Waktu terus berputar, fase subuh segera terlewati. Tetes Embun bergelayut pada bunga-bunga mekar di teras rumah kayu. Semilir angin membelai gumpalan awan diatas sana. Pesona putihnya berpadu cahaya mentari yang baru saja terbit.
Pagi itu Pak Ari Gunawan sedang berjibaku dengan gergaji mesin, memotong pohon karet milik tetangganya. Ia bekerja sebagai tukang tebang pohon tua untuk dijadikan papan atau balok kayu. Pada sore hari, Pak Ari, demikian orang mengenalnya, juga menyisihkan waktu luangnya untuk bertani. Lokasinya di sebidang lahan di depan rumahnya di Jl. Poros Dumai, Kampung Teluk Air, Desa Buruk Bakul. Tanah itu milik seorang warga yang sudah dikapling, dia memercayakan Pak Ari untuk mengolahnya.
Ukuran lahan itu 39x21 meter, dalam bahasa lokal, jenis tanahnya disebut kilang manis. Rumah Pak Ari terletak agak jauh dari tepi jalan poros yang hitam dan keras. Rumah kayu itu hasil pindahan pemiliknya, karena akan membangun rumah batu. Gotong royong rumah bercat biru itu dipindahkan ke tanah yang masih kosong. Pak Ari membangun dapur dan kamar mandi dengan bahan dari pemilik rumah. Berkat tangan dinginnya sebagai tukang kayu dan bangunan, rumah tersebut jadi kokoh dan nyaman untuk ditempati.
Hari menjelang sore yang temaram, Pak Ari pulang kerumah. Ia memeriksa benih tanaman yang sengaja dibawanya dari tempat tinggal lama, di Kecamatan Siak Kecil. Benih jagung, cabai, kangkung dan sayuran lainnya itu adalah benih kampung, istilah sebagian orang menamai benih yang ditanam turun temurun, bukan hasil beli kemasan pabrik. Ternyata butiran-butiran benih itu masih ada, dengan kondisi yang tetap baik. Maklum jarak pindahannya terbilang cukup jauh dengan membawa banyak barang. Jadi melihat benih sayuran itu masih bagus, Pak Ari jadi bersemangat.
“Waktu masih di Siak Kecil, saya sudah terbiasa tanam sayuran,” katanya. Pak Ari memang berasal dari sebuah kampung yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Ia tumbuh sebagai petani yang terbiasa menanam apa saja, membawa benih sayur kampung itu seperti memapah kenangan kembali ke kehidupannya. Setiap kali pindahan, ia pasti segera mencari lokasi untuk menanam sayuran. “Terakhir kali saya tanam jagung di kampung,” mengenang kehidupan bertaninya dulu. “Buahnya banyak dan besar sekali,” tambahnya. “Hal itu ingin saya ulangi di sini.”Katanya tegas.
Ia memang tidak hanya pandai beromantika, hal tersebut dibuktikannya langsung, saat pindah ke Kampung Teluk Air. Kerja keras ia jalani dalam mengolah lahan yang masih baru dibuka. Perlahan dan berganti perhatian kala pekerjaan utama mesti dijalani. Kadang ia mesti pandai mencari cara dan waktu yang tepat untuk bertani, karena ia juga biasa masuk ke hutan karet untuk menebang pophon lapuk milik warga. Ia selalu berpikir bahwa bertani adalah jalan keluar untuk persoalan kebutuhan dapur. Bisa juga menambah ekonomi rumah tangga dengan menjual hasilnya ke kedai.
Ia tahu lahan yang ada di depan rumahnya sekarang sudah bisa ditanami sayur, karena pengolahan tanah sudah selesai. Pernah suatu hari, Pak Sunardi, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) datang dan mengukur PH tanah. Hasilnya 6,5 derajat keasaman tanahnya, menurut sebagian pengamat, berarti bagus untuk pertumbuhan tanaman.
Berbekal berbagai jenis bibit sayuran dan alat pertanian lamanya, Pak Ari mulai bertanam. Ia pun menyemai biji cabai, jagung, terong, kangkung serta steik ubi kayu ikut ditanamnya. Pak Ari membutuhkan waktu dua minggu untuk membersikan lahan, menggemburkan dan membuat bedengan. Langkah cerdasnya menanam ubi kayu di sekeliling kebun, membuat ia tidak perlu memagari kebun barunya itu. Di atas bedengan tumbuh cabai rawit hijau diselingi jagung manis, tumpang sari dengan terong dan sayur kangkung.
Proses menanam sudah selesai, lalu ia menyiram sayur di bedengan, tiap pagi sekitar pukul lima sore. Awal masa tanam, curah hujan cukup membantunya mengairi tanaman. Hujan membasahi daun-daun kecil kangkung yang saat itu berusia sekitar dua minggu. Asal tidak berlebihan, karena bisa banjir dan menggenangi tanaman muda. Kebunnya itu terletak di lahan yang lapang, jadi mendapatkan sinar matahari yang cukup setiap harinya.
Kendala hama dan penyakit tanaman datang menyerang, bisa bersamaan maupun bergantian. Ketika musim hujan datang, lingkungan menjadi lembab hingga tumbuh jamur pada tanaman. Lain lagi saat tanaman mulai mengeluarkan buah, lalat buah menusuknya hingga menjadi busuk. Pak Ari tidak sendirian dalam mengelola kebunnya itu, ada Petugas POPT dan Penyuluh Pertanian yang mendampingi. Pembinaan yang dilakukan yaitu praktek langsung membuat perangkap lalat buah dan pemasangan perangkap lem perekat glumon. Kedua teknologi pertanian sederhana tersebut efektif mengendalikan serangga, utamanya lalat buah. Terakhir dilaksanakan oleh petani, penggunaan pestisida nabati bawang merah. Ekstrak bawang merah bisa menyuburkan tanaman, serta ampuh mengatasi hama dan penyakit.
Singkatnya, dalam mengelola kebunnya itu Pak Ari bersama Petugas dari Balai Penyuluhan Pertanian, Kecamatan Bukit Batu, mengatasi seluruh masalah yang menghadangnya dengan segala sumber daya yang bisa dijangkau. Kehadiran petugas POPT dan Penyuluh Lapangan, merupakan upaya menerapkan secara sederhana apa yang menjadi sasaran Pak Menteri Pertanian. Akhir-akhir ini di website Cybex, Pak Mentan senantiasa menganjurkan agar merakit teknologi pertanian spesifik lokasi. Pak Ari Gunawan bersama kelompok tani “Mari Tani” yang dibangunnya, telah menerapkan persis dan presisi teknologi pertanian tersebut. Bahkan tanpa pelatihan mahal di Gedung mewah.
Berkat ketekunan dan doa mustajab, beberapa minggu
kemudian, Pak Ari mulai panen cabai, sayur terong dan kangkung. Saat kami
datang, wajahnya sumringah dengan senyum penuh kemenangan. Tidak lupa kami
membenahi kelompok tani, agar semakin banyak orang yang terlibat dalam bertani
sayuran.



Posting Komentar