Penyuluh Bukan Menggurui tapi Memfasilitasi


Sebuah pertemuan yang menarik, sebaiknya bisa memancing rasa ingin tahu seseorang yang hadir di dalamnya, untuk melakukan proses Tanya (Questioning). Rasa ingin tahu sesungguhnya membuat seseorang merasa dipicu untuk berfikir. ‘Bertanya’ mendorong partisipasi aktif dalam sebuah forum, mengembangkan kemampuan peserta untuk berfikir kritis. Penting untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak hanya hanya sekedar ingin tahu, atau ingin mendapat penjelasan, tapi agar terjadi interaksi antar sesama anggota. Bertanya penting dikembangkan agar menjadi suatu kebiasaan dalam kelompok, agar nantinya komunikasi menjadi lebih mudah, lebih terbuka dalam membicarakan masalah yang ada.

Pertemuan Rutin Penyuluh Pertanian Kecamatan Rupat Dan Rupat Utara kembali digelar, merupakan rapat bulanan yang ketiga di Tahun 2018. Rapat Penyuluh dan Petani tersebut mengambil tema “Penyuluh Bukan Menggurui, Tapi Memfasilitasi”. Memfasilitasi berarti memaksimalkan potensi dalam mencari kemudahan untuk menyelesaikan permasalahan. Bila seorang pengajar mengambil teknik mendikte murid, penyuluh lebih ke metode pencarian kebenaran dengan cara partisipatif. Kedua hal tersebut mengambil pendekatan yang berbeda salah satunya disebabkan audiens yang dihadapi pun tidaklah sama. Posisi seorang murid menerima pelajaran dari guru, sedangkan posisi petani merupakan partner penyuluh di lapangan, jadi sebaiknya dilakukan pendekatan melalui pendidikan orang dewasa.

Unit Pelaksana Teknis-Balai Penyuluhan Pertanian (UPT-BPP) Kecamatan Rupat dan Rupat Utara mengadakan pertemuan ini di Aula Kantor UPT-BPP di Ibu Kota Kecamatan Rupat, Batupanjang. Dihadiri langsung oleh Kepala Bidang Penyuluhan, Bapak Ir. H. Muhamad Nur dan Kepala Seksi Ketenagaan, Bapak Misdar dari Dinas Pertanian Kabupaten Bengkalis. Hadir juga Koordinator Penyuluh Kabupaten Bengkalis, Bapak Delfit, SP, Koordinator Penyuluh Rupat, Ibu Elwati, Koordinator Penyuluh Rupat Utara, Bapak Darwis, S.St.Pi serta staff kantor Balai Penyuluhan Pertanian Rupat, Ibu Anizar. Kawan seperjuangan PPL di lapangan, yaitu ketua-ketua Kelompok Tani ikut hadir, diantaranya Poktan dari Desa Teluk Lecah, Desa Dungun Baru, dan Poktan dari Kelurahan Batupanjang. Terakhir tentu saja berpartisipasi aktif, seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Rupat dan Rupat Utara.

Mengawali pembicaan ditekankan kepada penyuluh di lapangan, agar meningkatkan kinerja. Agar menjadi fasilitator yang baik, yang dekat petani, agar bisa mengetahui permasalahan yang timbul dan memecahkannya secara bersama. Sebenarnya penyuluh hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pembangunan pertanian. Faktor alam yang kadangkala sulit diprediksi, faktor harga pasaran untuk komoditi pertanian yang naik turun, faktor ketersediaan infrastruktur yang sedang dibangun, hingga faktor program dan kebijakan di bidang pertanian. Semua itu menjadi satu dalam upaya perbaikan ke depan. Tapi khusus transfer teknologi pertanian dan pembinaan kelompok tani tetap menjadi tanggung jawab penyuluh.

Selanjutnya masing-masing PPL memaparkan kondisi Wilayah binaan dan perkembangan kinerja mereka. Penyuluh dari Desa Sungai Cingam Melaporkan bahwa data panen padi sudah dimasukkan ke BPP, total dari tiga desa yaitu Pangkalan Nyirih, Sungai Cingam dan Makeruh. Sedangkan kelompok tani keempat di desa Pancur Jaya merupakan poktan yang bergerak dibidang tanaman hortikultura. Sebenarnya aktifitas panen masih sedang berlangsung, namun data secara global telah dihitung, termasuk sisa panen yang terakhir dikerjakan. Selanjutnya dilaporkan bahwa kelompok tani di Desa Makeruh, sedang melakukan penanaman semangka seluas 1,5 Ha secara bertahap. Target panen adalah selama puasa dan lebaran, agar nantinya bisa mensuplai buah segar untuk Kecamatan Rupat selama hari raya.

PPL Cingam melaporkan juga bahwa penyusunan data Calon Petani Calon Lahan (CPCL) untuk bantuan pertanaman jagung Tahun 2018 telah dikerjakan. Ada dua desa yang datanya telah diinput, yaitu Desa Makeruh dan Desa Sungai Cingam. Total dari kedua desa ada empat kelompok tani yang mencalonkan diri, tiga poktan dari Cingam dan satu kelompok dari Makeruh. Selanjutnya mengenai penyusunan Rencana Defenitif Kelompok/Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDK/RDKK) untuk pengambilan pupuk subsidi bidang perkebunan tahun 2018 juga telah didampingi penyuluh. Setelah dilakukan penyuluhan melalui kelompok tani, terjadi peningkatan kepercayaan petani pada kualitas pupuk bersubsidi. Penebusan pupuk dari tahun sebelumnya hanya sejumlah 3 Ton, meningkat menjadi 10,5 Ton untuk tahun 2018.

