Identifikasi Potensi Wilayah


Pemberdayaan petani untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian berdasarkan amanat UU RI No.16 Tahun 2006 tentang sistem penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan. Pembangunan pertanian di Kabupaten Bengkalis, diarahkan pada pemberdayaan petani dan keluarganya. Dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bagi petani tersebut, dilakukan dengan cara partisipatif. Artinya para petani ikut terlibat secara langsung dalam proses pembangunan pertanian dengan melakukan langkah perubahan perilaku, sikap dan keterampilan. Melalui pemberdayaan petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mengambil peran untuk menjembatani transisi dari tani tradisional menuju ke intensifikasi pertanian. Salah satu instrument untuk mengetahui secara obyektif kondisi lapangan di unit terkecil yaitu desa, maka dilakukan Identifikasi Potensi Wilayah.

Bertempat di kantor Unit Pelaksana Teknis-Balai Penyuluhan Pertanian (UPT-BPP) Kecamatan Rupat, digelar Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) Kecamatan Rupat Tahun 2017. Kegiatan dilaksanakan oleh Bidang Penyuluhan-Dinas Pertanian Kabupaten Bengkalis. Dihadiri Kabid Penyuluhan dan Staff Dinas Pertanian Kabupaten Bengkalis, Kepala dan staff UPT-BPP Kecamatan Rupat dan Rupat Utara, serta seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Rupat dan Rupat Utara.

Identifikasi Data Wilayah dilakukan dengan pendekatan PRA (Participatory Rural Appraisal). Pengertian PRA secara sederhana adalah metode pengambilan data lapangan yang mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta menganalisis mengenai hidup dan kondisi mereka, agar dapat membuat rencana dan tindakan untuk mengubahnya. Penilaian atau pengkajian keadaan desa secara partisipatif tersebut dilakukan secara lebih dekat, runut dan menyenangkan.

Sebelum dilakukan pengambilan data metode PRA, sebaiknya terlebih dahulu mengumpulkan data sekunder yang bisa mendukung data lapangan. Data Sekunder yang dimaksudkan bisa berupa: Uraian keadaan umum desa, keadaan sumber daya manusia, kondisi sumber daya alam, kelengkapan kelembagaan tingkat desa serta sarana dan prasarana pendukung pembangunan desa.

Instument PRA yang bisa digunakan sebagai ‘pisau pembedah’ kondisi aktual sebuah lokasi pedesaan antara lain :

1. Peta Potensi Desa
Memuat gambaran potensi fisik dari wilayah desa yang menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Peta potensi ini memuat seluruh potensi yang dimiliki, baik itu di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan.

2. Bagan Transek
Bagan transek adalah teknik penelusuran wilayah desa untuk melakukan pengamatan langsung secara cermat (observasi) terhadap lingkungan dan sumberdaya alam. Petugas mengambil data lapangan dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati.

3. Kalender Musim
Memberikan data mengenai kondisi musim pada suatu wilayah, bagaimana pengaruhnya pada mata pencarian masyarakat. Misalnya kalender dalam menentukan awal musim tanam padi hingga nantinya tidak mengalami kekeringan ataupun kebanjiran.

4. Kalender Harian
Menggambarkan aktivitas harian dari seluruh petani yang ada di daerah tersebut. Dibuat selengkap mungkin dengan memuat seluruh jenis aktivitas dan urutan waktu kebiasaan yang masyarakat laksanakan sehari-hari.

5. Diagram Venn
Diagram Venn atau biasa juga disebut Bagan Kelembagaan, adalah teknik untuk memfasilitasi kajian besarnya manfaat, pengaruh dan dekatnya hubungan suatu lembaga (baik lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah) dengan masyarakat di suatu desa.

6. Diagram Alir
Menggambarkan alur suatu sistem tertentu, misalnya alur produksi pertanian, pemasaran, atau sistem pengelolaan usaha pada sebuah desa.

7. Alur Sejarah
Mendeskripsikan secara singkat kronologis kejadian di desa dari tinjauan historis. Dalam metode ini, penduduk desa menceritakan asal usul dan sejarah daerah serta perkembangan masyarakatnya.

8. Peta Mobilitas
Diketahuinya gambaran kelompok masyarakat dalam hubungannya dengan pihak lain di luar lingkungannya. Informasi yang diperoleh antara lain lokasi, jarak, frekuensi perjalanan, pelaku kegiatan (laki-laki/perempuan), alat, biaya transportasi dan lain-lain.

9. Bagan Kecenderungan dan Perubahan
Adalah teknik yang dapat menggambarkan perubahan-perubahan berbagai keadaan, kejadian, serta kegiatan-kegiatan masyarakat dari waktu ke waktu. Perubahan yang diamati dapat berarti bertambah, tetap, atau berkurang.

10. Diagram Peringkat
Menjelaskan skala prioritas dari permasalahan usaha tani yang dihadapi lengkap dengan alternatif solusi yang akan dilaksanakan. Bagan ini dibuat secara tabulasi.

Selanjutnya melakukan Analisis Data dan Perumusan Hasil. Proses analisis ini dilakukan untuk melengkapi informasi yang telah diperoleh. Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

1. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari setiap instrumen/teknik yang telah dikumpulkan maka lakukanlah rekapitulasi potensi-potensi yang ada di wilayah tersebut.

2. Diskusikan kembali hasil rekapitulasi potensi, barangkali masih ada potensi yang belum terinventarisasi pada hasil pengumpulan data melalui instrumen PRA.


3. Kelompokan potensi-potensi yang sama, karena mungkin saja ada kesamaan potensi yang ada di masing-masing wilayah dusun/RW, sehingga akan diperoleh rekapitulasi potensi yang ada di desa.

Langkah terakhir adalah menentukan Kesimpulan dan Saran. Data potensi desa hasil rekapitulasi, diolah dalam bentuk table, grafik dan gambar. Selanjutnya data potensi desa hasil olahan dianalisis secara deskriptif kualitatif, dirumuskan dan diambil kesimpulan serta saran sebagai landasan dalam merancang pembangunan di desa tersebut.

Posting Komentar