10 Lokasi Tamasya Penas XVI


Mentari senja beri keteduhan penghuni lembah, udara cukup dingin di luar sana. Sebuah mobil putih berisi kontingen Penas XVI Bukit Batu sedang terparkir. Perjalanan menuju Sumatera Barat (Sumbar) dalam rangka mengikuti pekan nasional pertanian ke 16. Perjalanan orang biasa, memberi kesempatan pada kebaikan untuk tumbuh. Sebagai manusia biasa tentunya butuh makan. Dibalik ancaman krisis pangan dunia akibat La Nina dan El Nino yang betah bermain di Atmosfer. Untungnya Sumbar adalah sumber muasal masakan nasi padang. Kami singgah di sebuah gerai makan tepi jalan utama, dekat air terjun. Kedai besar ini cukup mewah, sepertinya memang menyasar pelanggan wisatawan.

Saya menciduk dua centong nasi, menyiramnya dengan kuah gulai, ikan bakar bumbu aromatik kupindahkan ke piring putih, lalu mengambil helai sayur daun ubi, terakhir dua sendok besar sambal cabai hijau. Sambal favorit kami berlima yang sedang berpetualang di Nagari Minangkabau. Hidangan lezat kami nikmati sampai tandas.

Datang jauh dari Riau guna mengikuti Penas XVI, tentu saja kami ingin menikmati lezatnya nasi Padang di tempat asalnya. Di sini tidak ada tertera warung makan nasi padang. Hanya ada tempat makan bertuliskan nama kedai masing-masing. Hal tersebut karena memang tempatnya sudah di Sumatera Barat. Premis awal makan nasi padang selama ini yaitu, asal ada pucuk ubi, sambal hijau, kuah gulai bersama rendang, maka dunia ini sedang baik-baik saja. Mari buktikan dasar pemikiran tersebut di daerah sumbernya.

Kedai makan yang kami jajal selama perjalanan dan hari-hari bahagia Penas, hampir semua tipikal. Pojok depan kedai ada kaca transparan, di dalam beningnya berisi piring lauk pauk yang disusun bertingkat. Di belakang etalase menu hidangan tersebut, seorang Uda melayani dengan sabar keinginan pelanggan.

Kami pesan menu spesial yang ingin disantap, langsung dihidangkan puluhan masakan khas Sumatera Barat. Warna-warni cerah dari kuah masakan terlihat begitu memanjakan mata. Aroma masakan berkuah maupun goreng cabai, membuat perut meronta segera ingin diisi.

Kentalnya kuah dan pekatnya gulai yang dituangkan, membuat seporsi nasi padang terlihat begitu menggiurkan. Kuah ketika tertuang ke nasi, singgah melekat atau menempel. Kuah tidak langsung meluncur ke permukaan piring karena santan begitu kental.

Menu masakan selama Penas Padang terus berulang, tentu saja ada beberapa variasi yang muncul di beberapa tempat. Saat melewati Kabupaten Solok, kami beruntung singgah makan di tepi danau. Saya pertama kali dalam hidup menikmati gurih ikan bilis goreng yang berasal dari Danau Singkarak.

Saya sebagai bukan orang Sumatra Barat, perlahan bisa membedakan ketika menjajal makanannya. Kekuatan sajian masakan Sumatera Barat, kelezatan terletak pada bumbu rempah yang kuat serta santan yang kental. Anggapan bawa Orang Minang tidak main-main urusan bumbu masakan adalah benar adanya. Klop sudah, makanan enak berpadu anugerah pemandangan alam nan indah.

Selama berada di Ranah Minang, sembari mengikuti kegiatan Penas, kami juga bertamasya. Ada 10 Lokasi Rekreasi yang BPP Bukit Batu Kunjungi saat Penas di Sumatera Barat. Pertama Jam Gadang di Bukit Tinggi, Air terjun Arai, Pantai dan Masjid Raya Kota Padang, Laut teluk Bayur, Kebun Teh, Danau Ateh Danau Bawah, Lembah Harau, Kelok sembilan. Silakan di searching saja dengan kata kunci itu, maka ribuan rekomendasi pencarian akan muncul. Informasi mengenai tempat wisata Sumbar sangat banyak di Internet. Semua sudah lengkap dengan deskripsi keindahan panorama alam, jalur tempuh agar bisa sampai ke lokasi, foto, video sampai postingan media sosial begitu ramai. Tinggal persiapkan fisik, mental dan perbekalan langsung bisa tancap gas menuju Sumatera Barat yang luas nan rancak.

Satu tips dari kami saat tamasya keindahan di pantai, laut, danau, sungai atau air terjun, hal pertama yang dilakukan adalah segera berenang. Menikmati langsung panorama alam sebaiknya dengan berada di dalamnya. Merasakan deburan ombak, semilir angin, sejuknya air, hingga berenang bersama ikan, sungguh selera petualang sejati. Pengalaman yang tidak diperoleh jika momen berlalu hanya dengan berfoto, mengambil video atau selfie semata. Terjun, berenang dan bersatulah dengan alam. Selepas itu badan akan menjadi penat menyenangkan, hilang letih secara pemikiran. Hasilnya tak perlu menunggu waktu lama, perut akan keroncongan dan minta makan lagi.

Siang hari yang gerah, kami tiba sebuah gerai makan di salah satu Kabupaten Sumatera Barat. Pada hidangan di hadapan saya, sudah ada sebongkah nasi Padang dibanjiri kuah. Sekali lagi, sari-sari bumbunya kental dan tidak sekadar tembus melewati sela-sela nasi saat dituangkan dari atas. Dua tungkah gulai nangka muda, irisan mentimun, terong balado, paripurna berpadu sambal cabai hijau yang anggun.

Satu persatu masakan enak itu masuk ke mulut saya. Terasa nikmat, keringat keluar sedikit. Saya berhenti sejenak. Tersenyum. Bahagia.

“Ondeh mande lamak bana, Tambo cie, Da!”

Posting Komentar