Pengembangan Pertanian Areal Gambut

Sabtu, 6 September 2014

Pukul 19.15 WIB

            Malam mulai merangkak naik, cahaya sang surya berangsur–angsur meredup. Di dalam rumah saya yang bercat putih, satu persatu saklar lampu saya tekan agar ada penerangan.

            Di ruang keluarga, saya duduk sambil menikmati informasi terkini yang disuguhkan salah satu stasiun televisi nasional. Beritanya sangat bervariasi, tentang pejabat tersangkut korupsi, isu kenaikan bahan bakar minyak, politik nasional, kasus-kasus asusila hingga setumpuk cerita lainnya yang membuat kita masyarakat awam, sulit menilai dan memilah manakah yang benar dan manakah yang salah.

      Presenter televisi itu masih membacakan intro berita.

            “Pemirsa, tim transisi pemerintahan saat ini sedang di susupi oknum oknum tertentu yang menjanjikan kepada calon korbannya untuk diangkat menjadi menteri pada pemerintahan Jokowi – JK.”

Belum selesai presenter membacanya,  terdengar deringan handphone sebagai tanda ada panggilan masuk, setelah melihat nama penelepon saya lalu mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum.” Sapaku.

“Wa’alaikum salam.” Jawab si penelon di seberang sana.

Diapun melanjutkan perkataannya,

“Saya sudah sampai di kota Dumai, bila ada waktu kita bisa bertemu untuk mempersiapkan rencana kegiatan besok pagi. Sambil menikmati makanan atau minuman malam ya.”

“Oh, iya pak. Insyaallah. Terima kasih pak.” Jawabku.

Pukul 20.35 WIB

            Dengan mengendarai sepeda motor berwarna hitam itu, saya meluncur ke tempat yang sudah dijanjikan. Akhirnya dengan waktu yang tidak begitu lama sayapun sampai, namun sedikit kebingungan mencari orang yang akan saya temui. Maklumlah, sudah 14 tahun kami tidak pernah kontak dan komunikasi.

“Kira-kira yang mana ya orang yang telah menelepon saya tadi?” Begitu dalam batin saya.

Mencari-cari lewat pandangan, sayapun memberanikan diri untuk menyapa seseorang yang mungkin saya kenal.

“Halo Pak Edwar apa kabar?”

Orang yang saya sapa lalu menjawab, “Eh, Pak Enrawan. Alhamdulillah baik.“

Di dalam hati saya berkata, “Syukurlah orang yang saya sapa sama dengan yang telah menelepon sebelumnya. Coba kalau salah, malunya minta ampun…”

Saya pun menyalami satu persatu. Mereka adalah satu rombongan dari tim Pengkajian Pola Pengembangan Pertanian pada Areal Tanah Gambut di Kabupaten Bengkalis. Tim ini hasil kerja sama Fakultas Pertanian-Universitas Riau dengan Badan Penelitian dan Pengembangan-Provinsi Riau.

Pukul 21.00 WIB

Kami berbincang di lobi hotel tempat tim menginap, kemudian kami lanjutkan di salah satu kedai bandrek. Setelah cukup lama bercengkrama, antara saya dengan tim yang datang itu terasa sudah cukup akrab. Mereka terdiri dari Dr. Ir Rosnita, MP selaku ketua, Ir. Antony Hamzah, MP, Ir. Edwar, MP sebagai anggota. Mereka adalah para dosen saya dahulu di Fakultas Pertanian Universitas Riau.

Kami terus mematangkan rencana kegiatan untuk hari esok, saling berdiskusi dan berbagi pendapat. Di dalam tim itu turut hadir seorang pegawai dari badan LITBANG Provinsi Riau, juga dua orang asisten dosen bernama Meiki, SP dan Fauzi, SP, yang terakhir seorang dara manis bernama Nina yang masih berstatus mahasiswi FAPERTA UNRI. Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB, setelah semua rencana rampung, saya pamit pulang.

