Konsentrasi Perikanan Sungai Cingam

Desa Sungai Cingam berpenduduk mayoritas suku Jawa yang telah lama bermukim di Pulau Rupat. Di pesisir pantai ditempati oleh penduduk asli pulau yaitu suku Akit. Jumlah penduduk Sungai Cingam mencapai 3.000 jiwa, anak-anak muda usia produktif biasanya merantau ke Malaysia. Mata pencaharian penduduk yang dominan adalah pekebun karet dan sawit, selain itu ada yang menjadi buruh, tukang, nelayan dan sebagiannya lagi menjadi pedagang.

Desa Sungai Cingam menjadi saksi konflik tanah antara masyarakat dengan pengusaha. Saling klaim kepemilikan lahan dan tanaman sawit, mengusik ketenangan warga kampung. Dimana ada konflik, berarti disitu ada dinamika. Setidaknya itu yang selalu terbaca dalam kehidupan ini. Tapi bukan itu tujuan kami ke desa Sungai Cingam. Aku dan seorang kawan yang merupakan penduduk setempat ingin berlibur ke pantai. Menurut beberapa keterangan yang kukumpulkan, pantai di desa ini sekarang menjadi pantai paling elok di Pulau Rupat.

Pulau Rupat senantiasa digadang-gadang menjadi pulau harapan, pemerintah Bengkalis selalu merujuknya untuk dijadikan destinasi pariwisata. Namun tidak ada yang mudah jika telah menyentuh ranah implementasi. Selama ini masih ada stereotype bahwa pulau yang luasnya berkali lipat dari Singapura ini adalah pulau yang miskin sarana prasarana, terpencil dan jadi kecamatan terisolasi. Tambah lagi minim hiburan dan sinyal handphone. Pandangan minor melekat padanya, menjadi sasaran utama bagi mutasi pejabat yang dianggap tidak pro 'pemerintah terpilih' kala masa kampanye pilkada berlangsung.

"Yang tidak mendukung pak Fulan, siap-siap pindah ke Pulau Rupat!" Ancaman yang menggambarkan Pulau Rupat sebagai tempat yang tidak strategis dan penuh penderitaan. Pengandaian yang tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Menurut seorang bajak laut terkenal, di dalam laut yang gelap sekalipun, ada mutiara yang senantiasa tersimpan.

Kami pun tiba di bibir pantai. Motor yang telah penuh bercak tanah itu kami parkir di tempat yang agak jauh. Ombak merayap pelan, meninggalkan gelembung kecil berbuih yang pecah di pasir putih. Telapak kaki yang menyentuh pasir terasa hangat bersahabat. Aku lalu berjalan menyusuri pohon-pohon pinus yang berjejer sepanjang pantai. Puluhan burung berwarna gelap terbang bebas dari satu pohon ke pohon lain, mengudara di atas laut lalu kembali ke sarangnya.

Kawan itu bercerita bahwa sampai tahun 2014 desa Sungai Cingam sudah melakukan beberapa pemekaran dusun, yakni dusun Abu Bakar, Sri makmur, Pangkalan Buah, Sri Menanti dan dusun Alohong. Seluruh dusun memiliki titik tertentu yang digunakan sebagai tempat berladang. Seperti yang tersurat dalam nama dusun, Sri Makmur adalah dusun penghasil beras terbanyak di desa Sungai Cingam.

Hari sudah siang, namun perjalanan kami tidak berhenti sampai di sini. Dari pantai Ketapang, kami akan menuju pantai lain yang masih berada dalam wilayah desa Sungai Cingam. Adalah pantai Alohong, asal usul pelaut legendaris yang konon mampu menarik kapal besar dengan tangan kosong. Perjalanan menuju pantai itu lebih menguras tenaga, karena kami melalui jalan tepi persawahan. Demi menunaikan niat bertemu pantai yang bersebelahan dengan desa Makeruh itu, jalan sempit dan berlumpur tidak jadi masalah.

Laut yang memisahkan Alohong dengan semenanjung Malaysia berwarna abu-abu, luas dan begitu tenang. Sejatinya panorama tepi laut ini lebih cantik dari pantai Ketapang, namun apa mau dikata, air laut Selat Malaka mengikisnya hingga puluhan kilometer.

"Jaman dulu kami bolak balik Malaysia dari pantai ini, segala kebutuhan rumah tangga kami datangkan dari sana." Ungkap Pak Ce Lik saat kami berkunjung ke rumahnya. Dia adalah penghuni terakhir di tepi pantai itu.

"Puluhan pohon kelapa berjejer rapi di tepi pantai yang airnya biru. Ikan masih melimpah, kadang tak tertampung. Puluhan kapal motor beroperasi dengan bebas, karena masih kurang pengawasan." Kenang Pak Ce Lik.

Dari keterangan mantan toke ikan itu, konsentrasi perikanan di desa Sungai Cingam memang berada di Dusun Alohong. Di tahun 70'an, sebagian besar penduduknya adalah nelayan tangkap. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan abrasi parah yang menimpa pantai, maka sebagian besar warga pindah ke daratan. Kini hanya tersisa dua kapal pompong yang beroperasi menjaring ikan ke tengah laut. Itupun tak lagi melewati pantai Alohong, tapi langsung menuju muara sungai.

