Pelatihan Hortikultura Marpoyan

Asrama UPT Pelatihan Tanaman pangan dan hortikultura Marpoyan dalam suasana damai yang sangat dalam. Lelaki muda itu berdiri mematung di dekat jendela. Temaram lampu kamar membingkai bayangan tubuhnya di dinding batu. Sesaat ada nuansa muram di wajahnya, menyiratkan beberapa permasalahan yang membentang sepanjang waktu tidurnya. Suasana malam bulan ramadhan kental terasa, selepas tarawih dan tadarus al-qur’an para peserta larut dalam pembicaraan dan mimpi-mimpinya. Si lelaki lebih banyak diam. Dari dalam bilik kamar, dia mendengarkan dengan seksama suara perbincangan di seberang sana. Dua pria sedang berbincang tentang seluk beluk pertanian, satu bersuara datar, satu lagi bersuara berat nan serak.

“Sistem pertanian berkelanjutan mencoba untuk memanfaatkan sumber pertanian alami.” Kata pria bersuara berat.

“Iya aku tahu. Tapi kita masih belum bisa meninggalkan bahan-bahan kimia.” Timpal pria yang ditemaninya bercakap.

“Dikombinasilah, tambahkan juga metode pemanfaatan sinar matahari dan air hujan secara optimum. Hal tersebut bisa menekan penggunaan bahan kimia.”

“Terus bagaimana mensiasati hama dan penyakit tanaman?” Tanya pria bersuara datar.

“Kendalikan hama dengan ekstrak nabati, lalu jaga kesuburan tanah dengan bahan organik.” Jawab lawan bicaranya dengan intonasi perlahan.

“Ah, itu terlalu teoritis. Selanjutnya kau pasti ingin mengatakan bahwa sistem pertanian terpadu dapat membantu petani mengurangi ongkos produksi. Dengan menurunkan biaya secara konsekuen maka akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani.”

Hahaha. Mereka berdua tertawa, seperti kawan akrab yang sudah saling mengenal karakter masing-masing.

“Dari mana kau tahu, hal itu?” Tanya pria suara serak dengan sedikit sisa tawa yang melekat pada nada suaranya.

“Aku pun pernah mengikuti diklat itu beberapa bulan yang lalu!”

Hahaha. Kembali tawa mereka memecah kesunyian asrama Marpoyan.

Si lelaki muda di dalam ruangan itu tersenyum, seolah satu persoalan di kepalanya terpecahkan oleh percakapan tengah malam itu. Entah oleh siapa.

                Isu pengelolaan bidang pertanian metode terpadu bukanlah sebuah hal yang baru. Beberapa dekade silam, sistem pertanian yang menyandarkan pada bahan organik sebagai pengganti bahan kimia sudah didengungkan. Bukan hanya oleh lembaga pemerhati kerusakan lingkungan seperti ormas dan LSM pertanian, tapi juga merambah ke dalam lingkup pemerintahan. Besarnya tekanan organisasi lingkungan dalam dan luar negeri ikut andil dalam merubah paradigma pengelolaan pertanian berkelanjutan tersebut.

Di Indonesia, sebuah negara dengan tata pengelolaan yang seringkali latah, hampir pasti meninggalkan berbagai masalah ketika mengajukan sebuah solusi. Solusi demi solusi bukannya menyelesaikan persoalan, malah kadang memunculkan masalah baru. Bukankah solusi pestisida malah memunculkan booming hama di beberapa tahun berikutnya? Juga penggunaan pupuk kimia tanpa henti bukankah menimbulkan kerusakan tanah yang terjangkiti? Yang terakhir adalah memeras unsur hara tanah dengan metode penanaman berulang tanpa jeda musim tanam, sekaligus juga tanpa pikir panjang. Hal-hal tersebut memunculkan segurat kesimpulan dini bahwa intensifikasi pertanian selalu berbanding terbalik dengan keberlangsungan lingkungan hidup.

