M.O.L: Senjata Alternatif Melawan Keong Emas

Udara begitu hangat, matahari sudah merangkak naik ketika kami memulai langkah pagi itu. Bersama kedua rekanku, Irdayanti dan Ridwan, aku menuju ke Tanjung Kapal tepatnya di areal persawahan Parit II. Hari ini kami berencana untuk membuat MOL (Mikro Organisme Lokal), yang nantinya bisa berguna mengurai serasah dalam pembuatan pupuk kompos. Keong emas kami pilih sebagai bahan utama karena menurut seorang penyuluh pertanian di Pulau Rupat, saat ini sedang terjadi booming keong emas di wilayah binaannya. Penyebaran sejenis siput berwarna kuning itu sudah sangat mengkhawatirkan para petani padi.

Dari kejauhan terlihat bentangan luas lahan sawah yang baru ditanami padi, beberapa petani tampak sibuk menanami sawah mereka. Untuk jenis padi unggul, bulan ini memang yang baru dipindahkan dari persemaian.

Seorang bapak tani berbaju merah menghentikan aktivitasnya, lalu menghampiriku dengan membawa sebuah ember besar dan kantong plastik yang padat berisi.

“Apa kabar bu?” Sapanya.

“Alhamdulillah baik. Itu apa pak?” Tanyaku sambil menunjuk barang yang dia bawa.

“Ini, saya baru saja mengambil keong emas dari sawah.” selorohnya sambil mengangkat benda yang ia pegang lalu kemudian meletakkannya dihadapanku.

Aku berjongkok untuk melihat lebih dekat keong emas yang bertumpuk di dalam ember dan kantong plastik itu. Kuperhatikan makhluk bulat runcing berwarna hitam dan ke-emasan itu bergerak-gerak, coba menggeliat keluar.

“Banyak sekali pak…” Seruku kemudian.

“Ini belum seberapa bu, kemarin sudah saya ambil hampir dua karung. Sebagian masih saya onggokkan di tepi gubuk, separuh lagi sudah saya bakar.”

Tiba-tiba kawanku datang dan tanpa sengaja memotong pembicaraan kami.

“Pak, bahan lainnya sudah saya bawa, mau buat dimana MOLnya?” Tanya kawanku, Irdayanti.

“Sebenarnya bisa di saung, tapi sebaiknya di rumah saya saja bu, biar lebih teduh.” Jawab bapak bertopi itu lalu mengajak kami ke kediamannya.

Pak Jaman, pria 60-an tahun kelahiran Pacitan itu berjalan menuju rumahnya, terletak tak jauh dari petak sawah Tanjung Kapal. Kami mengikuti langkahnya sambil membawa beberapa bahan yang sudah kami siapkan, yaitu sekarung buah maja dan seikat ranting pohon maja untuk ditanam.

Di rumah pak Jaman, sudah menunggu keluarga dan beberapa orang petani yang ingin melihat langsung proses pembuatan MOL keong emas itu. Kami duduk melingkar ketika seorang ibu paruh baya datang membawa beberapa gelas teh hangat. Dia mempersilakan kami minum, kemudian bercerita betapa kewalahannya petani menghadapi serangan keong emas di areal persawahan mereka.

“Ini sudah yang ketiga kalinya kami mengganti tanaman padi yang rusak, bibit yang kami semai sudah habis.” Ceritanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

Salah satu petani yang hadir menimpali cerita tersebut.

“Serangan hama keong emas sudah terjadi sejak dua tahun terakhir, namun baru kali ini tingkat serangannya sangat parah.” Kata Pak Misni, menurutnya serangan hama ke lahan persawahan itu sudah sangat merugikan petani.

“Tahun-tahun sebelumnya kami tak pernah mengkhawatirkan kehadiran keong emas di areal sawah karena memang tidak terlalu mengganggu, hanya merusak beberapa batang padi yang baru dipindah. Namun pada musim tanam tahun ini perkembangan keong emas sudah tidak terkendali lagi, kami sangat kewalahan menghadapinya. Sehari setelah kami tanam padi, paginya sudah tidah ada lagi yang tersisa akibat serangan keong emas”. Pak Misni menghela nafas lalu kembali melanjutkan ceritanya.

“Dulu ada tetangga saya yang pulang ke Jawa, dari sana ia membawa keong emas untuk dikembangkan sebagai pakan unggas yang ia pelihara. Pada saat banjir besar, kolam itu meluap dan keong yang ada terbawa arus sampai ke parit-parit disekitarnya. Dari sanalah asal mula datangnya keong emas yang sekarang menjadi musuh bagi petani padi.” Jelas Pak Misni yang kemudian menyeruput teh dari gelas bening di depannya.

