Perjalanan menuju ke Rupat bagian tengah ditemani hujan gerimis dan angin pagi. Satu jam berlalu, udara dingin masih berhembus menusuk sampai ke tulang iga. Turun dari motor, lalu kukeluarkan kamera pocket dari saku jaket, menyalakan tombol power lalu menjepret ke arah depan. Lewat kejaiban teknologi dan fotografi, bayangan sebuah jalan kini telah menjadi abadi dalam bentuk gambar ukuran berapa kilobite.
Tiap saat kita berada di sebuah lokasi yang baru, kadang keinginan itu datang, sesuatu yang mengalihkan khayal, menggerakkan tangan untuk menjadikannya abadi. Ironisnya, kadangkala tindakan mengabadikan itu malah melewatkan kita pada sebuah momen. Pada dunia yang tak tersentuh, memotret hujan misalnya akan membuat kita luput pada dingin yang ia hadirkan. Jadi bukannya abadi dalam ingatan, malah membuat ia berlalu dan hanya menyisakan sekeping foto hitam putih.
Kumasukkan kembali kamera itu, lalu berjalan ke arah objek yang tadi kufoto. Sebuah kubangan lumpur campuran air hujan dan tanah gambut. Kumasukkan sepatu botku ke dalamnya, sekitar 20 sampai 30 centi ke arah bawah, membentuk cekungan berjari-jari satu setengah meter.
Sial! Responku tiba-tiba ketika badan kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam lubang. Lumpur masuk ke dalam sepatu bot, seluruh celana tersapu tanah, termasuk telapak tangan dan siku jaket. Bukan hanya itu, beberapa pengendara yang lewat menyempatkan diri menegur dan bertanya ada apa. Kini lumpur itu bercampur dengan rasa malu, sebuah resiko memiliki keingintahuan yang besar. Suatu pelajaran berharga bagi yang ingin tahu tentang rasa.
…Malam hari di sebuah desa bagian tengah pulau, hujan gerimis kembali turun di sela hangatnya kopi hitam yang tersaji di atas meja. Pikiranku mengelana di seputaran tema tentang jalan, jalur roda-roda berputar tanpa henti. Sebuah perlintasan yang bukan hanya berpaut dengan tema bepergian, tapi juga tentang perputaran uang dan ekonomi.
Kelap-kelip kursor di layar monitor tidak sedang ingin membahas itu, tiap ketukan keyboard hanya ingin mengisahkan tentang jalan yang berlubang. Tidak lebih. Maka jadilah sebuah daftar kondisi jalan paling rock n roll di Kec. Rupat ini. Hampir tidak ada tendensi yang melekat di dalamnya, hanya ingin merekam jejak jalur para pengelana yang hilir mudik di atasnya. Bukan untuk mengiba agar segera diperbaiki, bukan untuk menertawai sebuah daerah yang terhitung telah merdeka 69 tahun silam, bukan juga untuk membahas dampak ekonomi kondisi jalan tersebut bagi kehidupan masyarakatnya. Ini tentang jalan yang rusak parah karena beban yang berjalan di atasnya melebihi apa yang mampu dipapahnya.
Silakan simak daftar berikut, nomor urut tidaklah merunut tingkat kerusakan jalan, dan juga tidak bersusun dari desa/kel. terdekat dengan kecamatan sampai yang terjauh. Segalanya acak. Terus terang, menuliskan daftar kondisi jalan yang rusak di Pulau Rupat ternyata tidak segampang yang terkira. Butuh pikiran yang fokus dan berbagai pertimbangan, maka tulisan inipun rampung dan dengan segala kerendahan hati mempersilakan anda membacanya.
- Dua besi tipis melintang di atas jalan, jika pengendara baru saja bangun tidur alias belum melek betul, niscaya kedua besi itu tidak akan terlihat. Di depannya sebuah balok terendam lumpur, mungkin tanda agar pengendara tetap waspada. Jalan yang berada di Kelurahan Terkul ini selalu menjadi bahan tontonan masyarakat karena letaknya di depan pemukiman. Hampir seluruh badan jalan tidak rata, menyisakan beberapa lubang yang cukup dalam, beberapa warga berinisiatif meletakkan papan sebagai jembatan di atas lubang, namun pengendara biasanya harus antri untuk naik ke atasnya.