Iring-iringan awan melingkupi langit malam. Si lelaki muda merasakan belaian angin dingin, berasal dari kipas di langit-langit kamar. Derik jangkrik yang terdengar mengiang silih berganti terpenggal-penggal oleh pikirannya yang terus berloncatan dari satu persoalan ke persoalan yang lain. Suara alarm Hp membuyarkan pikirannya, berdengung di telinga yang membuat rasa damai di kamar asrama pelatihan itu sedikit demi sedikit menghilang. Dia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Batinnya berkata bahwa perasaan harus tenang, segala kusut sebaiknya memiliki intermesso, seperti iklan shampo dalam sebuah penayangan film di televisi. Di gesernya kursi plastik itu ke arah belakang, lalu dia bangkit dan berjalan ke depan teras kamar marmer putih.

Cahaya bulan di atas langit Marpoyan menguning. Angin berhembes pelan membawa hawa sejuk yang alami. Perlahan tapi pasti, hal itu mendinginkan suasana hati dan pikiran si lelaki muda yang sedari tadi menghabiskan waktu di depan laptop dalam biliknya. Beberapa saat kemudian, dia tak lagi dapat menahan keinginan untuk memejamkan mata. Alarm HP tadi adalah tanda jam tidur malamnya telah sampai pada batas akhir, jika tidak segera tidur maka lebih baik menunggu waktu sahur sekalian. Dia pun memilih menuju pembaringan, suara jangkrik mengiringi tidur dan melatari mimpi-mimpinya.

…

Pagi hari yang bersemangat. Kendaraan di jalan raya luar pagar balai pelatihan Marpoyan mulai menyemut. Hidup kembali harus dihidupkan, walau itu sekedar desahan nafas berat orang-orang yang beranjang ke tempat kerja, menggumuli aktifitas kerja mereka yang tak pernah ingin mereka lakukan. Perasaan bahagia dan kerja sepertinya memang tak akan pernah menjadi satu kesatuan.

Di dalam kelas, seorang widyaiswara tengah membahas sebuah konsep pengelolaan agroekosistem di lahan sawah. Para peserta tampak khusuk mendengarkan, kecuali si lelaki muda yang lebih memilih sibuk bergumul dengan ketikan di laptop bututnya. Adapun uraian pelajaran yang berhasil dirampungnya sebagai berikut. Sistematika proses belajar pertanian berawal dari identifikasi masalah usaha tani yang digeluti. Tindakan selanjutnya adalah menganalisa penyebab terjadinya masalah, sampai muncul beberapa alternatif sebagai upaya pemecahan masalah. Apapun gambaran secara umum solusi di bidang pertanian, sebaiknya kita mengetengahkan juga konsep pengelolaan agro ekosistem. Berhubung pelatihan kali ini adalah tentang padi, maka konsep pengelolaan agro ekosistem tersebut dititik beratkan penggunaannya pada lahan sawah. Tujuan utamanya adalah peningkatan produksi padi dengan tetap berada pada koridor keberpihakan kepada alam. Dalam hal tersebut, nilai pengelolaan keberlanjutan tidak bisa ditinggalkan dan tetap menjadi topik atau prinsip yang harus dikuatkan. Nilai ekonomis dan nilai ekologis menjadi berdampingan dalam melakukan aktifitas pertanian

.

Dalam prinsip agroekosistem, salah satu yang harus diperhatikan adalah unsur tanah. Tanah membutuhkan kesuburan untuk menumbuhkan tanaman di atasnya, salah satu asal kesuburan adalah dari bahan organik. Bahan Organik tanah merupakan bahan esensial yang tidak dapat digantikan dengan bahan lain didalam tanah. Perannya yaitu mempertahankan atau memperbaiki sifat fisik tanah baik tekstur maupun struktur tanah, mendukung kehidupan mikro organisme/makro organisme tanah dan sebagai sumber nutisi bagi hidup didalam dan di atas tanah. Jika diumpamakan dengan sistem sirkulasi dalam tubuh manusia, maka bahan organik  seperti darah di manusia, jika darah manusia rendah maka terasa pusing dan tidak bergairah, pucat dan lesu serta aktivitasnya rendah, begitu juga jika kandungan bahan organik tanah rendah maka tanah  jiwanya hilang sulit dan produktivitas tanah tersebut rendah.