Minggu, 7 September 2014

Pukul 08.30 WIB

Di muara sungai Dumai, sebuah speed boat dengan nakhodanya sudah siap menghantarkan kami ke lokasi yang akan dituju. Air pasang dan alunan ombak menyambut kami setelah keluar dari muara sungai, kemudian perahu cepat itu menyisir garis pantai yang panjang pada sebuah pulau. Selama dalam perjalanan, kami menikmati pemandangan indah rerimbunan tanaman bakau, namun ada juga beberapa garis pantai yang terkena abrasi. Pulau yang kami tuju adalah Pulau Rupat, tepatnya di daerah Teluk Indah Desa Teluk Lecah. Lokasi itu masuk ke dalam wilayah Kecamatan Rupat-Kabupaten Bengkalis, kami tempuh dalam masa perjalanan sekitar 1,5 jam.

Pukul 10.15 WIB

Speed boat itu lalu ditambat, satu persatu kami menaiki tangga pelabuhan. Di atas sana, sudah menunggu anak-anak muda dan pelaku utama pertanian. Rupanya mereka telah siap menghantarkan tim ke lokasi pengkajian lahan gambut. Lokasi tersebut cukup dekat, hanya sekitar sepuluh menit kami telah sampai. Hamparan padi yang sebagian besar sedang bunting menyambut kami.

Pak Nasirin, salah seorang yang menjemput kami mulai bercerita bahwa dahulu lokasi ini memang areal tanaman padi, namun semakin tahun hasilnya terus menurun,  hingga akhirnya masyarakat tidak menanam padi lagi. Pak Nasirin yang juga merupakan ketua kelompok tani itu mengisahkan, bahwa dahulu petani di Desa Teluk Lecah ini menggunakan sistem tanam yang cukup sederhana. Lahan dibersihkan lalu ditanam dengan padi lokal. Pemeliharaannya juga tidak rumit, cukup membersihkan rumput tanpa harus dipupuk. Menurutnya hasil panen waktu itu bisa mencapai 60-80 tim perjalur.

Petani lain bernama Pak Ali menambahkan cerita tersebut, setelah sempat vakum cukup lama, lahan padi itu buka kembali. Pemicunya adalah program pemerintah yang bertajuk ‘cetak sawah baru’ yang dimulai tiga tahun yang lalu (Tahun 2011). Di dalam program ini, pemerintah menyediakan benih, pupuk dan saprodi, hingga petani bisa menanam padi kembali.

Sambil berdiskusi, beberapa diantara anggota tim mulai melaksanakan tugasnya. Ada yang mengambil sampel tanaman padi, contoh tanah dan kondisi petakan sawah. Sebagian lagi ada yang menggali data dari petani, ada yang mendokumentasikan, dan adapula yang mengambil data lain yang dibutuhkan oleh tim. Setelah pengambilan data lapangan, kami melanjutkan diskusi di rumah salah satu warga, letaknya yang paling dekat dengan lokasi pengamatan.

Acara tersebut berlangsung sedikit formal, diskusi dibuka oleh Arief Edy Santoso, S.Pt, selaku Penyuluh Pertanian Lapangan di desa Teluk Lecah. Lalu dilanjutkan dengan sambutan ketua tim, ibu Dr. Ir Rosnita, Mp. Beliau menyampaikan bahwa tujuan kegiatan yang sedang berlangsung ini adalah mengidentifikasi kawasan pengembangan pertanian pada areal gambut. Diharapkan nantinya tercipta suatu kawasan pengembangan pertanian, yang mampu menciptakan dan memperluas lahan pertanian baru.

“Jika nantinya terjadi peningkatan produksi dan produktifitas lahan, akan dapat meningkatkan pendapatan petani di area gambut. Di samping itu, juga dapat memberikan kesempatan kerja yang luas kepada masyarakat dalam kerangka umum peningkatan kesejahteraan rakyat.” Jelas Ibu Rosnita.

Para peneliti silih berganti memberikan pencerahan kepada pelaku utama. Pada kesempatan itu juga, Ir Antony Hamzah, MP memberi penjelasan mengenai ciri-ciri lahan gambut.

