Iring-iringan awan melingkupi langit, terlihat warna hitam sisa badai yang menggumpal di hampir seluruh bentangnya. Kami bertiga menghentikan motor ketika tiba di sebuah lahan pertanian. Betul saja perkiraan kami, ketika datang hujan maka hijau akan mengikuti. Tampak semaian padi para petani mulai marak lagi setelah kering melanda. Kami menyebrangi sebuah titian kayu yang separuhnya telah tergenang air jernih, masuk sebuah lahan semai padi cantik berwarna hijau muda. Tapi hanya sebentar, kami tidak menemukan seseorang untuk diajak bercengkrama. Setelah mengamati dan berdiskusi tentang jenis padi yang ditanam oleh petani, kami beranjak ke tempat lain.
Aroma wangi tanah langsung tercium ketika kami memasuki lahan pertanian luas itu, aroma yang khas. Sama juga ketika berada di tepi pantai, walau mata ditutup tetap saja kita bisa merasakan aroma lautnya. Lahan itu berpetak-petak, sebagian telah dibersihkan, sebagian lagi masih berupa semak dengan rerumputan yang tinggi. Kami berjalan di atas pematang bertanah hitam, tampak katak berlompatan menunggu hujan.
Beberapa langkah ke arah depan, seorang ibu tani dengan tekun memotong ilalang yang tumbuh di petak sawah nan lapang. Topi lancip anyaman bambu menghiasi kepala yang sedari tadi menunduk itu. Kumpulan burung gereja yang terbang di sekitar hamparan menemaninya hingga selesai. Ketika si ibu melihat kedatangan kami, diapun berhenti lalu berjalan menuju ke pondok berbalut jerami di tepi sawah.
“Benih padi apa yang ibu semai tu?” tanya penyuluh Yanti sambil menunjuk ke arah lahan semai.
“Benih padi kukubalam” Jawab Ibu itu. Mereka telah kenal satu sama lain.
“Sudah berapa lama?”
“Semaian tu ada yang tujuh hari, ada yang sepuluh hari dah.”
“Rencana sawah ini mau ditanam bibit itu semua bu?”
“Tidak. bagian depan sana mau ditanam bibit unggul, tapi waktunya belum tiba.” Terang ibu tani itu, Mistum namanya.
“Kapan mulainya?”
“Insyaallah bulan depan, Oktober.”
Ibu Yanti yang pandai itu lalu menjelaskan kepada kami, bahwa padi kukubalam adalah jenis padi unggul lokal yang biasa ditanam petani Rupat. Mulai dari penanaman hingga panen membutuhkan waktu selama lima bulan. Padi unggul lokal lain yang ditanam oleh petani di Rupat adalah jenis padi ramos. Terdengar seperti nama pemain bola dari Spanyol, tapi tentu saja asalnya bukan dari negeri matador itu. Menurut ibu Yanti yang pada hari itu memakai baju warna kuning, padi kukubalam dan padi ramos telah beradaptasi lama dengan lingkungan pulau, jadi cukup tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.
Dari hasil pengamatan pengelolaan lahan di Pulau Rupat, biasanya jika air masih tersedia di ladang atau sawah, petani menanam padi lagi. Mereka tidak menggantinya dengan tanaman lain atau sering diistilahkan dengan sistem tumpang sari. Padahal jika sawah tadah hujan tersebut digunakan untuk menanam sayuran atau palawija, bisa mendatangkan manfaat yang sangat banyak.
Menurut Sri Mastiana, PPL Tanjung Medang yang juga berada di lokasi, pemanfaatan lahan untuk ditanami sayur atau palawija itu sangat bagus.
“Lahan kosong bisa termanfaatkan dengan maksimal, bisa memotifasi petani lain agar berbuat hal yang serupa, juga memperindah lahan persawahan, dan yang terakhir tentu saja bisa berguna untuk kebutuhan mineral, vitamin, serat, dan protein di dapur rumah.” Jelas penyuluh pertanian yang jago masak itu.
Selain yang disebutkan tadi, manfaat lainnya adalah memutus siklus perkembangbiakan hama penyakit yang kerap menyerang tanaman padi. Misalnya, wereng dan walang sangit, serta hama-hama yang hidup di dalam tanah. Hal ini karena terputusnya sumber makan tertentu bagi hama dan penyakit tersebut.
Kami kemudian berkeliling mengamati pematang sawah yang ternyata ibu Mistum tanami sayur mayur. Petak lahan berbentuk segi empat itu tiap sisinya ditanami beberapa jenis sayur. Di sisi tepi jalan besar ditanami jagung manis dan kedelai, di sisi satu lagi ditanami jagung manis dan kacang hijau, sisi dekat gubuk ditanami jagung manis dan kacang panjang, sisi terakhir dibiarkan kosong sebagai jalan keluar masuk.
