Modernisasi Sawah di Penghujung Senja


Secercah cahaya pagi muncul di ufuk timur, menyinari embun yang masih menempel di dedaunan. Kubuka botol air minum, membasahi tenggorokan yang haus setelah menjelajah sawah di Desa Bukit Batu dan Desa Sukajadi. Ini adalah bagian akhir masa kerjaku di bidang penyuluhan, jadi kubiarkan saja kakiku melangkah kemana ia mau, kemana ia suka.

Beberapa musim telah berganti, sudah lama sekali aku tidak kesini. Kata kawan ku, ada yang berbeda di petakan sawah, petani tidak lagi menanam "padi tahun" yang berumur panjang hingga berbulan-bulan seperti dulu. Pilihan mereka jatuh pada benih unggul yang hanya membutuhkan waktu 3 bulan masa tanam dari sebar bibit hingga bulirnya merunduk kuning. Puas melihat sawah, aku beranjak ke rumah petani, mau bercerita dan ku catat disini.

Kisah bermula saat traktor roda besi mulai menderu di atas petakan sawah yang berair. Petani perlahan membelah keheningan sawah, membalik tanah lumpur, dan mencabik sisa-sisa jerami serta semak yang mengganggu. Tanah yang dibalik dan dibiarkan tergenang mengolah gulma dengan sempurna, mengubahnya menjadi bahan organik yang kaya bagi mikroba tanah. Roda-roda besi itu terus berputar, memastikan media tanam siap menyambut pelepasan bibit unggul yang butuh kesuburan tanah.

Waktu bergulir cepat. Karena bibit unggul hanya memiliki siklus hidup 90 hari, maka setiap jengkal pertumbuhan adalah momen kritis yang tak boleh luput dari pengawasan. Ketika hamparan berubah menjadi permadani hijau, petani semakin rajin turun ke sawah. Air dipastikan mengalir lancar untuk menopang fase anakan padi. Sembari melakukan deteksi dini terhadap ancaman hama dan penyakit tanaman padi.

Tiga bulan dilewati dengan kerja keras. Tiba pada hari yang dinanti, sejauh mata memandang sawah menjelma bak lautan emas yang merunduk berat. Zaman telah berubah, petani telah beradaptasi. Pemotongan padi secara manual dengan sabit yang melelahkan, kini digantikan oleh deru mesin pemanen kombinasi alias combine harvester. Alat modern ini merangsek maju memotong batang padi, merontokkannya seketika, dan menyalurkan bulir-bulir gabah bersih langsung ke dalam wadah penampung. Mesin tidak hanya memotong waktu panen padi secara drastis, tetapi juga menurunkan tingkat kehilangan hasil gabah.

Rangkaian panjang ini akhirnya bermuara di dalam bangsal pertanian desa. Gabah kering panen yang dibawa dari sawah tidak langsung masuk karung begitu saja. Guna mengejar standar pasar dan memastikan beras yang dihasilkan nantinya bertekstur pulen dan bersih, proses pengolahan pascapanen dilakukan secara cermat.

Petani mengoperasikan mesin pengayak padi alias grain cleaner otomatis bertenaga motor portabel. Bunyi getaran mesin berpadu dengan kepulan debu tipis saat gabah dituangkan ke atas saringan bertingkat. Mesin hijau ini secara otomatis memisahkan gabah hampa, potongan jerami, dan partikel tanah yang terbawa dari sawah. Hanya gabah bernas, padat, dan berkualitas tinggi yang lolos merosot ke ujung corong, langsung ditampung ke dalam karung-karung putih yang siap dijahit.

Karung-karung yang mulai menumpuk di sudut bangsal menjadi saksi bisu dari akhir sebuah siklus. Tiga bulan yang padat, menguras energi namun kaya akan arti. Melalui sentuhan teknologi dari hulu ke hilir dan determinasi tinggi dari para petani, Kelompok tani Desa Bukit Batu dan Desa Sukajadi sekali lagi membuktikan diri mampu berdiri tegak sebagai pilar pangan yang kokoh.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan garis jingga di cakrawala. Puas berjalan dan bercerita, waktunya pulang. Ku pacu motorku menembus deru angin yang membawa tetes air, meninggalkan bukit batu dengan damai.

Posting Komentar