Pelatihan Perikanan Air Tawar di Kepanjen

Malang The Rock City. Mungkin itu kalimat yang bisa menggambarkan isi kepalaku ketika bus yang kutumpangi melaju memasuki kota Malang, Jawa timur. Angin sepoi dari jendela kecil cukup memberikan kesegaran ketika bus melewati balai kota Malang. Sebuah air mancur dikelilingi rerumputan hijau bagai taman surga di tengah hutan beton perkotaan. Tampak muda-mudi dan masyarakat umum menikmati momen tersebut sambil duduk, berbincang dan berfoto. Sambil bersandar di kursi mobil, kupasang headset yang tersambung dengan mp3, mendengarkan beberapa lagu dari band rock asal Malang. Sound music mereka laksana merobek gendang telinga.

Berbagai referensi musik baik itu dari buku, majalah maupun situs internet telah merasuki kepalaku. Bahkan tanpa berkunjung sekalipun ke kota ini, sudah kuyakini sepenuh hati bahwa di era 90 sampai tahun dua ribuan, Malang adalah markas para band dan musisi rock berkarya. Di bidang musik, scene cadas kota Malang mungkin telah mengalami evolusi, melahirkan lembaran baru dan mungkin belum terputus sampai saat ini. Salah satu yang membuat anak-anak muda mereka begitu energik adalah mereka berani membuat sejarah berada di tangan mereka sendiri. Semangat seperti itu sepatutnya dimiliki juga oleh generasi sekarang ini. Kami datang ke Malang bukan untuk menyaksikan pagelaran musik, festival underground, gig, dan sebagainya. Kedatangan rombongan dalam bus ini adalah untuk mengikuti pelatihan, pada salah satu kecamatan di pinggiran kota Malang.

Semburat jingga menusuk langit di khatulistiwa. Kami pun akhirnya  tiba di tempat tujuan, sebuah kecamatan sebelah timur kota Malang. Desain arsitektur bangunan kuno masih tampak jelas pada bagian depan bangunan itu, genteng model lama, dinding depan jelas masih desain peninggalan Belanda, pintu dan jendela di beberapa bangunan mengingatkanku pada sebuah film drama di stasiun TVRI jaman dulu. Sebuah peninggalan yang mungkin tidak semua orang menyadarinya. Kantor UPT Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya, tertulis pada sebuah plang besi di depan bangunan ini. Lengkap dengan alamanya yaitu di Jalan Truno Joyo No. 12 Desa Panggung Rejo, Kecamatan Kepanjen-Kabupaten Malang.

.

Senin, 10 Mei 2015

Pagi yang cerah di sela diskusi ringan bersama pimpinan UPT PTPB Kepanjen. Disampaikan bahwa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kelautan dan perikanan Indonesia antara lain: Tantangan diberlakukannya Asean Free Trade Area (AFTA) dan Asean Economic Community (AEC), munculnya berbagai isu global seperti perubahan iklim global (global warming), liberalisasi perdagangan, food safety (bebas antibiotik, residu logam berat), serta semakin kuatnya tuntutan akan pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab.

Jam dinding di aula UPT menunjukan  pukul 08:30 WIB ketika protokol acara mengucapkan salam sebagai cara memasuki opening ceremony pagi ini. Setelah membacakan susunan acara, hadirin kemudian diminta berdiri lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat. Peserta dipersilakan duduk kembali, kemudian protokol memberi kesempatan kepada Kabid Kelembagaan dan Sumber Daya Penyuluh-Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Bengkalis untuk memberi kata sambutan.

“Kami datang dari tempat yang jauh, dari Kabupaten Bengkalis. Wilayahnya terdiri dari pulau-pulau dan adapula yang menyatu dengan main land pulau Sumatera. Kedatangan kami ke UPT Pelatihan ini adalah kali kedua dalam rangka pembinaan SDM petani maupun penyuluh pertanian. Kedatangan pertama kami pada tahun 2012 bekerjasama dengan dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Malang. Saat itu kami membawa pelaku utama yaitu petani, kedatangan kedua di tahun 2015 ini kami membawa peserta dari PPL berjumlah 20 orang.” Bapak Ir. Mohamad Fadhlan, M.Si membuka paparannya.

“Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan pengetahuan mengenai budidaya perikanan kepada para ujung tombak penyuluhan di lapangan. Para peserta yang kami bawa ada yang berlatar belakang perikanan sejumlah tiga orang, selain itu adalah penyuluh pertanian yang bertugas secara polivalen mencakup bidang perkebunan, pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan. Badan Ketahanan Pangan memiliki 72 penyuluh yang sersebar di delapan kecamatan yang ada di kabupaten Bengkalis. Letak wilayah yang masih sangat luas dan beberapa masih sulit terjangkau membuat keberadaan penyuluh belum bisa mencover kebutuhan semua desa. Masih ada PPL kami yang membina 5 sampai 6 desa, padahal kebutuhan kita adalah satu desa satu penyuluh.” Lanjut Pak Kabid yang datang bersama koordinator PPL Kabupaten Bengkalis.