- Semenisasi jalan di masa lampau sama sekali tidak membuat badan jalan semakin kokoh, malah mencetak sebuah konstruksi kerusakan jalan yang sukar ditandingi. Sisa-sisa semen beton terburai sampai ke tepi parit, hampir seluruh jalan ini miring ke samping kiri dan kanan, seperti telah dilalui mobil tank yang menekan kedua sisi jalan. Jalur terbaik untuk melewatinya di sebelah kiri, mengambil resiko motor jatuh ke parit yang dalam dan mengalir deras di musim hujan. Terletak di Kelurahan Pergam, pada jalan buruk ini terdapat beberapa jembatan yang kondisinya sama mengenaskan.
- Puluhan dahan dan batang tanaman karet disusun melintang di tengah jalan yang rusak, tujuannya agar kendaran yang lewat bisa bertumpu padanya. Badan jalan seperti ini sudah umum adanya di pulau rupat, mulai dari ibukota kecamatan sampai di Rupat Utara ada banyak jalan yang seperti ini. Bukan proyek pemerintah tentunya, hanya kerelaan hati penduduk di sekitar jalan-jalan tersebut untuk membantu para pengendara. Warga desa yang memiliki pohon karet atau pohon kelapa yang sudah ditebang, biasa memberikan sebagian untuk menimbun jalan rusak yang melintasi desanya. Jika musim hujan, kayu-kayu tersebut sangat berguna untuk mengokohkan pijakan ban kendaraan, namun lain halnya jika musim kemarau, kayu-kayu akan berserakan menghalangi perjalanan.
- Berkilometer jalan ini terhias dengan bongkahan jalan semen yang mengelupas. Selain membuat kendaraan berguncang, juga ditumbuhi besi-besi berkarat yang mencuat ke atas. Ada pertanyaan sinis yang selalu dijawab dengan nada guyonan ala penduduk rupat. “Apakah tanah di pulau rupat subur?” maka mereka menjawab “Tentu saja. Jangankan tanaman, besi saja tumbuh di jalanan.”
- Jika melihat sekilas mungkin bagian jalan ini tidak terlalu rusak, artinya bila dibandingkan dengan kondisi jalan lain di pulau rupat, hampir sama dan sejenis. Genangan air yang menghiasi lubang-lubang lumpur selebar dua sampai tiga meter, beberapa pokok kelapa atau batang pohon karet yang diletakkan agar motor bisa menitinya. Hampir tidak ada pemukiman di jalan ini, hanya ada kebun sawit berjejer sepanjang jalan. Melewatinya harus siap dengan resiko di depan mata, paling mengenaskan jika ban motor pecah di jalan ini. Agar tampak dramatis, mari kita tengok lebih dekat. 5a.
- Foto terkadang tidak mampu bercerita banyak, sudut pandangpun sangat terbatas. Jika melihat jalan ini seperti pada gambar diatas, maka kita akan memandang dari garis horizontal. Sepertinya biasa saja, hanya jalan rata yang di sana sini terdapat lubang. Oke, itu juga tidak salah. Jika dulu jalan di desa Teluk Lecah yang paling sering membuat mobil terjebak lumpur, di tahun 2014 bertambah lagi satu jalan yang membuat kendaraan roda empat itu tidak bisa digerakkan. 6a. Air permukaan terlihat bersih alias tidak bercampur lumpur, pertanda sisi jalan itu tidak pernah dilalui kendaraan. Jangan coba-coba melewatinya, jikapun tidak terjebak lumpur, besi yang menyerupai mata pancing itu bisa bersarang di betis. Petiklah pelajaran, semakin cantik sesuatu-semakin berbahaya.
- Jalan ‘terapi getar’ yang berada di Kelurahan Pergam, sedikit lagi memasuki wilayah Sukarjo Mesim. Disebut dengan nama tersebut karena sepanjang jalan ini pernah dilakukan semenisasi, namun mungkin karena campuran semen yang tidak berimbang dengan jumlah pasir, menyebabkan jalan tersebut menjadi tidak rata. Lubang-lubang kecil itu sama sekali tidak seberapa dalam, hanya beberapa centimeter, namun itulah menjadi ciri khasnya. Jika motor dilambatkan menjadi tanggung karena sepertinya cukup rata, namun jika tali gas ditarik kuat, akan menimbulkan efek getaran yang unik.