Adapun upaya dalam menyediakan bahan organik di dalam tanah dapat ditempuh melalui dua cara:

  1. Pengembangan Mikro Organisme Lokal (MOL)

MOL adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal. Berbentuk  cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagi media hidup dan berkembangnya mikroorganisme. Berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau dekomposer. Berperan sebagai aktifator atau tambahan nutrisi bagi makhluk hidup yang sengaja dikembangkan dari mikroorganisme lokal.

Berdasarkan beberapa percobaan dan pengalaman, bahan-bahan yang dikembangkan tersebut diduga berupa zat yang dapat merangsang pertumbuhan dan zat yang mampu mendorong perkembangan tanaman seperti : zyberlin, sitoxinin, auxin dan inhibitor.

Adapun bahan yang digunakan untuk mengembangkan mikro organisme lokal tersebut salah satunya: limbah hijauan sayuran segar.

Peralatan :

Drum plastik ukuran 200 liter.

Plastik transparat 1 m2.

Bahan :

100 kg limbah sayuran hijauan (kol, cesin, vetsay, mentimun, bayam, kangkung dll).

Garam: 5 % dari berat bahan (5 Kg).

Gula merah: 2 % dari cairan setelah diproses selama 24 hari.

Cara Pembuatan :

Limbah sayuran hijauan diiris-iris hingga menjadi potongan-potongan kecil dan masukan kedalam drum plastik. Setiap lapisan setebal  20 cm ditaburkan garam sampai rata, lanjutkan dengan berlapis lapis  sampai bahan limbah sayuran habis. Tambahkan air cucian beras sebanyak 10 liter. Drum ditutup rapat dengan plastik  dan diatasnya diberi air sehingga tampak plastik cekung terisi air. Setelah 3-4 minggu baru dibuka, akan tampak cairan berwarna kuning kecoklatan, baunya segar dan jika diukur PH nya 3- 5. Tambahkan gula sebanyak 2 ons dan diaduk hingga rata.

Penggunaan cairan :

Pengomposan: jika akan digunakan untuk mempercepat penghancuran bahan organik, campurkan 1 liter cairan ditambah 10 liter air tawar, lalu tambahkan gula 2 0ns. Cairan pun siap disiramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan.

Penyemprotan pada tanaman :

400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar (1 tangki semprotan) dan diaduk rata. Semprotkan pada pagi atau sore hari (hindari sengatan cahaya matahari siang hari) pada berbagai jenis tanaman. Untuk tanaman padi, disemprotkan pada umur 10 hari, 20 hari, 30 hari dan 40 hari setelah tanam.

  • Pembuatan Pupuk Kompos

Kompos adalah bahan alami yang telah lapuk melalui proses penghancuran/penguraian oleh mikro organisme (bakteri) dengan waktu dan cara cara tertentu. Kompos yang berguna sebagai bahan  untuk memperbaiki  tekstur dan struktur tanah, mendukung kehidupan mikro dan makro organisme serta sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.

Prinsip Pengomposan:

Untuk mendapatkan kompos yang mempunyai kualitas yang baik, maka dalam pembuatannya melalui beberapa langkah dan pemahaman yaitu :

Bahan dipotong dalam ukuran kecil untuk mempercepat bakteri masuk pada bahan yang dikomposkan.

Pengomposan harus terlindung dari sinar matahari langsung dan air hujan .

Memperhatikan perbandingan bahan yang dikomposkan disesuaikan dengan kondisi C/N ratio dari bahan.

Mempertahankan sirkulai udara (aerasi) pada saat pengomposan.

Menjaga suhu agar tetap mendukung kerja mikroorganisme.

Menjaga kelembaban agar tetap optimal.

Membunuh biji-biji gulma yang muncul.

