Pada Tahun 1986 Presiden Republik Indonesia mendapat penghargaan atas keberhasilan Swasembada Pangan. Penghargaan tersebut diberikan langsung di Markas Besar FAO (Organisasi pangan dan pertanian dunia) yang berlokasi di Roma, Italia. Prestasi tersebut selalu ingin diulang oleh presiden-presiden RI yang pernah menjabat, hingga akhirnya tercetus ide Nawacita. Sembilan harapan yang menjadi agenda pembangunan prioritas untuk Indonesia, salah satunya mencapai kedaulatan pangan nasional.
Peran strategis TNI dalam membantu Pemerintah mencapai Swasembada pangan berupa keterlibatan langsung dalam membangun sektor pertanian. Hal tersebut sah sejak dilakukan penandatanganan MoU antara Menteri Pertanian dengan Panglima TNI pada tanggal 8 Januari 2015. Kerjasama ini melibatkan 50 ribu personel Babinsa untuk menutupi kekurangan tenaga penyuluh pertanian lapangan yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian.
Salah satu upaya mendukung program pertanian di Kecamatan Rupat dan Rupat Utara, BPP (Balai Penyuluhan Pertanian Rupat) bersama Babinsa (Bintara Pembina Desa) Koramil 05/Rupat, melaksanakan musyawarah tentang Upsus (Upaya Khusus) swasembada Pajale (Padi, jagung dan kedelai) yang dilaksanakan di Kantor UPT-BPP Kecamatan Rupat dan Rupat Utara. Senin, 9 Juli 2018.
Hadir pada kegiatan tersebut Kepala BPP Rupat, Babinsa Koramil 05/Rupat, Dokter Hewan Kecamatan Rupat Utara beserta Paramedik dan Inseminator, Koordinator Penyuluh Rupat dan Koordinator Penyuluh Rupat Utara, Staff kantor BPP, Ketua kelompok Tani di Kecamatan Rupat, serta PPL Kecamatan Rupat dan Rupat Utara.
Pada awalnya dilakukan evaluasi pertanaman Pajale yang sedang berlangsung di Kecamatan Rupat dan Rupat Utara. Mulai dari luas tanam, distribusi pupuk bersubsidi, hingga kelengkapan administrasi dan laporan. Diungkapkan bahwa untuk mendukung kemajuan pertanian di desa, memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak, termasuk pengawalan oleh Babinsa.
Pelda Fauzi mewakili Koramil 05/Rupat-Kodim 0303 Bengkalis mengatakan bahwa sudah ada komando dari tingkat atas, yang menginstruksikan kepada Anggota Babinsa untuk melaksanakan pendampingan program Pajale di kelompok tani. Dikatakan bahwa beberapa tahun ini Pemerintah bersama TNI sedang menggenjot peningkatan produksi pertanian. Tujuannya jelas untuk mengubah dari pengimpor beras, menjadi surplus padi mulai dari daerah sampai nasional. Itulah sebab tentara yang biasanya menyandang senjata, diperintah turun ke sawah.
“Saya punya pengalaman saat ditugaskan di Rupat Utara, saat mulai terobos sana-sini untuk membuka pertanian. Saya mulai dari apa yang bisa dikerjakan berdasar keinginan masyarakat lalu disesuaikan dengan kondisi tanah. Ternyata animo masyarakat ada, kemudian bersama penyuluh kami mendata potensi di Desa Kadur dan Desa Putri Sembilan. Kami mulai dari tanaman padi, dengan benih lokal yang ditanam pada bentangan ladang tadah hujan. Terkadang terjadi kesalahan prediksi musim hujan, kemarau panjang, hingga masalah distribusi benih dan pupuk subsidi, karena Rupat adalah sebuah pulau yang memerlukan tambahan biaya untuk menebusnya. Namun kami tidak putus asa dan tetap berjuang agar tujuan tercapai. Setelah padi, kami usahakan tanam jagung, sampai bisa panen 4 Ton per hektar.” Urai Pak Fauzi.
Ditambahkan bahwa, Babinsa di Koramil 05/Rupat tiap hari Senin berkumpul di kantor untuk mendengarkan pengarahan mengenai Komsos (Komunikasi sosial), Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) dan Pajale.
Pertama, Babinsa ditugaskan untuk melakukan pengawalan bantuan pemerintah mulai dari gudang sampai ke lokasi petani, dengan jumlah yang pas, tidak kurang sedikitpun.
“Jadi rekan-rekan nanti yang mendampingi distribusi benih, pupuk dan segala macam sarana pertanian, bisa melibatkan anggota Babinsa untuk mengawal. Bila ada yang nyeleneh di jalan, minta pungli dan segala macam akan kita proses.” Jamin Pak Tentara.
Kedua tugas Babinsa mengajak masyarakat untuk bertani, memberikan motivasi agar giat membuka lahan dan meningkatkan produksi. Untuk masalah teknis budidaya pertanian, anggota Babinsa ada yang pernah dikirim ke Aceh dan Bogor untuk menerima pelatihan.
Ketiga melaporkan kegiatan Pajale dari tingkat desa sampai ke kecamatan. Laporan LTT (Luas Tambah Tanam) padi, laporan penggunaan dan kebutuhan Alsintan (Alat dan mesin pertanian). Frekuensi laporan bisa setiap hari secara tertulis, lengkap dengan foto perkembangan tanaman di lapangan.
“Kami mengambil dokumentasi dengan aplikasi open camera, yang memiliki koordinat GPS, agar terpantau jelas dan pasti lokasi padi.” Menutup pemaparannya.
Di akhir pembicaraan mengenai Pajale, disampaikan oleh Kepala BPP Rupat, bahwa jaminan pengawalan bantuan pertanian oleh anggota Babinsa, merupakan wujud nyata upaya mensukseskan Upsus Pajale.
“Setelah mengadakan pertemuan seperti ini, mari kita memperbaiki komunikasi antara Kelompok Tani, Babinsa dan Balai Penyuluhan. Kami berharap kerjasama BPP dengan Koramil bisa semakin meningkat ke depan.” Pungkasnya.



Posting Komentar