- Jika seseorang diperlihatkan gambar ini, tanpa ada kata pengantar bahwa kita sedang membahas tentang jalan tentunya. Lalu diberi pertanyaan: “Gambar apakah ini?” mungkin sebagian akan menjawab “Ini adalah gambar kolam ikan lele.” 9a. Barulah setelah melihat gambar di atas, pikiran akan terbuka dan mengajarkan ilmu tentang sudut pandang. Jalan ini berada di sebuah daerah yang disebut Simpang Salak, karena ada sebuah belokan yang mengarah ke kampung dengan nama buah bersisik tersebut. Jika hujan turun, lubang yang menganga di sepanjang jalan ini akan tertutup air, hingga berjejer menyerupai usaha kolam budidaya ikan. Cara melewatinya? Mudah saja, ikuti jejak ban sepeda motor yang telah ada, jangan coba membuka jalur lain kecuali anda menggunakan motor trail.
- Ketangguhan moda trasportasi darat tidak akan mendapat keperkasaanya di tempat ini, ketika jalan telah berair dan berlumpur karena dipicu hujan lebat, maka genangan air akan muncul dimana-mana. Bahkan jika keringpun, air tersebut tetap tinggal dikubangan, jika tergerus dengan ban motor atau mobil, bisa amblas di lubang yang dalam. Tips dan trik untuk jika bertemu dengan jalan seperti ini adalah jangan melewati badan jalan, lebih baik mengambil bahu jalan yang tanahnya lebih keras, tapi resiko jatuh ke parit ditanggung masing-masing.
- Ada beberapa titik jalan di Rupat dengan intensitas rusak yang sangat parah, namun jika menyebut satu tempat ini, maka tidak akan asing lagi bagi telinga pemakai jalan. Teluk Sialang di Desa Teluk Lecah, jalan yang menguji kesabaran. Hujan turun sedikit saja, jalan akan berkubang hingga memaksa penumpang turun dan berjalan kaki. Bukan hanya satu orang, dua orang harus turun untuk mengangkat dan mendorong motornya. Jika tidak seperti itu, tinggal pilih berakhir dimana, motor masuk bengkel atau pengendara cari tukang urut. Daerah Teluk Sialang pada musim hujan menjadi bagai arena atraksi off roaders Pulau Rupat, bahkan ada warga yang memang sengaja berhenti untuk menonton usaha para pengendara motor melewati jalan ini. Kadang kala anak-anak kecil menyewakan jasanya untuk membantu mendorong motor ataupun mobil yang terjebak lumpur.
Pembangunan jalan sedang berjalan, campuran semen dan kerikil telah ditumpahkan ke beberapa titik jalan terjal tersebut. Itu berarti sebentar lagi sebuah ruang sosial dan ruang publik akan menghilang lantaran digantikan jalan beton beraspal yang mengucilkan manusia. Sama seperti gedung-gedung tinggi yang berdiri diantara rumah lapuk dari bambu dan kardus. Siapa yang akan bertanya tentang kondisi jalan jika tahu kalau kondisinya sudah bagus? Manusia akan menjadi sibuk dengan dunia yang mereka kejar, mesin-mesin mereka akan menggilas apa saja yang dilaluinya. Hingga tak ada yang bersisa, termasuk kehidupan itu sendiri.
Itulah dilema. Tapi satu yang pasti, jalan-jalan rusak itu tidak pernah membuat bosan seseorang yang melewatinya. Seseorang akan merindui jalan itu, yang kala parah membuat transportasi laut menjadi satu-satunya pilihan. Jalan yang rautnya selalu berubah, di musim kering tanahnya keras berdebu, sedangkan di musim penghujan berlumpur tak karuan. Jalan yang selalu setia menemani setiap perjalan dari kampung ke kampung, merekatkan relasi dengan berbagai cerita ketika melaluinya.
Pembangunan tidak akan berhenti, sebab laju sejarah selalu bergerak ke arah depan. Lika liku jalan mengalirkan kisah hidup, seringkali jalan hidup yang tak mulus membuatnya jadi lebih berwarna, sebuah ketidaksempurnaan yang justru menjadikannya terasa lebih indah. Sebagian orang mungkin merasa tidak nyaman, namun setidaknya kita masih bisa melihat rupa yang senyum, bukan kaca helm yang dingin dan kaku.


.png)
.png)

Posting Komentar