Dari dapur pondok kecil beralaskan tanah itu mengepul asap yang membawa aroma bawang goreng, sesaat kemudian terdengar siduk besi beradu dengan wajan. Tuan rumah sedang beristirahat di atas sebuah dipan bambu yang sudah lapuk. Di tubuh lelaki tua itu hanya tersisa kain sarung dan baju singlet, menunggu angin segar bertiup dari sela pohon sawit depan rumahnya. Sang istri yang sedang memasak sayur sedari tadi menyuruh mandi, namun badan yang berkeringat merasa enggan.
Ditariknya nafas panjang. Tak lagi ada pekerjaan setelah noreh getah karet dari kebun, sebab ladang yang diharap menyumbang beras sedang meradang kekeringan. Ia berharap anak tertuanya yang sedang merantau ke Malaysia akan sanggup mengirim sebagian penghasilannya di sana. Sebab harga ojol sekilo yang dulunya 12 ribu itu menukik tajam hingga derajat 4 ribu rupiah per kilo. Dia mulai khawatir bagaimana membiayai anaknya bersekolah dan untuk yang tersayang agar masih bisa mengisi perbekalan dapur.
…
Di desa lain yang seluruh penduduknya adalah suku asli, sebuah kandang ayam yang tadinya berisi puluhan ayam kampung kini kosong melompong. Bapak yang selalu mengunyah sirih itu kembali menemukan seekor ayam betina yang merengang nyawa di atas tumpukan kayu arang belakang rumah. Diangkatnya kedua kaki ayam yang sudah kaku itu lalu membuangnya ke semak hutan bakau belakang sana, berharap biawak meringankan tugasnya untuk menggali kubur.
Dua hari sudah dia temukan unggasnya tewas mengenaskan tanpa sebab yang pasti, hanya tanda-tanda majemuk pada semua ayam buras itu yang menjadi saksi. Dari lubang hidungnya meler cairan bening, matanya redup, lalu terduduk menung macam unggas putus cinta, sampai patuknya tersungkur di tanah dan nyawa pun regang menghadap Sang Pencipta.
Penyuluh pertanian yang tempat tinggalnya di desa sebelah yang berjarak cukup jauh itu hanya bisa berjongkok mengamati ayam-ayam itu hingga benar-benar tidak bernafas. Bukannya tanpa melakukan apa-apa agar ayam-ayam yang tadinya segar bugar itu bisa selamat, namun penyebaran penyakit yang sungguh sangat cepat itu tidak memberi ruang tindak lanjut. Pengalaman di desa bagian tengah yang telah dikunjungi staff peternakan kecamatan pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika ayam telah terinfeksi penyakit serupa. Upaya pencegahan dengan menyemprot kandang dengan disinfektan sudah terlambat.
“Ayam saya dah mati semua dah Pak…” Katanya tertunduk lesu.
…
Di sebuah bangunan besar bernama gedung dewan, ratusan wakil rakyat sedang membahas anggaran pendapatan dan belanja daerah. Bapak-bapak terhormat yang gemar memakai jas ataupun baju safari itu tengah berdialog dengan alot mengenai pengesahan uang negara senilai trilyunan rupiah. Mereka dengan gagahnya berbicara, semua ucapan keluar dengan lantang mengatas namakan rakyat. Di luar gedung, seorang pria paru baya berbicara dengan pemuda berkemeja, di keningnya terlihat butiran air keringat.
“Kalau bapak itu nanti selesai bicara, proposal ini langsung kamu serahkan kepadanya. Bantuan pertanian atapun nelayan sekarang ini gampang cair, kita minta itu dulu, nanti baru yang agak besar. Dan ingat, senyum!” Katanya sambil mengeluarkan cap.
Rapat terus berlangsung, membahas (hanya) satu persoalan yang memakan waktu hingga berbulan-bulan, dari pagi sampai larut malam. Keesokan harinya, koran-koran lokal memuat berita mengenai penundaan kembali pengesahan anggaran, isunya ada yang meminta upeti, entah siapa.
…
Di pulau bagian utara, para pedagang durian tengah sibuk memasukkan buah berduri itu ke dalam dua keranjang yang digandengkan ke sepeda motor. Setelah menunggu selama berhari-hari, akhirnya para penunggu pohon durian itu keluar juga dari kebun-kebun mereka. Transaksipun terjadi, hanya harga di petani jauh lebih murah dari harga pasaran, apalagi mendekati hari puasa dan lebaran, tentu saja permintaan buah ini akan tinggi, mengingat kue-kue hidangan hari raya masih banyak menggunkan durian sebagai penyedap.
Di pelabuhan penyeberangan roro ke arah Dumai, muatan sebuah mobil bak terbuka dipenuhi si buah durian. Pak sopir terus saja melobi petugas pelabuhan agar dia, mobil dan duriannya didahulukan naik ke kapal, mengingat antrian yang sangat panjang.
