
Kelompok Wanita Tani (KWT) Uswatun Hasanah Desa Sejangat, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, melaksanakan praktik pembuatan pestisida nabati (Pesnab). Praktik Pesnab berlangsung pada tanggal 17 Oktober 2025 di Rumah Bu Ita, Sekretaris KWT, didampingi oleh penyuluh pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pemanfaatan bahan-bahan alami yang ada di lingkungan sekitar sebagai pengendali hama yang ramah lingkungan.
Alat yang digunakan cukup sederhana yaitu blender, baskom plastik, pisau dan saringan, serta botol besar untuk menyimpan larutan. Sementara bahan yang digunakan adalah daun pepaya, daun sirsak, serai wangi, bawang putih, dan okra yang semuanya mudah didapatkan di pekarangan rumah anggota KWT. Cara kerjanya adalah semua bahan dirajang kecil-kecil secara gotong royong oleh ibu-ibu anggota KWT, kemudian diblender dengan air hingga halus, dicampur menjadi satu, disaring dan dimasukkan ke dalam botol untuk didiamkan semalam sebelum siap diaplikasikan.
Menurut literatur pertanian di kelompok tani, fungsi dari bahan-bahan tersebut saling melengkapi. Daun pepaya mengandung getah papain yang berfungsi sebagai racun perut bagi ulat dan belalang pemakan daun. Daun sirsak mengandung senyawa yang membuat hama tidak nafsu makan sehingga berhenti merusak tanaman. Serai wangi berfungsi sebagai penolak hama karena aromanya yang menyengat mampu mengusir kutu-kutuan dan lalat buah. Bawang putih mengandung allicin yang ampuh untuk mengendalikan kutu daun, tungau, serta mencegah penyakit jamur dan bakteri, sementara okra berperan sebagai perekat alami agar larutan pestisida lebih lama menempel di permukaan daun.
Literatur pertanian juga menjelaskan dosis aplikasinya, yaitu larutan biang diencerkan dengan air bersih. Untuk tanaman kangkung dan bayam yang merupakan sayur daun yang lembut, cukup gunakan dosis ringan sekitar 50 sampai 100 mililiter larutan biang untuk setiap satu liter air dan disemprotkan pada sore hari seminggu sekali sebagai pencegahan, dan jika serangan ulat sudah banyak bisa ditingkatkan menjadi dua kali seminggu dengan jeda panen tiga hari setelah penyemprotan terakhir. Sedangkan untuk tanaman cabai rawit yang lebih kuat dan sering diserang kutu daun dan ulat buah, dosis yang digunakan bisa lebih pekat yaitu 100 sampai 200 mililiter per liter air yang disemprotkan merata terutama di bawah permukaan daun, dengan interval seminggu sekali untuk pencegahan dan dua sampai tiga hari sekali jika serangan sudah berat.
“Melalui pelatihan ini kami harap anggota KWT Uswatun Hasanah dapat meningkatkan penggunaan pestisida nabati. Hasilnya tidak berbahaya sebab dibuat dari bahan alami. Ibu-ibu KWT Uswatun Hasanah secara bertahap bisa menurunkan dosis dan durasi pemakaian pupuk dan pestisida kimia. Harapannya budidaya kangkung, bayam, dan cabai rawit mereka menjadi lebih sehat dan aman dikonsumsi.” Tutup penyuluh.


Posting Komentar