Resensi Serangga Sahabat Petani Padi


Judul : Serangga Sahabat Petani Padi
Penyusun : Tim Dapur Naskah
Peresensi : Ayah Shofiyah
Penerbit : PT. Sarana Ilmu Pustaka
Cetakan : 1, 2009
Tebal : viii + 110 hlm
ISBN : 978-602-8714-40-2

Serangga menurut sebagian ahli, merupakan mahluk hidup yang secara jumlah mendominasi bumi. Lebih dari satu juta spesies serangga telah dikenali oleh ilmu pengetahuan. Diperkirakan masih ada jutaan spesies serangga lainnya yang belum teridentifikasi. Serangga memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, walau itu kondisi ekstrim seperti di padang pasir yang panas atau di antartika yang beku. Kemampuan adaptasi luar biasa tersebut yang membuat serangga bisa bertahan hidup. Serangga berperan dalam ekosistem antara lain sebagai serangga pengurai, membantu penyerbukan, hingga serangga yang bisa menghasilkan madu, sutera, dan sebagainya.

Pertanian adalah salah satu bidang usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Semakin lama kebutuhan makanan manusia terus bertambah, seiring populasinya yang meningkat. Kendala budidaya tanaman seringkali disebabkan oleh serangan hama, salah satunya berasal dari jenis serangga. Jenis serangga yang berguna bagi kehidupan mahluk lain, bisa dimanfaakan untuk kepentingan dunia pertanian. Buku ini mengulas memberi petunjuk dalam mengenal serangga, terutama secara biologi dan perilakunya. Hal tersebut berguna untuk mengendalikan jenis serangga yang merugikan petani pada umumnya, secara khusus petani padi.

Buku ini dibagi dalam sepuluh bab, bagian pertama menjelaskan mengenai anatomi serangga, reproduksi serangga, ekologi serangga, dinamika populasi, dan lainnya. Ekologi adalah kajian hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Mengetahui kelimpahan hama serangga yang menyerang tanaman merupakan faktor penting menentukan cara pengendaliannya. Mempelajari jenis-jenis insek, petani bisa mengetahui tipe serangga pengganggu, lalu mengendalikannya dengan serangga predator. Petani disarankan mengendalikan hama berkonteks agrosistem, memunculkan musuh alamiah guna memangsa organisme perusak. Cara tersebut sangat ramah lingkungan, jenis predator pun tersedia sesuai kondisi lahan masing-masing petani.

Bab kedua, “Manusia Membutuhkan Produk Pertanian”. Bagian ini mengulas tentang kebutuhan manusia akan pertanian tanaman pangan. Dituliskan bahwa manusia membutuhkan hasil pertanian berupa pangan. Makanan berfungsi sebagai sumber energi, membangun, mengatur dan melindungi tubuh. Kebutuhan pangan meningkat seiring populasi manusia yang kian bertambah. Masalahnya luas tanah pertanian tidak bertambah, malah terus berkurang. Maka meningkatkan produktivitas menjadi salah satu cara menambah hasil pertanian dari lahan yang sama. Dikenal pula cara bercocok tanam di lahan yang sempit, sebuah konsep pertanian perkotaan. Maka budidaya tanaman selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, telah berkembang sebagai sarana rekreasi, menyalurkan hobi, dan memperindah lingkungan. 

Bab ketiga, “Rekayasa Genetik Tumbuhan”. Bab kedua terakhir ini menguraikan usaha pengembangan tanaman kebal hama dan penyakit. Kultur jaringan merupakan cara menghasilkan tumbuhan baru secara vegetatif. Teknologi perbanyakan ini melestarikan sifat unggul tumbuhan, serta bisa memilih jaringan tanaman bebas hama, penyakit dan virus. Proses kerja budidaya kultur jaringan ini dilakukan di laboratorium, dikembangkan di rumah kaca yang terkontrol. Hasilnya tanaman kualitas tinggi dalam jumlah banyak dan waktu yang cepat.

Bab keempat sampai bagian terakhir buku ini membedah berbagai jenis serangga sahabat petani. Pembahasan secara mendetail sampai ke bagian-bagian organ serangga. Penjelasan dalam buku ini dilengkapi gambar berwarna, hingga membuat tingkat terbacaan yang tinggi serta memudahkan pemahaman pembaca. Pembahasan tersebut berdasarkan Ordo serangga, misalnya dalam Ordo Orthoptera ada jangkrik predator dan belalang predator. Jangkrik predator pedang bila sudah dewasa, akan kehilangan sayap belakangnya, lalu menetap di sawah. Jangkrik ini memakan telur dan larva kecil hama wereng, penggerek batang, ulat grayak, lalat daun dan hama lainnya. Ada pun belalang predator cirinya memiliki antena panjang, dua kali lipat ukuran badannya. Aktif pada malam hari di pertanaman padi yang sudah hampir panen. Belalang ini adalah musuh alami dari kepinding padi, walang sangit dan wereng. Satu predator mampu memakan 3 sampai 4 kelompok telur hama padi dalam satu harinya.

Mengendalikan hama secara organik menjadi cara menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Bila menyemprot tanaman bisa ikut mematikan musuh alamiah hama, seperti jangkrik predator dan belalang predator. Buku ini memberikan pelajaran bahwa justru memanfaatkan serangga tersebut, bisa membantu petani mengatasi hama. Jika organisme pengganggu tanaman bisa dikendalikan, maka produksi pertanian ikut meningkat. Jadilah serangga tersebut sebagai sahabat petani.

Posting Komentar