“Buah sawit bisa menunggu lama pak, tapi kalau durian cepat rusak.”
“Iya, ini sedang kami atur, bapak antri saja di tempatnya, nanti kami panggil.”
“Tolong pak ya, kalau terkena panas matahari seperti ini busuk dia.”
“ Iya, lagian itukan durian Rupat, jual di sini saja supaya kami juga bisa makan.”
“Tidak bisa pak, nantinya kami rugi, tak ada harga di sini.”
“Jadi mau dibawa kemana?” Tanya petugas itu sambil merobek karcis pengendara motor yang bersiap naik ke kapal.
“Pekanbaru.”
…
Di ibukota kabupaten terkaya itu, komisi pemilihan umum tengah mempersiapkan penyelenggaraan pemilu untuk memilih anggota dewan yang baru. Di tengah isu penyelewengan dana bansos senilai milyaran rupiah, para calon legislatif itu terus saja berkampanye, saling jatuh menjatuhkan. Pada baliho terpampang wajah-wajah mereka dengan slogan tentang perubahan, berseliweran di jalan, pasar-pasar dan tengah kota.
Nun jauh di sebuah pulau yang pantainya sangat indah itu, seorang berpakaian necis dengan minyak rambut yang membuat kepala mengkilap tengah berbincang dengan seorang warga,
“Ini uang dua ratus ribu bagi setiap KK, untuk ibu-ibu pengajian nanti kami beri baju wirid sepasang.”
“Tapi calon yang satu lagi memberi tiga ratus ribu kemarin, itupun dengan janji tambahan membangun jalan depan rumah mereka.” Kata lawan bicaranya.
“Usah dipikir, gampang tu. Bikin aja acara potong kambing di rumah si atan, lalu janji tahun ini akan dimasukkan listrik.”
“Bisa gitu ya Pak?”
“Ini namanya demokrasi.”
…
Jika kadis kehutanan turun langsung melihat abrasi yang menggulung berhektar-hektar hutan bakau itu mungkin hanya bisa mengurut dada. Jangankan mangrove yang berjejer di sepanjang pantai, pelabuhan beton saja diterjang ombak hingga berkeping-keping. Sebenarnya bukan hanya di satu tempat, tapi ada banyak desa di pulau itu yang pantainya tergerus air laut selat Malaka. Pun sudah tidak ada yang parah, semuanya sekarang dalam status ‘sangat parah’.
Abrasi merupakan persoalan yang susah untuk dipecahkan, tidak sekedar membangun turap dan langsung selesai. Sudah menjadi sifat air untuk mencari celah agar dapat merembes ke bagian daratan yang kering. Semua pasti masih ingat kejadian ambruknya jalan depan pelabuhan tanjung priok Jakarta dan jalan raya depan pantai losari Makassar. Padahal di kedua tempat terpisah tersebut, telah ada turap ataupun pemecah ombak yang menghalangi masuknya air laut ke daratan.
“Di sini ada puluhan rumah warga, di sana tu pohon-pohon kelapa berbaris-baris. Dupuluh meter ke depan sana tempat nelayan menambat perahu sehabis melaut.” Kata bapak berkumis itu sambil terus menunjuk sana sini dengan tangan kanannya.
“Tapi itu tinggal cerita buat cucu-cucu, sekarang semuanya hilang disapu ombak.”
Penebangan hutan mangrove dan hutan-hutan luas di daratan tengah menjadikan pulau kehilangan tanaman yang menyimpan air. Secara sistematis, penjarahan kayu-kayu yang dijual mahal itu merusak ekosistem dari tepi laut hingga ke daratan. Belum lagi tanah gambut itu yang terus memanggul beban berupa kebun-kebun sawit luas milik perusahaan. Tanaman itu bukannya menyimpan air sebagai penahan interusi air laut, malah menghabisi air tanah enam liter perpokok setiap harinya. Berbagai upaya penghijauan terus mengalami kegagalan, sepertinya alam sudah sampai pada titik batas toleransinya.
“Sudah sejak lama orang dinas maupun orang dari LSM silih berganti memberi bibit bakau untuk ditanam di tepi pantai. Katanya pencegahan dengan tanaman bakau lebih efektif daripada turap yang biayanya mahal. Selain sebagai penahan laju ombak, nanti juga bisa sebagai tempat ikan berkembang biak. Kami tanam dari pagi hingga menjelang sore, namun keesokan harinya bibit-bibit bakau itu malah ikut bersama ombak.” Kata pak kumis merengut.
