“Perhatian kepada penumpang pesawat Batik Air tujuan Jakarta agar segera menuju ke pesawat melalui pintu 1” gema dari pengeras suara di ruang tunggu terdengar. Satu persatu calon penumpang yang akan terbang ke Jakarta bergerak melewati lorong menuju kabin pesawat. Aku duduk di kursi 12D, sambil menunggu pesawat tinggal landas, kuperhatikan kesibukan pramugari mengatur barang bawaan penumpang. Disebelahku duduk Pak Tulus Suseno, petugas PHP dari Kecamatan Siak Kecil. Sesekali aku mengobrol dan berbagi cerita, tentang pengalaman pak Tulus sebagai Pengamat Hama dan Penyakit serta berbagi tentang ceritaku di pulau Rupat.
Setelah terbang selama 1 jam 45 menit, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta-Jakarta. Beberapa dari kami menunggu kedatangan barang bagasi, kemudian keluar dari gedung Bandara. Hari telah gelap, kami melaju ke arah Jawa Barat menggunakan bus.
Perjalanan yang cukup panjang melewati jalan tol dan jalur pantura, pukul 21.45 kami tiba di tempat pelatihan, tepatnya di Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari. Lelah pasti sangat kami rasakan karena hampir seharian diperjalanan, dan istirahat adalah hal utama yang kami pilih untuk memulihkan kondisi tubuh.
***
Pukul 09.30 pagi di ruang aula, acara dibuka oleh ibu Ir. Lilik Retnowati, wanita paruh baya yang bertindak sebagai pembawa acara. Penyambutan dipimpin langsung oleh pak Ir. Edi Suwardiwijaya. Tak banyak yang ia sampaikan, hanya beberapa motivasi untuk peserta diklat.
“Bapak dan ibu sudah jauh-jauh datang dari Bengkalis ke Jatisari untuk mengikuti TOT SL-PTT, mudah-mudahan setelah kembali nanti bisa menjadi fasilitator atau pemandu yang handal.” Harapnya.
Beberapa hari di BBPOPT Jatisari, kami didampingi oleh tim pemandu yang terdiri dari 6 orang instruktur. Mereka adalah pak Edi Suwardiwijaya, Edi Suryadi, Yadi Kusmayadi, Sawadi, Gun Gunawan dan ibu Darti.
TOT (Training Of Trainer) SL-PTT(Sekolah Lapang–Pengelolaan Tanaman Terpadu) atau dalam kata lain pelatihan untuk pemandu SL-PTT, mengajarkan seorang penyuluh bagaimana untuk bisa bertindak selaku fasilitator atau pemandu sekolah lapang.
Kali ini kami dilatih oleh pak Edi Suwardiwijaya. Lelaki separuh baya itu sangat enerjik. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya mampu menghipnotis orang yang mendengar, bahasanya jelas dan mudah dicerna. Mungkin karena pak Edi SW, begitu ia sering disapa adalah seorang fasilitator yang sudah berpengalaman di bidang ini.
Peserta diminta untuk mengisi tes balok. Ada 25 pertanyaan objektif yang berhubungan dengan SL-PTT padi. Tes balok tersebut bermaksud untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan peserta tentang SL-PTT dan hal-hal yang berkaitan dengan SL-PTT itu sendiri. Masing-masing peserta diberi 25 kartu bertuliskan nomor angka yang sama, yang akan dimasukkan dalam kotak yang sudah ditempelkan pertanyaan dan pilihan jawaban. Dalam satu menit peserta harus berpindah ke kotak dengan pertanyaan yang lain dan memasukkan kartu ke dalam kotak yang bertuliskan pilihan jawaban yang dipilih. Metode ini dikenal juga dengan sistem gong. Setelah semua pertanyaan dijawab, peserta kembali dengan membawa kotak terakhir yang mereka jawab. Pemandu akan membuka kotak dan melihat hasil yang telah diperoleh. Jawaban yang benar akan tertampung didalam kotak kecil yang sengaja ditempelkan di dalam balokbox, sedangkan jawaban yang salah masih tetap tertampung. Dari hasil pretest pertama 60% peserta memilih jawaban yang benar.