Mari kita bahas satu persatu sayuran yang petani Rupat tanam itu. Jagung manis merupakan tanaman yang sering ditanam di ladang, tegalan dan sawah, terutama pada musim setelah panen padi. Kadang-kadang jagung juga ditanam sebagai tanaman sela/tumpangsari di lahan perkebunan. Jagung tumbuh cukup baik di pulau Rupat, walau daerah ini hanya berketinggian 0-2 meter di atas permukaan air laut.
Adapun kedelai termasuk jenis polong-polongan (kacang-kacangan), bermanfaat sebagai sumber protein nabati. Biji kedelai yang berkecambah juga dapat dijadikan bahan sayuran yang kita kenal dengan nama tauge. Sejauh yang terdengar selama ini, Rupat belum pernah mengadakan penanaman secara intensif dan besar-besaran tanaman ini. Mungkin karena kedelai pertumbuhannya baik jika berada di daerah dengan ketinggian 5–1000 meter di atas permukaan laut. Adapun petani disini masih menanamnya dalam skala kecil, hanya sebagai tanaman sela di lahan tanam padi.
Oh ya, ada satu lagi yang belum kita bahas, yaitu tanaman kacang panjang. Kacang panjang biasanya ditanam di ladang, pekarangan rumah dan di sawah sebagai selingan bersama tanaman palawija lainnya. Perawatan yang gampang, menjadikan tumbuhan yang satu ini mudah ditanam. Beberapa petani di Rupat cukup terbiasa menanam sayuran ini, biasanya ditanam bersama terong, mentimun dan labu. Pada umumnya mereka memasak kacang panjang sebagai campuran sayur, ditumis bersama ikan bilis atau dijadikan lalapan. Pada kacang panjang yang masih muda bila dimakan terasa renyah dan sedap jika dilalap mentah. Kacang panjang memiliki berbagai macam kandungan gizi, diantaranya betakaroten, klorofil, vitamin A, B, C dan zat besi.
“Sudah berapa lama sayuran itu ditanam bu?” Tanya ibu Yanti yang kebetulan hari itu sedang senang berkicau merdu.
“Sudah 15 hari.”
“Benihnya dari Dumai ya?”
“Bukan. Kami bawa dari Jawa. Kemarin sempat mudik pas lebaran, di sana ada saudara yang nanam sayuran, jadi kami minta benihnya.”
Sementara ibu mistum duduk istirahat di tangga pondok kayu, kami berkeliling mengambil gambar. Dari dalam hutan, seorang pria berbaju coklat lengan panjang mengangkut seonggok rerumputan di atas bahu kanannya. Rumput yang masih hijau itu menutupi seluruh kepala, hanya menyisakan sedikit ruang untuk melihat ke depan. Setelah si bapak meletakkan tumpukan tanaman hijau itu, diapun mendatangi kami. Ternyata suami ibu Mistum.
“Rumput itu untuk pakan ternak, pak?” Tanyaku.
“Iya, buat kambing yang bapak pelihara.”
“Berapa ekor, pak?”
“Ada dua. Tak banyak, jadi rumput segini cukuplah.”
Sepasang petani yang kami kunjungi ini sangat baik, walau sedang sibuk dan kelelahan tetap meladeni kedatangan kami. Bahkan mungkin Romeo dan Juliet yang kisah cintanya berakhir tragis itu tidak seramah mereka. Setelah menjumpai beberapa pasangan suami istri yang bekerja sama turun ke ladang atau sawah, muncul hipotesis awal bahwa pembagian tugas dalam proses produksi beras di Pulau Rupat cukup berimbang antara lelaki dan perempuan. Mulai dari proses menyemai hingga pasca panen, perempuan tetap memiliki peran yang penting. Membutuhkan penelitian lebih lanjut memang, mengenai seberapa jauh peran mereka, sebab dari beberapa literatur, kaum pria lebih mendominasi akses ke sumberdaya pertanian.
Tinggi matahari hampir sampai ke puncaknya. Setelah sedikit berbincang, kami undur diri agar Ibu Mistum dan suami bisa melanjutkan pekerjaan. Melalui mereka, pemikiran kami terbuka, bahwa petani di pulau Rupat sangat keren dan suka berinovasi. Cukup melihat cara bertanam sayur di pulau Jawa, mereka telah bisa memanfaatkan lahan kosong sekitar sawah untuk ditanami sayur. Satu lagi pelajaran tentang improvisasi dan perilaku rendah hati kami rengkuh.
