“Jangan berharap mereka akan akan berpartisipasi dalam pembangunan pertanian, jika para petani sama sekali tidak diikutkan dalam proses perencanaan yang menyangkut hajat hidup mereka itu.” (Anonim, 2014)
Di sebuah sumur belakang rumah, terdengar percikan air menghentak dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Pemuda itu menghentikan gerakan lengannya lalu mendongak ke atas, puluhan kera berukuran besar dan kecil sedang bergelantungan di dahan-dahan pokok getah. Suara mereka terdengar keras dan garang sambil terus melayang dari satu pohon ke pohon lainnya bagai ninja. Diangkatnya ember yang telah penuh dengan air itu, lalu kembali menggumuli cucian pakaian yang menumpuk. Sesekali ia menampari kakinya sendiri, coba menghalau dan menghempas mahluk kecil bermoncong runcing di sekitarnya. Nyamuk di pagi hari ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rumahan di malam hari. Dia lalu membayangkan betapa ganasnya makhluk kecil bersayap itu, saban pagi menyetubuhi kulit para menyadap karet nun jauh di pedalaman rimba sana.
Pukul 08:00 pagi, setelah berkemas, si pemuda lalu naik ke atas motor plat merah keluaran tahun 2005 milik dinas perkebunan. Sebelum berangkat, dia menarik napas dalam-dalam lalu membaca sebait doa agar dapat melegakan dadanya. Tak berapa lama, dipacunya motor jantan itu ke arah aula pertemuan. Baju biru muda bertulis “PPL Rupat-Rupat Utara” yang dikenakannya tampak kusut, entah terkena angin atau memang tidak disetrika. Caranya memacu kendaraan seperti pemula, dari tarikan gas dan kopling sama sekali tidak mencerminkan pengendara yang cakap apalagi lihai. Namun begitu, akhirnya sampai juga di tujuan, diparkirnya kendaraan itu asal-asalan lalu terburu-buru masuk aula. Di dalam ruangan, diraihnya sebuah kursi plastik paling depan lalu duduk nyaman, bahkan dia sampai lupa untuk salaman.
Budak selekeh…
***
Pertemuan penyuluh pertanian adalah ajang evaluasi sederet kegiatan yang PPL sibuki selama sebulan penuh. Biasanya objek paparan dalam pertemuan ini adalah perkembangan pertanian di masing-masing wilayah binaan penyuluh. Pertemuan ini adalah ruang serius namun senantiasa membuka kesempatan leluasa dalam berfikir dan berdiskusi tentang beberapa bagian kecil perkembangan kerja. Tidak lupa tentunya berbagi semangat serta memancang tekad untuk berbuat hal-hal nan sederhana sebagai jalan menuju kedaulatan pangan di pulau tempat PPL bertugas.
Sekretaris Camat Rupat, Bapak Fahrizal S.Stp membuka secara resmi pertemuan bulanan penyuluh pertanian kecamatan rupat-rupat utara. Pertemuan itu mengambil tema “Strategi Mengelola dan Mengembangkan Kelompok Tani”, diselenggarakan oleh Balai Penyuluh Pertanian Kec. Rupat-R.Utara. Ibukota kecamatan Rupat, yaitu kelurahan Batupanjang menjadi tempat dilaksanakannya acara, tepatnya di kantor terpadu UPTD se-Kecamatan Rupat.
Dalam kata sambutan Pak Sekcam yang identik dengan kaca mata hitam, menyampaikan secara singkat potensi sumber daya alam yang ada di Kecamatan Rupat, khususnya bidang pertanian dan perkebunan.
“Sebenarnya hampir sama dengan daerah lain di Riau dan Bengkalis khususnya, potensi terbesar yang dikelola masyarakat di Pulau Rupat adalah perkebunan. Karet dan sawit masih mendominasi di pulau ini, namun kami dari pemerintah kecamatan berharap ada juga peningkatan dari komoditas pangan. Seperti contonya palawija, masing sangat kurang ditanam oleh masyarakat kita, jadi masih memasok kebutuhan itu dari Dumai.” Kata Pak Fahrizal.
Pertemuan penyuluh dengan seluruh stakeholder terkait bidang pertanian dan pemerintahan seperti ini, menjadi semacam awal satu potongan fase kerja yang belum selesai. Seperti yang telah disampaikan salah satu pemangku kepentingan di Kecamatan Rupat tadi, ketahanan pangan belum sepenuhnya bisa terwujud di Pulau Rupat.
