Kisah Sawah pada Awan


Petani menyapaku, bumi tersenyum hangat
Kukisahkan perjalananku pada segelintir manusia
Tapi mereka pergi begitu saja tanpa mau peduli
Kini kuceritakan pada awan, lalu ia berarak
Gelapnya menurunkan hujan
Bangunkan akar padi yang berseru
Ayo kita tumbuh bersama!

Begitulah segenggam puisi yang terpahat di hati penduduk sebuah desa kecil Merdu Merindu. Kampung permai yang dikelilingi pegunungan berawan dan sungai jernih. Konon ada sebuah sawah yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa selama bergenerasi. Sawah Lintang, yang berarti "Sawah Luas nan Indah", terletak di Jantung Desa, dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bambu dan kayu. Setiap pagi, warga desa akan turun ke Sawah Lintang untuk memulai hari dengan penuh semangat. Sudah bergenerasi mereka menanam, merawat, dan memanen bulir-bulir padi.

Sawah Lintang juga menjadi tempat bagi anak-anak untuk mulai belajar tentang kehidupan, menjalani kerja keras, dan mengasah kebersamaan sejak kecil. Mereka bermain, membantu orang tua bertani, serta belajar pentingnya menjaga lingkungan.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan di Desa Merdu Merindu mulai berubah. Penduduk yang dulunya mengandalkan sawah sebagai sumber penghidupan mulai mencari pekerjaan di Kota. Perbatasan kampung mulai tumbuh pabrik, kebun jagung tumbuh gedung.

Sifat manusia kota perlahan masuk ke desa. Warga mulai lebih mengutamakan keuntungan individu daripada kepentingan bersama. Lahan pertanian yang dulunya subur dan hijau mulai terbengkalai. Tanaman padi tidak lagi tumbuh dengan subur. Sawah Lintang seperti tahu, bahwa kebersamaan mereka tidak erat lagi, sebab penduduk sudah jarang terlihat menanam padi serentak bahu membahu. Sawah Lintang bahkan tahu bahwa pemerintahan desa mereka tidak berjalan baik. Ada tikus yang menggerogoti pembangunan kampung. Hal itu turut menghambat rezeki panen padi dari langit.

Suatu hari, seorang pemuda desa bernama Kale berinisiatif mengumpulkan warga. Kale sedih melihat kondisi Sawah Lintang. Tanah yang dulunya sangat dihargai oleh penduduk desa, menjadi tandus. Lahan padi yang tadinya kuning keemasan menjelang panen, sekarang menjadi kering tanah pecah. Kale memutuskan untuk melakukan sesuatu, jiwa mudanya ingin menghidupkan kembali Sawah Lintang. Ia menggagas rembug sambil makan bekal di saung tani. Ada yang membawa makanan khas desa, seperti nasi kuning, ikan goreng, dan sayur asam. Mereka duduk melingkar di atas tikar, menikmati makanan dan kebersamaan.

Pembicaraan pun berjalan lancar. Warga kembali semangat ingin menanam padi.

"Kita mulai dari pembentukan kelompok bersama penasihat pertanian," kata Kale yang pernah menjalankan kelompok tani saat merantau. Ada pemuda lain menimpali sambil menggenggam tangannya. "Bila ada kemauan pasti ada jalan," ujarnya. “Kita bergerak!” ucap mereka hampir bersamaan.

Kale lalu menemui penasihat pertanian, mereka membentuk kelompok tani, memilih pengurus lalu menyusun langkah kerja. Penasihat meyakinkan bahwa organisasi petani yang rapi, adalah syarat utama dalam mencapai keberhasilan mengelola pertanian.

Saat di lapangan, Penasihat memberikan saran yang mudah dipahami. Misalnya dikatakan bahwa "Untuk memperbaiki sistem irigasi, sebaiknya petani bergotong royong membersihkan saluran air dari sampah plastik. Lalu dilanjutkan bahwa “Proses pengolahan tanah , tambahkan pupuk dasar organik dari pupuk kandang maupun kompos daun-daun kering. Itu berguna menyuburkan tanah," suluhnya.

Kale mengangguk, "Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan varietas padi yang kita tanam?" Penasihat tersenyum, "Kita pilih varietas padi yang lebih tahan terhadap hama, utamanya padi unggul nasional. Jangan lupa kekompakan kelompok tani terus diperkuat, agar apa pun masalah menghadang, kita atasi bersama." Ujarnya sambil menunjukkan lokasi workshop mesin pertanian.

Kale dan penduduk desa yang sudah masuk kelompok tani, mulai mengerjakan sawah. Mereka membersihkan saluran irigasi, mengolah tanah dengan mesin, menanam dan memupuk padi sesuai anjuran.

Di tengah pekerjaan, ada juga warga yang mengeluh,

"Aduh, aku lelah sekali," katanya sambil mengusap keringat di dahinya. "Kita tidak boleh berputus asa. Kerja keras akan berbuah kesuksesan," jawab penasihat sambil tersenyum. "Kita hampir selesai membersihkan saluran irigasi. Air menjadi faktor penting kesuburan tanaman." Imbuhnya.

"Benar, ayo kita kerja lagi!" Seru lelaki bertopi caping, mereka kembali larut dalam usahanya.

Setelah beberapa bulan, Sawah Lintang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali. Tanaman padi mulai tumbuh, pemeliharaan dan pengamatan hama penyakit terus dilakukan. Pengendalian hewan pengganggu tanaman melalui musuh alaminya, seperti burung hantu untuk menangkap tikus di malam hari.

Penduduk desa yang dulunya meninggalkan sawah, kini datang kembali bergotong royong. Mereka bekerja sama, berbagi cerita, dan menikmati bekal makanan di saung tani. 100 hari jangka waktu padi unggul sudah bisa panen. Berkat irigasi yang berjalan normal mereka bisa menanam padi dan panen 3 kali dalam setahun. Alat mesin pertanian modernisasi yang efektif dan efisien. Kelompok tani Merdu Merindu memanen hasil kerja keras mereka dengan sukacita. Perlahan kebersamaan mereka kembali pulih, desa mereka diperintah dengan penuh kebaikan. Penduduk belajar bahwa dengan kerja keras dan kekompakan, mereka dapat menghidupkan kembali harapan yang hampir hilang.

Posting Komentar