Pak Jaman juga ikut bercerita, bahwa ia beberapa kali mencoba membasmi keong emas dengan semprotan pestisida, tapi sayangnya belum berhasil. Dia berharap ada alternatif lain yang bisa petani lakukan, sebab hampir semua usaha telah dicoba. Maka ketika mendengar berita dari PPL, bahwa keong emas bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengurai komponen pupuk, ia menjadi sangat antusias. Lagipula bahan utama pembuatan MOL itu sangat banyak di lahan sawah miliknya

Setelah semua petani bercerita, kami lalu melanjutkan inti dari pertemuan kami hari ini. Irdayanti mengambil alih forum untuk menjelaskan tentang hama padi dan cara pembuatan MOL.

“Sebenarnya pengendalian keong emas bisa dilakukan dengan mengeringkan air yang ada di areal persawahan. Itu akan memutus siklus hidup mereka, sebab jika sawah tergenang air, keong emas akan cepat berkembang biak.”

“Bapak dan ibu sekalian, salah satu alternatif pemanfaatan hama padi adalah dengan membuat MOL dari keong emas.” Kata penyuluh bertubuh mungil itu.


Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) berarti mengambil dan mengembang biakkan mikroba, bakteri atau dalam bahasa yang lebih sederhananya kuman yang jenisnya baik. Artinya nanti kuman baik itu bisa dimanfaatkan lebih lanjut untuk kepentingan di bidang pertanian. Sebuah alternatif dalam memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di sekitar kita, bisa untuk pemupukan dan perbaikan unsur hara pada tanah. MOL bisa dibuat dari berbagai macam bahan, diantaranya sayuran, nasi, bonggol pisang, dan lain-lain.

Irdayanti lalu menerangkan teknik pembuatan MOL dengan menggunakan beberapa bahan antara lain keong emas segar, buah maja, dan air kelapa.

Tak lama berselang, kami menuju ke halaman sebelah rumah Pak Jaman untuk mempraktekkan pembuatan MOL. Tidak lupa Pak Jaman membawa dari gudang se-jerigen air kelapa yang sudah ia persiapkan sehari sebelumnya. Semua bahan kemudian diolah sesuai dengan yang telah diterangkan oleh ibu PPL Kel. Tanjung Kapal.

  1. Keong Emas dipisah dengan cangkangnya.
  2. Campurkan dengan buah maja yang sudah dihaluskan
  3. Campuran tersebut kemudian dituangkan kedalam wadah, lalu ditambahkan dengan air kelapa.
  4. Aduk beberapa saat sampai rata.
  5. Tutup rapat wadah, kemudian masukkan selang kecil yang sudah dihubungkan dengan botol air mineral yang berisi air. Ini bertujuan untuk mengalirkan CO2 yang dihasilkan oleh larutan kedalam botol agar fermentasi berhasil.
  6. Biarkan selama kurang lebih 15 hari dan siap diaplikasikan.

Proses demi proses pembuatan MOL sudah dilaksanakan, Pak Jaman dan kawan-kawan berkata akan membuat MOL lagi, mengingat masih banyak keong emas di lahan sawah mereka. Para petani butuh kekompakan. Dari serangkaian serangan hama pada tanaman padi di atas, kita bisa mempelajari bahwa  mencapai keberhasilan sampai pada saat panen nanti bukanlah hasil kerja individu, namun buah kerja sama dan kerja komunal yang  melibatkan banyak petani.

Matahari semakin tinggi, setelah semua rampung, kami segera pamit kepada tuan rumah. Siang ini kami harus bergerak lagi, mendampingi penyaluran pupuk untuk kelompok tani yang ada di dusun sebelah.

Ini adalah hari minggu, sebagian orang mungkin sedang menikmati liburan bersama keluarga. Hari libur memang saat yang tepat untuk bersantai di rumah. Di hari yang panjang ini kami masih berada di tengah pergumulan petani melawan hama padi. Kami berbagi ilmu dan cerita bersama pelaku utama bidang pertanian itu. Kami membagi waktu dengan upaya mendatangi mereka, sebab berbagi takkan mengurangi apa yang kita miliki. Seperti rangkaian kata yang pernah aku dengar dari seseorang ”Umpama teko yang berisi air, kita harus menuangkan isi di dalamnya agar bisa mengisi air kembali.” Semangat berbagi semoga dapat terus kami lakukan, agar itu bisa memberi arti dalam kehidupan…

Ismawati, SP*

 



Posting Komentar