Kampung Dikepung Sawit, Sayur Tumbuh di Halaman


Di halaman rumah nan sederhana milik Bik Sudarmi dan Bu Yayuk, benih sayur tumbuh subur di tanah bedengan. Kangkung baru pecah daun, bayam hijau segar, cabai mulai mengerut buah, hingga gambas dan kacang panjang yang dengan sabar memanjat ajir bambu buatan tangan ibu tani. Sederhana bisa diartikan tidak begitu luas, tapi terus hidup. Tanah untuk tanaman pangan tidak banyak di Desa Sejangat, tidak ada satu hamparan luas. Sebagian besar lanskap berupa barisan sawit yang rapat dan tinggi. Tapi keterbatasan lahan tidak membuat ibu-ibu KWT Uswatun Hasanah berhenti menanam sayur. Siasat mereka jika tak tersedia lahan luas, manfaatkan pekarangan rumah masing-masing, biar pun kecil.

Skemanya adalah terdapat kebun pusat yang dikelola bersama menjadi induk. Kebun KWT dicangkul bersama, ditanami sayur serempak, dipupuk secara kompak, dipanen dan pasarkan hasilnya melalui sambatan. Kebun bersama menjadi lokasi pusat pembibitan dan penyediaan pupuk. Pekarangan rumah menjadi tanggung jawab kelurga masing-masing. Bisa meminta bantuan suami, melibatkan anak-anak agar aktif bertani.

Di sinilah peran ibu-ibu tani itu menjadi nyata. Mereka memanajemen kelompok taninya sendiri. Saat di rumah, parisipasi anggota keluarga merupakan proses regenerasi yang sedang berlangsung. Di sanalah pembelajaran bertani yang sesungguhnya terjadi, dari tangan ibu yang mencontohkan kepada suami dan anak-anaknya. Skala tanam sayur di pekarangan memang kecil, juga berarti pengelolaannya menjadi mudah. Pekarangan adalah milik sendiri, maka keputusan bisa diambil secepat kilat. Hari ini melihat tanah kosong, besok pagi sudah dicangkul dan ditanami. Tidak perlu rapat panjang, tidak perlu menunggu modal besar.

Kekompakan ibu-ibu KWT Uswatun Hasanah untuk tetap menanam di tengah gempuran sawit. Kekompakan untuk saling mengingatkan menyiram, untuk datang bersama saat panen, dan untuk menanam kembali begitu panen selesai. Jika selama ini orang mengenal KWT Uswatun Hasanah dari kebun kelompoknya yang tertata rapi, kini semangat itu telah menyeberang pagar. Ia tumbuh di pekarangan-pekarangan rumah anggota. Pola yang mereka bangun sederhana dan cerdas. Kebun pusat dipertahankan sebagai jantungnya. Di sanalah bibit disemai bersama, pupuk organik diracik bersama. Setelah siap, anggota tinggal membawa pulang, menancapkannya di tanah pekarangan sendiri. Cara ini terbukti efektif. Kebun kelompok tetap terjaga sebagai pusat belajar, sementara setiap rumah memiliki lumbung sayur segarnya sendiri untuk kebutuhan dapur.

Inilah strategi sunyi KWT Uswatun Hasanah. Menjadikan kebun pusat sebagai penyedia sarana produksi, dan pekarangan rumah sebagai kebun gizi keluarga. Ketahanan pangan tidak lagi dibicarakan dalam hektar, melainkan dalam satu langkah kaki dari dapur ke halaman. Semangat KWT yang kecil itu menjelma menjadi sesuatu yang besar, senyap menanam pangan untuk keberlangsungan kehidupan.

Posting Komentar