***
Pagi ini kami berkumpul di halaman belakang balai, di bawah naungan rindang pohon mangga. Pak Yadi Kuswayadi dan tim pemandu lainnya sudah menunggu disana. Kami akan dipandu dalam pengamatan agroekosistem. Di belakang kami terbentang areal persawahan yang sebagian besar sudah dipanen. Setiap petakan-petakan yang ada mewakili varietas padi yang berbeda dengan pola tanam yang berbeda pula. Peserta yang sudah dibagi dalam beberapa kelompok belajar diarahkan untuk mengamati apa saja yang ditemukan di lapangan, diantaranya keadaan tanaman, cuaca, hama dan penyakit, musuh alami, serta keadaan air. Hasil pengamatan kemudian dituangkan di lembaran kertas yang kemudian dipresentasikan di depan peserta yang lain. Masing-masing peserta dari kelompok yang lain diberi kesempatan untuk menanggapi dan memberi masukan atau saran. Masalah yang ditemui kemudian dibahas dan dicarikan solusi bersama-sama.
Disela pemberian materi tim pemandu beberapa kali menyelipkan permainan atau cerita dalam bentuk dinamika kelompok. Dinamika kelompok siang itu dipandu oleh pak Edi SW. Masing-masing peserta diberi seutas tali sepanjang satu meter. Salah satu peserta diminta kedepan untuk berperan sebagai seorang penyiar radio yang membacakan sebuah instruksi dan peserta yang mendengarkan diminta untuk melakukan sesuai dengan instruksi yang didengar.
“Ambil tali rafia sepanjang satu atau dua meter. Sambungkan ujung tali satu dengan ujung yang lainnya. Masukkan sebelah tangan dan lilitkan tali pada tangan. Masukkan tangan sekali lagi, lalu tarik dengan kuat sehingga tali lepas dari tangan”.
Kalimat itu dibaca beberapa kali, ketika salah satu peserta mampu melakukan sesuai dengan instruksi yang didengar maka peserta tersebut diminta ke depan untuk membacakan kembali sekaligus memperagakan seperti seorang pembaca berita di televisi. Dan tahap selanjutnya peserta diajak untuk memperagakan secara bersama-sama sampai berhasil sesuai dengan instrruksi.
Permainan dalam dinamika kelompok itu memberi pesan bahwa sesuatu yang hanya didengar maka akan mudah lupa, namun jika dilakukan berulang-ulang atau bahkan dengan belajar bersama maka akan lebih mudah untuk dilakukan.
Dinamika kelompok juga bertujuan untuk mencairkan suasana, karena belajar dalam pendidikan orang dewasa peserta banyak terdiri dari orang tua. Maka dinamika kelompok perlu untuk menghidupkan kembali suasana dan meningkatkan pola pikir dan kerjasama antar individu dalam sebuah kelompok.
Materi berlanjut dengan pupuk dan pemupukan. Pemupukan penting dilakukan dalam upaya menambah/menyediakan hara untuk kebutuhan tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh optimal. Pemupukan spesifik lokasi penting dilakukan karena kebutuhan tanaman akan unsur hara tidak sama, terlebih lagi karena setiap lahan pada area lokasi yang berbeda memiliki kandungan hara yang berbeda pula.
Sesuai dengan prinsip pengelolaan tanaman terpadu yang merupakan pendekatan agar sumber daya tanaman, lahan dan air dikelola dengan sebaik-baiknya untuk mencapai produktifitas lahan dan tanaman yang optimal, maka dalam pemupukanpun diharapkan tidak hanya berdasarkan rekomendasi dari literatur semata, tetapi berdasarkan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi. Untuk mengetahui kebutuhan akan unsur hara bisa dilakukan dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) atau Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Dosis pemupukan untuk unsur N yang dibutuhkan bisa dilihat dari warna daun yang disesuaikan dengan BWD. PUTS merupakan perangkat untuk mengukur hara P dan K pada tanah sawah.
