbuka, maka biasanya ketika di sawah jumlah anggota bisa bertambah ramai. Kawan yang dekat dengan lahan kita pun ikut membantu. Jadi jangan sekali-kali masak makanan dengan jumlah yang pas, harus lebih! Haha. Itu menjalin hubungan yang kuat antar petani dan rasa gembira di sawah. Walaupun sekarang masih ada juga sambatan, namun belakangan ini petani yang menggunakan sistem kerja seperti itu semakin berkurang.

Apakah penurunan itu ada hubungannya dengan perkembangan teknologi seperti alat mesin pertanian yang menggantikan tenaga manusia?

Sepertinya belum, di Rupat ini masih belum semua kegiatan pertanian padi dapat tergantikan mesin. Misalnya unutk gubah, menanam, menyabit, menuai padi masih banyak yang memakai sistem sambatan, kalau untuk urusan membuka atau membersihkan lahan atau mancah, kebanyakan dikerjakan sendiri menggunakan racun atau diupahkan ke orang lain. Padahal kegiatan itu dulu juga menggunakan sistem gotong royong. Adapun perontokan gabah sebagain besar telah dibantu mesin.

Jenis padi lokal apa saja yang ditanam oleh petani di Pulau Rupat?

Ada banyak jenis padi lokal yang di kenal masyarakat rupat, seperti padi merah-6 bulan, padi putih-7 bulan, padi ketitir-7 bulan, padi bugis-6 bulan, padi ketek-6 bulan, padi sri gudang-5 bulan, padi korea-6 bulan, padi siem-5 bulan dan padi unggul lokal yang diberi nama padi ramos. Tidak semua jenis padi tadi masih ditanam oleh petani, ada beberapa jenis yang sudah tidak ada. Selain itu beberapa tahun terakhir telah ada juga yang beralih menggunakan bibit unggul nasional.

Beralih pada persoalan kelompok tani, bagaimana sejarah terbentuknya KTNA Kec. Rupat?

Pada awalnya berangkat dari kebutuhan pemerintah unutk berkoordinasi dengan petani pada tingkat kecamatan, namun tidak menemui jalan sebab kondisi petani dan kelompok-kelompok tani yang ada cenderung pasif. Maka dari perwakilan pemerintah menunjuk salah satu perwakilan petani sebagai kontak tani di kecamatan. Namun beberapa kawan berinisiatif mengundang perwakilan kelompok tani dari seluruh desa di Kecamatan Rupat, sebab saat itu di beberapa desa sudah ada juga terbentuk gapoktan. Kemudian berkumpullah kami untuk mengadakan pemilihan. Sistemnya dulu satu orang satu pilihan, artinya semua orang bebas memililih anggota yang hadir pada saat itu. Dari sekian puluh suara yang ada, kalau tidak salah dari 25 suara, saya mendapatkan 21 suara. Begitulah, dari kesepakatan yang ada akhirnya saya yang terpilih jadi ketua KTNA di Kecamatan Rupat.

Bagaimana gambaran kondisi kelompok-kelompok tani yang ada di Rupat?

Pada umumnya kelompok tani di Rupat adalah kelompok tani yang terbentuk hanya ditunjuk saja. Masih jarang yang terbentuk atas dasar kebutuhan bersama dan kesepahaman antar anggota. Bahkan ada kelompok yang sebagian petaninya tidak tahu nama mereka masuk sebagai anggota. Penyebabnya adalah semua anggota kelompok tidak terlibat pada awal pembentukan, sehingga banyak yang tidak menjalani proses. Akhirnya kelompok-kelompok yang ada berjalan di tempat, kurang mantap.

Tetapi ada juga sebagian telah ada yang melakukan pemilihan ketua dan pengurus secara serius. Mereka sudah didampingi PPL ataupun aparat terkait. Itupun masih belum berjalan maksimal karena kendala yang ada dalam kelompok tani itu sendiri. Misalnya pertemuan rutin dari anggota kelompok, pembayaran iuran anggota, masalah administrasi dan hal-hal mendasar lainnya. Apalagi untuk membicarakan permasalahan di bidang pertanian atau bagaimana mengelola dan mengembangkan potensi pertanian yang telah ada. Beberapa kelompok sebenarnya telah melakukan pertemuan rutin, tiga bulan sekali misalnya untuk membicarakan musim tanam agar serentak, namun pada umumnya intensitas pertemuan kelompok-kelompok tani di Rupat masih sangat kurang.

