Untung Ada Salibu di Pulau Rupat

Bilah-bilah sinar mentari jilati kulit bumi, bentangan air laut mencumbu pasir-pasir pantai pulau Rupat. Pantulan semburat mimpi terekam dalam tiap lembar takdir yang akan manusia jalani hari ini.

Lelaki berkulit sawo matang itu berdiri di sebuah dermaga kayu bertajuk pelabuhan speed, matanya memicing coba tangkap tarian fajar baru. Dermaga kayu itu hampir tak pernah sepi, sepagi ini para awak speed telah bersiap mengantar para penumpang.

“Menanti sunyi telah menjadi hal langka bagi dunia yang sibuk.“ Kilahnya dalam hati, lalu melangkah jauhi dermaga.

Sesampai di depan bangunan hijau tepi jalan, dia menengadah ke langit, awan putih bersih berarak di atas sana. Sepertinya hari ini akan kembali berjalan lambat. Dia berjongkok di taman depan posko penyuluh Rupat, mencabuti satu persatu rumput di sekitar bunga merah jambu. Semak belukar di samping kebun pohon karet sedikit bergoyang, dari dalamnya keluar seekor tupai berbulu cokelat. Makhluk kecil itu berlari cepat melintasi jalan tanah, sesekali memanjat di sulur tanaman menjalar.

Si lelaki berjalan masuk rumah, membuka jendela kaca lalu mengeluarkan motor. Honda megapro biru itu dikeluarkannya secara perlahan agar kemudinya tidak sangkut pada kusen pintu. Setelah itu disapunya lantai rumah yang berpasir kala terpijak kaki. Posko telah lengang setelah ditinggal penghuni sebelah, kloter kedua pemberangkatan ke wilayah kerja baru.

“Sudah saatnya bersiap.” Batin si lelaki, meletakkan sapu lalu menuju ke sumur untuk mengambil air.

Tidak berapa lama, dia telah bersiap dengan baju kerjanya. Celana jeans belel dan baju kemeja biru bertulis PPL Rupat-Rupat Utara. Tidak lupa sepatu bot dikeluarkannya dari dalam gudang penyimpanan.  

Mesin motor tuanya langsung nyala kala tuas besi terayun beradu dengan udara. Lelaki itu mengucap doa sebelum berangkat, lalu dengan tas ransel hitam dipunggungnya dia menuju ke persawahan.

  Si biru melaju melaju cepat, melewati jalan setapak yang kering berdebu. Sesampai di area persawahan, tampak hampir semua padi telah menguning. Adapula jerami padi yang telah teronggok, sisa panen beberapa hari yang lalu. Si lelaki singgah di depan sawah yang ditujunya, memarkir kendaraan lalu membunyikan klakson pemberi tanda. Klentang klentong bunyi kaleng membalas isyaratnya. Seorang petani tengah berada di sebuah pondok kecil, tempatnya bernanung kala panas begitu terik atau hujan datang mengguyur.

“Pagi betul, Bil.” Sapa si pemilik sawah kala Ibnu Sabil telah berada di pondok.

“Penyuluh harus gitu pak, rajin.” Balas Ibnu Sabil.

“Mantap!” Si petani mengacungkan jari jempol kanan.

Mereka tertawa bersama.

“Saya juga baru sampai ni, Bil. Subuh tadi sapi beranak, jadi pagi-pagi urus itu dulu.”

“Lanang opo wedo?”

“Lanang. Jantan tulen.”

Mata si petani memancar kegembiraan, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.

Angin bertiup pelan, lukisan sawah dan langit telah berpindah ke lembar digital dalam kamera yang Ibnu Sabil bawa. Dari arah belakang pondok, si petani muncul membawa sebuah benda. Panjangnya kurang lebih tiga meter, mesin bercat merah berada di belakang gagangnya. Sebuah tangki minyak melekat di bawah mesin, tuas untuk menyalakan mesin berada di bagian dalam dengan tali yang menggulung. Sebuah mesin padi mower.

Si petani menggeser tombol yang terletak pada pegangan besi berbentuk tanduk kerbau ke arah off, lalu secara perlahan memasukkan campuran bensin dan oli ke dalam tangki. Kemudian dia menuju bagian ujung tongkat untuk memasang gerigi pada sekrup yang akan berputar.

Mesin padi mower itu hanya ada dua di pulau Rupat, satu di kelurahan Tanjung Kapal, satu lagi di kelurahan Batupanjang. Padi mower digunakan untuk memotong padi saat panen tiba, namun kali ini si petani akan menggunakannya untuk memotong batang padi yang tersisa setelah disabit saat panen seminggu yang lalu. Teknik IP 1.000 alias salibu, model tanam padi dengan memanfaatkan sisa tunggul padi pada sawah atau ladang yang telah panen. Teorinya, pada batang padi yang dipotong hingga tersisa 3-5 cm itu akan muncul anakan baru. Setelah diberi pupuk, maka anakan tadi akan tumbuh dan menghasilkan tanaman padi baru. Teknik ini diperkenalkan oleh petani di daerah Sumatera Barat.