“Kami berharap dalam kesempatan ini PPL kami diberi bekal, agar aktifitas budidaya perikanan yang ada dalam kawasan Bengkalis bisa lebih maju. Sebab sebenarnya sudah ada aktifitas budidaya perikanan air tawar tersebut, namun masih membutuhkan pembenahan dan penambahan pengetahuan. Petani, pembudidaya dan masyarakat umum membutuhkan suntikan informasi dan inovasi, misalnya budidaya ikan di pekarangan rumah. Kolam skala kecil ukuran 1×1 untuk pekarangan yang kecil mungkin bisa kita lakukan nantinya.” Sambung Bapak yang juga pernah bertugas di Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Bengkalis itu.

“Potensi perikanan di Kabupaten Bengkalis masih ada. Semoga dengan semangat dan disertai bekal dari pelatihan ini, ke depannya masyarakat kita bisa menikmati limpahan protein hewani dari bidang perikanan.” Tutup Pak Fadhlan bersemangat.

Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari kepala UPT-PTPB Kepanjen-Malang, Ir. Titik Shofiah.

“Terima kasih atas kepercayaan yang berikan kepada kami untuk mengadakan pelatihan budidaya ikan air tawar ini. UPT ini merupakan salah satu UPT yang memiliki tugas pokok memberi pelatihan teknis bidang budidaya perikanan. Selain memfasilitasi pelatihan, UPT ini juga memproduksi benih dan calon induk ikan nila, ikan mas, dan gurami. Sebagai kelengkapan budidaya ikan, kami juga memproduksi pakan dan probiotik.” Ujar ibu yang memakai jilbab warna coklat itu.

“Materi yang akan kami berikan dalam skup yang terbatas, dengan memilih materi pelatihan tertentu saja. Sebab jika ingin menguraikan budidaya perikanan air tawar secara lengkap membutuhkan waktu lebih dari dua minggu. Teknologi terbaru yang akan kami perkenalkan pada dua komoditi perikanan, yaitu lele dan nila, ditambah materi pelengkap nantinya. Mudah-mudahan dengan komposisi materi seperti itu pelatihan ini bisa fokus dan berjalan lebih maksimal.” Imbuh ibu itu sambil memperbaiki letak kacamatanya.

                “Kami menyadari bahwa para peserta pelatihan ini adalah para penyuluh yang sudah terbiasa di lapangan dan telah mengikuti berbagai macam pelatihan. Semoga ilmu dari sini bisa melengkapi pengetahuan dan bisa diterapkan bersama pelaku utama di tempat masing-masing. Kami juga menyadari fasilitas yang ada pada lokasi pelatihan ini masih jauh dari sempurna, terdapat berbagai kekurangan di dalamnya. Jadi kami mohon maaf bila nantinya ada hal-hal yang disajikan belum begitu lengkap. Dimohon pengertian dan kerjasama dari hadirin sekalian. Insyaallah tahun depan, sudah akan ada peningkatan sarana dan prasarana pelatihan di tempat ini.” Sambungnya ibu itu, yang juga menjelaskan bahwa UPT yang dipimpinnya secara struktur berada langsung di bawah kontrol UPT Provinsi Jawa Timur.           

“Akhir kata, selamat mengikuti pelatihan, semoga kita bisa sharing pengetahuan dan pengalaman dalam bidang budidaya ikan air tawar ini.” Tutup ibu Titik Shofiah lalu membuka secara resmi pelatihan.

Ujung dedaunan di depan aula pelatihan meliuk diterpa sang bayu. Opening ceremony dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan dari BKPP Kab. Bengkalis kepada UPT PTPB Kab. Malang. Penyerahan dan penerimaan bingkisan tersebut diserah terima kan langsung oleh kedua kepala instansi. Acara ditutup dengan pembacaan doa, agar kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar.

Coffee break. Dilanjutkan dengan materi ‘Pakan Mandiri Berbasis Bahan Lokal’ hingga ishoma.

13:30 WIB Peserta yang telah rehat lebih kurang satu seperempat jam kembali berjalan memasuki aula pertemuan. Di pintu masuk sudah ada dua orang petugas berpakaian dinas coklat muda. Sebelum peserta memasuki ruangan, dibagiakan tiga buah botol plastik. Dari jauh terlihat ketiga botol kecil tersebut masing-masing memiliki tutup yang berbeda, yaitu merah, biru dan hijau. Para peserta tampak kebingunan dan saling bertukar pendapat mengenai apa sebenarnya isi ketiga botol tersebut.

