Langit semakin biru.
Tanah setengah gambut yang dipenuhi ilalang dipetak-petak berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang. Para petani sudah tahu kapan akan turun menjamah tanah untuk kami, maju bersama peluh dan keringat yang bercucuran di pori-pori baju mereka yang berlumpur. Pertemanan kami begitu akrab, tak pernah berubah sejak ratusan tahun yang lampau sejak kami saling bertemu. Kami dimuliakan oleh mereka di atas tanah subur desa itu. Mereka berangkat dengan doa, bertolak dengan kesederhanaan, membawa bekal perut yang tersisa sejengkal. Mereka datang hanya membawa kayu dan besi tua. Tongkat, cangkul dan sabit.
Orang-orang yang mendiami pulau kecil ini menyebut kami si Gogo. Setahun sekali kami tumbuh di atas ladang-ladang mereka, bersaing dengan pokok getah dan sawit yang ditanam beberapa tahun belakangan. Kadang kami tumbuh hanya beberapa meter dari rumah-rumah mereka yang jumlahnya tak seberapa. Kami menyediakan diri sebagai sumber pangan, menghidupi tubuh-tubuh ringkih hingga dingin tidak pernah lagi membekukan mimpi-mimpi mereka.
Jumlah penghuni pulau kian bertambah, tanah semakin susut, maka mereka mulai menaklukkan alam, mengekor tingkah petani di negara industri. Handtraktor, ripper, power treasher, bermanuver tanpa henti mencacah tanah peninggalan nenek moyang mereka. Di saat yang sama, sahabat yang pernah menanam kami dengan tangan dingin, satu persatu mulai pergi.
***
Engkau di situ, berdiri mematung berpayung pagi. Gadis kecil pembawa balon yang kukenal beberapa minggu ini. Engkau datang bersama ayahmu yang mengikuti sekolah lapangan di saung tani. Setiap mereka turun ke sawah, engkau ikut bermain dan menari di ladang padi. Ayahmu dan teman-temannya belajar tentang bumi, engkau berlari dan melompat bagai putri. Balon warna warni kau pegang di tangan kiri, angin mengibas rambutmu yang panjang terurai. Saat petani kembali ke saung tani, engkau tetap di sini, menceritakan kepadaku tentang apa yang mereka pelajari.
Begini jalannya sekolah lapangan itu.
”Setiap pagi, bapak-bapak tani mengisi tiga kotak berwarna hijau, jingga dan kelabu. Setiap kotak diisi sesuai perasaan mereka, jingga jika senang, hijau kala biasa, dan kelabu kala sedih.”
Kata kakak berbaju oranye tempo hari, ”Pengisian sesuai perasaan petani, agar mudah mengatur acara yang sesuai. Jikasedangsedih, kami pacu dengan semangat terlebih dahulu.”
”Beberapa saat kemudian, mereka akan berkelompok menuju ke sawah. Padi menghijau yang sudah tertanam di lahan, dipetak dan diberi tanda, sepuluh patok kayu yang disusun zig zag. Petani akan mengamati perkembangan dan menghitung rumpun yang ada di sekitar patok itu, mereka juga memperhatikan hama yang melekat. Hewan penggangu padi, mereka masukkan ke dalam botol kaca kecil.” Ceritamu begitu meyakinkan.
”Sudah tiga minggu mereka membuat sesuatu, apakah engkau tahu?” Tanyaku.
“Entahlah, aku tidak tahu.”
“Kulihat mereka membawa bahan untuk itu.”
Dari wajahmu terlihat seperti mengingat sesuatu.
“Kemarin aku memungut dua kertas tercecer, mungkin mengenai apa yang mereka buat itu.” Engkau, si gadis kecil mengeluarkan sesuatu dari saku baju.
“Walau tidak terlalu lancar, akan kubacakan untukmu ya…” Ucapmu seperti merayu.
| Cara Membuat Bokashi Pupuk Kandang Campurkan sekam serbuk gergaji, pupuk kandang dan dedak secara merata.Larutkan gula/molasses ke dalam air.Tambahkan EM 4 ke dalam wadah.Siramkan larutan tersebut pada campuran bahan, lalu aduk agar masuk ke dalam rongga-rongganya.Terus aduk sampai kandungan air mencapai 40-50% (tandanya bila campuran dikepal, tidak mengeluarkan air dari sela-sela jari dan bila dilepas tidak megar).Campuran diundukkan di atas plastik/goni dengan ketinggian 20-30 cm kemudian dibungkus.Pertahankan suhu campuran mencapai 40-50 C (jika diraba dengan telunjuk pada adonan yang paling bawah maka telunjuk kita terasa panas).Lakukan pengecekan setiap 5 jam.Kompos siap digunakan setelah 72- 104 jam. (3) |
| Cara Membuat Pestisida Nabati Bahan utama pembuatan pestisida nabati kali ini adalah tanaman gadung. Gadung merupakan tanaman umbi yang banyak ditemukan di Pulau Rupat. Sasaran yang akan kita kendalikan adalah walang sangit dan ulat hama padi. Bahan : Gadung sebanyak 1 Kg dan Air secukupnya. (4) Cara Membuat: Gadung dikupas, dicuci dan diparut lalu diperas dengan kain bersih.Air perasan itulah yang mengandung racun dengan dosis 5 – 10 ml / liter air.Kocok terlebih dahulu sebelum digunakan.Larutan disemprotkan ke lahan.Serangga mati dalam 1 -2 jam, ulat mati dalam 5 – 6 jam. (5) |
Langit begitu luas, biarkan tabir kegelapan itu terbuka.