Si petani memasang tali pengikat mesin tersebut di tubuhnya, lalu mengangkat padi mower yang telah menyala.

“Agak berat dan letaknya menyamping.” Kata si petani di tengah raungan mesin.

“Coba dulu, Pak.”

“Iya. Kita mulai dari petak pertama.”

“Jangan lupa doa dan bismillah…”

“Okey…” Sahut si petani lalu berjalan ke tepian sawah pada petak pertama.

Pukul 08:39 WIB, si petani mulai membabat, sementara awan hitam mulai menggelayut di atas sana. Satu persatu sisa rumpun padi itu terpotong, cukup rapi si petani mengerjakannya. Namun sisa tunggul itu terpotong tidak sama rata. Mesin membabat batang padi tidak cuma sekali, gerigi tajam itu mengenainya berulang kali.

Si lelaki yang sedang berada di pondok melangkah ke tepi sawah, mengambil kayu lalu membersihkan sisa potongan batang padi. Dia menjauhkan serpihan itu agar tidak mengganggu tunggul setinggi 3 cm itu. Sementara si petani melangkah hati-hati di dalam lumpur agar tidak menginjak tanaman yang baru saja dibabatnya. Diayunkan lagi ujung tongkat padi mower itu, seirama gerak tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

“Ambil dua legowo sekaligus, Pak. Biar lebih cepat.” Teriak Ibnu Sabil. Si Petani hanya mengangguk.

Bunyi gesekan ujung gerigi dengan batang padi terus terdengar. Dari jauh terlihat si petani sedikit kewalahan dalam adaptasinya menggunakan mesin padi mower. Belum lagi harus memperhatikan langkah kaki, beruntung sistem tanam legowo dipakai pada trip tanam yang lalu, jadi ada ruang untuk masuk ke celah tanaman padi.

Beberapa kali si petani membetulkan letak tali pengikat mesin yang melilit tubuhnya. Memang tidak seperti mesin pemotong rumput yang umum dipakai. Kalau Letak mesin pemotong rumput berada di punggung, menjadikannya lebih kokoh. Sedangkan letak mesin padi mower berada di samping badan, butuh kekuatan lengan dan keseimbangan tubuh untuk mengoperasikannya. Badan juga harus terus bergerak mengikuti arah tongkat bergerigi.

Tepat pukul 09:01 WIB, Si Petani rehat sejenak. Di pondok kecil tepi sawah kembali dia dan Ibnu Sabil berdiskusi.

“Untuk orang yang belum terbiasa menggunakan mesin ini, pasti akan kerepotan.” Si petani membuka percakapan.

“Kelihatan tidak terbiasa memang, tidak seperti mesin rumput.”

“Harus menjaga keseimbangan, berat badan cenderung mengikuti letak mesin.”

“Tadi sudah bagus cara memotong barisan rumpun padi itu.” Puji Ibnu Sabil.

“Iya. Sudah lancar. Mudah-mudahan yang kedua nanti bisa lebih cepat.”

“Tetap semangat, Pak.”

“Oke. Tadi berapa menit?” Tanya si Petani

“Dua puluh dua menit.”

“Luas yang telah dibabat?”

“16×9 meter.”

“Insyaallah nanti bisa lebih dari itu.” Ucap si Petani dengan yakin.

“Baiklah. Ayo turun sawah lagi.”

Mesin padi mower itu kembali digerakkan ke kiri dan ke kanan, batang-batang padi kembali rebah, berserakan dimana-mana. Ibnu Sabil sesekali mencungkilnya dengan kayu, agar calon anakan baru bisa mendapat sinar matahari yang cukup nantinya.

Angin kembali berhembus cukup kencang. Melihat langit, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Anomali cuaca terus terjadi di pulau Rupat, panas dan hujan semakin sulit terprediksi. Biasanya di musim panen padi seperti sekarang ini matahari akan bersinar terik, namun di awal tahun ini hujan kadang datang berulang kali. Semua itu menguji kesabaran dan kekompakan petani, bagaimana mereka bersabar atas hasil panen yang basah dan kekompakan dalam menentukan trip tanam yang kedua. 

Si petani terus bekerja, keyakinan di dalam hatinya bahwa teknik salibu ini bisa berhasil diterapkan di pulau kelahirannya membuat salut. Sebagian orang meragukannya, namun hal itu tidak membuatnya patah arang, berulang kali dia berkata bahwa akan terus mencoba sampai berhasil. Disaat sebagian orang telah pasrah pada keadaan yang ada, masih ada semangat dan keyakinan seperti itu pada dirinya.

Hingga menjelang tengah hari, satu petak telah berhasil ditaklukkan oleh si petani dengan mesin padi mower tersebut. Dia melanjutkan ke petak kedua, seperti tak kenal lelah. Burung-burung beterbangan di atas area persawahan, bunyi klentongan tak mampu mengusir mereka.

Si petani terlihat sudah mahir dan gesit dalam menggunakan mesin padi mower, tidak sampai setengah jam separuh petak kedua telah diselesaikan. Dia lalu berjalan ke arah pondok, meletakkan mesin tersebut di atas balai kayu lalu menuang segelas air untuk menghilangkan dahaga.