Pengelolaan air untuk padi sawah sangat penting. Seperti diketahui bahwa tanaman padi sawah merupakan tanaman dengan konsumsi air tinggi dan tidak efisien dalam penggunaan air. Pada kondisi pasokan air terbatas akibat kemarau panjang, sistem pengairan secara terus menerus akan memperpanjang masa vegetatif tanaman sehingga masa untuk mencapai waktu produksi menjadi lambat, serta peningkatan intensitas tanam. Teknik hemat air memberikan banyak keuntungan seperti aerasi tanah meningkat, memperbaiki sistem perakaran serta meningkatkan penyerapan hara.
***
Hal yang paling penting dalam pengelolaan tanaman terpadu adalah pengamatan atau monitoring. Monitoring sebaiknya dilakukan seminggu sekali untuk memantau perkembangan hama dan musuh alami. Data hama dan musuh alami secara kuantitatif sangat penting untuk menentukan arah pengendalian. Kegiatan monitoring merupakan kunci usaha pencegahan yang efektif jika dilakukan dengan benar.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang meliputi hama, penyakit dan gulma lebih diterapkan pada pengendalian secara alami non sintetis. Dimana pengendalian yang dilakukan yaitu dengan memadukan beberapa cara pengendalian yang secara ekonomi menguntungkan, secara ekologi menjaga kelestarian lingkungan, secara sosial tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.
Peserta juga diajarkan teknik pembuatan pestisida nabati dan perbanyakan agens hayati yang berperan dalam mencegah perkembangan hama dan penyakit yang merugikan tanaman. Bahan-bahan yang digunakan bisa diperoleh dari lingkungan sekitar yang relatif mudah didapatkan, serta tidak berdampak buruk bagi lingkungan.
***
Pengalaman memantik kreatifitas, perjalanan ini serasa memberi denyut melodis pada urat syaraf yang tegang. Tak terasa delapan hari sudah kami mengikuti diklat TOT SL-PTT di BBPOPT Jatisari. Pukul 5.30 pagi, bus yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Jatisari menuju Jakarta. Udara dingin tak mengurangi aktivitas dan keramaian di Jalur Pantura. Kendaraan perlahan mulai melaju, sebisa mungkin melewati beberapa kendaraan yang kelihatan mulai memadat, pastinya mengundang kemacetan.
Ada kegembiraan bagi kami, rasanya sudah tak sabar untuk segera sampai ke rumah. Bisa berbaur bersama keluarga untuk menghimpun kekuatan, lalu memberikan yang terbaik bagi negeri ini. Kepulangan dari Jatisari mudah-mudahan bisa menjadi awal yang baru untuk peranku di dunia penyuluhan, terlebih untuk pengembangan potensi diri demi bakti di pulau jauh.
Melalui diklat pemandu sekolah lapang di Jatisari, berbagai pelajaran berharga telah kami terima, sekarang waktunya kembali ke tempat asal untuk mengaplikasikan ilmu yang kami peroleh. Tentu saja tidak serta merta mengcopy-paste metode di sana, tapi mempertimbangkan kondisi lapangan, sebab mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Bagi penyuluh yang akan menjadi fasilitator dalam kegiatan SL-PTT, nasehat dari salah satu instruktur di pelatihan ini ada baiknya untuk disimak.
“Fasilitator hadir untuk membantu petani dalam berfikir dan berbuat, mereka bukanlah guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya*, tetapi seorang pemandu yang menciptakan iklim belajar partisipatif bagi warganya. Fasilitator harus memahami bahwa cara belajar orang dewasa bukanlah mendikte, tapi dia menjadi katalisator petani untuk memanfaatkan ilmu dan pengalaman mereka sendiri. Salah satunya sebagai sarana belajar demi mengembangkan usahanya.”
*yang dimaksudkan adalah jenis pembelajaran monoton-satu arah, pengajar hanya memberi instruksi tanpa melibatkan peserta untuk berfikir dan mengemukakan pendapat.
Ismawati, SP




Posting Komentar