Kami singgah di sebuah rumah dekat simpang jalan, kala sore disapu warna matahari oranye. Saya ditemani Ibnu Sabil, Ismawati dan Pak drh. Jejen Sudrajat. Kami berempat berniat melihat langsung proses pembuatan gula kelapa di Tanjung Kapal. Senja kala itu cukup damai dan teduh. Tuan Rumah beserta keluarga rupanya telah menunggu. Mereka dengan ramah dan akrab menyambut kedatangan kami. Sebagai rencana awal, beberapa hari ke depan kami akan rutin datang untuk mengamati proses pembuatan gula kelapa, atau yang sering juga disebut gula merah. Karena tidak semua desa di Pulau Rupat memiliki pengrajin gula kelapa, maka pilihan utamanya jatuh ke daerah Tanjung Kapal.
Kelurahan Tanjung Kapal memiliki luas wilayah 124 km2, berada di pesisir selatan Pulau Rupat. Dari pelabuhan roro Dumai, kelurahan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan. Jalur lain adalah dengan menggunakan speedboat dari Pelabuhan TPI Dumai dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jika memilih memakai speedboat, penumpang akan diturunkan di Pelabuhan Batupanjang, lalu dengan menggunakan kendaraan roda dua menuju ke Tanjung Kapal.
Pada akhir tahun 2014, Kelurahan Tanjung kapal dipimpin oleh Pak Syafruddin, S.HI. Dari pengamatan saya beberapa tahun terakhir bertugas di Pulau Rupat, Tanjung Kapal merupakan salah satu daerah yang berpotensi untuk pengembangan produk gula kelapa. Letaknya yang berada di ketinggian 0 – 2 m dpl, serta didukung oleh kondisi cuaca tropis dan keadaan tanah yang cenderung liat berpasir merupakan keunggulan komparatif untuk membudidayakan kelapa. Dengan keunggulan tersebut, diharapkan tanaman penghasil nira kelapa bisa tumbuh subur dan menjadikan daerah ini sentra gula kelapa di Kecamatan Rupat.
Lokasi rumah yang kami kunjungi itu terletak kurang lebih satu kilometer dari pelabuhan roro. Letaknya yang berada di pinggir jalan besar membuat rumah berdinding hijau muda itu sangat mudah dijumpai. Terdapat 38 batang kelapa puyuh dan 2 batang kelapa hijau, berjejer rapi sekaligus menjadi pagar halaman. Pohon kelapa puyuh dan kelapa hijau dengan tinggi 5–7 meter tampak mengelilingi kediaman nan bersahaja itu. Di atas pohon, sekitar pangkal daun kelapa tampak potongan botol air mineral untuk menampung nira.
Sang pemilik rumah bernama pak Sujapar, salah seorang pengrajin gula kelapa di Kecamatan Rupat. Debutnya di dunia pergulakelapaan, sudah tidak diragukan lagi. Kami baru saja sampai, kala beliau dengan penuh semangat berkisah awal mulanya berkecimpung dalam pembuatan gula kelapa.
Kegiatan menderes manggar kelapa itu bermula setelah pernikahannya dengan Ibu Nazatin, sekitar tahun 1980. Di awal-awal pernikahan, mereka menyibukkan diri menanam pohon kelapa, sebab tanaman berakar serabut itu adalah penghasil bahan utama pembuatan gula merah. Setelah menunggu sekitar lima tahunan, akhirnya mereka bisa dengan rutin membuat gula kelapa untuk menambah penghasilan keluarga. Semua menjadi mudah, sebab istri tercinta telah diwariskan ilmu pembuatan gula kelapa oleh kedua orang tuanya. Kami lalu mengikuti rutinitas pak Sujapar dan istrinya, mereka dengan penuh kesabaran menjelaskan kegiatan membuat gula kepala tersebut. Mulai dari peralatan yang digunakan untuk menderes nira kelapa, diantaranya pisau sabit kecil untuk mengiris tepi manggar kelapa, botol air mineral bekas untuk menampung nira, dan tangga permanen untuk memanjat kelapa. Selain itu ada juga peralatan untuk memasak air nira yang telah dikumpulkan, seperti tungku dari tanah liat, wajan besar, siduk kayu, papan dan potongan bambu untuk mencetak gula.
