Merawat Kebun Sayur Menjaga Kehidupan


Matahari sudah mencapai 7 tombak di atas cakrawala. Di sepetak lahan Dusun Sukamaju, Pak Rusli Palal sedang membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman sayurnya. Pria yang dulu menggantungkan hidup sebagai buruh tukang bangunan, kini memilih bertani. Langkah kakinya mantap mengitari lahan yang menjadi tumpuan harapan barunya.

Berbekal pengalaman musim sebelumnya, Pak Rusli menanami lagi kebunnya. Saat ini, ia sedang budidaya terong sebanyak 300 batang yang baru menginjak umur 31 hari. Tanaman muda ini memang belum menghasilkan, namun Pak Rusli sudah tahu potensinya. Pada musim lalu, tanaman terongnya sangat produktif hingga bisa dipanen seminggu sekali dengan hasil minimal 150 kilogram setiap kali petik. Buah terongnya tumbuh subur dengan ukuran besar, di mana 10 biji saja sudah mencapai berat 1 kilogram. Dalam sebulan, ia bisa mendulang empat kali panen yang langsung habis dibeli warga di kedai sekitar rumah dengan harga Rp15.000 per kilogram.

Tantangan saat ini adalah hama penyebar virus kuning yang kerap menyerang terong. Membuat daun terong berubah warna menjadi kuning, kering dan keriting. Namun Pak Rusli sudah menyiapkan alat pengusir hama, ia melubangi botol plastik, mengisinya dengan satu biji kapur barus. Ia lalu menggantungnya di area kebun agar aromanya mengusir hama pergi. Bau tajam dari kapur barus tidak disukai oleh hama terbang seperti kutu kebul, thrips, dan kutu daun yang menjadi penular virus kuning.

Di dekat petak terong ia menanam 200 batang cabai, juga dalam masa pertumbuhan. Tanaman cabainya di musim lalu, melewati masa tunggu tiga bulan setengah hingga panen pertama. Pak Rusli sukses memetik satu setengah hingga dua kilogram cabai segar setiap harinya. Dengan harga cabai yang mencapai Rp40.000 per kilogram di kedai sekitar rumah, komoditas ini menjadi rezeki harian yang menjanjikan baginya. Pak Rusli memiliki lima orang anak dengan tiga di antaranya adalah perempuan. Ia sudah sepuh dan bercucu.

Sembari menunggu terong dan cabai mudanya siap panen beberapa bulan ke depan, Pak Rusli memanfaatkan sisa lahan dengan tanaman lain. Ada hamparan kangkung dan bayam. Ia rutin memberi pupuk alami demi meningkatkan kesuburan tanaman. Di sudut lain, tampak tanaman keladi yang kini sudah berumur empat bulan. Tanaman keladi ini membutuhkan waktu satu tahun hingga siap dipanen, di mana tiap pohonnya mampu menghasilkan umbi seberat 7 kilogram. Untuk memperbanyak tanaman keladi tersebut, Pak Rusli cukup memindahkan tunasnya ke petak tanah lain.

Pada akhir ceritanya, Pak Rusli memahami bahwa menjadi petani sayur bukan sekadar tentang menanam lalu menjual. Ini adalah tentang menghargai kehidupan, menjaga kebun tetap bersih agar menghasilkan pangan. Saat menyiram tanaman waktu sore, ia menghargai setiap tetes air yang membasahi tanamannya. Saat senja mulai meredup, ia menepuk pakaian yang penuh tanah. Ia menyadari bahwa dari benih-benih kecil yang ia tanam, ada kehidupan tumbuh setiap hari.

Posting Komentar