Di akhir tahun 2017, telah disalurkan bantuan Alsintan Pertanian berupa mesin pompa air untuk mengatasi kekeringan lahan padi. Mesin pompa air diberikan kepada kelompok tani Semoga Jaya di Desa Sungai Cingam dan Poktan Kerja Bersama di Desa Makeruh. Bersama bantuan Alat Mesin Pertanian tersebut, juga telah disalurkan Handtraktor untuk membajak tanah sawah ke Desa Makeruh. Dilaporkan lagi bahwa admin Simluhtan dan Cyberextension telah mengupdate data kelompok tani di Kecamatan Rupat, serta telah menerbitkan berbagai tulisan tentang kegiatan di Desa-Desa Binaan Penyuluh dan Berita Kinerja BPP Kecamatan Rupat dan Rupat Utara. Terakhir dilaporkan bahwa telah dilakukan survey lokasi dan pengukuran proyek pembangunan infrastruktur pertanian di Desa Makeruh yaitu Duiker, Pintu air dan Jalan Usaha Tani, selesai dibangun di akhir Tahun 2017.

“Bila momen pertemuan rutin ini kita manfaatkan dengan baik, bisa saling bertukar informasi, menggali sumber ilmu dari penyuluh dan petani serta melakukan pendekatan, yaitu antara penyuluh dengan kelompok tani.” Pak Kabid M. Nur mengawali sambutan.

Dilanjutkan bahwa dari kedua kelompok yang duduk berdekatan bisa ada dua hasil panen yang berbeda. Salah satu tanaman padinya terserang hama wereng sedangkan satu lagi bisa panen dengan hasil yang baik. Inilah yang menjadi bahan diskusi baik antar anggota kelompok itu sendiri, kemudian antar satu kelompok dengan poktan yang lain, maupun antara penyuluh dengan kelompok tani yang dibina. Penyuluh memiliki jangkauan yang lebih luas, sebab bisa sampai ke kantor pemerintahan namun sampai juga ke saung tani yang paling jauh sekalipun. Penyuluh adalah penghubung, jembatan informasi yang bisa menyampaikan dengan bahasa laporan ke pemerintah tapi juga mampu menggunakan bahasa yang lebih sederhana kepada petani, agar lebih mudah dipahami.

Setiap penyuluh haruslah tahu Tupoksi yang menuntunnya dalam bekerja. Dasar aturan yang harus dikuasai yaitu Permentan Nomor 67 Tahun 2016 yang di dalamnya ada tiga lampiran. Pertama membahas tentang pembinaan kelompok tani, yang kedua tentang sistem kerja Laporan dan Kunjungan (Laku), yang ketiga panduan penyusunan RDK/RDKK. Dalam peraturan tersebut juga terdapat blangko tata cara penebusan pupuk bersubsidi dari pemerintah kepada kelompok tani.

“Mengenai perlunya dilakukan pemupukan senantiasa saya ulangi di tiap pertemuan dengan petani. Bahwa makhluk hidup itu memerlukan makanan, termasuk tanaman kita di kebun. Terdapat perbedaan yang signifikan antara tanaman yang kita pupuk dengan tanaman yang dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Bila dihitung secara ekonomis, tanaman yang diberi pupuk dengan harga 500 ribu, bisa saja meningkatkan produksi tanaman kita menjadi 3 juta atau 5 juta. Maka setiap mengambil hasil dari kebun, sebagian uang hasil penjualan dialokasikan untuk membeli pupuk.” Urai Pak Muhamad Nur.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa hambatan dalam penyediaan pupuk ini adalah masyarakat selalu mengeluhkan harga pupuk yang mahal. Baik pupuk kandang yang perjualbelikan, terlebih lagi pupuk kimia yang tersedia di kedai dan toko pertanian. Guna mencari cara penyelesaian masalah tersebut, seorang petani idealnya juga menjadi seorang peternak. Bila kedua profesi tersebut dijalankan secara bersama, maka akan mendatangkan efek yang luar biasa. Pupuk kompos bisa menjadi solusi alternatif mahalnya harga pupuk, dengan mengolah kotoran ternak dengan sekam padi. Pengolahan sisa hasil penggilingan padi tersebut menggunakan teknik bokashi atau pengomposan. Selain itu, jerami padi sebagai sisa panen yang kerap tidak dimanfaatkan, bisa diolah menjadi pakan ternak. Makanan ternak dari olahan jerami bisa bertahan hingga waktu lama, sehingga menghemat waktu dan tenaga pencarian pakan sehari-hari.

Acara berlanjut dengan sesi Tanya jawab dan diskusi. Tepat pukul 12:30 WIB, Acara Pertemuan Rutin Penyuluh berakhir, kemudian dianjutkan dengan pertemuan tertutup antara Bapak Kabid dengan Penyuluh Rupat.

Posting Komentar