Di saat hujan tadi, petani lain yang sedang panen memilih berteduh, tapi petani ini memilih terus bertarung dengan pekerjaannya. Entah darimana keyakinan yang membuat raganya bisa bertahan ditengah terik dan hujan itu.

“Belajar dimana teknik salibu ini, Pak?” Tanya Ibnu Sabil menyelidik.

“Di Sumatera Barat, waktu itu pelatihan penerapan teknologi baru pada tanaman padi.”

“Memang harus dipotong serendah itu?”

“Iya. Pada saat panen tidak boleh langsung rendah, cukup separuh batang saja. Sisa tunggul panen dibiarkan seminggu agar bisa bernafas dulu, baru setelah itu dipotong pendek.” Jelas si Petani.

“Perlakuan apalagi setelah itu?”

“Pemupukan. Rencana akan diberikan pupuk kandang, urea dan KCL. Beberapa petak ini sengaja ditanami varietas padi berbeda, agar ketahuan mana yang cocok dengan teknik salibu.”

“Waktu pelatihan hanya teori saja?”

“Tidak. Selain teori di kelas, kami juga turun langsung ke lapangan. Kami melihat dengan mata kepala sendiri tanaman padi di Sumbar itu bisa tumbuh dengan teknik salibu ini.”

“Petani di sana bisa panen berapa kali dengan teknik ini?”

“Katanya bisa lima sampai enam kali dalam setahun.”

“Mantap tenan…” Ucap Ibnu Sabil seolah tidak percaya.

“Iya.” Si Petani berusaha meyakinkan.

“Mereka tidak bohong. Kami periksa sendiri, tunggul padi yang telah terpotong masih tampak jelas di bawah padi yang tumbuh rimbun itu.”

“Menurut mereka hasil panen berikutnya sama dengan panen pertama?” Tanya Ibnu sabil makin penasaran.

“Yang kedua katanya kurang cantik, kalau hasil panen ketiga baru melimpah. Hari itu yang kami amati tanaman salibu ketiga, malai padi sampai merunduk karena isinya yang padat.” Si petani lalu memperlihatkan foto yang diambilnya pada saat pelatihan.

“Jika kita bisa menerapkan teknik salibu ini, selain bisa panen berulang kali juga menghemat waktu, tenaga dan biaya. Tidak perlu olah tanah lagi, proses penanaman juga tidak ada, cuma pupuk yang dibutuhkan.” Urai si Petani.

“Sepertinya menjanjikan, Pak. Tapi sebaiknya perhatikan jenis dan dosis pupuk yang diberikan, saya khawatir kalau diforsir dengan pupuk kimia bisa merusak struktur tanah. Efek jangka panjangnya bisa terjadi degradasi lingkungan, tanah akan rusak dan beras yang dihasilkan juga tidak sehat.” Jelas Ibnu Sabil dengan mimik serius.

“Betul juga. Jika dipupuk kimia berulang kali tentunya unsur alami tanah akan terkikis.”

“Iya. Apalagi jika sudah sampai ketergantungan pupuk kimia, tanah akan meminta jumlah pupuknya terus ditambah. Hingga pada suatu saat nanti tanah akan ‘mati’, tidak mampu lagi tumbuh padi kecuali dipupuk kimia.”

Si petani mengangguk tanda mengerti lalu berkata,

“Kalau begitu berarti pupuk kompos yang harus digunakan.”

“Tepat. Pupuk kompos atau pupuk kandang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam.”

“Sepakat, Bil. Tapi untuk saat ini stok pupuk kandang belum sepenuhnya bisa terpenuhi.”

“Kalau begitu dosis pupuk kimia cukup dikurangi saja, kita buat petakan untuk menguji dosis dan jenis pupuk yang cocok.”

“Seiki kok kuwe pandai tenan, Bil.”

“Ooo… Penyuluh Rupat seiki ngga iso disepeleh ki meneh, Pak…” Seru Ibnu Sabil dengan penuh gaya.

Hahaha. Mereka kembali tertawa bersama.

Langit merah di balik rimbun pohon kelapa memanggil-manggil malam. Ibnu Sabil kembali melewati jalan tanah penuh debu itu, udara dingin menyergap di sepanjang perjalanan pulang. Mungkin hujan akan turun malam ini, kembali membasuh muka bumi yang makin kusam akibat polusi. Apakah esok subuh mentari di dermaga akan bersinar terang ataukah kelabu? Apakah burung nazar bernama kegagalan sedang mengintai salibu? Kami telah bersiap, sebab bukankah keyakinan memang harus tahan terhadap cobaan, sebagaimana ia juga butuh pengorbanan. Pulau Rupat beruntung memiliki petani-petani yang teguh pada keyakinannya, beruntung bisa menguji teknik salibu di tanah mereka sendiri. Semoga yang berkuasa atas bumi merestui.

Sore tepat pukul enam tiga puluh menit Ibnu Sabil tiba di Posko PPL Rupat. Dari mushallah ujung lorong terdengar mendayu suara adzan memanggil jamaah.

Posting Komentar