”Dari secarik kertas yang engkau bacakan, aku tahu para petani diajak untuk kembali ke alam, seperti sahabat terbaikku dahulu berlaku demikian.” Ujarku ketika melihat wajahmu yang kebingungan.
”Maksudnya apa?” Tanyamu.
”Petani dahulu tidak sekalipun menggunakan bahan kimia, mereka menyaksikan sendiri bahwa untukku tumbuh, tidak perlu pupuk dan racun. Di punggungku yang terjuntai bulir-bulir keemasan sama sekali tidak mengandung bahan yang membahayakan tubuh mereka. Saat mereka kembali dengan membawa karung goni, di punggungku telah menjuntai ribuan manik-manik yang merunduk.”
”Maksudmu padi yang biasa bapak bawa pulang ke rumah?” Tanyamu lagi dengan mata yang berbinar.
”Iya. Tahukan engkau, wahai gadis kecil pembawa balon, bahwa petani tidak perlu risau akan kehabisan padi, karena benihku sangat tahan lama dan bisa ditanam kembali kapan pun mereka suka. Engkau mungkin akan menanamku suatu hari nanti.”
Engkau mengangguk, sepertinya paham akan hal yang kubicarakan. Yang kutahu, padi bukanlah sesuatu yang asing untuk anak-anak desa yang tinggal di sekitar sawah dan ladang sepertimu. Anak-anak kecil di kota tidak pernah melihat kami, mungkin pandangan mereka hanya sampai pada onggokan karung beras yang tidak mereka tahu asal-usulnya. Padahal sebelum kota itu berdiri dengan angkuh, aku juga pernah berada di sana. Dengan penuh penderitaan, kami terusir dari atas tanah, berganti beton dan jalan raya. Sahabatku kehilangan tanah, menjadi kuli di tengah hingar bingar kota.
***
”Hari ini mereka membawa balon, begitu banyak warna…” Engkau terlonjak pada suatu hari yang cerah.
Si gadis kecil tidak meneruskan cerita itu, sepertinya keinginan untuk bergabung bermain balon bersama petani lebih kuat daripada bercerita. Engkau berlari menyusuri pematang sawah untuk bergabung dengan para petani. Di sela tawamu yang renyah itu masih bisa kudengar seorang lelaki muda berkata,
”Bapak-bapak sekalian, permainan-permainan dalam dinamika kelompok adalah latihan, sebuah pengalaman nyata yang dapat membantu kita mempelajari tentang diri sendiri, membangun hubungan sesama anggota, dan bagaimana menjalankan fungsi-fungsi kelompok.”
Kemudian suara itu menghilang ditelan gelak tawa kalian bermain balon. Sudah lama tidak mendengar tawa para petani seperti itu, begitu lepas dan bahagia.
Selama ini para petani dirundung begitu banyak duka. Di sela mereka menunggui burung yang mengganggu padi, kudengar keluhan dan kegelisahan mereka. Tentang kawan-kawan mereka yang berhenti menanam padi, tentang cuaca yang tak lagi bisa mereka prediksi, tentang hama yang menyerang tanpa henti, tentang mimpi-mimpi mereka yang tak mampu terbeli.
***
Langit memerah di balik rimbun daun kelapa.
Perahu-perahu kayu itu tak lagi kokoh, kendaraan petani yang membawa kami kemari, ke semenanjung Malaka yang hangat bermentari. Dulu pohon-pohon besar tumbuh lebat di dalam hutan rimba, sekarang pohon kelapa saja sudah begitu rendah, seperti hendak rebah. Lengkungnya mengarah ke laut lalu jatuhkan buah, hanyut menjadi tumbuhan baru mengelilingi pulau tua.
Engkau datang lagi. Kali ini diam menunduk. Matamu terpejam seperti menahan sesuatu, air mata yang terbendung karena haru. Senja menjadi hening, engkau menjejakkan kaki kecilmu di atas helai rerumputan.
“Aku takut kita tidak akan berjumpa lagi…” Ucapmu dengan suara kecil yang serak. Tanpa bisa dicegah, air matamu berjatuhan di dua sudut yang menyipit.
“Perpisahan itu hal yang biasa. Hampir semua orang pernah mengalaminya.”
Engkau merapat begitu saja, menyentuhkan pipi montokmu ke bulirku yang hampir matang. Balon warna-warni engkau lepas, biar terbang bebas ke alam bebas. Lalu kubisikkan kata dengan pelan,
”Engkau harusnya bergembira, sebab panen akan segera tiba…”




Posting Komentar