Kegiatan menderes dan mengumpulkan nira kelapa dibagi atas dua waktu, yaitu setiap pagi sekitar jam 06.00 dan sore sekitar jam 17.00. Kegiatan tersebut sangat terpengaruh oleh cuaca, tidak hujan dan tidak terlalu terik agar nira yang keluar berkualitas bagus dan jumlahnya banyak. Jika pak Japar berhalangan menderes, tugas itupun diemban oleh anak atau menantunya.
Sekali menderes rata-rata mendapatkan 0,5–1 liter/pohon, karena dilakukan dua kali, maka hasilnya bisa 1–2 liter/pohon/hari. Menurut pak Japar, kelapa hijau niranya lebih sedikit dibandingkan dengan kelapa puyuh. Maka satu bunga (manggar) kelapa hijau, dijatah untuk satu bulan dan bulan berikutnya mencari bunga lainnya.
Menurut Pracaya (2011), Kelapa adalah tanaman berumah satu. Pada pangkal cabang tumbuh bunga-bunga betina. Setelah itu, menyusul bunga-bunga jantan sampai ke ujung tangkai. Bunga jantan dan bunga betina melekat pada cabang. Pada tiap cabang terdapat 1–2 kuntum bunga betina. Pada tiap cabang terdapat lebih kurang 200 bunga, sehingga tiap manggar terdapat sekitar 8.000–10.000 kuntum bunga jantan. Gerak pertumbuhan bunga betina untuk tiap manggar berlangsung selama 29 hari. Setelah itu bunga betina berangsur-angsur membuka menjadi dewasa.
“Nira dihasilkan dengan memotong manggar, manggar tersebut dideres pada usia tertentu. Manggar yang bagus tidak akan kita jumpai pada pohon kelapa yang masih muda dan juga pada pohon kelapa yang terlalu tua. Kita harus teliti pada batang kelapa yang akan dideres.” Begitu pak Japar menjelaskan.
Lalu diapun memberi tips dan trik dalam menderes manggar kelapa.
“Bagian bunga dideres sesuai kelajuan nira yang dihasilkan, jika menemukan manggar yang mengeluarkan nira banyak, maka sebaiknya diiris sedikit saja. Terus saja seperti itu dan dijatah setiap hari sampai sebulan. Insyaallah hasilnya akan maksimal.” Kata pak Japar lalu memanjat tangga tinggi yang melekat ke batang pohon kelapa itu.
Selama menekuni profesi ini, bukannya tidak pernah pak Japar dan istri mengalami kegagalan, salah satunya jika nira yang diturunkan menjadi basi. Hal ini berdampak pada hasil akhir gula kelapa yang tidak bagus. Pelajaran untuk menghindari nira basi yaitu tambahkan air kapur ± 5 ml/botol di wadah penampungan nira. Selain itu, pemilihan waktu mengambil nira juga harus diperhatikan. Manggar yang telah dipotong sore hari, hasilnya dapat diambil pada keesokan harinya, yaitu diwaktu kita akan menampung nira pagi. Hasil tampungan nira yang dipotong pada pagi hari, diambil saat sore menjelang, begitu seterusnya. Artinya, saat akan mulai menderes, kita menurunkan hasil tampungan nira terlebih dahulu.
“Biasanya hasil tampungan pada pagi hari lebih banyak dibanding sore. Nira yang sudah tertampung, disaring dulu baru kemudian direbus.” Kata pak Japar bersemangat.
Di tempat Pak Japar, pemasakan nira menjadi gula kelapa dilakukan dua hari sekali. Caranya yaitu, cairan nira dikumpulkan dalam satu kuali besar. Pada tungku tanah liat, kita panaskan kuali tersebut menggunakan api dari kayu bakar. Sesederhana itu, kita hanya tinggal mengatur besarnya api dan sesekali mengaduk agar tepi gula pada wajan tidak hangus. Untuk menghindari rebusan nira menggelegak terlalu kuat, ibu Nazatin mempunyai tips yang jitu, yaitu menambah parutan kelapa sebanyak ¼ setiap 80 liter nira dalam kuali besar tersebut.