”Untuk mengetahui bahwa tanah itu jenis gambut, bisa dilihat dari banyaknya tumbuhan pakis yang hidup di atasnya. Jika salah satu ciri itu terlihat, maka sudah bisa diprediksi bahwa tanah itu asam dan bisa saja mengandung senyawa beracun bagi pertumbuhan tanaman. Para peneliti biasa menyebut senyawa itu dengan nama asam humat.” Jelas Pak Antony.

Ia menambahkan bahwa untuk mengurangi asam humat tersebut, perlu ada perlakuan khusus pada tanah. Beberapa tindakan bisa dilakukan, misalnya dengan pencucian tanah, caranya dengan mengalirkan air pada tanah yang mengandung asam lalu dikeringkan. Yang kedua bisa dengan memberikan kapur sekitar dua minggu sebelum tanam, yang terakhir memberikan campuran pupuk kandang pada tanah. Bila tanah yang asam sudah di perlakukan dengan baik, maka selanjutnya adalah melakukan usaha tani sesuai anjuran. Baik dari segi penanaman (jarak tanam, waktu tanam, jenis tanaman atau varietas), kemudian pada bidang pemeliharaan (pemberian pupuk 4 tepat, yaitu tepat jenis, waktu, cara dan tepat dosis), yang terakhir pengendalian hama dan penyakit.

Pemberi materi akhir adalah Bapak Ir.Edwar, MP selaku ahli tanah. Beliau menyampaikan bahwa di dalam tanah perlu tersedianya unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Pada tanah yang bergambut, ketersediaan unsur hara masih tergolong sedikit, sehingga akar tanaman tidak dapat menyerap makanan secara maksimal. Sedikitnya mineral-mineral yang terserap oleh tanaman bisa mengakibatkan pertumbuhannya menjadi kurang subur.

“Pada lahan-lahan gambut, terdapat unsur besi yang tinggi. Unsur ini bila dalam keadaan terendam tidak menjadi racun tanaman. Akan tetapi bila dalam keadaan air tanah turun, maka ia dapat menjadi racun. Untuk itu kita perlu menjaga ketinggian air di dalam tanah, salah satu caranya adalah dengan membuat pintu klep otomatis. Artinya bila kondisi air melimpah ia akan keluar dengan sendirinya. Begitupun bila musim kering tiba, stok air yang ada dapat menjaga ketersediaan air tanah di lahan-lahan pertanian.” Pak Edwar menambahkan penjelasan sekaligus menjadi penutup rangkaian diskusi.

Tidak hanya penjelasan dari para narasumber, di sela itu para petani yang hadir tampak antusias untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Pengalaman mereka di masa lampau memberikan masukan mengenai detail mengelola lahan gambut menjadi area pertanian. Para pemateripun cukup terkesan dengan pengetahuan mereka tentang pertanian padi, walau itu masih berbalut dengan cerita mistis. Ajaran turun temurun bagaimana petani terdahulu mengelola pertanian menjadi semacam aturan tak tertulis yang senantiasa diikuti. Dari berbagai tradisi tani yang ada di dalam masyarakat, terkandung kearifan lokal tentang kehidupan manusia yang selaras dengan alam.

Setelah berdiskusi, acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan makan siang. Saya merasakan ikatan awal yang terbangun antara tim peneliti dengan para petani sangatlah akrab, penuh dengan nuansa kekeluargaan.

Hingga akhirnya lambaian tangan kami dari dalam perahu menjadi tanda perpisahan dengan mereka yang masih berada di atas dermaga. Kami hanya berpisah tempat, seperti halnya kami berpisah raga dengan para petani di berbagai tempat di Nusantara ini. namun tetap satu dalam memperjuangkan tersedianya kebutuhan bahan pangan. Sebuah keyakinan yang dijalankan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang

Wahai para pejuang tani di berbagai kelompok yang mandiri,
Mari kobarkan semangat demi kedaulatan pangan di setiap tempat!


Enrawan, SP
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan
Kecamatan Rupat dan Rupat Utara

Posting Komentar