…
Para penggemar sepakbola sebulan penuh terus begadang sepanjang malam, melebihi jam tugas sang rembulan. Penyebabnya adalah gelaran pesta sepakbola empat tahunan yang kali ini digelar di Brazil. Walau timnas Indonesia sama sekali tidak ambil bagian dalam turnamen tersebut, namun jangan tanya tentang demam bola yang terjadi di tanah air. Bukan hanya di kota-kota besar yang gemerlap lampu, di salah satu sudut pulau terluar negara RI itu tampak nonton bareng yang tak kalah heboh dan serunya. Memang bukan di cafe, bar, ataupun resto, hanya di sebuah kedai jajanan yang parabolanya kebetulan menangkap siaran TV Timor Leste.
Orang-orang pulau sejenak melupakan kebakaran hutan beberapa waktu yang lalu, yang menghanguskan ratusan hektare kebun karet dan sawit mereka. Musim panas sepanjang empat bulan lamanya sama sekali tidak memberi kesempatan untuk bernafas, asap yang datang dari segala penjuru membuat para ibu dan balita terpaksa diungsikan.
“Sepanjang hidup saya tinggal di pulau, baru kali ini terjadi musim kering yang sangat panjang dan kebakaran yang begitu besar.” Komentar bapak penjaga kedai.
Setelah hujan dipaksa turun dengan dana 300 milyar yang dibawa langsung oleh Bapak Presiden SBY, akhirnya titik-titik api di lahan gambut bisa dipadamkan. Namun tak cukup sebulan musim hujan itu berlangsung, bahkan para petani belum sempat turun semai, tanah sudah kering lagi. Itu artinya kebakaran lahan mengintai lagi, panen padi bakal gagal lagi. Lagi dan lagi.
…
Kedua calon presiden yang bertarung menjadi orang nomor satu di RI itu sama-sama menjanjikan pembangunan bidang pertanian dan ketahanan pangan. Walau argumennya kadang hanya seputar pembangunan infrastruktur pertanian, tanpa memikirkan bagaimana membangun sumber daya petani. Masalah perdagangan bebas yang membuat pasar lokal kebanjiran produk luar, sama sekali tidak mendapat jatah untuk dibahas, padahal itu mencekik leher petani. Mungkin stasiun TV nasional hanya kekurangan waktu untuk membahas masalah itu lebih jauh. Mungkin…
Beberapa saat setelah debat capres itu berakhir, running teks di TV menuliskan bahwa bulog kembali mengimpor beras dari pasar luar negeri. Mungkin sudah jalannya demikian. Mungkin lagi…
Mungkin jika pilpres dan piala dunia berlangsung lebih lama lagi, sebagian pemuda pengangguran di Indonesia akan mendapat lowongan kerja sebagai komentator. Sebab sebulan saja perhelatan piala dunia berlangsung, banyak orang yang tiba-tiba berubah menjadi komentator bola. Begitupula ketika kampanye pilpres berlangsung, banyak orang yang tiba-tiba jadi mirip juru kampanye, yang pandai berkomentar tentang statistik lembaga survey, tentang kampanye hitam, tentang media yang berpihak pada salah satu pasangan ataupun komentar-komentar lain mengenai situasi dan masa depan bangsa ini.
Mungkin sebagian orang Indonesia memang cocoknya jadi komentator, walau nasib timnas dan liga sepakbola mereka salah satu yang paling hancur menurut catatan badan sepakbola internasional. Belum lagi status negara mereka yang terus bertengger di puncak klasmen negara paling korup sejagad raya.
Para komentator depan TV itu seolah paling tahu cara mengalahkan lawan dalam pertandingan bola kaki yang sedang berlangsung. Para komentator di kedai kopi itu seolah paling pandai dalam debat yang menentukan siapa calon presiden indonesia berikutnya. Ataupun bung atan, komentator tinju tiap hari minggu di salah satu TV swasta, yang merasa seolah dialah yang paling tahu cara menjatuhkan lawan.
Kalaulah dicermati, para komentator itu sama sekali tidak berada di dalam ring, di dalam lapangan ataupun di dalam arus politik. Mereka berada di luar dan berposisi sebagai penonton yang cuma bisa ngomong, tidak bisa menentukan hasil akhir sebuah pertandingan. Seharusnya mereka sadar, apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak berefek pada kehidupan mereka sehari-hari.
Di ibukota kecamatan bagian selatan. Pasar kaget itu benar-benar membuat kaget, berdiri hanya dalam waktu satu malam saja. Pagi saat puasa perdana belum lagi nampak tiang-tiangnya, malah keesokan hari para pedagang sudah menjajakan kue di sana. Jadi teringat Ken Arok yang membangun ribuan candi sebagai syarat perkawainan dari Ken Dedes. Bedanya hanya pada ayam jantan yang tidak berkokok di pagi hari itu.