Sepasang sejoli itu sedang bertempur melawan ancaman krisis pangan yang sedang mengintai kita. Mereka dengan senang hati mengajak orang di sekitarnya agar turut serta menghasilkan padi dan sayur. Sebuah tindakan terpuji yang bisa saja menyinggung sebagian orang yang hanya berlomba mengejar harta yang tidak pernah cukup mereka peroleh. Menyentil mereka yang hanya mengejar keinginan-keinginan yang tidak pernah puas mereka dapatkan. Kedua sejoli mengajak kita merapatkan jarak antara piring dengan sumber produksi bahan pangan kita. Ayo bung!
Aroma wangi tanah langsung tercium ketika kami memasuki lahan pertanian luas itu, aroma yang khas. Sama juga ketika berada di tepi pantai, walau mata ditutup tetap saja kita bisa merasakan aroma lautnya. Lahan itu berpetak-petak, sebagian telah dibersihkan, sebagian lagi masih berupa semak dengan rerumputan yang tinggi. Kami berjalan di atas pematang bertanah hitam, tampak katak berlompatan menunggu hujan.
Beberapa langkah ke arah depan, seorang ibu tani dengan tekun memotong ilalang yang tumbuh di petak sawah nan lapang. Topi lancip anyaman bambu menghiasi kepala yang sedari tadi menunduk itu. Kumpulan burung gereja yang terbang di sekitar hamparan menemaninya hingga selesai. Ketika si ibu melihat kedatangan kami, diapun berhenti lalu berjalan menuju ke pondok berbalut jerami di tepi sawah.
“Benih padi apa yang ibu semai tu?” tanya penyuluh Yanti sambil menunjuk ke arah lahan semai.
“Benih padi kukubalam” Jawab Ibu itu. Mereka telah kenal satu sama lain.
“Sudah berapa lama?”
“Semaian tu ada yang tujuh hari, ada yang sepuluh hari dah.”
“Rencana sawah ini mau ditanam bibit itu semua bu?”
“Tidak. bagian depan sana mau ditanam bibit unggul, tapi waktunya belum tiba.” Terang ibu tani itu, Mistum namanya.
“Kapan mulainya?”
“Insyaallah bulan depan, Oktober.”
Ibu Yanti yang pandai itu lalu menjelaskan kepada kami, bahwa padi kukubalam adalah jenis padi unggul lokal yang biasa ditanam petani Rupat. Mulai dari penanaman hingga panen membutuhkan waktu selama lima bulan. Padi unggul lokal lain yang ditanam oleh petani di Rupat adalah jenis padi ramos. Terdengar seperti nama pemain bola dari Spanyol, tapi tentu saja asalnya bukan dari negeri matador itu. Menurut ibu Yanti yang pada hari itu memakai baju warna kuning, padi kukubalam dan padi ramos telah beradaptasi lama dengan lingkungan pulau, jadi cukup tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.
Dari hasil pengamatan pengelolaan lahan di Pulau Rupat, biasanya jika air masih tersedia di ladang atau sawah, petani menanam padi lagi. Mereka tidak menggantinya dengan tanaman lain atau sering diistilahkan dengan sistem tumpang sari. Padahal jika sawah tadah hujan tersebut digunakan untuk menanam sayuran atau palawija, bisa mendatangkan manfaat yang sangat banyak.
Menurut Sri Mastiana, PPL Tanjung Medang yang juga berada di lokasi, pemanfaatan lahan untuk ditanami sayur atau palawija itu sangat bagus.
“Lahan kosong bisa termanfaatkan dengan maksimal, bisa memotifasi petani lain agar berbuat hal yang serupa, juga memperindah lahan persawahan, dan yang terakhir tentu saja bisa berguna untuk kebutuhan mineral, vitamin, serat, dan protein di dapur rumah.” Jelas penyuluh pertanian yang jago masak itu.
Selain yang disebutkan tadi, manfaat lainnya adalah memutus siklus perkembangbiakan hama penyakit yang kerap menyerang tanaman padi. Misalnya, wereng dan walang sangit, serta hama-hama yang hidup di dalam tanah. Hal ini karena terputusnya sumber makan tertentu bagi hama dan penyakit tersebut.
Kami kemudian berkeliling mengamati pematang sawah yang ternyata ibu Mistum tanami sayur mayur. Petak lahan berbentuk segi empat itu tiap sisinya ditanami beberapa jenis sayur. Di sisi tepi jalan besar ditanami jagung manis dan kedelai, di sisi satu lagi ditanami jagung manis dan kacang hijau, sisi dekat gubuk ditanami jagung manis dan kacang panjang, sisi terakhir dibiarkan kosong sebagai jalan keluar masuk.
Mari kita bahas satu persatu sayuran yang petani Rupat tanam itu. Jagung manis merupakan tanaman yang sering ditanam di ladang, tegalan dan sawah, terutama pada musim setelah panen padi. Kadang-kadang jagung juga ditanam sebagai tanaman sela/tumpangsari di lahan perkebunan. Jagung tumbuh cukup baik di pulau Rupat, walau daerah ini hanya berketinggian 0-2 meter di atas permukaan air laut.