Tidak berapa lama pemateri pun tiba, seorang pria bertubuh gempal dengan kumis tebal melintang di atas bibirnya. Peserta kembali ke tempat duduk masing-masing, sebagian memilih posisi kursi di bagian belakang.

“Materi ini akan berjalan menarik, percayalah…” Kata bapak berbaju batik merah itu, meyakinkan peserta agar mengambil posisi duduk di bagian depan. Satu persatu mulai pindah lalu ruangan pun tenang kembali.

                “Bioteknologi telah menjadi keharusan zaman dimana telah ditinggalkannya penggunaan antibiotik lalu beralih ke penggunaan probiotik.” Mulailah Bapak Sublandri, S.pi menyampaikan materinya.

                Probiotik adalah suatu pakan tambahan berupa mikroba hidup yang dapat memberikan pengaruh mengutungkan terhadap inang dan lingkungan dengan cara memperbaiki keseimbangan lingkungan. Pak Andri, begitu dia sering disapa, menyampaikan materi dengan pembahasan yang mudah dimengerti. Misalnya menggunakan proses pembuatan tape untuk menjelaskan mengenai fungsi mikroorganisme. Selain materi di bidang perikanan, bapak kelahiran Blitar itu juga dengan senang hati memberikan materi fungsi probiotik di bidang perkebunan, pertanian pangan dan hortikultura.

“Kelebihan penggunaan probiotik khususnya bagi budidaya perikanan yaitu, mengurangi biaya pakan hingga 50%, tidak menimbulkan bau tidak sedap, ikan yang dihasilkan tergolong organik, perkembangan usaha budidaya lebih cepat.” Ujar pegawai di yang mulai bergelut di dinas perikanan sejak 1994 itu.

Hampir empat jam pak Sublandri menjelaskan mengenai probiotik dengan berbagai fungsi dan kelebihannya. Salah satu yang diperkenalkannya adalah tiga buah produk probiotik yang diberikan kepada peserta sebelum masuk ke ruangan. Menurut penuturannya, probiotik tersebut adalah satu-satunya produk lokal yang berstandar nasional dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Materi yang sangat lama tersebut memang sangat menarik perhatian peserta, hingga tidak terasa waktu habis dan materipun dihentikan. Sesuai kata Pak Andri di awal pertemuan, materi bioteknologi probiotik sangat menarik, hampir semua peserta memperhatikan materi tersebut dengan seksama.

Perlahan lembayung turun pada puncak gunung, menghening di ujung senja…

…

Optimisme membuncah ketika ada kegiatan pelatihan seperti ini, namun tidak sedikit juga nada pesimisme menghinggapi. Salah satu nada minor yang terdengar bahwa selama ini telah banyak pelatihan yang diberikan kepada pelaku usaha maupun petugas lapangan, dianggap masih kurang efektif. Salah satu tolok ukur adalah aplikasi sekembalinya peserta ke daerah belum optimal. Harapan tinggi bahwa para peserta pelatihan bisa menggagas perubahan di tempat masing-masing masih menunggu waktu dan berjalan sedikit lambat. Hal tersebut sebenarnya masih bisa diperbaiki dengan memicu implementasi hasil pelatihan pada sektor usaha yang dipelajari.

Keberhasilan transformasi ilmu pengetahuan dan alih teknologi tidak bisa dipungkiri menuntut keberadaan dan peran para penyuluh lapangan. Rencana di belakang meja tentu saja akan berakhir di atas kertas jika tanpa pihak yang terjun langsung mendorong perubahan di tingkat akar rumput. Pemerintah masih memerlukan agen peningkatan kapasitas, pengetahuan dan skill petani (secara umum), melakukan pendekatan di wilayahnya secara dialogis dan transformatif. Tidak lupa tentunya yang utama adalah peran dan dukungan rekan seperjuangan mereka, para petani. Seperti pengalaman sejauh ini, kucuran dana pemerintah dan dukungan infrastruktur bukanlah segalanya, merangsang daya kritis petani untuk belajar secara mandiri dan bekerjasama di antara mereka lebih penting.

…

Udara lembab dan dingin menggerayangi pinggiran Kabupaten Malang, hujan lalu turun di sekitar balai pelatihan Kepanjen. Pelatihan masih bersisa beberapa hari lagi, dibutuhkan stamina prima dan konsentrasi tinggi agar hasil capaian bisa maksimal. Pada jadwal pelatihan yang tertempel di dinding kantor, masih ada sesi field day yang menunggu, juga trip panjang yang melengkapi perjalanan pelatihan ini. Tetap semangat, Rock on.

Posting Komentar