Saban sore sebelum sirine tanda buka puasa itu berbunyi, pasar kaget ramai dikunjungi warga pulau. Semua bercampur baur, ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda pemudi, sanak saudara dan handai taulan tanpa memandang status. Saking menyatunya hingga sulit untuk membedakan mana yang berpuasa mana yang tidak..
“Saya termasuk salah satu warga yang tidak pernah melewatkan momen ramadhan untuk berbelanja jajanan khas bulan puasa. Habisnya tidak setiap hari kita mendapati kue-kue seperti ini, jadi tiap sore saya rutin ke tempat yang tak jauh dari rumah itu.” Kata perempuan cantik berjilbab dekat simpang tiga.
Salah satu budget khusus di bulan ramadhan adalah biaya tambahan untuk membeli menu berbuka puasa. Sebut saja es cendol, es buah, pecal, kolak ataupun kue-kue tradisional. Semua pilihan telah tersedia, tergantung selera dan kemampuan dompet masing-masing.
Gadis yang menjajakan dagangannya di pasar kaget itu membenarkan antusiasme warga pulau untuk berbelanja ta’jil buka puasa.
“Mungkin karena harganya cukup murah dan jenis kue yang beraneka macam jadi mereka tertarik datang ke sini. Mulai dari pembukaan hingga sekarang tempat ini masih tetap ramai oleh pengunjung.” Katanya lalu cekikikan bersama gadis berbaju merah disampingnya.
Pasar di bulan ramadhan memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Mulai dari pasar kaget yang didominasi kue-kue beraneka rasa dan warna, lalu ada pasar domestik yang kebanjiran barang impor, mulai dari daging, bawang merah hingga cabai, dan yang terakhir yaitu menjelang hari raya, warga akan menyerbu pasar-pasar penjual pakaian, mukenah, kopiah dan kain sarung.
Pasar adalah tempat yang akan penuh sesak para pembeli, tempat para konsumen mengalirkan hasrat yang tak terbendung setelah 30 hari menahan dan mengendalikannya. Pusat perbelanjaan menjanjikan kepuasan, ataupun pemenuhan kekosongan batin. Tapi itu hanyalah sesaat. Setelah semuanya berakhir, manusia-manusia itu akan kembali menemukan dirinya berada dalam kehampaan.
Tinggallah surau kecil di ujung lorong sana yang semakin gelap dan sepi.
Saban sore sebelum sirine tanda buka puasa itu berbunyi, pasar kaget ramai dikunjungi warga pulau. Semua bercampur baur, ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda pemudi, sanak saudara dan handai taulan tanpa memandang status. Saking menyatunya hingga sulit untuk membedakan mana yang berpuasa mana yang tidak..
“Saya termasuk salah satu warga yang tidak pernah melewatkan momen ramadhan untuk berbelanja jajanan khas bulan puasa. Habisnya tidak setiap hari kita mendapati kue-kue seperti ini, jadi tiap sore saya rutin ke tempat yang tak jauh dari rumah itu.” Kata perempuan cantik berjilbab dekat simpang tiga.
Salah satu budget khusus di bulan ramadhan adalah biaya tambahan untuk membeli menu berbuka puasa. Sebut saja es cendol, es buah, pecal, kolak ataupun kue-kue tradisional. Semua pilihan telah tersedia, tergantung selera dan kemampuan dompet masing-masing.
Gadis yang menjajakan dagangannya di pasar kaget itu membenarkan antusiasme warga pulau untuk berbelanja ta’jil buka puasa.
“Mungkin karena harganya cukup murah dan jenis kue yang beraneka macam jadi mereka tertarik datang ke sini. Mulai dari pembukaan hingga sekarang tempat ini masih tetap ramai oleh pengunjung.” Katanya lalu cekikikan bersama gadis berbaju merah disampingnya.
Pasar di bulan ramadhan memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Mulai dari pasar kaget yang didominasi kue-kue beraneka rasa dan warna, lalu ada pasar domestik yang kebanjiran barang impor, mulai dari daging, bawang merah hingga cabai, dan yang terakhir yaitu menjelang hari raya, warga akan menyerbu pasar-pasar penjual pakaian, mukenah, kopiah dan kain sarung.
Pasar adalah tempat yang akan penuh sesak para pembeli, tempat para konsumen mengalirkan hasrat yang tak terbendung setelah 30 hari menahan dan mengendalikannya. Pusat perbelanjaan menjanjikan kepuasan, ataupun pemenuhan kekosongan batin. Tapi itu hanyalah sesaat. Setelah semuanya berakhir, manusia-manusia itu akan kembali menemukan dirinya berada dalam kehampaan.
Tinggallah surau kecil di ujung lorong sana yang semakin gelap dan sepi.




Posting Komentar