Padi memiliki nama latin oryza sativa merupakan tanaman penting dalam peradaban manusia. Beras merupakan produk olahan dari biji-bijian padi, setelah melalui proses panjang pada mesin penggilingan maka, dihasilkan beras. Untuk mendapatkan sebutir beras membutuhkan proses panjang, dari penyiapan lahan pertanian, pembibitan padi, penanaman padi dan proses memanen, serta terakhir adalah penggilingan padi menjadi beras. Proses memanen yang benar sangat berpengaruh terhadap hasil panen padi, karena kesalahan proses memanen bisa berakibat pada berkurangnya hasil padi pada suatu wilayah.
Kelompok tani Ni’mah Desa Buruk Bakul melakukan panen padi untuk masa tanam sebelumnya. Petani di Buruk Bakul pada umumnya masih menggunakan cara-cara tradisional untuk memanen padi. Cara memanen seperti itu sudah diturunkan secara turun-temurun.
Berikut merupakan langkah memanen padi secara tradisional :
Diawali dengan melakukan persiapan peralatan untuk memanen padi, seperti : sabit, terpal sebagai alas saat merontokan padi dan alat perontok padi (dalam bahasa jawa disebut gepyokan). Langkah pertama dalam proses panen padi, memotong batang padi dengan menggunakan sabit. Caranya, menggengam satu rumpun batang padi dan potong tepat di batang bagian bawah. Setelah itu, tumpuk ke dalam tumpukan kecil. Setelah semua batang padi terpotong, mengumpulkan tumpukan-tumpukan kecil tersebut ke dekat terpal yang sudah digelar. Lalu menyiapkan alat perontok tradisional, dan mulailah merontok padi. Merontok padi dapat dilakukan dengan cara memegang segengam batang padi. Memegang batang padi bagian bawah dan pukul-pukulkan padi ke alat perontok sampai padi rontok. Terakhir, setelah semua padi selesai dirontokkan. Lalu membersihkan padi dari daun-daun padi yang ikut rontok. Menjemur padi hingga kering dan padi siap untuk digiling atau disimpan.
Petani Desa Buruk Bakul awal tanam padi kali ini menggunakan hand traktor dalam mengolah tanah, sehingga pengolahan lahan padi bisa gembur maksimal. Ada pun varietas yang ditanam petani Buruk Bakul adalah varietas unggul lokal ‘Anak Dara’. Bapak Giris, salah seorang petani mengaku bahwa panen kali ini lebih baik dibandingkan dengan panen di masa sebelumnya. Kondisi tersebut berbeda dengan pada saat panen tahun sebelumnya karena padi terserang hama. Pak Giris merasa puas dengan hasil panen di masa tanam ini, karena dilihat dari hasil yang lebih baik dibandingkan tahun lalu. Menurutnya, panen kali ini padi lebih berisi dan tumbuh dengan subur.
“Panen kali ini lebih bagus karena mayoritas padi banyak isinya,” Tutupnya.
Adapun potensi luas lahan tanam padi di Desa Buruk Bakul jika tertanam semua adalah 30 Ha dengan produktivitas 3,9 Ton/Ha.
Kelompok tani Ni’mah Desa Buruk Bakul melakukan panen padi untuk masa tanam sebelumnya. Petani di Buruk Bakul pada umumnya masih menggunakan cara-cara tradisional untuk memanen padi. Cara memanen seperti itu sudah diturunkan secara turun-temurun.
Berikut merupakan langkah memanen padi secara tradisional :
Diawali dengan melakukan persiapan peralatan untuk memanen padi, seperti : sabit, terpal sebagai alas saat merontokan padi dan alat perontok padi (dalam bahasa jawa disebut gepyokan). Langkah pertama dalam proses panen padi, memotong batang padi dengan menggunakan sabit. Caranya, menggengam satu rumpun batang padi dan potong tepat di batang bagian bawah. Setelah itu, tumpuk ke dalam tumpukan kecil. Setelah semua batang padi terpotong, mengumpulkan tumpukan-tumpukan kecil tersebut ke dekat terpal yang sudah digelar. Lalu menyiapkan alat perontok tradisional, dan mulailah merontok padi. Merontok padi dapat dilakukan dengan cara memegang segengam batang padi. Memegang batang padi bagian bawah dan pukul-pukulkan padi ke alat perontok sampai padi rontok. Terakhir, setelah semua padi selesai dirontokkan. Lalu membersihkan padi dari daun-daun padi yang ikut rontok. Menjemur padi hingga kering dan padi siap untuk digiling atau disimpan.
Petani Desa Buruk Bakul awal tanam padi kali ini menggunakan hand traktor dalam mengolah tanah, sehingga pengolahan lahan padi bisa gembur maksimal. Ada pun varietas yang ditanam petani Buruk Bakul adalah varietas unggul lokal ‘Anak Dara’. Bapak Giris, salah seorang petani mengaku bahwa panen kali ini lebih baik dibandingkan dengan panen di masa sebelumnya. Kondisi tersebut berbeda dengan pada saat panen tahun sebelumnya karena padi terserang hama. Pak Giris merasa puas dengan hasil panen di masa tanam ini, karena dilihat dari hasil yang lebih baik dibandingkan tahun lalu. Menurutnya, panen kali ini padi lebih berisi dan tumbuh dengan subur.
“Panen kali ini lebih bagus karena mayoritas padi banyak isinya,” Tutupnya.
Adapun potensi luas lahan tanam padi di Desa Buruk Bakul jika tertanam semua adalah 30 Ha dengan produktivitas 3,9 Ton/Ha.



Posting Komentar