Adapun kedelai termasuk jenis polong-polongan (kacang-kacangan), bermanfaat sebagai sumber protein nabati. Biji kedelai yang berkecambah juga dapat dijadikan bahan sayuran yang kita kenal dengan nama tauge. Sejauh yang terdengar selama ini, Rupat belum pernah mengadakan penanaman secara intensif dan besar-besaran tanaman ini. Mungkin karena kedelai pertumbuhannya baik jika berada di daerah dengan ketinggian 5–1000 meter di atas permukaan laut. Adapun petani disini masih menanamnya dalam skala kecil, hanya sebagai tanaman sela di lahan tanam padi.
Oh ya, ada satu lagi yang belum kita bahas, yaitu tanaman kacang panjang. Kacang panjang biasanya ditanam di ladang, pekarangan rumah dan di sawah sebagai selingan bersama tanaman palawija lainnya. Perawatan yang gampang, menjadikan tumbuhan yang satu ini mudah ditanam. Beberapa petani di Rupat cukup terbiasa menanam sayuran ini, biasanya ditanam bersama terong, mentimun dan labu. Pada umumnya mereka memasak kacang panjang sebagai campuran sayur, ditumis bersama ikan bilis atau dijadikan lalapan. Pada kacang panjang yang masih muda bila dimakan terasa renyah dan sedap jika dilalap mentah. Kacang panjang memiliki berbagai macam kandungan gizi, diantaranya betakaroten, klorofil, vitamin A, B, C dan zat besi.
“Sudah berapa lama sayuran itu ditanam bu?” Tanya ibu Yanti yang kebetulan hari itu sedang senang berkicau merdu.
“Sudah 15 hari.”
“Benihnya dari Dumai ya?”
“Bukan. Kami bawa dari Jawa. Kemarin sempat mudik pas lebaran, di sana ada saudara yang nanam sayuran, jadi kami minta benihnya.”
Sementara ibu mistum duduk istirahat di tangga pondok kayu, kami berkeliling mengambil gambar. Dari dalam hutan, seorang pria berbaju coklat lengan panjang mengangkut seonggok rerumputan di atas bahu kanannya. Rumput yang masih hijau itu menutupi seluruh kepala, hanya menyisakan sedikit ruang untuk melihat ke depan. Setelah si bapak meletakkan tumpukan tanaman hijau itu, diapun mendatangi kami. Ternyata suami ibu Mistum.
“Rumput itu untuk pakan ternak, pak?” Tanyaku.
“Iya, buat kambing yang bapak pelihara.”
“Berapa ekor, pak?”
“Ada dua. Tak banyak, jadi rumput segini cukuplah.”
Sepasang petani yang kami kunjungi ini sangat baik, walau sedang sibuk dan kelelahan tetap meladeni kedatangan kami. Bahkan mungkin Romeo dan Juliet yang kisah cintanya berakhir tragis itu tidak seramah mereka. Setelah menjumpai beberapa pasangan suami istri yang bekerja sama turun ke ladang atau sawah, muncul hipotesis awal bahwa pembagian tugas dalam proses produksi beras di Pulau Rupat cukup berimbang antara lelaki dan perempuan. Mulai dari proses menyemai hingga pasca panen, perempuan tetap memiliki peran yang penting. Membutuhkan penelitian lebih lanjut memang, mengenai seberapa jauh peran mereka, sebab dari beberapa literatur, kaum pria lebih mendominasi akses ke sumberdaya pertanian.
Tinggi matahari hampir sampai ke puncaknya. Setelah sedikit berbincang, kami undur diri agar Ibu Mistum dan suami bisa melanjutkan pekerjaan. Melalui mereka, pemikiran kami terbuka, bahwa petani di pulau Rupat sangat keren dan suka berinovasi. Cukup melihat cara bertanam sayur di pulau Jawa, mereka telah bisa memanfaatkan lahan kosong sekitar sawah untuk ditanami sayur. Satu lagi pelajaran tentang improvisasi dan perilaku rendah hati kami rengkuh.
Sepasang sejoli itu sedang bertempur melawan ancaman krisis pangan yang sedang mengintai kita. Mereka dengan senang hati mengajak orang di sekitarnya agar turut serta menghasilkan padi dan sayur. Sebuah tindakan terpuji yang bisa saja menyinggung sebagian orang yang hanya berlomba mengejar harta yang tidak pernah cukup mereka peroleh. Menyentil mereka yang hanya mengejar keinginan-keinginan yang tidak pernah puas mereka dapatkan. Kedua sejoli mengajak kita merapatkan jarak antara piring dengan sumber produksi bahan pangan kita. Ayo bung!



Posting Komentar