Penulis : Ir. Pracaya
Peresensi : Ayah Shofiyah
Penerbit : PT Penebar Swadaya
Cetakan : 18, 2002
Tebal : viii + 144 hlm
ISBN : 979-8031-19-9
Buku ini dibuka dengan mengandaikan kalau
setiap rumah di Indonesia menanam satu pohon mangga. Akan ada jutaan pohon
mangga di seluruh Indonesia. Pohon mangga mengurangi polusi udara, suasana
rumah menjadi sejuk. Saat musim penghujan, pohon mangga bisa mencegah luapan
air, sedangkan ketika musim kemarau, memberi teduh dari teriknya matahari. Buah
mangga memiliki nilai jual, bisa menambah penghasilan rumah tangga. Penting
bagi keluarga, buah mangga memenuhi kebutuhan gizi dan vitamin ayah, ibu dan
anak.
Buku budidaya mangga ini membahas
asal-usul tanaman, morfologi, iklim yang sesuai dan tanah yang cocok guna
pertumbuhan mangga. Ada juga cara menyambung dan menempel bibit dengan berbagai
teknik. Selain itu dibahas pula jarak tanam, hama dan penyakit, serta panen dan
pasca panen mangga. Ini adalah versi revisi, jadi telah disempurnakan dan ada
tambahan materi tentang beberapa varietas mangga. Tambahan tersedia mengenai
hama kutu dompolan putih dan penyakit lumut kerak.
Buku ini dibagi dalam sembilan bab,
pertama mengenai asal usul tanaman mangga. Dituliskan bahwa penyebaran mangga
hampir merata di seluruh Indonesia. Nama lokalnya pun bermacam-macam di setap
daerah. Ada yang menyebut mangga sebagai pelam, pao, taipa, kawiley,
piberekari, hingga mempelam. Penyebarannya diperkirakan melalui pedagang,
ketika jalur rempah dan buahan tropis ramai-ramainya berlangsung.
Bab kedua dengan judul “Spesies dan
Morfologi Mangga”. Bab ini sesuai judulnya membahas spesies dan morfologi
mangga. Mulai dari yang enak dimakan sampai yang laku di pasaran. Mangga yang
sedap dimakan terdapat di kehidupan sehari-hari, seperti mangga golek,
arumanis, sengir, hingga mangga bernama manalagi. Family mangga-manggan
berjumlah sekitar 500 spesies tumbuhan, yang terbagi atas 64 Genus. Morfologi
mangga berupa pohon berbatang tegak, bercabang banyak, bertajuk rindang, serta
daun menghijau. Mangga menghasilkan buah dan biji yang secara generatif dapat
tumbuh menjadi tanaman baru.
Bab ketiga, “Jenis dan Varietas Mangga”.
Bagian ini menyampaikan bahwa budidaya mangga bisa berasal dari generatif dan
vegetatif. Cara generatif dengan menanam biji, sedangkan vegetatif secara cangkok,
tempelan dan sebagainya. Mangga yang berkembang melalui generatif menghasilkan
berbagai varietas baru, sedangkan cara vegetatif menghasilkan tanaman yang
tidak berubah sifatnya. Bab ini erat kaitannya dengan bab lima, perbanyak pohon
mangga. Dibahas secara lengkap dan terperinci, disertai gambar yang mempermudah
pemahaman pembaca.
Bab keempat, “Persyaratan Iklim dan Lokasi
Tanam”. Bagian ini mengulas tentang bagaimana cara memulai berkebun mangga. Disarankan
agar memperhitungkan dengan teliti faktor alam dan lokasi kebun mangga. Bab ini
berkaitan dengan bab enam, cara membuat perkebunan mangga. Misalnya pemilihan
lokasi sebaiknya dekat tempat pemasaran dan tidak jauh dari jalan raya. Hal
tersebut agar pengangkutan hasil panen buah mangga menjadi mudah.
Bab ketujuh, “Hama Mangga dan Cara
Mengendalikannya”. Bab ini membahas mengenai cara mengendalikan hama pada
tanaman mangga. Serangan bisa terjadi pada daun, batang, kulit, bunga, buah
sampai ke akar. Jenisnya bisa serangga, tungau, tikus, kelelawar dan burung.
Masing-masing membutuhkan cara pengendalian yang berbeda, dibahas lengkap di
buku ini. Terkait dengan hama, penyakit tanaman dibahas di bagian selanjutnya,
bab kedelapan. Membahas penyakit pada buah, bunga, batang, daun dan lainnya.
Penyebabnya bisa benalu, cendawan, hingga lumut kerak. Semua dibahas tuntas di
buku ini, dilengkapi gambar yang membuat tingkat keterbacaannya tinggi.
Bab kesembilan, “Hasil Panen dan Pasca Panen Mangga” merupakan bagian terakhir buku ini. Proses panen pada metode vegetatif sudah bisa panen pada tahun keempat, sedangkan pada cara generatif umurnya lebih panjang. Tingkat kematangan buah bisa terlihat dari ukuran buah dan umurnya.Tanda mangga masak, buahnya lebih lunak dan berubah warna, dipetik secara selektif. Sebaiknya tidak menunggu buah terlalu masak, bisa dimakan burung, kelelawar atau musang. Buah juga gampang terjatuh hingga memar kulit dan daging buahnya. Pasca panen mangga juga dibahas mengenai sortasi, pengawetan sampai pengepakan.



Posting Komentar