Sungai, selat dan laut bukanlah pemisah, sesungguhnya bentangan air itu adalah perekat antar wilayah, antara hati dengan hati…
Dari atas biduk perahu kecil, rimbun pohon bakau itu tampak mengapung seperti segugus gerumbul hijau. Hamparan mangrove tepi pantai itu menghias dan melindungi gerusan tanah dari derasnya ombak. Di atas sana, sebuah jembatan menghubungkan dua bagian pulau rupat yang terbelah tidak sama besarnya. Besi-besi berwarna silver saling mengait mengokohkan bangunan jembatan, di bagian tengah melintang dua besi pipa untuk memberi batas bagian bawah. Secara keseluruhan, jembatan itu membentuk sebuah rangka kubus dengan beberapa tiang beton sebagai penyangga.
Di Pulau Rupat, yang jaraknya hanya sekitar 42 km dari Port Dickson-Malaysia itu terdapat sebuah sungai besar. Selat Morong, begitu penduduk pulau sering menyebut nama sungai yang tidak seberapa jernih itu. Terletak di Desa Pangkalan Nyirih, dapat ditempuh dalam waktu dua jam dari ibukota kecamatan Rupat. Cukup jauh memang, apalagi bila menuju ke sana takkala hujan turun deras, kendaraan akan disergap jalanan berlumpur, dan bahkan kubangan.
Seperti yang dikemukakan tadi, Selat Morong yang panjangnya 56,67 km membelah pulau Rupat, ke arah utara daratan lebih kecil daripada daratan di selatan. Maka jarak tempuh juga tak sama, dari selatan sekitar 70 km, dari utara 30 km.
Masih ada penduduk pulau yang menggunkan sampan atau perahu mesin tempel sebagai sarana penyeberangan. Salah satunya di desa Titi Akar yang telah menjadi bagian dari Kecamatan Rupat utara. Jalan yang melewati Titi Akar tersebut dirintis dan dibangun oleh perusahaan yang mengelola pohon akasia dan tanaman sawit. Maka di dalam sana ada pos penjaga sebagai tempat melapor jika ingin melewatinya.
Sejak dahulu, sungai telah menjadi urat nadi kehidupan penduduk pulau Rupat, utamanya sebagai jalur transportasi air. Sampan dan pompong sejak dahulu kala telah menjadi sarana utama perlintasan manusia, barang dan hasil bumi. Sampai pada akhirnya sebuah jembatan rampung dan bisa digunakan sekitar tahun 2010.
Bertengger di atas selat morong, jembatan yang dibangun secara bertahap itu hingga sekarang menjadi satu-satunya penghubung lewat jalur darat. Dinas binamarga dan pengairan Kab. Bengkalis tercatat sebagai pemegang proyek jembatan yang melintasi sungai besar itu.
Letak selat morong sangat strategis, terletak di desa Pangkalan Nyirih yang berpotensi menjadi ibukota kecamatan Rupat bagian tengah. Sekarang saja daerah tersebut terbilang cukup ramai dibandingkan desa-desa lainnya. Faktor berada di jalan poros, banyak pedagang yang memilih lokasi ini sebagai tempat usahanya. Bahkan bank rakyat saja sudah berdiri di tempat ini, sedangkan di ibukota kecamatan masih belum memiliki gedung sendiri.
Sebelum memasuki gerbang desa Pangkalan Nyirih, kita akan sambut oleh sebuah tugu. Jika menoleh ke samping kiri dan kanan jalan, rimbun pepohonan bakau tampak menghijau, setiap pagi dan sore hari disinggahi oleh burung-burung yang sedang mencari makan. Tumbuhan mangrove tersebut menaungi berbagai jenis biota sungai, tempat mereka berkembang biak dan menetasan telurnya.
Jika datang masa ikan berkumpul, dari sela-sela bakau para pemancing biasanya datang menaiki perahu kayu, membawa jaring ataupun pancing rawai. Maka berbicara tentang selat morong, bukan hanya mengenai keindahan alam, tapi juga kekayaan flora dan fauna yang bisa dijadikan sarana ekonomi maupun edukasi.
Selat morong bukanlah sebuah tempat karya wisata yang sengaja dibuat, tapi terbentuk sendiri oleh keindahan alamnya. Jembatan yang melintang diatasnya khusus dibuat untuk jalur penyeberangan saja. Namun begitu, hampir setiap hari masyarakat dan anak-anak muda sekitar memanfaatkan jembatan ini untuk duduk menikmati pemandangan sungai kala senja. Cukup berbahaya memang, sebab sama sekali tidak ada pembatas antara kerumunan itu dengan kendaraan yang berlalu lalang. Karena tempat ini sama sekali bukan sarana rekreasi, sebaiknya kita tidak memilih untuk berlama-lama di atas jembatan. Selain membahayakan nyawa, juga mengganggu jalur lalu lintas.
Tapi bukan berarti kita tidak bisa menikmati pesona Selat Morong, salah satu cara dengan memarkir kendaraan di tempat yang agak jauh, lalu berjalan kaki ke jembatan yang dipagari besi. Walau begitu, sangat tidak dianjurkan membawa anak-anak kecil. Lebih aman lagi, dari atas jembatan berbeloklah ke arah depan kantor desa, kita akan menemukan sebuah dermaga kayu yang disekitarnya ramai oleh kedai sederhana, warung makan dan penginapan. Di situ kita bisa menyaksikan liukan sungai morong dengan landskap hutan bakau yang lebat memanjang. Tempat yang sangat pas untuk melepas penat setelah seharian berkerja.
.png)
Langit sangat cerah ketika kami tiba di sana. Gumpalan awan putih yang berserak di langit biru berpadu liuk aliran sungai. Pemandangan serupa lukisan dalam kanvas yang mempesona. Di sebuah balai kayu sebelah dermaga, kami memesan kopi, menunggu senja.
Takdirmu adalah keindahanWarnai arus kehidupan
Aliran airmu melengkapi cerita
Tempat berbagai seleksa peristiwa
Angin berhembus lembut
Putaran waktu terasa lambat
Cahaya redup berganti malam
Kirimkan rindu hapuskan kelam


.png)

Posting Komentar