Berbagai upaya peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas telah dilaksanakan antara lain melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) sejak tahun 2008 maupun melalui PTT atau peningkatan mutu intensifikasi pada tahun-tahun sebelumnya. Pelaksanaan SL-PTT sebagai pendekatan pembangunan tanaman pangan, khususnya dalam mendorong peningkatan produksi padi nasional telah mengungkit pencapaian produksi, namun kedepan dengan berbagai tantangan yang lebih beragam, maka diperlukan penyempurnaan dan atau peningkatan kualitas baik pada tatanan perencanaan dan operasionalisasi di lapangan.
Pada tanggal 15 September 2015, Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis melalui Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan mengirim 20 orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) ke Provinsi Jambi. Penyuluh pertanian yang ada di wilayah kecamatan se-Kabupaten Bengkalis tersebut mendapatkan pelatihan pertanian di Balai Pelatihan Pertanian Jambi. Pelatihan tersebut dilakukan sebagai wujud nyata peningkatan kualitas penyuluh pertanian di Kabupaten Bengkalis. Lebih jauh lagi diharapkan dengan peningkatan mutu PPL maka ada ikut terdongkrak juga produksi tanaman pangan di Negeri Junjungan.
Pelatihan yang dilaksanakan sejak tanggal 16 s/d 20 September 2015 ini mengambil tema “Diklat Pendampingan Sekolah Lapangan-Pengelolaan Pertanian Terpadu”. Sebagaimana yang diketahui bahwa SL-PTT di tahun 2015 telah berganti wujud menjadi GP-PTT (Gerakan Penerapan-Pengelolaan Pertanian Terpadu). GP-PTT merupakan upaya pemerintah di era Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan peningkatan produksi padi berbasis kawasan agribisnis.
“Sebenarnya kegiatan SL-PTT sudah dianggap selesai di tingkat pusat, petani dianggap telah lulus. Kelanjutan program tersebut yaitu diadakannya gerakan penerapan pengelolaan pertanian terpadu, Salah satu komponen dalam program tersebut adalah pendampingan oleh penyuluh pertanian.” Kabid Kelembagaan dan Penyuluhan BKP membuka paparannya dalam kata sambutan pembukaan acara.
Panitia kegiatan di Bapeltan Jambi juga memberikan pengarahan bahwa mendampingi berarti bertanggunbg jawab dalam hal pembinaan. Maka nantinya peserta akan diberi pemahaman tugas dan fungsinya dalam hal pendampingan. Dalam kurikulum pelatihan kali ini tidak selalu berbicara tentang teknis, tapi diupayakan fokus kepada metodologi bagaimana melakukan pendampingan yang baik. Pendekatan andragogi adalah keharusan sebab yang didampingi adalah orang dewasa, olehnya itu pendekatan pun dilakukan dengan cara pendidikan orang dewasa.
Kegiatan pelatihan pendamping SL-PTT di Bapeltan Jambi ini dibimbing langsung oleh para widyaswara yang memiliki pengalaman dalam membimbing penyuluh ataupun petani dalam rangka pendampingan dan penyuluhan serta pengembangan usaha peningkatan produksi tanaman pangan. Porsi pelatihan kali ini hanya sedikit yang berupa kajian teoritis, porsi materi praktek dan kunjungan lapangan lebih mendominasi. Hanya beberapa kali peserta belajar di dalam ruangan, selebihnya adalah kelas lapangan dan kunjungan pada lokasi SL-PTT.
Pada pelatihan ini para peserta diperkenalkan mengenai KKP ( Kajian Kebutuhan dan Peluang), yaitu kajian sekolah lapangan yang dimulai dari identifikasi masalah, analisis prioritas masalah, memprioritaskan masalah, evaluasi kesesuaian introduksi teknologi sampai menemukan rakitan teknologi spesifik lokasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi padi di wilayahnya. Kajian Kebutuhan dan Peluang merupakan alat untuk membantu petani melakukan diagnosis kendala dan masalah yang dihadapi petani padi dan menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya.
Selain tentang KKP, peserta juga diberi bekal untuk memfasilitasi SL-PTT berupa kesempatan untuk mempraktekkan pembuatan pupuk kompos, praktek teknik seleksi bibit tanaman, petunjuk lapangan mengenai sistem tanam jajar legowo, serta berbagai varian materi yang bisa dikembangkan pada pelaksanaan sekolah lapangan nantinya. Tidak lupa pula introduksi mengenai Pedoman Teknis GP-PTT padi Tahun 2015. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 2015 upaya peningkatan produksi padi difokuskan pada kawasan tanaman pangan, melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dengan fasilitasi bantuan sarana produksi (saprodi), tanam jajar legowo dan pertemuan kelompok pada seluruh areal program GP-PTT sebagai instrument stimulan disertai dengan dukungan pembinaan, pengawalan dan pemantauan oleh berbagai pihak.
Selanjutnya acara pelatihan ditutup oleh Kepala Bapeltan Jambi, yang mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah Bengkalis yang dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Bengkalis, yang telah menganggarkan pendidikan dan pelatihan SL-PTT di tahun 2015.
“Menjadi suatu kebahagiaan dengan adanya kerjasama antar kita, dan telah menjadi tanggung jawab semua penyuluh dalam mensukseskan program swasembada di tahun 2017, penyuluh pertanian harus siap mengerahkan pikiran dan segala usaha untuk menuju ke arah sana. Semua Siap?” Tutup Kepala Bapeltan Jambi yang dijawab serentak oleh lulusan pelatihan.
“Kami Siap!”




Posting Komentar