Budidaya Sayur Gambas Ramah Lingkungan


Unit Pelaksana Teknis-Balai Penyuluhan Pertanian (UPT-BPP) Kecamatan Bukit Batu mengadakan pertemuan rutin penyuluh. Rapat berkala penyuluh pertanian tersebut diadakan di Kantor UPT-BPP yang terletak di Gedung Terpadu Desa Sungai Selari. Pertemuan bulanan penyuluh dihadiri langsung oleh Kepala UPT BPP Kecamatan Bukit Batu. Turut hadir staff UPT BPP dan seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Bukit Batu.

Disampaikan bahwa Kelompok tani di Kecamatan Bukit Batu sebagian mulai melakukan budidaya hortikultura. Salah satu jenis sayuran yang ditanam adalah gambas. Budidaya sayur gambas tersebut secara organik yang ramah lingkungan. Berikut penjelasannya.

Para ahli sebagian memasukan tanaman Gambas sebagai jenis sayuran merambat. Gambas membutuhkan ketersediaan air yang cukup sepanjang masa tanam. Tanaman Gambas toleran terhadap berbagai jenis tanah, berbagai jenis tanah cocok ditanami. Tanaman ini membutuhkan tanah yang subur, gembur, mengandung humus dan nutrisi. Tanah berdrainase baik serta mempunyai pH 6 sesuai untuk mendapatkan hasil panen gambas yang optimal.

Benih Gambas dapat ditanam langsung di lahan dengan menggunakan para-para atau teralis sebagai tempat merambatnya sulur. Apabila rambatan belum siap dan persediaan benih terbatas, benih dapat disemaikan dulu.

Tanah dicangkul sampai gembur. Dibuat dengan dengan ukuran dan jarak sesuai keadaan lahan. Kemudian dibuat lubang tanam. Masukkan pupuk kandang.

Benih ditanam langsung/ melalui persemaian. Bila ditanam secara langsung, masukkan biji Gambas sebanyak 2-3 butir tiap lubang tanam, kemudian tutup dengan tanah.

Dianjurkan pemupukan menggunakan bahan organik, baik itu pupuk kompos maupun pupuk kandang. Pemasangan rambatan atau para–para dilakukan saat tanaman berumur beberapa hari dengan bentuk menyesuaikan kondisi. Pemeliharaan tanaman ( Gambas ) yang biasa dilakukan adalah pemangkasan daun, apabila daun terlalu rimbun, penyiraman dan penyiangan.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). OPT penting yang menyerang tanaman antara lain kumbang daun, ulat grayak, ulat tanah, lalat buah, busuk daun, embun tepung, antraknos, layu bakteri dan virus mosaik. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Dianjurkan menggunakan pestisida nabati dan musuh alami.

Pemanenan Gambas dapat dilakukan berulang-ulang. Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berumur puluhan hari setelah tanam. Ciri-ciri umum buah Gambas yang siap panen antara lain adalah buah berukuran maksimum, tidak terlalu tua, belum berserat, dan mudah dipatahkan.

Buah Gambas mudah rusak sehingga pengemasan yang baik sangat diperlukan untuk memperpanjang daya simpan, terutama jika untuk pengiriman jarak jauh.

“Demikianlah informasi tentang budidaya sayur gambas secara organik yang ramah lingkungan. Semoga teknik budidaya sayuran organik ini menjadi solusi bagi kelompok tani di Kecamatan Bukit Batu. Silakan disebarluaskan ke kelompok tani hingga bisa bermanfaat bagi masyarakat.” Tutup Kepala BPP Bukit Batu.

Posting Komentar