Pengendalian Tikus pada Padi

Kehadiran tikus pada daerah persawahan menyebabkan kerusakan pada tanaman padi, mulai dari proses menyemai, semua siklus tumbuh padi, masa panen, hingga waktu penyimpanan di gudang. Banyak tindakan pengendalian hama tikus yang sudah dilakukan oleh petani, tapi seringkali hama pengerat tersebut tetap saja merajalela. Oleh karena itu dalam pengendalian hama tikus diperlukan strategi yang benar dan efektif. Pengendalian tikus dilakukan melalui pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu), yaitu pengendalian didasarkan pada biologi dan ekologi tikus. Diharapkan dengan pengendalian secara sistematis tersebut, bisa menekan populasi hama tikus pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Bengkalis, Ir. Amri Noer membuka secara resmi Gerakan Pengendalian Hama Tikus Pada Tanaman Padi Tahun 2017. Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Rupat tersebut bertempat di Saung Tani Poktan Penebak Indah Kelurahan Batupanjang. Berlangsung sehari penuh, kegiatan ini diawali dengan pemberian pemahaman mengenai cara mengendalikan hama tikus secara terpadu kemudian diakhiri dengan memburu tikus di area persawahan.

Memulai rangkaian kegiatan ini dilakukan pembacaan doa, kemudian dipersilakan kepada Bapak Amri Noer menyampaikan materinya.

“Satu pasang tikus dapat memperbanyak keturunan hingga mencapai seribu ekor anak pertahun. Dalam satu musim tanam, satu ekor tikus betina dapat melahirkan 80 ekor anak. Setelah melahirkan, dua hari kemudian sudah bisa kawin lagi hingga jumlahnya berlipat ganda. Perkembangan hama tersebut sangat berbahaya bagi tanaman padi kita, jadi harus dilakukan tindakan pengendalian.” Pak Amri mengawali pembicaraannya.

“Pada masa lahan tidak dikerjakan, sebagian besar tikus berpindah ke daerah perkampungan. Tikus-tikus tersebut akan kembali lagi setelah pertanaman padi tumbuh subur. Kita tidak melihat tikus di siang hari karena mereka bersembunyi pada sarangnya di dalam tanah. Tikus membuat lubang di pematang sawah, di sekitar saung tani, tepi lahan, menunggu waktu malam hari untuk menyerang tanaman padi.” Jelas Pak Am.

“Biasanya lubang yang dibuat oleh tikus ada jalan masuk, kemudian digali terus hingga menemukan jalan keluar. Jadi mereka tidak masuk dan keluar pada lubang yang sama. Kehadiran tikus dapat diamati melalui gejala serangan pada tanaman padi kita dengan gigitan mereka yang khas. Bisa juga dengan mencari jejak kaki kecil mereka, memperhatikan jalur jalan tikus, hingga menemukan sebaran kotoran.” Tambah Bapak yang aslinya berasal dari Sumatera Barat tersebut.

Diketahui bersama bahwa ada beberapa cara mengendalikan hama tikus. Diantaranya yaitu gropyokan, pengendalian hama tikus secara massal dengan memancing tikus keluar dari sarang kemudian mematikannya setelah tikus keluar. Fumigasi, yaitu pengasapan pada lubang aktif tikus dengan cara menghembuskan asap yang mengandung belerang pada satu lubang dan menutup lubang lain yang menjadi jalan keluar tikus. Pengumpanan, yaitu memberikan umpan kepada tikus berupa makanan yang mengandung racun yang diletakkan dekat lubang aktif atau di jalur yang sering dilalui tikus, sehingga tikus keracunan setelah memakannya. Sanitasi habitat, yaitu melindungi tanaman padi dengan memasang pagar penghalang berupa plastik, seng, atau lainnya sehingga tikus tidak dapat menjangkau tanaman tersebut.


Di akhir kegiatan ini, anggota kelompok tani Penebak Indah dibagi menjadi lima regu pemburu tikus. Mereka dibekali peralatan yang telah disiapkan panitia, berupa alat pembakar menggunakan tabung gas tiga kilogram. Tidak lupa bubuk belerang , sarung tangan dan masker untuk keamanan peserta di lapangan. Para petani diarahkan untuk mengendalikan hama tikus dengan cara pengasapan dengan belerang pada lubang aktif tikus. Caranya sederhana, yaitu mencari lubang tempat tikus bersarang, lalu tutup semua lubang jalan keluar tikus. Pada lubang jalan masuk tikus, kita lakukan pembakaran hingga asap bercampur belerang memenuhi sarang tikus. Jika dalam pelaksanaan teknik pengasapan ini berjalan dengan baik, maka tikus yang berada di dalam lubang sarang akan mati didalamnya. Jika tikus berhasil keluar, maka anggota regu yang lain siap menjaga sambil membawa pentungan untuk langsung dieksekusi.


Mencegah adalah lebih baik daripada mengobati, begitu bunyi pepatah lamanya. Pengendalian hama tikus dengan cara menghilangkan sejumlah populasi adalah baik. Hal tersebut dilakukan ketika jumlah populasi tikus sudah berada di atas ambang batas toleransi ekonomi. Artinya bila tidak dikendalikan jumlah populasi tikus tersebut, maka akan menimbulkan kerugian materi dan kehilangan hasil produksi pertanian. Tentu hal tersebut tidak kita inginkan terjadi, maka perlu juga dilakukan tindakan pencegahan dini dengan memutus rantai reproduksi dan rantai makanan hama tikus. Melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatan musuh alami, yaitu menggunakan burung hantu untuk memutus rantai makanan tikus. Cara lain yaitu mengatur pola tanam padi dengan sistem jajar legowo, yaitu memanfaatkan sinar matahari agar dapat masuk menerangi sela barisan tanaman padi. Diharapkan dengan kondisi barisan tanaman yang terbuka dan terang, tikus tidak bisa bersembunyi dan mengerat batang tanaman padi.

Posting Komentar