Belum sampai tiga tahun belakangan, beberapa anak muda Pulau Rupat secara intensif mengambil peran untuk memacu pembangunan bidang pertanian dan provokasi ketahanan pangan. Mereka menggelar acara panen raya, mendampingi kelompok tani dalam pertemuan, mengikuti penanaman padi dan palawija, membantu penyaluran pupuk bersubsidi, hingga menyebarkan beberapa jenis media penyuluhan ke masyarakat. Dari hal-hal tersebut mudah-mudahan bisa muncul kesadaran bersama soal betapa pentingnya ketersediaan pangan yang mandiri. Tentunya tidak bisa tercapai dalam waktu sekejap, butuh kerja sama, kerja keras dan semangat seiring perjalanannya yang bertahap.
Pada pertemuan kali ini, sederet penggiat pertanian, peternakan dan perikanan di kec. Rupat berkenan hadir, diantaranya ketua gapoktan, ketua dan anggota kelompok tani, kepala uptd, serta seorang tamu yang spesial dari propinsi, yaitu Ir. Syafri dari Badan Koordinasi Penyuluh (BAKORLUH) Provinsi Riau. Dalam penjelasan materi setelah pembukaan dan coffee break, beliau memaparkan panjang lebar mengenai bagaimana mengelola dan mengembangkan kelompok tani. Materi yang dibawakannya melalui slideshow cukup mendetail, ditambah pengalamannya yang sudah lebih 30 tahun di bidang penyuluhan.
“Kelompok tani adalah kumpulan petani, peternak, atau pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan seperti bidang sosial, ekonomi, dan sumberdaya, serta keakraban dalam mengembangkan usaha bidang pertanian secara umum.” Pak Syafri membuka paparannya.
“Ketika membangun sebuah organisasi tani, berarti individu-individu yang ada telah sadar bahwa memajukan dunia pertanian tidak mungkin dilakukan seorang diri, halus melalui kekuatan bersama yang terorganisir dengan baik. Kelompok tani harus menjadi satu kekuatan sosial, tempat petani berbagi rasa, menjalin kerjasama, melatih kemampuan berorganisasi, hingga nantinya bisa mengerakkan para petani lain dalam mengelola sumberdaya yang ada.”
Secara sederhana, beliau menyarankan agar setiap kelompok tani memperhatikan secara seksama prinsip-prinsip pengembangan kelompok tani. Hal ini berguna untuk menjadi pijakan dalam mendorong kelompok agar lebih maju. Penumbuhan Kelompok tani didasarkan kepada prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Kebebasan, artinya menghargai para individu/petani untuk berkelompok sesuai keinginan dan kepentingannya. Setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan serta memilih kelompoktani yang mereka kehendaki sesuai dengan kepentingannya. Setiap individu dapat menjadi anggota satu atau lebih dari kelompoktani.
- Keterbukaan, artinya penyelenggaraan penyuluhan dilakukan secara terbuka antara pelaku utama dan pelaku usaha.
- Partisipatif, artinya semua anggota terlibat dan memiliki hak serta kewajiban yang sama dalam mengembangkan serta mengelola poktan (merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan melakukan evaluasi).
- Keswadayaan, artinya mengembangkan kemampuan penggalian potensi diri para anggota dalam penyediaan dana dan sarana, serta pendayagunaan sumberdaya guna terwuju dnya kemandirian poktan.
- Kesetaraan, artinya hubungan antara pelaku utama dan pelaku usaha harus merupakan mitra sejajar.
“Selain itu, para petani dan penyuluh juga harus memperhatikan aspek lokal dalam masyarakat, sebab pengembangan kelompok tani harus terinisiasi dari pondasi masyarakat itu sendiri. Itulah kunci dari strategi membina dan mengembangkan kelompok tani, supaya tumbuh lebih kuat dan memiliki bargaining power pada pengembangan dunia pertanian.” Tutup Pak Bakorluh.
***
Si pemuda mendorong motornya keluar dari area parkir UPTD, siang hari di Pulau Rupat yang panas. Diengkolnya tuas besi samping kanan motor itu beberapa kali lalu terdengar prepet-prepet bunyi knalpot. Dipacunya lagi dengan kecepatan sedang melewati jalan berlubang, sengaja dipilihnya jalan lurus itu daripada harus berbelok dan kehilangan arah. Bukan sebulan-dua bulan dia berdiam di pulau seluas seribu limaratus meter persegi itu, tapi baginya pulang ke rumah bercat hijau tanpa tersesat adalah sebuah pencapaian tersendiri.
Muka yang kotor dan kusam itu dibasuhnya dengan air sumur yang dingin, sementara bangunan sebelah yang berdinding semen masih sepi. Diambilnya handuk yang bergantung pada tali jemuran besi lalu mengusap wajahnya. Hatinya risau, sepertinya ada sesuatu yang terlupa. Diperiksanya kembali dokumen yang tadi dibawanya dari kantor, ternyata lengkap. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang telah direncanakan tapi belum dikerjakan. Terkaget-kaget dirinya kala handphone sebesar buah mangga itu berdering kencang, bosnya belum diantar ke pelabuhan! Hee…



Posting Komentar