Bagaimana dengan fenomena pembentukan kelompok tani yang hanya untuk mendapat aliran bantuan saja?

Ada juga. Kalau kelompok seperti itu terbentuk karena ingin mengajukan proposal saja. Padahal sebenanya pembentukan kelompok itu setidaknya diketahui oleh PPL ataupun aparat yang ada di desa. Seperti kepala desa atau lurah sebaiknya diberitahu dan mengambil legalitas dari mereka, walaupun tidak sempat hadir dalam pembentukan kelompok. Namun pembentukan kelompok seperti ini biasanya tertutup, bahkan jangan sampai ketahuan. Maka ketika mendapat bantuan biasanya kegiatan yang diajukan urung terlaksana.

Kalau kelompok tani yang ada di Rupat apa yang menjadi hambatan dalam perkembangannya?

Banyak hambatan sebenarnya dalam perkembangan kelompok, dimulai dari dasar pembentukan kelompok tani itu dibentuk bukan karena kebutuhan petani, tapi karena sudah terbiasa dengan sistem yang ada sekarang. Untuk mengambil contoh beberapa kelompok tani padi yang ada, beberapa masih menganggap kurang peduli pada susunan pengurus yang mereka pilih, main tunjuk orang saja. Setelah terbentukpun, sepertinya motivasi petani untuk menggerakkan kelompok yang telah ada itu kurang. Jadi salah satu kelemahan utama sumber daya manusianya. Peningkatan kapasitas petani ini nampaknya sepele, namun jika dicermati dampaknya sangat besar. Jadi menurut saya sebanyak apapun kelompok yang terbentuk, kalau tidak ditunjang dengan pembangunan sumberdaya manusia yakin saja akan terbengkalai.

Bagaimana peranan pemerintah dari segi pembangunan sumber daya manuasia khususnya di petani itu sendiri?

Ada beberapa program yang menyentuh hal itu, seperti diadakannya SL (sekolah lapang) untuk petani, baik itu SL-PTT maupun SL-PHT. Namun program seperti SL (sekolah lapang) masih belum menjangkau semua kelompok tani yang ada. Karena program ini hanya untuk petani yang menggunakan bibit unggul saja, padahal yang menggunkan bibit lokal masih cukup banyak. Alangkah baiknya dirangkul juga sebagai upaya menambah wawasan dan pengetahuan petani. Dalam pelaksanaan SL ini misalnya kita harus memilih untuk mengikutkan kelompok mana, sebab jangan sampai ilmu itu sampai kepada beberapa orang saja, namun dibagi bersama petani yang lain. Oh iya hampir lupa, beberapa bulan terakhir di Rupat ada penambahan jumlah PPL untuk memberikan penyuluhan di desa-desa yang sulit terjangkau. Itu cukup membantu.

Dengan kondisi seperti yang telah diceritakan tadi, masih adakah harapan untuk pemenuhan pangan secara mandiri di pulau rupat?

Selalu ada harapan mencapai ketahanan pangan, walaupun itu bukan hal yang mudah diwujudkan. Sebab laju pertumbuhan penduduk di pulau ini cenderung tidak seimbang dengan peningkatan produksi pangan. Belum lagi lahan-lahan pertanian yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan, penjualan ternak ke luar pulau, jalur penangkapan ikan di laut semakin sedikit dan nelayan yang kalah oleh mesin-mesin tangkap modern. Hal-hal tersebut hanya sedikit dari banyaknya permasalahan yang harus segera dibenahi, itu membutuhkan adanya kinerja yang intensif antara pemerintah dan kelompok tani, nelayan dan peternak dalam memajukan pertanian secara umum. Semoga.

Nama lengkap: Untung Susanto

Tempat Tanggal Lahir: Tanjung Kapal, 12 Juli 1972
  • Jabatan: Ketua Kelompok Tani SERUMPUN
  • Ketua Gapoktan TANI MAKMUR
  • Ketua KTNA Kecamatan Rupat
Tiga kegiatan terakhir KTNA yang diikuti:
  1. Pelatihan penangkaran benih dan admin alsintan di Ciamis
  2. Kegiatan PLA, mengenai pengairan di Cirebon
  3. Pekan Daerah, bidang pertanian di Rokan Hulu dan Pekan Nasional di Kutai-Kalimantan

Posting Komentar