Jilatan lidah api terus saja memanaskan kuali yang semakin menghitam itu. Di atas deret bangku kayu, kami menunggu matangnya gula sambil bercanda dan berbagi ilmu. Tentu saja mengambil jarak dari tungku agar tidak terkena percikan api kecil yang beterbangan. Bersama ibu Ismawati dan ibu Nazatin, kami bergantian mengaduk cairan nira itu. Setelah empat setengah jam direbus, akhirnya cairan nira mengental dan berubah warna menjadi kecoklatan. Ibnu sabil yang tadinya cuma nongkrong sambil mengkhayal di bawah pohon kelapa, kami tugaskan mengangkat kuali raksasa yang beratnya minta ampun itu.
Setelah diturunkan dari tungku, tersajilah pekatan nira yang siap cetak. Tidak boleh menunggu sampai dingin, karena akan membuatnya keras dan susah dibentuk. Dengan tangan yang cekatan, istri pak Japar itu lalu mengambil cetakan bambu yang telah direndam dalam air. Lalu dituangkannya sedikit demi sedikit isi kuali itu ke dalam puluhan alat cetak gula kelapa.
Sambil menuangkan pekatan ke cetakan bambu, bu Nazatin berbagi ilmu bagaimana membuat gula kelapa dengan warna kuning kecoklatan dan ‘kemerisik’, yakni dengan mengaduk-adukkan pekatan nira ke dinding kuali. Tak lupa pula dia mempersilakan kami merasakan nikmatnya makan pekatan nira langsung dari sumbernya.Wow…
Beberapa menit berlalu, kami tidak tinggal diam. Anak-anak muda dengan semangat ’45 itu membantu ibu Nazatin, atau lebih tepatnya ‘menggangu’nya. Kami berlomba menarik potongan-potongan bambu hingga terpisah dari gula yang kini berbentuk bulat panjang itu. Sungguh sensasi yang tiada duanya.
Tak lama menunggu, gula kelapa telah jadi dan siap untuk dikonsumsi ataupun dibagi-bagi. Asalkan bayar.
Hihihi
Pak Japar memproduksi gula kelapa sebagai pekerjaan alternatif tapi jaminan, sebab hasilnya dapat menutupi belanja dapur. Dia telah membulatkan tekad, ‘tidak akan berpaling dari menderes selagi rasa gula kelapa masih manis’. Menurutnya, pekerjaan membuat gula kepala ini tidak mengikat, namun tetap harus rutin dilakukan. Kalau tidak, air nira tidak akan mengalir dan memberi pengaruh pada ketersediaan gula kepala.
Gula kelapa Pulau Rupat telah sering dipamerkan di stand-stand pameran, yang terakhir adalah di acara MTQ Kabupaten Bengkalis. Hasilnya tidak kalah memuaskan bersanding dengan produk-produk lainnya.
“Untuk pemasaran tidak menjadi kendala, bahkan kadang kita kurang pasokan, salah satu persoalannya adalah tanaman kelapa yang dideres semakin menua. Lalu para pengrajin gula kepala juga semakin berkurang dan hampir tidak ada regenerasi. Saya khawatir suatu saat tidak akan kita temui lagi manisnya gula kelapa di Tanjung Kapal ini.“ Kata bapak 4 anak 2 cucu itu dengan mimik wajah yang sedikit lesu.
Selesai mengupas tuntas proses pembuatan gula kelapa, kami menikmati olahan bahan tersebut, yaitu es gula kelapa. Sambil mengingat-ingat masa kecil dulu, kala jajanan belum lagi terkontaminasi bahan pengawet dan zat pewarna.
Puas mengurai sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu, saya dan teman-teman berpamitan. Tapi sebelum pulang, kami diberi buah tangan berupa beberapa potong gula kelapa yang baru jadi. Hore…
Selalu ada pelajaran dari setiap perjalanan. Kali ini kami mendapat ilmu baru di sebuah pondok beratap rumbia. Terima kasih pelajarannya bapak Sujapar dan ibu Nazatin. Semoga menjadi renungan dan inspirasi bagi kami dan generasi akan datang. Akan kami abadikan agar kelak gula kelapa Tanjung Kapal tidak hanya tinggal kenangan. Semangat ^_^
*Irdayanti, SP




Posting Komentar