Salah satu sistem pengelolaan usaha perikanan tangkap di dusun Alohong masih berbentuk patron-klien. Istilah ini digunakan oleh para pakar untuk menunjukkan bahwa ada seseorang yang memiliki kemampuan modal kuat untuk mengadakan sarana menangkap ikan seperti alat tangkap dan bekal. Lalu ada pula pihak lain yang mengerjakan tugas mencari dan menangkap ikan ke tengah laut. Pihak yang memiliki modal biasanya perseorangan, sedangkan pihak penerima kerja biasanya berkelompok. Di dalam sistem ini ada kesepakatan tidak tertulis yakni nelayan harus menjual hasil tangkapannya kepada pemilik modal.

Sistem patron-klien terjadi dalam dunia sosial kenelayanan dan masih terdapat juga di bidang pertanian. Satu sistem dengan dua jenis modal yang berbeda, kapal untuk nelayan, tanah untuk petani. Beragam cara dilakukan untuk memutus siklus ini, tapi sepertinya belum ada yang mumpuni. Kredit usaha tani dan nelayan membentur jenis anggunan yang harus disediakan dan prosesnya yang berbelit. Kepercayaan dan 'kemurahan hati' dari para pemilik modal belum mampu ditandingi oleh jenis simpan pinjam lain. Faktor hutang budi pada pemilik modal juga menjadikan sistem ini tetap abadi dan tumbuh subur di masyarakat.

Puas menikmati pemandangan laut alohong, kami menuju ke kampung nelayan yang dihuni oleh suku asli. Di teras rumah panggung berwarna hijau itu tengah berkumpul warga, beberapa diantaranya telah aku kenal.

"Kadang kami tinggal berminggu-minggu di laut, hanya sesekali pulang untuk menurunkan hasil tangkapan lalu pergi lagi." Kata seorang nelayan setelah kami duduk bersama.

"Apa alat tangkap yang digunakan?" Tanyaku.

"Kalau kapal pompong pakai jaring yang ditarik mesin, kalau sampan pakai jala biasa. Ada juga yang mencari ikan di tepi pantai, mereka pakai pancing atau kise'." Jawab pak A guan, kepala RT yang doyan ngunyah sirih.

"Jika musim 'menjaring' tiba, nelayan sini akan menuju laut secara berkelompok. Pembagian tugas sudah ditentukan sebelumnya. Ada yang mengemudi kapal, melempar dan menarik jaring, ada juga yang mengurus perbekalan dan peti es untuk menyimpan ikan hasil tangkapan."

"Kapan waktunya tu, pak?"

"Tunggu musim kelam lewat, November dan Desember biasanya." Jawab pak RT, gigi-giginya tampak berwarna oranye tersapuh sirih.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa hasil tangkapan nelayan Alohong berupa ikan pacal, puput, ikan caru, bawal, tenggiri dan ikan parang. Untuk hasil tangkapan yang bagus dan bermutu, mereka jual ke toke' ikan di Tanjung Medang, Rupat Utara.

"Tadi bapak menyebut musim kelam. Yang gimana tu pak?"

"Musim tak ada ikan, bulan-bulan tertentu saja."

"Jadi darimana penghasilan nelayan di bulan-bulan itu?"

"Sekarang sebagian warga sudah menanam pohon karet, ada juga yang sudah berladang untuk mencukupi kebutuhan dapur."

"Berpindah kerja dari laut ke daratan." Kataku

"Mau diapakan lagi, asap dapur harus terus mengepul. Tapi karena kami dah terbiasa menjaring, ya terus juga turun ke laut."

"Mungkin hidup lebih terasa nikmat jika melaut, ya pak?" Tanyaku sambil menatap wajah-wajah nelayan itu.

"Iyalah... Tapi barang yang nak dicari tu tak nampak!"

Hahaha.

Tawa kami terbang dibawa angin laut.

Dua pantai di desa yang sama, sangat jarang wilayah yang memiliki berkah seperti ini. Dua pantai yang dihinggapi persoalan berbeda. Status lahan yang terletak di belakang Pantai Ketapang menjadi saksi bisu bergejolaknya kemarahan warga yang bermasalah dengan pengusaha, sedangkan kecantikan pantai Alohong semakin ringkih digerogoti air asin, belum lagi kisah nelayannya yang sedang berjibaku melawab gerinda zaman. Dua pantai dengan dua sisi kehidupan, menambah alur cerita di sepanjang pesisir pulau harapan. 

Laut dalam ketenangan musim penghujan
Mendamparkan buih pada butir pasir berkilauan
Kandas biduk perahu di pepucuk ombak yang biru
Hela gundah para nelayan, putar nasib ke tanah gersang

Kulihat sampanmu mengapung di laut lepas
Terbelit jala dan jangkar pada karang cadas
Langit tahu riak hidupmu di samudera luas
Terombang di laut ganas, berulang kali engkau terhempas

Posting Komentar