Membunuh sumber penyakit terutama patogen/sumber penyakit cendawan.

Meningkatkan kadar nutrisi bagi tanaman.

Proses Pembuatan Kompos:

Salah satu proses pembuatan kompos yang dikembangkan adalah metode pembuatan kompos dengan cara berlapis.

Bahan :

Sisa tanaman, hijauan, kotoran hewan, serbuk gergaji, Kapur (CaCo3), MOL.

Pembuatan/Penyusunan bahan :
Semua bahan yang besar-besar dan panjang-panjang di potong-potong/dicincang.
Letakan dan susun bahan-bahan diatas sebuah wadah/tanah yang terhindar dari genangan air.
Lapisan pertama letakan/sebarkan sisa tanaman seperti jerami setebal maksimal 40 cm.
Sirami dengan MOL hingga bahan dalam kondisi lembab (tidak terlalu basah dan tidak kering).
Letakan bahan organik lain dilapisan kedua, seperti serbuk gergaji, lalu sirami dengan MOL.
Lapisan ketiga letakkan kotoran hewan, sirami dengan MOL.
Lapisan keempat bahan lainnya dan terus diikuti dengan MOL.
Lapisan paling atas taburi kapur dengan rata, hingga mencapai ketinggian 1,2 m.

Pada saat menyusun bahan, letakan bambu yang pada ruas/bukunya dilubangi agar sirkulasi udara berjalan dengan baik. Jarak  antara bambu yang satu dengan bambu yang lain 1 m.

Jika perlu tutup dengan terpal untuk menambah kelembaban agar cepat terjadi proses penghancuran oleh mikro organisme.

Biarkan selama 3 hari, dan lakukan pengontrolan terhadap kelembaban dan suhu udara, jika terlalu panas atur suhu dengan membalikan bahan, jika terlalu basah tambahkan sekam padi, dan jika terlalu kering tambahkan MOL.

Selanjutnya tinggal menunggu kompos matang.

…

Di satu titik kejenuhan pada dunia kontemporer yang bergerak begitu cepat. Jiwa rapuh lelaki muda itu merindukan kampung yang dikelilingi pepohonan rindang. Sungai-sungai yang mengalir jernih dengan jarak yang cukup pendek dari jalan poros yang beraspal mulus. Ada yang berani bergerak maju ke depan, bicara lantang tentang pentingnya kembali ke alam, tentang perlunya menjaga keintiman dengan lingkungan. Beberapa cara telah diulas untuk mendaur limbah secara cerdas. Ada praktik pembuatan MOL, kompos, hingga pemanfaatan limbah buah dan sayuran untuk pupuk. Mereka bercita-cita adanya nilai tambah ramah lingkungan pada satu produk atau komoditas. Penekanannya ada pada  inovasi dan teknologi baru yang memperhatikan kelestarian alam, sehingga akan meningkatkan nilai tambah. Konsep ini ingin menerapkan apa yang disebut sebagai hasil produksi yang tak menyisakan limbah.

Sirine tanda berbuka puasa sebentar lagi akan berbunyi, si lelaki muda menyelinap dari balik pintu pagar UPT-PTPH yang terbuka. Plang nama dari beton itu diam membisu, cat hijau yang melumuri seluruh bagiannya telah luntur digerogoti usia. Di samping kiri dan kanan telah tumbuh secara sengaja juluran tanaman buah naga. Balai diklat Marpoyan selalu memunculkan ide baru, optimisme, hingga jentikan hasrat untuk terus coba menggapai impian. Mungkin setiap orang memiliki impian. Sebagian orang berusaha mewujudkannya, sebagian lain membiarkannya tergolek begitu saja sampai hilang ditelan zaman. Nyatanya sebaik-baik impian adalah yang bernilai sosial, bukan hanya orang per orang, namun perlu juga mendorong sebuah komunitas kecil untuk menggapai impian bersama. Sebuah impian anak manusia yang menyenyap pada malam yang kian sepuh.

Posting Komentar